#2

“Kamu yakin, ‘Ta dengan semua ini?” tanya seorang pria padaku. Sepertinya kukenal, tapi siapa? Di mana?
“Ya.” jawabku singkat.
“Benar-benar yakin?”
Aku mengangguk kencang. Mencoba meyakinkannya jika aku lebih yakin dari yang ia kira. Meski sebenarnya…
“Lalu, kenapa kau juga harus meninggalkanku – Pram, kekasihmu ini?”
Ya! Pria itu Pram! Kekasihku! Pacarku! Tapi, di mana dia sekarang? Apa kabarnya?
“Apa linangan air mataku tak cukup bukti bagimu?” aku membentak.
Pram diam. Ia membuang pandangnya dariku.
“Pram….”
Pram diam tak menjawab.
“Pram!”
Perlahan, Pram menoleh. Matanya berkaca-kaca. Aku diam. Ada apa dengan Pram? Sepertinya ia begitu berbeda.
Kesibukan bandara Soekarno-Hatta tak mengusik kebekuan kami. Aku menunggu panggilang keberangkatan pesawatku, dan Pram – dia mengantarku. Dia mengantarku sampai aku naik pesawat, dan berangkat. Dia mengantarku karena sengaja aku yang memintanya. Aku tak begitu ingin diantar dengan rama-ramai. Mungkin, dia mengantarku ini, untuk yang terakhir kalinya.
“Aku hanya ingin mengajukan pertanyaan padamu, ‘Ta. Karena, emosiku bercampur aduk saat ini.”
Pram menghela napas. Badannya yang tegap itu, tak berarti jika ia tegar dan tegap. Buktinya kini, matanya berkaca-kaca. Benarkah?
“Apakah kita harus berpisah?”
“Tentu!” jawabku segera. “Aku di Tokyo, dan kau di Jakarta. Bukankah itu sudah jelas? Dan, bukankah kau pun sudah kuliah di sini? Atau, kau harus ikut denganku pindah kuliah di sana? Apa aku tidak boleh mengambil kesempatan ini?”
“Bukan itu maksudku!”
Aku diam. Selama dua tahun berhubungan, baru kali ini Pram membentakku. Pastinya, ia begitu emosi saat ini.
Belum sempat Pram melanjutkan kata-katanya, panggilan untuk pesawat penerbanganku diumumkan lewat pengeras suara.
“…Kepada calon penumpang penerbangan ke Tokyo, dipersilakan untuk menaiki pesawat dari Gate Tujuh. Terima kasih.”
Kutatap tiket di tanganku. Berat rasanya untuk pergi. Berat rasanya untuk meninggalkan Pram yang begitu mencintaiku. Tapi, aku pun ingin menggapai mimpi! Aku ingin mencapai cita-citaku! Ini kesempatanku! Biarkan aku pergi!
Kutatap Pram. Kini ia sedang menunduk ke lantai. Apakah hatinya begitu terluka?
Aku memeluknya.
“Ketahuilah sesuatu, Pram…Aku tahu ini menyakitkan, tapi sejujurnya aku pun tak ingin meninggalkanmu.”
“Lalu kenapa kau ingin agar hubungan kita berakhir juga?”
Kulepas pelukan. Kusentuh pipinya dengan hangat. Segera, ia menyambut dengan jemarinya. Matanya terpejam. Seakan-akan ingin mengingat teguh sentuhan jemariku.
“Aku takut, kejauhan membuat kita tersiksa. Siapa yang benar-benar tahu, apa yang masing-masing kita lakukan setiap saatnya? Apa kau kuat, Pram? Apa kau bisa, Pram?”
“Harusnya tak perlu kau ragu dan tanyakan lagi, Ta! Dua tahun hubungan kita, apa itu tidak cukup?”
Aku diam. Aku tak berani menjawab. Aku tahu ia benar. Selama dua tahun ini, ia selalu ada untukku. Sabar, mengerti, setia, mendengarkanku, dan mendukungku. Hanya, aku saja yang kurang pandai mensyukuri kehadirannya. Kau mungkin bisa, Pram! Tapi aku tidak! Aku tak mau terbebani dengan pikiran itu! TIDAK!
Panggilan pesawatku kembali terdengar. Kulihat, Pram masih menatapku. Ia seperti menunggu sesuatu. Apa?
Aku tak bisa! Aku tak bisa lagi! Aku harus pergi! AKU HARUS PERGI!
Aku bangkit. Pram masih duduk, dan menahan tanganku.
“Aku harus pergi.”
Pram melepas tanganku. Ia berdiri di sampingku.
Hening. Aku tahu nantinya penyesalan pun akan mendatangiku. Tapi setidaknya, ini jalan yang terbaik. Benarkah?
Kesibukan bandara terabaikan. Kami larut dalam pandangan.
“Ini. Ini untukmu. Ambillah.”
Aku memandang heran ke telapak tangan Pram di depanku. Dalam sekejap, sudah bertengger sesosok burung terbuat dari kertas. Ribuan tanya bermunculan. Sulapkah?
“Untuk apa ini?”
Pram tersenyum. Sedihnya tak tampak. Hilang.
“Untuk harapan, dan juga mimpi.”
Aku heran. Apa hubungannya burung kertas dan harapan? Apa hubungannya burung kertas dengan mimpi? Kapan Pram membuatnya? Bagaimana bisa Pram berubah sebegitu cepatnya?
“Ayo, ambillah!”
Perlahan, aku mengambilnya. Kubiarkan sementara ia bertengger di telapak tanganku, sebelum akhirnya masuk ke dalam saku jaketku.
“Nah, kalo gini berarti sudah selesai.”
Pram mengambil jaketnya dari kursi tunggu. Ia lalu berbalik. Ia meninggalkanku. Ia pergi tanpa kecupan di dahiku seperti yang biasa ia lakukan. Pram pergi? Meninggalkanku?
“Hei, Pram! Kau mau ke mana?”
Pram berhenti. Ia menatapku.
“Aku tak mau bersedih saat berpisah denganmu. Jadi, lebih baik aku tak melihat kepergianmu, dan aku harus merelakanmu! Toh, kalaupun jodoh, kita pasti akan bertemu lagi, bukan?”
“Tapi-“
“Sudahlah! Aku mengerti! Kau tak perlu lagi menjelaskan, atau nanti air matamu tumpah! Ingat saja, jika aku mendukungmu! Aku selalu mendukungmu! Meski, itu memang menyakitkan bagiku. Tapi, teruslah maju! Kepakkan sayapmu! Terbang tinggi, cintaku! Aku akan selalu ada untukmu di sini! Menanti saat kau kembali.
Pram tersenyum. Ia sepertinya menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Ia berbohong, mencoba membuatku lega, dan tenang. Sebegitunya-kah Pram tersakiti olehku?
“Tapi-“
Pram menempelkan jarinya ke bibir, dan melambaikan ciuman perpisahan. Aku hanya bisa diam.
“Terima kasih!”
Pram mengacungkan jempolnya.
“Aku mencintaimu!”
“Aku mencintaimu juga! Aku akan setia menunggumu di Jakarta! Selamat jalan! Sukses selalu!”
Pram kemudian berbalik. Jalannya tegap, membelah kesibukan bandara. Syukurlah, Pram tak apa-apa. Benarkah?
Aku berbalik, dan langsung menuju Gate Tujuh. Kuserahkan tiketku kepada petugas, dan bergegas untuk naik pesawat dan berangkat ke Tokyo.

KRIING!
Jam weker menggugahku dari tidur yang lelap. Kubuka mata. Kugapai-gapai meja.
KLIK!
Jam wekerku mati. Rasa pusing langsung menyergap kepalaku. Dalam gelap kamarku, kupejamkan mataku kembali. Pram.
Hmm, aneh sekali mimpiku tadi. Kenapa aku memimpikan Pram? Ada apa? Apa ada sesuatu dengannya? Pram. Bagaimana kabarnya sekarang, ya? Pastinya ia sudah tingkat dan menyusun skripsi, aau justru ia sudah lulus jadi insinyur. Oh, Pram. Kenapa tiba-tiba aku memikirkanmu?
Aku turun dari ranjang. Kubuka jendela. Udara pagi menerobos masuk. Sejuk! Mentari pagi membagi kehangatannya padaku. Sedikit es sisa musim dingin masih tersangkut di beberapa ranting pohon. Burung-burung berkicau riang.
Kuturuni tangga menuju dapur. Terdengar seperti ada orang yang sedang memasak. Siapa yang sedang memasak? Masa’ Hikaru?
Perlahan, aku berhenti sebentar dan diam. Kucoba menebak-nebak siapa yang sedang memasak. Apa benar Hikaru?

0 Responses to “#2”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: