#10

KRIING!
Sambil terpejam, kugapai meja.
KLIK!
Dering wekerku berhenti. Duh, aku masih ngantuk!
Kubuka mata. Kutatap langit-langit kamarku. Sepertinya, aku baru tidur sebentar saja setelah mengobrol panjang lebar dengan Hikaru malam tadi. Kok sudah pagi lagi, sih? Males, nih!
Kusingkirkan selimutku. Aku turun dari ranjang. Enggan, kumasuki kamar mandi. Langkahku terseret-seret. Mataku serasa masih lengket dan ingin tetap terpejam.
Kubasuh muka. Kutatap cermin.
“Ohayougozaimasu! Selamat pagi diriku!”
Gadis di cermin tersenyum. Hambar. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya seperti lemas. Ia sepertinya masih mengantuk. Ya! Aku masih ngantuk! Tidur aja! Nggak usah bangun, sampe siang!
Kubuka keran bak mandi. Biar terisi dengan air hangat. Aku sedang ingin mandi rendam pagi ini.
Kupaksakan berjalan kembali ke dalam kamar. Sambil menunggu bak mandi terisi penuh, aku bermaksud untuk membereskan perlengkapan kuliahku. Kuambil tas, dan kubongkar.
Sesosok benda terjatuh saat aku mengambil buku catatan kuliah dari dalam tas. Benda itu tergeletak di ranjang. Di samping tas. Burung kertas. Apa? Lagi?
Kuambil burung kertas itu. Warnanya sudah lusuh. Lipatannya sudah tak rapi. Mungkin, sudah lama ia terselip di dalam tasku. Tapi, bagaimana bisa? Mungkinkah kebetulan? Sudah dua kali aku menemukannya! Burung kertas kapan ini?
Bak mandiku sudah mulai penuh terisi. Aku bangkit. Kulempar burung kertas itu ke atas ranjang. Aku menuju kamar mandi. Tapi, apa burung kertas itu masih di ranjangku setelah aku mandi nanti? Bagaimana kalo dia pergi lagi seperti waktu itu? Lalu, waktu itu bagaimana dia bisa menghilang?
Kuhentikan langkahku tepat di ambang pintu kamar mandi. Aku berbalik. Kutatap burung kertas di atas ranjangku itu. Ia masih tergeletak tak berdaya di sana. Apa dia akan menghilang juga? Harus aku bawa, atau tidak?
Kuambil burung kertas itu, dan kubawa ke kamar mandi. Kusimpan ia di lemari cermin. Lalu, aku membuka bajuku dan berendam di bak. Pasti, dia tidak akan bisa menghilang lagi sekarang!
Air mandiku terasa nikmat. Aku merendamkan seluruh tubuhku sampai leher. Hangatnya pas!
Kupejamkan mata. Kunikmati resapan air di tubuhku. Kubiarkan tubuhku merasakan pijatan alami air hangat. Sudah lama aku tak merasa begini. Tak lama, aku terlelap.
Matahari bersinar hangat. Menemani dudukku di atas hamparan hijau. Hmm, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi kapan, ya? Aku lupa! Sepertinya sudah lama sekali!
“Ta?”
Suara ini! Sepertinya aku pernah mendengarnya! Aku mengenali suaranya!
“Pram?”
Ya! Suara itu suaranya Pram!
Kutatap Pram yang terduduk di sampingku. Wajahnya masih sama seperti saat terakhir melihatnya di bandara. Tapi, kini wajahnya lebih dewasa. Ada beberapa perubahan. Tapi, kok aku bertemu Pram? Apa ini mimpi?
“Ta, kok diem, sih?”
“Ap-apa? Aku diem?”
“Ya.”
“Emang iya?”
Pram mengangguk. Ia tersenyum. Khas. Seorang Pram. Kenapa aku bertemu Pram? Apakah ini nyata?
“Sudah lama, ya?”
“Apanya?”
“Sejak terakhir kita bertemu.”
Hah?
“Apa, Pram? Aku nggak ngerti.”
“Sudahlah. Kau akan mengerti. Bangunlah dari mimpimu.”
Apa? Mimpi?
Pram berdiri. Ia berjalan menjauh ke arah yang berlawanan.
“PRAM! Apa maksudmu? Kau mau ke mana?”
Pram tak berhenti. Ia hanya berjalan, dan terus berjalan. Pram menjauh. Pram meninggalkanku.
Kucoba berlari. Kucoba mengejar. Tapi, kakiku terasa sangat berat. Aku tak bisa berlari. Aku tak bisa mengejar Pram. Nafasku sesak. Seakan tenggelam. Ada apa ini?
“PRAAMM!”
Tetap. Pram tak menolehku.
“PRAAMM! PRAAMM!”
Kubuka mata. Sekelilingku hanya air. Aku tenggelam!
Kujulurkan tanganku. Kucari-cari pegangan. Aku harus segera muncul ke permukaan! Aku butuh udara! Aku harus bernapas! Sesak!
Kuraih sesuatu. Kucengkeram erat. Kutarik tubuhku keluar dari air sampai terduduk. Napasku terengah-engah.
“Uhuk!”
Air keluar dari mulutku. Napasku masih terengah-engah. Sesak.
Kutatap sekitar. Kulihat sekeliling. Aku masih berada di kamar mandi! Aku masih berada di bak mandi! Aku di rumah! Di rumah?
Aku bangkit. Kusambar mantel mandi yang tergantung dekat bak mandi. Kututupi tubuhku. Kuhampiri wastafel. Kubiarkan paru-paruku bernafas lega.
Kubuka keran. Kubiarkan saja airnya mengalir. Kutatap sosok di dalam cermin. Mukanya pucat. Rambutnya basah, acak-acakan. Dadanya naik turun.
“Ada apa denganku ini? Kenapa bisa seperti ini?”
Sekejap, aku teringat pada sesuatu di dalam lemari cermin itu. Segera kubuka, dan kucari-cari. Burung kertas itu tidak ada! Dia tidak ada di sini! Bagaimana bisa?
Kuacak-acak isi lemari. Kucari burung kertas yang tadi kusimpan sebelum mandi. Ke mana dia pergi? Ke mana? Bagaimana caranya? Bagaimana? Kenapa ia pergi? Kenapa? Kenapa?
Letak isi lemari itu tak lagi beraturan seperti semula. Semua isinya kini amburadul. Kacau. Ke mana burung kertas itu? Ke mana?
Sejak kereta berangkat dari stasiun, aku hanya diam. Termangu. Melamun. Bengong. Aku masih heran dengan burung kertas yang bisa hilang secara tiba-tiba dari dalam lemari cermin itu. Sudah dua kali aku menemukan hal-hal seperti itu. Bagaimana dia hilang? Pertanda apa ini?
Juga, ada hal lain yang terus berkecamuk dalam pikiranku selain burung kertas itu. Pram. Pram? Ya, Pram. Kenapa tadi ia muncul dalam bayanganku? Apa arti semua ini? Adakah Pram akan hadir kembali dalam hidupku? Adakah Pram di dalam rombongan insinyur itu? Apa? Rombongan insinyur?
Keretaku berhenti di stasiun dekat kampus. Aku turun. Langkahku pelan. Hambar. Gontai. Tak bersemangat. Stasiun dipenuhi orang-orang yang berjalan serba cepat. Terburu-buru.
Jalanan luar stasiun begitu padat. Sudah biasa. Tapi, kali ini berbeda. Aku begitu tak bergairah untuk segera menuju kampus. Aku malas. Ada apa? Pikiranku penuh. Pusing!
Aku menatap langit. Mendung. Pasti akan turun hujan. Tak kupedulikan orang-orang yang lalu lalang di sekitarku. Aku hanya ingin mengurangi beban pikiranku.
“Ta.”
Suara itu! Pram! Pram?
“Pram?”
Kutatap sekeliling. Hanya kesibukan orang-orang keluar masuk stasiun yang kulihat. Tak ada Pram.
“Pram?”
Aku mencari-cari. Aku menyelidik setiap sisi. Tak ada Pram.
“Pram?”

0 Responses to “#10”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: