#7

“Hei, kalau lagi makan, nggak boleh bengong!’
Teguran Hikaru menyadarkanku. Sepertinya, dari tadi aku termangu dengan memegang sendok serealku tanpa menyuapkannya ke dalam mulut. Hah?
“Kau kenapa sih, akhir-akhir ini?”
“Apa? Aku? Tidak apa-apa.”
“Benarkah? Lalu kenapa kau sepertinya lebih sering dan gampang hilang kesadaran?”
“Ah, memangnya seperti itu?”
“Lalu, kenapa kau dari tadi memegang sendok sereal itu tanpa menyuapkannya?”
Aku tersadar. Kutatap sendok sereal di depanku yang masih kupegang. Isinya masih penuh. Apa iya aku melamun? Sejak kapan? Lamakah?
“Sudah?”
“Ya, kau benar.”
Kusimpan sendok sereal itu ke dalam mangkuknya kembali. Kudorong mangkuk serealku yang masih baru sedikit saja kumakan.
“Kenapa, tidak lapar?”
“Nafsu makanku hilang.”
“Ooh.”
Kutengok arlojiku. Sudah jam dua belas.
“Kau tak berangkat ke perpustakaan?”
“Iya. Ini juga baru mau berangkat.”
“Ya sudah. Hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam, ya!”
“Beres!”
“Bagus. Kalau begitu, aku mau berendam dulu, ah! Aku mau memanjakan tubuhku yang sudah berkeringat ini.”
“Iya, sana! Bau!”
“Enak saja kau!”
Hikaru pergi sambil tersenyum. Aku tertawa.
“Kau mau titip apa?”
“Tidak, terima kasih!”
“Benarkah?”
“Ya!”
Tak lama, suara Hikaru tak terdengar lagi. Yang kudengar hanyalah suara bak mandi yang diisi.
Aku bersiap pergi. Kusimpan mangkuk sereal di tempat cuci piring, dan merapikan tasku. Kuperiksa kembali perlengkapanku. Jaga-jaga, jangan sampai ada yang tertinggal.
Kubuka pintu rumah. Matahari tidak bersinar terang. Awan menutupi sebagian cahayanya. Baguslah! Kalau begini, aku nggak bakalan kepanasan! Tapi, bagaimana jika hujan?
Aku tak peduli. Kupakai saja mantelku. Kubenarkan letak tas di pundakku sebelum akhirnya melangkahkan kakiku dengan semangat. Menuju kampus. Menuju perpustakaan. Mencari referensi untuk skripsiku.
Ini dia! Ini saatnya! Aku harus berhasil hari ini!
Kusunggingkan senyum di wajahku. Aku tak peduli anggapan orang. Biar saja mereka menganggapku apa pun! Yang penting, ini semangatku! Semangat!
Jarum jam di arlojiku menunjukkan jam satu tepat. Aku menginjakkan kaki di perpustakaan. Sepi! Tak biasanya perpustakaan begini. Ada apa?
Aku langsung menuju rak buku-buku budaya. Aku mencari buku-buku referensi skripsiku nanti. Rencananya, skripsiku nanti akan kuberi judul ”Haiku on the world perception of Japanese literature – culture”.
Kubawa beberapa buku yang berhubungan dengan temaku. Kebanyakan, buku-buku kumpulan haiku – puisi Jepang, yang ditulis oleh sastrawan atau penulis asing – bukan Jepang. Salah satunya adalah (alm.) Wing Kardjo. Sastrawan Indonesia yang pernah mengajar di Jepang. Sastrawan Indonesia yang pernah mengeluarkan sebuah buku kumpulan haiku ciptaannya sendiri.
Tiga buah buku kubiarkan terbuka di meja. Satu-persatu kubaca dan kuanalisa. Kucari beberapa kesamaan yang mungkin ada di antara mereka, dan kecenderungan yang menonjol dari karya-karya mereka.
Waktu berjalan, dan terus berjalan. Aku larut dalam penelitian. Sepinya kondisi perpustakaan yang tak biasa ini, sedikit menguntungkanku. Tapi, di sisi lain aku rugi! Kalau ada apa-apa denganku bagaimana? Apa akan ada yang tahu? Siapa yang akan menolongku? Ih, ngeri!
Aku tergugah. Kutegakkan dudukku. Kutoleh sekeliling. Sepi. Masih seperti tadi. Tiada orang yang membaca di dekatku. Tiba-tiba, bulu kudukku berdiri. Aku bergidik. Ada apa ini? Kok jadi serem, ya?
Perlahan, hawa sekelilingku mendingin. Suasana sepi menambah kengerian. Selintas, aku teringat pada burung kertas yang bisa hilang begitu saja tadi siang. Ih, kok tambah ngeri, ya? Kenapa ini?
Aku harus pergi! Aku harus pulang! Aku harus keluar dari sini! Serem! Ngeri! Sepi! Takut! Sendiri, lagi!
Kututup buku-buku yang terbuka dengan tergesa-gesa. Kutumpuk, dan kuangkat dengan dua tangan. Aku segera menuju tempat peminjaman buku di bagian depan. Aku ingin segera pergi dan meninggalkan tempat ini.
Ayo! Pergi! Pergi! Pulang! Yang penting pergi dari sini! Pergi dari sini!
Setengah berlari, aku bergegas. Belum pernah aku diliputi kengerian yang begitu sangat seperti ini. Tak ada pikiran lain di benakku, selain cepat keluar dan segera pergi dari sini.
Cepat! Cepat! Ngeri, nih! Serem, nih! Takut, nih! Ayo pergi! Ayo pergi!
Tiba-tiba, kakiku terantuk sesuatu. Aku tersandung! Sepertinya, aku terlalu sibuk memegangi buku agar tak jatuh karena terburu-buru, sehingga aku akhirnya tak sempat memperhatikan jalanan.
GUBRAK!
Aku terjatuh. Bukuku berhamburan dan berserakkan di mana-mana. Gaduh.
“Kau tidak apa-apa? Maaf, aku tidak tahu jika ada yang lewat!”
Kutoleh sumber suara itu. Seorang pria sedang berjongkok di dekatku. Mukanya menyiratkan kecemasan dan rasa bersalah. Tapi, ia tampan juga!
“Aku tidak apa-apa. Aku saja yang kurang hati-hati.” jawabku dalam bahasa Jepang. Sudah lancar sekarang!
“Sini! Biar kubantu membereskan buku-bukumu!
Pria itu langsung berjalan ke arah buku-bukuku yang berserakkan. Ia memungutinya satu-persatu dan kemudian menumpuknya. Aku mencoba berdiri. Sakit juga gara-gara jatuh! Tapi, kehibur juga! Yang nabraknya cakep juga, sih!
“Ini buku-bukumu. Sekali lagi, aku minta maaf.”
“Arigato gozeimas! Terima kasih! Kau tak perlu minta maaf sebenarnya. Aku juga yang salah.”
“Ah, tidak apa. Aku juga yang ceroboh tidak tahu kau sedang repot dengan buku-buku yang sebegini banyak.”
Aku tersenyum mendengarnya. Ia sopan juga!
“Aku Hiroshi Takagi. Tapi, teman-temanku lebih sering memanggilku Aoshi. Nama pendekku, kata mereka. Kau juga boleh memanggilku begitu. Aku mahasiswa teknik. Salam kenal!”
Ia menganggukkan kepalanya. Tersenyum. Sweet!
“I-iya. Aku Ghita Amadela. Aku kuliah Sastra Jepang. Aku mahasiswa dari Indonesia. Salam kenal juga!”
Aku salah tingkah. Kok? Apa karena Aoshi yang cute ini? Atau, jangan-jangan ada sebab yang laen? Apa, ya? Kok bisa?
“Indonesia? Wah, nama negaramu itu sedang jadi bahan obrolan hangat di Fakultas kami!”
“Ya, aku tahu. Rencananya, akan ada insinyur yang datang, ‘kan?”
“Benar! Dari mana kau tahu?”
Aku tersenyum. Muka Hiroshi tampak terkejut.
“Kau kenal Yamada Kusuya?”
“Ya. Dia mahasiswa terbaik tahun lalu. Memang, apa hubunganmu dengan dia? Jangan kau katakan, kalau kau tahu darinya, ya!”
Aku hanya diam. Tersenyum. Nakal. Iseng.
“Ya, begitulah. Kami berteman. Baru kemarin dia mengabariku tentang hal yang kau katakan tadi.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Wah, kau hebat bisa berteman dengannya! Setahuku, ia termasuk orang yang tertutup dan selektif dalam memilih orang-orang yang dekat dengannya untuk dijadikan teman. Pasti, kau bukan sekedar orang biasa, ya?”
“Ah, kau bisa saja. Biasa saja-lah! Aku bukan orang biasa seperti apa memangnya? Kau lihat ‘kan kakiku? Masih menempel dengan lantai!”
Aoshi terkekeh. Aku tersenyum. Entah, tapi rasa takutku hilang. Ngeriku luntur. Aku senang bertemu Aoshi, meski sempat jatuh tadi. Abis, Aoshi cute!
“Kau mau pergi?”
“Ya.”
“Dengan buku-buku sebanyak itu?”
“Ya.”
“Memangnya bisa meminjam buku sebanyak itu?”
“Tentu. Aku meminjamnya untuk referensi skripsiku yang akan kutulis nanti.”
“Skripsi? Berarti, sebentar lagi kau lulus dan wisuda, ya?”
“Ya, begitulah. Masih setahun lagi, sih. Memangnya kau tidak?”
“Aku? Lulus dan wisuda? Wah, masih jauh! Ini baru tahun keduaku kuliah di sini!”
“Oh.”
Hatiku kecewa. Ternyata, ia masih junior! Andai saja ia setingkat, pasti ia akan kudekati! Habis, masa’ pacaran dengan junior, sih! Gengsi, dong!
“Ghita? Ghita?”
“Ya. Ada apa?”
“Ah, tidak. Aku hanya heran saja, tiba-tiba kau melamun.”
“Aku? Melamun? Kapan? Masa’, sih?”
“Tadi, sebelum aku memanggilmu.”
“Oh, maaf. Akhir-akhir ini aku memang mudah sekali hilang kesadaran. Pasti ini karena sebentar lagi aku akan menyusun skripsi dan mengajukannya. Jadi, aku banyak pikiran!”
“Ah, benarkah?”
“Tentu saja!”
Aoshi tersenyum.
“Kulihat, buku-bukumu tadi sebagian besar adalah buku haiku. Memangnya, kau mau menulis skripsi tentang apa? Haiku?”
“Yah, yang pasti tidak jauh dari sana. Haiku-haiku juga!”
Kutatap arloji. Sudah jam enam kurang. Waktunya pulang! Mukaku sepertinya berubah, karena Aoshi langsung bertanya.
“Ada apa?”
“Sudah jam enam kurang. Aku harus segera pulang!”
“Pulang ke mana?”
“Rumah. Aku homestay dengan temanku di sini.”
“Di mana? Biar kuantar! Hitung-hitung, ganti salahku karena telah menjatuhkanmu tadi.”
“Ah, tidak usah. Terima kasih. Aku bisa pulang sendiri naik kereta. Yamaguchi tidak terlalu jauh!”
Aduh, kok nolak, ya? Padahal ‘kan, mumpung kesempatan ditawarin, nih! Kapan lagi kesempatan kaya’ gini? Moga-moga, Aoshi nawarin lagi. Ayo Aoshi! Tawarin lagi!
“Yamaguchi? Benarkah? Bukankah kereta jurusan sana penuh pada jam-jam seperti ini? Ini ‘kan jamnya orang pulang kerja dari kantor.”
“Ya, tapi-“
Sudah! Terima aja kalo dia nawarin lagi!
“Ayolah, aku bukan orang jahat seperti di anime-anime atau manga-manga yang sering kau baca. Aku orang baik-baik. Apa perlu kuperlihatkan kartu mahasiswaku?”
Aoshi merogoh saku celananya. Ia mengambil dompet. Dari dalamnya ia keluarkan kartu mahasiswanya dan langsung diserahkan padaku. Sejenak, kupandangi dan kuperhatikan. Kubandingkan fotonya dengan yang asli dan sedang berdiri menunggu di depanku. Tetep! Sama! Cute!
“Baiklah, aku percaya. Tapi jangan coba-coba macam-macam, ya? Memikirkan selintas juga, JANGAN!”
“Iya…iya…”
Aoshi tersenyum. Aku mengembalikan kartu mahasiswanya. Ia langsung memasukkannya kembali ke dalam dompetnya. Ia memasukkannya ke dalam saku.
“Satu lagi.”
“Apa?”
“Aku tidak baca manga, dan nonton anime. Aku tidak terlalu suka dengan hal-hal itu. Meski, satu sisi aku senang juga melihat gambar-gambar yang berbeda daripada lainnya.”
Aoshi tersenyum.
“Sudahlah. Sini aku bantu bawakan buku-buku itu! Memangnya, boleh ya meminjam sebanyak ini?”
“Ya, aku sudah meminta pengecualian pada pustakawannya. Aku sudah membuat surat izin.”
“Oh, ya sudah. Mobilku di luar.”
Apa? Mobil?

0 Responses to “#7”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: