#8

Aoshi berjalan menduluiku ke tempat parkir. Aku mengikutinya dari belakang. Ia membawa sebagian buku-buku yang kupinjam. Jalannya cukup cepat, sehingga aku agak kerepotan juga mengikutinya. Mungkin, ini kebiasaan orang Jepang.
“Ghita! Sebelah sini! Ayo kemari! Mobilku di sini!”
Aku menuju arahnya. Aku berhati-hati agar buku-buku yang kubawa tak jatuh lagi. Saat sampai, aku terkejut. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Sebuah mobil sedan merk Eropa seri terbaru tergeletak di sana. Aoshi menunggu sambil membuka sebuah pintu. Walau sudah sore, tapi mobil itu berkilauan terkena cahaya lembayung.
Wah! Keren!
“I-ini mobilmu?”
“Ya. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Hanya saja, sepertinya sayang menggunakan mobil sebagus ini hanya untuk pulang pergi ke kampus.”
“Ah, tidak juga.”
“Memangnya?”
“Aku juga memakainya selain ke kampus.”
“Ke mana saja?”
Aoshi hanya tersenyum. Sangat misterius sekali! Kedua alisnya terangkat. Aku mulai berpikiran negative tentangnya.
Mungkinkah dia lelaki panggilan? Memangnya di Jepang sini, ada hal seperti itu?
“Sudahlah. Tak usah kau pikirkan itu. Sekarang, ayo masuklah saja ke dalam mobil. Perjalanan kita masih panjang. Ayo kita berangkat! Kau tak mau kemalaman di jalan, ‘kan?”
Bagai tersihir, aku menurut saja. Tapi, hatiku sebenarnya enggan. Kenapa ini?
Kusimpan buku-buku yang kupinjam di kursi belakang, dan aku duduk di kursi depan. Aoshi masuk. Ia duduk di kursi pengemudi. Kupasang sabuk pengaman.
“Siap berangkat?”
“Ayo.”
“Nanti, kalau sudah masuk daerah tempat tinggalmu, kau jadi penunjuk jalannya, ya? Jangan sampai, nanti kita nyasar.”
“Oke.”
Aoshi menyalakan mobilnya. Perlahan, kami bergerak meninggalkan perpustakaan dan kawasan kampus.
Entah, tapi perasaanku jadi tidak enak lagi. Ada apa, ya? Apa karena Aoshi? Memangnya kenapa? Dia ‘kan cute! Tapi…
Sudah gelap ketika Aoshi mengantarku sampai di rumah. Kulihat arloji. Jam delapan. Lama juga perjalananku. Sama seperti naik kereta! Tapi, tentunya ini lebih aman dan tentu saja, GRATIS!
“Sudah sampai. Jadi ini homestay-mu? Bagus juga untuk ukuran rumah yang jadi homestay.”
“Ya. Memang.”
Aoshi diam. Ia memperhatikan rumah.
“Baiklah. Terima kasih atas tumpangannya. Maaf sudah merepotkan!”
Kubuka sabuk pengaman. Turun. Kubuka pintu belakang. Kuambil buku-buku.
“Sini! Biar kubantu!”
Kutatap Aoshi yang sudah membuka pintu sebelahnya. Ia mengambil sebagian buku-buku yang belum sempat kuraih.
“Ah, kau tidak usah repot seperti itu. Harusnya kau-“
“Sudahlah! Aku ikhlas!”
“Tapi-“
Aoshi sudah menutup pintu sebelum aku selesai bicara. Mau tak mau, aku pun menutup pintu dan membawa beberapa buku yang teraih olehku. Kususul Aoshi yang sudah menunggu di gerbang.
“Silakan.”
Aoshi membukakan pintu gerbang, meski tangannya penuh dengan buku-buku. Sepertinya, ia mencoba menarik perhatianku atau membuatku terkesan. Tapi aneh, rasa kagumku tak lagi sama seperti tadi sore. Kini, aku lebih banyak curiga padanya. Ada apa, ya? Apa karena ia…
“Ghita-chan, kau pulang dengan siapa?”
Aku terkejut. Hikaru sedang berada di teras saat aku masuk ke pekarangan. Aoshi berhenti di belakangku.
“Uh…mmm…dia…”
“Halo! Aku Hiroshi Takagi. Tapi, lebih sering disebut Aoshi. Salam kenal!”
Aoshi maju dan memperkenalkan dirinya pada Hikaru. Lho, kok Aoshi langsung maju, ya? Dia ini, sopan atau cari perhatian Hikaru saja, ya? Atau jangan-jangan…
“Halo Aoshi. Aku Hikaru Shirogawa. Salam kenal juga.”
“Oh, pasti kau sahabat homestay-nya Ghita, ya?”
“Ya. Benar. Ghita-chan sudah cerita, ya?”
“Ya, begitulah.”
Aku hanya diam memperhatikan percakapan mereka. Lho, kok jadi gini? Bukannya Aoshi tadi bersamaku? Kok sekarang justru mengambil perhatian Hikaru? Ternyata, Aoshi buaya juga! Tapi, kenapa aku jadi begini?
“Baiklah. Aku simpan buku-buku ini!”
Aku berjalan memotong pandangan Aoshi dan Hikaru. Tapi, mereka tak mempedulikanku. Mereka tetap berpandangan seolah-oleh aku tak pernah lewat. Kesal, kusimpan buku di kursi dengan agak kasar.
BRAK!
Hening. Hikaru dan Aoshi masih tetap berpandangan.
“Aoshi?”
Tak ada jawaban.
“Aoshi?”
Masih sama.
“Aoshi!”
“Y-ya! Ada apa?”
“Bukunya. Ke sini.”
“Ba-baiklah!”
Aoshi memandangku sebentar. Lalu, ia kembali menatap Hikaru. Ia berjalan mendekatiku tanpa melepas pandangannya pada Hikaru. Hikaru sendiri tetap memandangnya. Ada apa ini? Apa ada sesuatu? Dasar cowok!
Aku mendehem.
“Ehm..Sekarang jam berapa, ya?”
Adu pandang Hikaru dan Aoshi tiba-tiba berhenti. Muka Aoshi berubah.
“Waduh! Sekarang jam berapa, ya?”
Aoshi segera menatap arlojinya. Ia nampak begitu terkejut, dan khawatir.
“Celaka! Sudah jam segini! Jam delapan lebih! Aku harus segera pergi! Sudah telat!”
“Pergi? Telat? Ke mana? Ada apa?”
“Aduh, aku tak bisa menjawab sekarang Hikaru. Maaf, ya. Aku harus segera pergi. Maaf. Selamat malam!”
“Ta-tapi…”
“Ya! Hati-hati! Terima kasih sudah mengantarku, ya!”
Aoshi tersenyum.
“Ya, sama-sama. Permisi! Selamat malam!”
Aoshi membungkuk. Ia segera berbalik ke mobilnya yang berada di luar dengan setengah berlari. Tak lama, ia sudah melesat hilang di dalam kegelapan.
Mimik Hikaru menampakkan kekecewaan. Sepertinya, ada sesuatu yang timbul di hatinya ketika lama beradu pandang dengan Aoshi tadi. Pasti ada sesuatu! Benarkah? Tapi, apa?
“Hikaru, sudah malam. Kau masih mau di luar sini?”
“Ap-apa?”
Hikaru seperti baru saja tersadar dari mimpi panjang. Ia menoleh.
“Ah, sudahlah. Sekarang, bantu saja aku membawa buku-buku ini ke dalam!”
Aku masuk ke dalam rumah dengan setengah tumpuk buku. Hikaru menyusul di belakangku.
“Ghita-chan!”
“Apa?”
“Dari mana kau mengenalnya? Dia sebenarnya siapa, sih?”
“Dia? Bukankah tadi dia sendiri sudah memperkenalkan dirinya padamu. Namanya Aoshi, ‘kan?”
“Bukan itu! Aku sudah tahu soal itu. Maksudku, bagaimana sampai kau bisa mengenalnya? Dari mana?”
Aku tersenyum. Lucu juga mendengarnya. Baru sekarang ini aku mendapati Hikaru begitu bersemangat ingin tahu tentang seorang pria. Benarkah ada sesuatu yang telah terjadi? Apa?
“Memangnya kenapa? Kau suka, ya?”
Muka Hikaru memerah.
“Aku? Suka? Tidak!”
“Lalu, kenapa mukamu merah seperti tomat?”
Hikaru diam. Ia salah tingkah.
“Ah, pasti kau suka, ‘kan? Mengakulah!”
“Tidak, Ghita-chan.”
“Bohong…”
“Tidak!”
“Ah, kau berbohong! Aku tahu!”
Hikaru diam. Mukanya semakin merah padam. Ingin sekali aku tahu apa kata hatinya. Ayo deh…Ngaku aja!
“Ya sudah, deh. Terserah. Besok, aku gosipkan saja dengan teman-teman yang lain.” kataku sambil berlari menaiki tangga.
“Ghita-chan! Jangan!”
Aku tertawa. Menyenangkan juga usil terhadap orang lain. Apalagi usil kepada Hikaru.
“Ghita-chan!”

0 Responses to “#8”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: