#9

“Kau tidak mengantuk?”
“Memang kenapa?”
Hikaru mendekatiku yang sedang berbaring di lantai sambil menonton TV.
“Aku lelah.”
“Oh. Tidurlah di sampingku.”
Hikaru merebahkan tubuhnya di sampingku. Malam sudah cukup larut. Wajar saja Hikaru lelah. Perlahan, ia memejamkan matanya. Aku tetap menonton TV.
“Ghita-chan?”
“Hmm…”
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Yang mana?”
“Dari mana kau mengenal Aoshi? Dan, bagaimana sampai kau mengenalnya?”
“Oh, itu. Mau kujawab yang mana dulu?”
“Yang pertama saja dulu.”
“Memangnya kenapa?”
“Jawab saja.”
“Di perpustakaan.”
“Oh. Bagaimana bisa?”
“Kami bertabrakan.”
“Bertabrakan? Bagaimana bisa?”
“Ya, begitulah. Kejadiannya terjadi begitu saja. Begitu cepat, dan sungguh tiba-tiba. Aku sendiri tak menyangka itu akan terjadi. Karena aku tersandung olehnya.”
“Tersandung? Tadi, katamu kalian bertabrakan. Bagaimana? Mana yang benar?”
Diam. Kuakui aku telah salah bicara.
“Hmm, maksudku kaki kami bertabrakan. Begitu, Hikaru.”
“Oh. Lalu, kenapa dia bisa mengantarmu sampai ke rumah? Bagaimana ceritanya?”
Aku menghela napas sejenak. Ada apa ini? Tak biasanya Hikaru menanyaiku seperti ini. Ini kali kedua ia menanyaiku atau yang lebih tepat kusebut menginterogasi.
“Tadi dia menawarkan diri untuk mengantarku karena dia merasa bersalah telah menyandungku.”
“Sebentar. Menyandungmu? Tadi, kau sebut kau tersandung.”
“Ya. Aku juga berpikiran sama sepertimu. Tapi, dia merasa kejadian itu karena salahnya, jadi ia menawarkan diri untuk mengantarku. Apalagi, setelah melihat buku-buku yang akan kupinjam begitu banyak.”
“Oh. Dan, kau menerimanya begitu saja?”
Hikaru tiba-tiba bangkit dan duduk di sebelahku. Matanya menyala-nyala. Ciee, Hikaru. Kau pasti menyukainya, ya sampai begitu bersemangat seperti ini!
“Ya.”
Kumatikan TV dan ikut duduk menghadapnya.
“Apa lagi? Dua pertanyaanmu sudah kujawab.”
“Mmm….dia dari mana?”
“Mahasiswa Teknik.”
“Wah? Benarkah?”
“Ya. Tapi, dia baru tingkat dua. Junior kita.”
“Ah, umur tak jadi masalah.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Lho, emang kenapa?”
“Ah, tidak.”
Wajah Hikaru memerah. Matanya berkeliling. Bibirnya bergerak-gerak. Hmm, sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan. Apa, ya?
Aku tersenyum nakal. Ingin sekali aku menggodanya. Tapi…
“Aku lelah. Ngantuk. Aku tidur dulu, ya.”
“Ghita-chan! Tunggu!” Hikaru memegangku.
“Ada apa lagi?”
“Bisa kita mengobrol lebih lama lagi?”
Hikaru menatapku penuh harap. Aku jadi curiga. Jangan-jangan, memang ada sesuatu. Ada apa sebenarnya?
Aku duduk kembali di hadapannya.
“Ya. Boleh. Ada apa?”
Hikaru diam. Matanya berkaca-kaca. Aku tak berani bertanya. Aku diam memperhatikan.
Tak lama, tangis Hikaru meledak. Ia menjatuhkan dirinya padaku. Ia menangis. Hikaru menangis. Aku memeluknya. Menggenggam tangannya. Mencoba menenangkannya.
Sebenarnya, ingin sekali kutanyakan penyebab ia menangis. Tapi, hatiku melarang. Hikaru, ada apa? Mengapa kau menangis? Apa sebabnya? Apa ini karena Aoshi? Atau, ada yang lainnya? Apa, Hikaru? Ada apa?
Malam bertambah larut, tapi kantukku hilang. Aku terjaga menemani Hikaru menumpahkan kesedihannya. Menuntaskan tangisnya. Meluapkan rasa hatinya, tanpa kuketahui apa alasan pastinya.
Hikaru, mengapa kau menangis?
Kuantar Hikaru ke kamarnya. Malam sudah berganti dini hari. Sudah jam satu pagi ketika akhirnya Hikaru berhenti menangis. Rasa penasaranku masih ada. Hikaru, mengapa kau menangis?
Hikaru berbaring di ranjangnya tanpa suara. Aku menyelimutinya.
“Terima kasih.” ujarnya parau.
Aku tersenyum.
“Tidurlah. Kau pasti lelah.”
Aku berbalik. Menuju pintu.
“Ghita-chan!”
Aku berhenti. Menatap Hikaru dari jauh.
“Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.”
“Oh, ya? Apa itu?”
Diam. Hikaru belum menjawab. Ia menunduk terlebih dulu.
“Aku teringat pada seseorang ketika bertemu Aoshi tadi. Seseorang yang sudah lama sekali tak kutemui. Dan, saat melihat Aoshi tadi, orang itu terbayang kembali di benakku. Seseorang yang benar-benar ingin kutemui lagi.”
Aku mendekat.
“Benarkah? Siapa?”
“Ini salah satu hal yang tak pernah kuceritakan padamu.”
“Maksudmu apa?”
Hikaru bangkit. Ia menegakkan tubuhnya dan bersandar pada dinding. Aku duduk di dekat kakinya.
“Sebenarnya, hal ini pangkal dari semua alasanku pergi dari Kobe.”
Aku diam. Kucoba mendengarkan dengan seksama.
“Dulu, aku pernah dekat dengan seseorang. Namanya Ryu Okada. Kami berteman dari kelas sepuluh. Kami sering bersama. Meluangkan waktu bersama. Mengerjakan sesuatu bersama. Bahkan, kami sering main ke rumah masing-masing.”
“Lalu?”
“Ia mirip sekali dengan Aoshi. Cara bicaranya, gayanya, cara ia memandang, dan postur tubuhnya. Benar-benar mirip! Bahkan, minatnya kuliah teknik serta kemurahan hatinya untuk menolongmu dengan mengantarmu sampai rumah pun, salah satu kemiripan lainnya. Padahal, ia belum begitu mengenalmu, ‘kan? Tapi, ia sudah mengantarmu tanpa pamrih.”
“Di mana dia sekarang?”
Hikaru diam sebentar. Ia menghela napas. Sepertinya berat baginya untuk menjawab pertanyaanku.
“Ia pergi.”
Pergi?
“Pergi untuk selamanya.”
“Ke mana?”
“Ke dunia lain.”
Aku tersentak. Terkejut. Tak kuduga jawaban Hikaru itu.
“Benarkah?”
“Ya. Dan penyebabnya adalah hal terakhir yang kukatakan padamu tentang kemiripannya dengan Aoshi.”
“Saat ia menolong orang?”
“Ya. Terakhir kali, dia memberi tumpangan pada seseorang untuk ikut. Tapi…”
Aku menunggu. Kubiarkan Hikaru menyelesaikan kata-katanya.
“Tapi ternyata yang diberi tumpangannya itu justru berbuat jahat padanya.”
“Bagaimana ia bisa meninggal?”
“Di sebuah persimpangan, mobil mereka kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan. Itu semua karena Ryu tak mau memberikan kendali mobil pada orang itu. Lalu, dari arah depannya sebuah truk datang dengan kecepatan tinggi.”
Air mata menitik keluar dari mata Hikaru. Ia mencoba menahan tangisnya, tapi percuma.
“Andai saja waktu itu Ryu memberikan kendali, mungkin takkan seperti ini.”
Diam. Pipi Hikaru mulai basah.
Aku diam sebentar. Menahan emosi. Tapi, aku ingin tahu lebih banyak!
“Kapan itu terjadi?”
“Beberapa saat sebelum lulus kelas dua belas. Tepat di akhir musim semi. Saat Sakura mulai berguguran.”
“Oh. Tapi, setahuku kau justru bersemangat jika Sakura muncul selama tiga tahun belakangan ini. Kenapa?”
“Karena, meski dia meninggal saat musim semi, aku justru mengingatnya dalam kenangan indah. Karena, saat Sakura bermekaran inilah, aku justru mengingatnya setelah mungkin melupakannya selama setahun. Aku merindukannya.”
“Tidakkah itu membuatmu sedih?”
“Pada awalnya, ya. Tapi lama kelamaan tidak. Karena justru dengan momentum Sakura inilah, aku bisa mengenangnya. Meski, seharusnya ia memberi Sakura-ku dengan kepahitan.”
Aku manggut-manggut saja mendengarnya.
“Oh, pantas saja kau menyambut hadirnya Sakura dan musim semi dengan gembira sekali pada awalnya, tapi kemudian kau larut dalam kegamangan dan kegalauan.”
“Ah, benarkah seperti itu?”
“Ya.”
“Kau pasti bercanda. Itu hanya akal-akalanmu saja untuk membalasku, ‘kan?”
“Lho, apa yang harus kubalas?”
“Kau ‘kan sering sekali melamun. Sudah lupa, ya?”
“Enak saja kau!”
Hikaru tersenyum. Air matanya hilang seketika. Senang rasanya melihatnya begini.
Oh, jadi itu sebabnya ia berubah akhir-akhir ini!
“Lalu, bagaimana ceritanya sampai kau meninggalkan Kobe?”
“Itu keinginannya.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
“Surat. Aku membaca suratnya.”
“Surat? Ia mengirimimu surat?”
“Ya.”
Aku bergidik. Seram!
“Bukan setelah ia meninggal tentunya. Tapi, dari surat-surat yang kami simpan dan janjikan untuk dibaca bersama setelah kami lulus. Surat Keinginan.”
“Oh.”
Aku tenang. Lega. Syukurlah!
“Bagaimana?”
“Suatu waktu di kelas sebelas, kami membuat sebuah kotak dan kami isi dengan surat berisikan keinginan-keinginan kami setelah lulus. Dan, kami menguburnya di sebuah tempat.”
“Wah, romantis sekali.”
“Tapi sayang, ia keburu meninggal. Jadi, ia tak bisa membaca suratku.”
“Tapi, setidaknya kau sudah bisa membaca suratnya ‘kan?”
“Ya.”
“Bagaimana isinya?”
“Keinginannya adalah, setelah lulus aku bersamanya harus pergi dari Kobe. Kami harus kuliah di luar Kobe. Tapi…”
Hikaru tak melanjutkan kata-katanya. Cerianya kembali hilang. Kesenduan kembali meliputi.
Hikaru sesenggukan. Ia memelukku. Meletakkan kepalanya di pundakku. Kubelai rambutnya perlahan.
“Sst…Tenanglah, Hikaru. Tenanglah. Maafkan aku, Hikaru. Maaf jika aku justru membuatmu harus mengingatnya.”
Hikaru tak menjawabku. Ia terus menangis.
Di luar, Kirana bersinar lembut. Bertemani bintang yang kerlap-kerlip. Menyuguhi perjalanan malam yang tiada berakhir.

0 Responses to “#9”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: