#6

Hikaru membuka pintu rumah, dan masuk. Ia melempar kunci ke mangkuk di dekat pintu, dan melempar mantel ke tiang gantungan. Sambil hendak melepas sepatu, ia menolehku.
“Kau tidak masuk?”
Aku masih diam berdiri di pekarangan. Memandangi rumah, seakan aku belum pernah memasukinya. Seakan ada kekuatan magis yang menahanku agar tetap berada di luar rumah.
“Ternyata, rumah kita ini, banyak perubahannya!”
“Apa maksudmu?”
Hikaru tak jadi melepas sepatunya. Ia mendekatiku. Ia melihat ke arah yang sama denganku. Titian atap yang warnanya berubah, dan kusam. Legam.
“Seingatku dulu, waktu pertama kali aku ke sini malam itu, warna titian atap ini belum begitu kusam seperti ini. Belum begitu legam seperti ini.”
“Ya. Kau benar. Begitu juga kamu.”
Heran. Aku menoleh pada Hikaru yang masih memandangi titian.
“Apa maksudmu? Memangnya aku juga berubah kusam dan legam?”
Hikaru menolehku sambil tersenyum.
“Bukan itu. Maksudku, sudah tiga tahun kau di sini. Artinya, kau akan segera wisuda, dan pulang ke negara asalmu – Indonesia. Benar begitu, bukan?”
“Lho, bukankah kau pun begitu?”
“Memang. Tapi, setidaknya kau bisa keluar negeri ini. Bisa pergi ke tempat lain daripada di sini. Tapi aku? Aku tak ke mana-mana. Aku masih saja berdiam di kepulauan Jepang ini.”
“Tapi, kau ‘kan tidak asli Tokyo. Kau ‘kan asli Kobe. Kau bisa pulang ke sana setelah lulus nanti. Tidakkah kau ingin pulang?”
Hikaru diam. Ia menarik napas. Aku merasa tak enak. Aku merasa bersalah.
“Maaf, bukan maksudku-”
“Tidak apa-apa. Kau mengatakan yang sebenarnya. Kau mengatakan sesuatu yang dulu kuungkapkan padamu, saat kau baru sampai di sini pertama kali.”
“Ya, itu aku tahu. Dulu, kau utarakan alasanmu menjadi homestay-ku.”
“Benar. Itu aku lakukan, agar aku bisa pergi dari Kobe. Aku ingin menjelajahi dunia selain Kobe. Aku ingin mengenal dunia! Dan, aku ingin dunia pun mengenalku!”
“Dan dengan jadi relawan homestay, kau bisa keluar dari Kobe, bertemu teman dari lain bangsa dan negara. Dan, kau pun mengenali mereka seperti mereka mengenalimu. Dan, akulah yang beruntung itu.”
Hikaru tersenyum. Aku senang melihatnya.
“Tapi, aku masih tak habis pikir, bagaimana kau bisa mendapatkan rumah sebesar ini untuk homestay?”
“Memangnya?”
“Yah, setahuku rumah untuk homestay itu, tak terlalu besar seperti ini. Apalagi, hanya ditinggali oleh dua orang. Serta biasanya, ditinggali bersama satu keluarga.”
“Hal itu sudah aku ungkapkan dulu saat pertama kali kau sampai di sini, bukan?”
“Yah, memang benar. Aku tahu kau sendiri yang mengajukan agar sendirian saja menjadi homestay mahasiswa asing. Berani sekali! Untung saja kau mendapatkan aku.”
“Bagaimana bisa aku beruntung?”
“Yah, kau tahu sendiri. Kau cukup terbantu oleh kehadiranku yang bisa mengurus rumah.”
Hikaru tersenyum. Ia tersipu. Malu. Mukanya merona.
“Tapi, aku masih penasaran dengan rumah ini. Dari mana kau mendapatkannya?”
Hikaru diam. Ia hanya mendelik. Senyumnya misterius.
“Itu, rahasia!”
Kamarku terasa sepi dan dingin malam ini. Jam dinding menunjukkan jam dua belas. Pastinya, Hikaru sudah terlelap di kamarnya. Padahal – dulu, biasanya kami masih menggosip sambil bergadang.
Sekarang, Hikaru berbeda!
Ah, tapi sudahlah. Lebih baik kunikmati saja sinaran bulan dari balik gelapnya kamarku. Mungkin, dengan kesendirian ini, bisa kuambil sesuatu yang berharga. Bisa kupetik sesuatu untuk diriku sendiri.
Tiba-tiba, aku teringat dengan perkataan Yamada tadi sore. Beberapa insinyur akan datang dari Indonesia! Siapa saja? Adakah Pram? Pram? Kenapa muncul Pram? Lagi-lagi Pram!
Aku menegakkan diri dengan bersandar pada dinding. Kenapa tiba-tiba muncul Pram kembali? Memangnya, Pram sudah lulus? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih mengingatku?
Aneh.
Kuraih tas, dan kukeluarkan kertas pengumuman yang diberikan Yamada tadi. Kubaca berulang-ulang, di balik keremangan. Adakah Pram di antara mereka?
Selintas, pikiran itu menggangguku. Kulempar kertas itu sampai menghilang dalam gelap. Kurebahkan diriku lagi. Kucoba mengalihkan pikiranku. Tapi, tetap saja aku tidak bisa.
Pram. Lagi-lagi Pram. Ada apa sebenarnya dengan Pram? Bagaimana kabarmu, Pram?
Sudah siang ketika akhirnya aku membuka mata. Tidurku nyenyak sekali, sampai-sampai aku tak mendengar bunyi weker. Atau, memang wekerku tak menyala?
Kutengok jam dinding. Sudah jam sepuluh. Untunglah, hari ini aku tak ada kuliah. Jadi, aku tak perlu buru-buru ke kampus!
Aku menggeliat. Kulemaskan sendi-sendiku yang terasa pegal akibat tidur. Aku pergi ke kamar mandi. Kucuci muka.
Hikaru sedang olahraga ringan di halaman ketika kubuka jendela dari lantai dua. Ia langsung mendongak begitu mendengar suara jendela terbuka.
“Selamat pagi, Hikaru!”
“Pagi juga, Ghita-chan! Tidurmu nyenyak?”
“Yah, begitulah. Ada apa hari ini?”
“Biasa saja. Hanya saja, tidak biasanya kau bangun setelat ini. Meski di hari libur, sekalipun!”
“Ya, sepertinya wekerku ada masalah. Atau, memang aku yang tidak mendengarnya. Ah, aku tak terlalu peduli! Dan juga, semalam aku bergadang.”
“Lagi? Untuk apa?”
“Yah, biasa. Kau pun tahu jika sedang gundah aku sering begitu, bukan?”
“Ooh.”
“Kau sudah sarapan?”
“Sudah, dengan sereal dan susu.”
“Baguslah. Maaf, aku tak membuatkan sarapan.”
“Tidak apa, Ghita-chan. Lagipula, persediaan sereal dan susu kita masih banyak. Daripada kadaluarsa, lebih baik segera dihabiskan sebelum tenggat waktunya habis!”
Aku tersenyum. Hikaru pun demikian.
“Hari ini, kau ada acara Ghita-chan?”
“Aku? Sepertinya ada.”
“Bukankah kuliahmu libur hari ini?”
“Justru karena libur itulah, aku harus berontak! Aku harus bisa berlaku seperti manusia biasa! Tidak lagi menjadi mahasiswi yang sedang tertekan karena sebentar lagi akan menyusun skripsi. Setidaknya, aku harus bisa mencari-cari suasana baru. Meski itu, hanya untuk sementara.”
“Suasana apa?”
“Yah, mungkin suasana yang benar-benar berbeda daripada suasana kelas.”
“Mau cari di mana?”
“Aku mau ke perpustakaan, dan atau sekalian ke toko buku untuk mencari beberapa referensi.”
“Perpustakaan?”
“Memangnya ada yang salah dengan perpustakaan?”
“Yah, aku kira kau akan mencari suasana baru itu bukannya ke perpustakaan. Tapi mungkin, ke tempat belanja atau yang lainnya.”
“Yah, itulah aku.”
“Oh.”
“Memang kenapa?”
“Tidak. Tidak apa-apa. Hanya saja..”
“Apalagi?”
Hikaru diam – berpikir. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi begitu berat!
“Ah, tidak jadi. Tidak usah kau pikirkan!”
Aku diam. Aku heran menatap perubahan Hikaru yang seketika.
“Ya sudah kalau begitu. Aku mandi dulu, ya!”
Aku menarik diri dari jendela. Hikaru kembali berolahraga. Aku menuju laci pakaianku untuk mengambil handuk untuk mandi.
Laci nomor dua kutarik sampai terbuka. Kulihat handukku berada di paling luar. Segera, kutarik saja handuk itu sampai keluar. Kemudian, sesosok kecil jatuh di dekat kakiku. Sosok, yang sepertinya kukenal beberapa tahun yang lalu. Burung kertas.
Kupungut burung kertas yang tak berdaya itu. Aneh. Mengapa ada burung kertas di sini? Seingatku, aku tak pernah menyimpan sesuatu di laci bersama handuk. Apalagi, burung kertas! Tapi, mengapa ada di sini?
Pram.
Satu nama itu kembali bergema di telingaku. Ada apa ini? Kenapa Pram?
Kusimpan burung kertas itu di meja samping ranjangku. Dan, untuk mencegahnya agar tidak kabur, kututup jendela rapat-rapat. Tak lama, aku segera masuk kamar mandi. Kabur?
Sambil disirami air shower, aku memikirkan burung kertas tadi. Bagaimana bisa burung kertas itu berada di laci? Padahal, aku ‘kan tak pernah memasukkannya ke sana! Aku tak pernah memasukkan sesuatu pun barang-barang seperti itu! Dugaan demi dugaan merajai benakku.
Tak lama, acara mandiku selesai. Aku keluar dari kamar mandi. Langsung kucari burung kertas yang tadi kusimpan di atas meja. Tapi, tak kutemui burung kertas itu di sana. Meja samping ranjangku bersih. Tiada burung kertas.
Apa tadi aku mengigau? Masa’ iya? Lalu, di mana burung kertas yang tadi kusimpan itu?
Aku bergidik. Tak berani membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada semacam sihir di sini? Ke mana burung kertas itu pergi? Apa artinya?

0 Responses to “#6”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: