#SketsaFiksi: Korea-006

Aku ingin seperti elang, terbang tinggi melintasi langit. Memiliki pandangan sejauh cakrawala. Menghinggapi berbagai titik tertinggi di dunia.

Pernah sekali waktu aku menertawakan ucapanmu itu. Sebagai manusia, bagaimana mungkin kita bisa menjadi hewan yang berbeda derajatnya. Bagaimana mungkin mengingkari kodrat dari Sang Maha Pencipta. Tapi, setiap ucapanmu selalu memiliki makna terselubung. Sebuah arti yang harus kucari sendiri.

Kemudian, pada suatu senja, di tengah terpaan hawa dingin kota Seoul aku menyadari ucapanmu bisa diwujudkan. Bisa menjadi sebuah kenyataan.

Pada tempat tertinggi yang bisa dibuat oleh tangan manusia pandanganku meluas, seluas cakrawala. Menelisik setiap sudut langit, mencari setiap kesempatan untuk melihatmu. Nun jauh di sana.

N Seoul Tower

N Seoul Tower

#SketsaFiksi: Korea-005

Unik. Itu alasanmu dulu memilihku. Padahal aku memilihmu untuk alasan yang sederhana, cantik.

Jika engkau memilihku karena aku cantik, itu sudah pasti. Tapi aku mendapatkanmu di tengah-tengah standar yang tinggi sebagai sesuatu yang unik, sehingga sudah jelas standarmu lebih tinggi.

Betapa pertama kali aku merasa tersanjung makhluk secantik dirimu memilihku yang hanya manusia biasa. Seorang pria dengan beragam rencana untuk masa nanti, namun dengan penampilan yang seadanya.

Tapi bisa jadi itu yang membuatmu memilihku. Sama seperti karya seni oleh para seniman yang memiliki keunikan tersendiri sebagai sebuah mahakarya yang diharapkan tahan untuk selamanya.

Lokasi: Leeum Samsung Art, Seoul

Lokasi: Leeum Samsung Art, Seoul

#SketsaFiksi: Korea-004

Aku takkan marah jika kelak kamu lupakan aku selama di sana, dan justru lebih mengingat yang lain.

Dulu aku tak begitu mengerti apa maksud dari perkataanmu itu. Iya. Aku sungguh tak mengerti. Bagaimana bisa aku tak mengingatmu jika engkaulah yang pertama kali terpikirkan olehku setiap saat aku rindu rumah? Setiap kali aku rindu hari-hari dulu, ataupun memimpikan hari nanti?

Berhari-hari aku mencoba mencaritahu apa arti dari perkataanmu sebenarnya. Siapakah yang lain yang kau maksudkan. Apakah itu artinya kamu mempersilakan aku untuk mencari yang lain? Apakah itu artinya kamu memperbolehkan aku untuk memiliki yang lain? Apa?

Sambil dihempas angin dingin belahan bumi utara pada siang hari yang bercahaya, akhirnya aku mengerti maksudmu. Aku mengerti bahwa sebenarnya perkataanmu bukanlah sebuah perkataan, melainkan sebuah pesan. Sebuah pengingat, perintah dalam bentuk halus.

Betapa agar aku tetap mengingat Sang Pencipta dalam setiap langkahku. Mewujudkan mimpi. Melaksanakan tugas untuk hari nanti.

Seoul Central Masjid, Itaewon, Seoul

Seoul Central Masjid, Itaewon, Seoul

#SketsaFiksi: Korea-003

Jangan terlalu lama pergi. Nanti hatiku membeku walau aku tetap menunggu.

Sehari-dua hari-seminggu. Jangka waktu yang biasa bagi kita untuk tiada bertemu. Tapi sebulan, tiga bulan, 6 bulan, atau hingga setahun dan bertahun-tahun, adalah hal yang tak biasa kita lakukan. Apalagi, ketika kita makin sulit untuk berkomunikasi, walau tersedia beragam jalur komunikasi.

Aku benci berada jauh darimu.

Benarkah? Atau kau benci aku berada jauh darimu?

Cuaca hari ini dingin. Tapi tak sedingin hatiku yang merasakan sepi, jauh darimu.

Hati yang dingin. Lokasi: Ice Museum, Seoul.

Hati yang dingin. Lokasi: Ice Museum, Seoul.

#SketsaFiksi: Korea-002

Menunggu. Sepertinya aku ahli dalam melakukan aktivitas itu. Sejak dulu hingga sekarang, kegiatan menunggu-ku sepertinya seharusnya sudah mencapai level tertentu dibandingkan orang lain. Dibandingkan dirimu.

Tapi, walau levelku lebih tinggi, kualitas menunggu-mu sepertinya lebih baik.

“Sejauh apapun kamu pergi, aku akan tetap di sini.” ucapmu suatu malam, di bawah cerahnya langit berhiaskan bintang dan rembulan. Seperti cerahnya langit malam ini yang kulihat dari Hongdae. Bedanya, hanya waktu. Dulu, dan kini.

Menunggu dalam sepi.

Menunggu dalam sepi. Lokasi: Incheon Intl’ Airport, Seoul.

#SketsaFiksi: Korea-001

Hembusan angin dingin langsung menerpaku ketika aku mendekati pintu keluar bandara Incheon. Iya, dingin. Sama seperti yang pernah kamu ucapkan dulu.

Biar kata orang winter itu dingin, tapi aku justru pengen banget ngerasain winter. – Takkan pernah kulupakan binar-binar matamu ketika kau bersemangat menyampaikan kalimat itu. Memang, sebagai penduduk negara tropis, hampir mustahil bagi kita untuk merasakan winter.

Kueratkan jaketku namun masih tetap saja dingin terasa di sebagian badanku. Rasanya sia-sia mengenakan 4 lapis pakaian, dan 3 lapis celana karena dingin masih saja bisa menyelusup ke sela-sela dan menyapa badanku. Terakhir kalinya aku begini, adalah 6 tahun yang lalu. Iya, 6 tahun yang lalu.

Banyak yang terjadi selama 6 tahun itu. Banyak pula yang tidak terjadi selama 6 tahun itu. Sudah lewat memang, sudah masa lalu. Tapi aku masih ingat beberapa fragmen yang terjadi dengan jelas. Apalagi… situasi waktu itu hampir sama seperti sekarang: aku jauh darimu.

Tiba di Incheon.

Tiba di Incheon. Lokasi: Incheon Intl’ Airport, Seoul.

The Journey, vol.13: The Offer

Sisa hari kuhabiskan dengan pembahasan yang menjemukan di meeting yang sama setelah break. Dan, meski semua materinya aku sudah tahu, tapi aku tak lagi diam saja. Aku memberikan beberapa masukan, dan juga usulan ke para peserta rapat.

Beberapa usulanku sepertinya mengena. Bukan karena aku utusan dari Jakarta, tapi lebih kepada usulanku belum terpikir oleh mereka. Dan yah, aku berharap usulan-usulan itu memang bisa berguna dan kemudian dijalankan sehingga kantor Bandung ini menjadi lebih maju dibanding sebelumnya. Terutama strategi visualisasi kreatif yang nantinya akan dikembangkan di sini.

Sikapku yang tak lagi diam dan juga lontaran-lontaran usul tersebut tak lain karena aku mencoba untuk tetap berpikir positif, fokus, dan profesional setelah tak lagi bisa menghubungi Monica. Oke, dia marah. Tapi bukan lantas aku pun tak bisa bekerja lagi. Dan, pulang kampung itu masih jadi pilihan yang baik sepertinya.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.13: The Offer’


e-book terbaru dari Bersambung…


Burung Kertas dalam e-book

Hit Counter

  • 6,188 hits

RSS feeds

Oktober 2014
M S S R K J S
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Creative Commons License


bloggerhood

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.