#5

Malam sudah menjelang ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Narita. Aku pun turun, dan segera mencari koper.
Terminal kedatangan begitu ramai malam itu. Sepertinya sedang ‘musim kedatangan’ di sini. Entah, tapi ternyata anggapan Narita sebagai salah satu bandara terbaik di dunia, ada benarnya juga. Kenapa? Karena sepertinya bandara ini tak pernah sepi! Aku pun segera menuju lobby untuk menunggu jemputan seperti yang telah diinstruksikan.
Seorang wanita muda berdiri dekat lobby. Mukanya tampak lelah, tapi tangannya masih semangat memegang plang bertuliskan namaku. Ghita Amadela – Indonesia.
Aku mendatanginya.
“Itu aku, Ghita Amadela, dari Indonesia. Salam kenal!” ucapku dalam bahasa Jepang yang patah-patah. Sebelumnya, aku memang sudah kursus bahasa Jepang sebelum berangkat.
“Maaf?” jawabnya justru dalam bahasa Indonesia. Aku tersentak. Tak fasih memang, tapi cukup lancar.
“Kau, bisa bahasa Indonesia?”
“Ya. Perkenalkan, aku Hikaru Shirogawa. Mahasiswi Sastra Indonesia di Tokyo University. Aku menjadi homestay-mu di sini. Salam kenal.”
Hikaru membungkukkan badannya. Kemudian, ia menyodorkan tangannya. Mengajak bersalaman. Pantas saja bisa bahasa Indonesia! Lha, kuliahnya sastra Indonesia!
Segera, kusalami tangannya.
“Jadi, homestay-ku kamu?”
“Ya. Memang kenapa?”
“Tidak. Aku kira homestay-ku bukan mahasiswa juga.”
“Lalu? Kau kecewa?”
“Oh, jelas tidak sama sekali! Aku justru senang! Jadi, aku bisa lebih cepat adaptasi dan bergaul! Aku harap, kita nantinya bisa saling membantu. Mohon kerjasamanya!”
Hikaru tersenyum.
“Baiklah. Baguslah kalau begitu. Sini, kubantu mengangkat kopermu! Tentunya, kau ingin cepat sampai di rumah, dan beristirahat, bukan? Perjalanan ini, panjang dan melelahkan, ya?”
Belum sempat aku menjawab, Hikaru sudah mengambil koperku. Ia menariknya. Aku mengikutinya dari belakang.
“Di rumah nanti, kita tinggal dengan siapa lagi?”
“Hanya berdua.”
“Berdua dengan siapa lagi?”
“Tidak. Berdua – hanya kau dan aku. Begitu.”
“Apa? Hanya kita berdua saja?”
“Ya.”
“Tapi, bukannya homestay itu biasanya dengan satu keluarga?”
“Harusnya begitu, tapi untuk beberapa hal, itu bisa diacuhkan dan dilanggar.”
“Memangnya, kenapa?”
“Nanti kujelaskan setelah sampai di rumah, ya? Sekarang, kita panggil taksi dulu, okay?”
Aku diam menurut. Tak terasa, kami sudah berada di luar bandara. Hikaru melambaikan tangannya, dan sebuah taksi datang mendekat.
“Masuklah.”
Kubuka pintu, dan masuk. Hikaru menyuruh sopir untuk membuka bagasi. Kemudian, ia memasukkan koperku ke dalam bagasi. Tak lama, ia menyusul masuk dan duduk di sebelahku.
“Tokyo, Distrik Yamaguchi!” serunya pada sopir.
Tak lama, taksi mulai bergerak perlahan menuju distrik Yamaguchi.
Tak sengaja, aku menyentuh sesuatu yang menyembul dari balik saku jaketku. Kurogoh, dan kukeluarkan isinya. Burung kertas dari Pram.
“Hei, apa itu? Bukankah itu pe-pa-tori?”
Diam. Aku heran. Tak mengerti.
“Pe-pa-tori, apa itu?”
“Pe-pa-tori. Burung kertas. Dari mana kau mendapatkannya? Kau membuatnya sendiri?”
“Oh. Aku mendapatkannya dari pemberian saat akan berangkat tadi di Jakarta.”
“Siapa yang memberimu?”
“Seseorang. Seseorang yang kutinggalkan dengan luka di hatinya.”
“Oh, pasti pacarmu, ya?”
“Ya, begitulah.”
“Lalu, apa kalian masih berhubungan?”
“Aku memutuskannya.”
“Kenapa? Apa dia kurang baik untukmu? Kalian sudah berhubungan berapa lama?”
“Dua tahun.”
“Ha? Dua tahun? Lalu kenapa? Ada apa?”
Aku diam. Ternyata, Hikaru ini ‘rasa ingin tahu’-nya besar juga!
“Bukan karena apa-apa. Dia baik sekali padaku. Hanya saja,..”
“Apa?”
“Jarak ini yang membuatku memutuskannya. Aku tak mau dia menderita karena aku jauh di sini. Lebih baik, kulepas dia. Biarkan ia bahagia dengan seseorang yang dekat dengannya. Daripada, dia menungguku dengan perasaan yang tak menentu.”
“Apa dia menerima?”
“Awalnya tidak.”
Aku diam dulu. Mengatur napas dan emosi.
“Tapi akhirnya dia mau menerimanya. Meski sebenarnya, aku tahu hatinya terluka.”
“Lalu?”
“Lalu, ia memberiku burung kertas ini. Ia bilang, ‘..ini untuk harapan dan mimpi..’ Aku sendiri tak mengerti apa maksudnya.”
Hikaru tersenyum. Ia memegang pundakku.
“Percayalah, kau akan mengerti setelah kau kuliah di sini. Aku janji.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Maksudmu, kau tahu artinya?”
Hikaru tersenyum. Kali ini senyumannya misterius.
“Sudah, ah. Lebih baik kau artikan dan cari sendiri! Atau, nantikan saja saatnya!”
Sopir taksi berbelok di sebuah tikungan. Hikaru langsung mendekati sopir itu, dan menyuruhnya untuk berhenti.
“Pak, rumah di ujung kiri!”
Tanpa banyak bicara, sopir itu melajukan taksi dan berhenti di depan sebuah rumah yang ditunjukkan oleh Hikaru tadi. Sudah malam. Jalanan sekitar sepi.
“Ayo! Kita sudah sampai!”
Hikaru membayar sopir itu. Ia mendului turun. Aku turun setelahnya. Ia membuka bagasi, dan mengeluarkan koperku.
“Selamat datang di rumah!”
Aku menatap bangunan berlantai dua di depanku. Tak mewah memang, tapi cukup megah untuk ukuran rumah orang Jepang. Bergaya Victorian, bangunan itu terlihat gagah dibanding rumah-rumah di sekelilingnya. Padahal kukira, aku akan tinggal di rumah tradisional Jepang! Ternyata…
“Ayo masuk! Jangan sungkan!”
Kulangkahkan kakiku memasuki pekarangan rumah. Wah, ini dia! Homestay-ku dimulai! Kuliahku segera dimulai!

“Ghita-chan! Bangun! Bangun, Ghita-chan!”
Seseorang mengguncang-guncang tubuhku. Pandanganku gelap. Apa aku tertidur?
“Ghita-chan! Kau semalam kurang tidur, ya?”
Kubuka mata. Pandanganku kabur. Ternyata, aku tertidur di meja.
“Ghita-chan!”
“Iya!” kataku sambil menegakkan tubuh. Pegal.
Kutoleh Hikaru di sampingku. Wajahnya tampak khawatir.
“Kau kurang tidur, ya?”
“Ah, tidak juga.”
“Lantas, kenapa saat sampai di sini setelah makan dari kantin tadi, kau langsung mencari meja dan terlelap?”
“Entahlah. Aku juga bingung.”
“Apa semua Indonesian sepertimu ini?”
“Tidak semua. Hanya sebagian kecil.”
Hikaru mengangguk-anggukkan kepala.
“Ini juga, mungkin sepertinya pelampiasanku atas tugas musim dingin kemarin. Padahal, kau juga tahu ‘kan kalau aku paling susah tidur? Apalagi siang hari seperti ini?”
“Ya, aku tahu.”
Hikaru melihat arlojinya. Setumpuk buku berada di dekatnya. Ruang perpustakaan mulai sepi dari pengunjung yang lalu lalang di sekitar rak.
“Sudah sore. Waktunya pulang.”
“Memang, kau tidak ada kuliah hari ini?”
“Sebenarnya ada. Tapi, aku sedang malas dan ingin bolos saja, hari ini. Hitung-hitung refreshing daripada aku jenuh.”
“Oh, pantas tadi kau tak peduli saat kubilang Pak Yuji mengadakan quiz.”
“Ah, santai saja. Besok-besok aku masih bisa quiz dengan cara ikut di kelas lain, ‘kan?”
“Ya, kau benar.”
Diam. Aku heran menatap Hikaru. Belakangan ini, ia berubah. Mulai dari memasak, sampai bolos kuliah. Ia berbeda sekali. Ada apa? Apa karena malam itu?
“Ya sudah! Ayo kita pulang! Nanti keburu gelap!”
“Baiklah!”
Aku mengekor di belakang Hikaru. Kami melewati meja-meja yang sebagian besar sudah kosong. Hanya beberapa yang terisi. Itu pun tak penuh. Hanya ada satu-dua orang yang masih bertahan.
Angin bertiup kencang saat Hikaru membuka pintu perpustakaan. Musim dingin masih menyisakan beberapa hari lagi sebelum masuk musim semi. Sambil berjalan, aku berpikir. Kenapa tadi aku mimpi pas pertama kali dateng ke Jepang, ya? Apa artinya? Baik? Atau buruk?

0 Responses to “#5”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: