#3

Aku mengendap perlahan. Kuintip dapur. Benar saja! Hikaru memasak!
“Kau memasak, Hikaru?”
Hikaru menoleh.
“Ya, aku memasak. Kenapa? Heran, ya?”
“Hihi, aku baru tahu kau bisa masak. Tiga tahun aku di sini, baru sekali ini aku melihatmu memasak. Ada sebab apa?”
“Ini sebagian dari semangat musim semi-ku! Dan juga, aku sedang penasaran saja. Aku ingin tahu rasanya memasak sepertimu. Ternyata, susah juga, ya?”
“Nah, baru tahu kau!”
“Dan juga, aku ingin mencoba beberapa resep yang kau biasa buat. Itu semua terasa lezat sekali di lidahku. Siapa tahu, saat menikah nanti suamiku memintaku untuk memasak. Kalau tidak bisa memberi variasi masakan, bisa-bisa suamiku nanti berpaling. Gawat kalau begitu!”
Aku tersenyum. Lucu juga mendengar kata ‘suami’ dari seorang Hikaru. Terlebih, selama ini aku belum pernah melihatnya berkencan dengan seorang lelaki. Atau jangan-jangan, sudah? Atau, saat ini ia sedang jatuh cinta?
“Suami?”
“Ya. Suami. Aruji. Otto.”
“Hmm, Aruji – artinya suami. Otto – artinya suamiku.”
“Wah, kau semakin pintar saja, Ghita-chan!”
“Yah, sudah seharusnya, bukan?”
Hikaru tersenyum. Ia kembali meneruskan memasak.
“Memangnya apa sih, yang sedang kau masak?”
“Yah, aku menyebutnya telur aduk.” ucap Hikaru sambil terus memasak.
Aku geli. “Apa? Telur aduk?”
“Ya. Telur aduk! Telur aduk.”
Kuambil sendok. Hikaru sementara berhenti memasak. Ia membiarkanku mengambil sesendok masakannya. Kumasukkan ke mulut, dan mulai merasakannya.
“Uh! Terlalu asin!”
“Masa’ iya?”
“Ya! Coba kau rasakan sendiri!”
Hikaru mencicipi masakannya juga. Ia lalu menyeringai.
“Wah! Asin sekali! Kau benar!”
Hikaru mematikan kompor. Ia salah tingkah.
“Kok bisa, ya? Padahal, garamnya tidak banyak!”
“Memangnya, kau masukkan berapa banyak?”
“Tiga sendok teh.”
Aku tak kuasa untuk menahan tawa.
“Ha..Ha..Ha!”
Hikaru heran menatapku.
“Ada apa? Memang, salah ya?”
“Aduh, Hikaru..Hikaru..Tiga sendok teh itu kebanyakan! Satu sendok saja, sudah asin! Apalagi tiga?”
Hikaru diam. Wajahnya berubah masam.
“Dan lagi, namanya itu telur orak-arik. Bukan telur aduk!”
Wajah Hikaru bertambah masam. Cemberut. Aku tenggelam dalam tawa. Diam-diam, aku mengagumi semangatnya untuk bisa memasak meski akhirnya gagal.
“Sudahlah, Hikaru. Tetap bersemangat, ya!”
Diam. Hikaru sepertinya kesal. Tapi, aku yakin ia kesal karena masakannya terlalu asin dan bukannya karenaku.
“Yah! Kenapa bisa seperti ini, ya?”
“Satu kata untukmu. Keiken. Pengalaman.”
“Huh!”
Kutinggalkan Hikaru yang masih penasaran di dapur. Aku ingin segera membersihkan diri dan pergi ke kampusku.
Jalanan kota Tokyo sudah ramai saat aku keluar rumah. Aku langsung berjalan menuju stasiun kereta terdekat. Aku berangkat sendiri pagi ini, karena Hikaru masih di rumah dan terus bereksperimen dengan ‘memasak’-nya.
Stasiun dipenuhi oleh orang-orang yang tinggal satu lingkungan denganku dan sekitar stasiun ini. Kami semua menunggu kereta yang akan membawa kami ke pusat kota, dan tempat aktivitas kami masing-masing. Tak lama, aku mendengar sebuah bunyi yang cukup kukenal. Kereta datang.
Pintu kereta terbuka. Masih kosong. Aku leluasa masuk dan duduk tanpa berdesak-desakkan karena orang Jepang sangat tertib. Seorang wanita tak kebagian kursi. Ia berdiri di depanku. Dari penampilannya, aku menebak jika ia adalah seorang karyawati bank. Mungkin, ia salah seorang pejabat di bank tempat kerjanya. Karena, selain penampilannya sangat rapi, tindak-tanduknya juga mengatakan demikian.
Samar-samar, kudengar percakapannya dengan seseorang di teleponnya saat kereta mulai melaju.
“Iya, kau benar! Rencananya, delegasi mereka akan tiba besok lusa. Empat orang kalau tidak salah. Mereka akan uji materi dengan kita. Apa? Apa maksudmu dengan kita belum siap? Bukankah sudah aku jelaskan sejak tiga hari yang lalu padamu dan juga tim? Pelayanan kita ini, pelayanan terbaik di Tokyo! Jangan sampai reputasi itu harus jatuh hanya karena kita belum siap! Kalian punya dua hari lagi untuk bersiap. Atau kalau tidak, kita semua akan dipecat!
“Ya, aku tahu itu. Aku tahu reputasi mereka memang terkenal gengsi dan pilih-pilih. Tapi, kita harus bisa meyakinkan mereka agar mereka memilih kita! Kita harus bisa jadi partner mereka! Harus!”
Tak lama, kereta berhenti di stasiun berikutnya. Sambil tetap menelepon, wanita itu bersiap turun.
“Ya, baiklah! Ayo kita usahakan, agar kita yang memenangkan tender itu! Nanti, masalah pembiayaan yang pasti, kita susun belakangan bersama mereka. Sudah dulu! Aku harus segera turun dari kereta dan mencegat taksi! Nanti kita lanjutkan di kantor, setelah aku tiba!”
Begitu pintu membuka, wanita itu turun. Iseng, aku memperhatikannya lewat jendela. Langkahnya begitu terburu-buru untuk segera keluar dari stasiun. Sibuk sekali wanita itu! Jabatannya apa, ya?
Perlahan, kereta kembali berjalan. Mengantarku ke dua stasiun lagi sebelum aku kemudian turun untuk ke kampus.
“Selamat pagi, Ghita-chan! Apa kabarmu? Mana Hikaru?” Reiko menyapaku saat aku masuk ke gedung kuliah.
“Pagi juga, Reiko. Aku baik-baik saja. Hikaru? Dia masih asyik memasak di rumah!”
“Apa? Hikaru memasak? Sejak kapan? Bukankah dia tak bisa memasak? Itu bisa jadi bahan bicara baru!”
“Ya, dia memang tidak bisa, sampai tadi pagi.”
“Lalu?”
Kami sampai di depan ruang kuliah. Kupegang pintu, dan perlahan membukanya.
“Yah, kau tahu bagaimana hasil masakan pertama seseorang yang tidak bisa serta baru bisa masak, ‘kan?”
Reiko mengekeh.
“Sudahlah, lupakanlah ucapanku. Jangan kau ganggu dia, ya kalau bertemu nanti? Kasihan, dia.”
“Beres!”
Ruang kuliah 17 sudah setengah terisi. Aku mengambil bangku di depan. Reiko duduk di belakangku. Kukeluarkan beberapa buku dan alat tulis.
Pak Yuji – dosen sejarah budaya, muncul dari pintu. Ia langsung menuju meja di tengah ruangan. Ia mengeluarkan beberapa buku, dan kertas. Kertas? Jangan-jangan quiz!
“Selamat pagi, semua!”
“Pagi!” kami semua menjawab sapaan Pak Yuji.
“Baiklah, hari ini kita quiz!” ucap Pak Yuji dengan logat Kansai-nya yang kental.
Beberapa dari kami langsung menggerutu pelan. Aku pun heran mendengar pemberitahuan dari Pak Yuji jika hari ini langsung quiz.
“Ya, saya harap meja kalian sudah bersih dan hanya ada pulpen, ketika kertas soal ini sampai pada kalian. Kalian semua punya waktu dua jam penuh untuk mengerjakannya.”
Pak Yuji langsung membagi-bagikan kertas soal. Sambil menyingkirkan barang-barang dari atas meja, aku menerima selembar soal dan membacanya dengan seksama. Waduh! Kok soal-soalnya susah, sih?
“Waktu dimulai, dari sekarang! Selamat mengerjakan!”
Pak Yuji menatap arlojinya. Ia lalu mengambil bangku, dan duduk di dekat pintu sambil membaca buku.
Duh! Kok, soalnya susah, sih? Kok aku nggak ada yang tau jawabannya, ya?

0 Responses to “#3”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: