Arsip untuk November, 2008

#4. il decisione

“Jadi, kapan loe mau datengin Mbak Alexa itu, Mai?”
Mai diam. Ia memeluk guling. Sekejap, ia meraba gelang batu di tangannya.
“Tau, deh.”
“Lha?”
Mai diam. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tiduran. Di luar, hujan.
“Gue lagi bingung, nih.”
“Bingung kenapa? Bukannya, mendingan cepetan loe datengin? Inget, kalo kelamaan, nanti dia keburu lupa sama loe!”
“Yah, kalo itu sih, gue juga nggak pengen. Cuman…”
“Cuman apalagi?”
Mai diam. Ia menghela napas.
“Apa gue bakalan bisa?”
Ve mencoba menahan tawanya. Ia terdengar seperti tersedak.
“Eh, kok loe ketawa, sih? Gue serius, nih!”
Lanjutkan membaca ‘#4. il decisione’

Iklan

#3. duh! mumet!

PONG!
Sebuah bola bowling mengenai pin-pin yang langsung berjatuhan. Tinggal tiga pin saja yang masih berdiri. Mai mengambil bola lagi, kemudian melemparkannya.
PONG!
Ketiga pin yang tersisa itu, kemudian rubuh. Mai tersenyum. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu beristirahat di mejanya.
“Fiuh!”
“Gile, loe bisa belajar kaya’ gitu, dari sapa Mai?”
“Emang kenapa?”
“Yah, loe bisa ajarin gue, nggak? Gue ‘kan juga pengen, jago bowling kaya’ loe. Siapa tau, nanti partner bisnis gue, ada yang ngajakin bowling. Kalo nggak bisa ‘kan, malu-maluin aja!”
Mai tersenyum.
“Emangnya, ada partner bisnis loe yang mau ngajakin? Bukannya, partner bisnis loe kebanyakan cuma anak SMA kaya’ kita juga?”
“Yah, Mai! Itu ‘kan sekarang! Kalo nanti, begitu usaha gue udah jadi kerajaan bisnis, gimana coba? Masa’ gue nggak bisa maen bowling?”
“Emangnya penting, gitu?”
Lanjutkan membaca ‘#3. duh! mumet!’

#2. what’s up, Mai?

Klinting!
Gio masuk ke dalam Jimbo café siang itu. Panas menyengat. Ia memang sengaja ingin mendinginkan tubuhnya, sekaligus nongkrong sebelum pulang ke rumah. Selain itu, Jimbo café memang sudah menjadi tempat nongkrong pilihannya sudah sejak lama.
Gio duduk di sebuah kursi yang letaknya agak ke dalam. Sengaja. Itu permintaan Nos yang juga ikut bersamanya. Ren sendiri, juga tampak di antara mereka.
“Mau pesen apaan, Nos?”
“Apaan aja, deh. Terserah. Tapi, jangan yang ada cafeinnya, dan jangan terlalu manis. Kalo bisa sih, air putih aja, buat ay. Tapi, kalo situ mau nraktir yang laen juga, nggak apa-apa, sih.”
Gio merengut.
“Yee..! Kalo gitu sih, bilang aja kamu lagi cekak, dan pengen ditraktir!”
Lanjutkan membaca ‘#2. what’s up, Mai?’

#1. the locker incident

“SIALAN!”
BRAK! BRAK! BRAK!
Loker tak bersalah menjadi korban kekesalan seorang gadis di pagi hari. Mukanya terlihat begitu sangar. Cukup menakutkan untuk ukuran seorang gadis SMA.
“Ni loker kenapa, sih? Hu-uh!”
BRAK! BRAK! BRAK!
Untung sekolah masih kosong. Jadi, tak ada yang mengganggunya. Lagipula, kalaupun ada, apa mereka berani mengganggu?
BRAK!
Satu pukulan keras mendarat di pintu loker itu. Penyok. Gadis itu tak terlihat kesakitan. Ia seperti menikmati melepas kekesalannya.
Lanjutkan membaca ‘#1. the locker incident’

#0. prologue

Gedung Olah Raga begitu ramai malam itu. Sampai-sampai, lapangan parkir pun tak cukup untuk menampung kendaraan para pengunjungnya. Emangnya, lagi ada apaan, sih?
Seorang gadis duduk sendiri di kursinya. Ia menarik napas, dan menghembuskannya berulang kali. Terlihat jelas, ia berusaha menghilangkan ketegangan yang berada dalam dirinya.
“Tenang, Mai. Nyantei aja. Kamu pasti bisa, kok.”
Gadis itu menoleh pada laki-laki di belakangnya. Ia tengah memijati pundak Mai agar lebih rileks.
“Lha, kok baru keliatan lagi?”
“Hehe. Sori, ya. Aku tadi ke kamar mandi dulu. Nature calls.”
Mai tersenyum. Hatinya agak plong.
“Oke? Siap, ‘kan?”
“Sip!”
Lanjutkan membaca ‘#0. prologue’

Mai-Gio

Berikut, sinopsis singkat dari cerita Mai-Gio,

“…Mai dan Gio sepasang sahabat. Sudah dua tahun – sejak kelas satu SMA, mereka selalu bersama. Berbagi susah, senang, dan mencurahkan isi hati mereka masing-masing. Mai yang tomboi memang klop dengan Gio yang bijak. Apalagi, Gio selalu hadir di samping Mai untuk menyemangatinya. Apalagi, saat Mai hanya bisa jadi juara dua di turnamen kota, Gio hadir untuk menghiburnya.

Lanjutkan membaca ‘Mai-Gio’

finale Burung Kertas

Seri Burung Kertas sudah mencapai finale. Dalam artian, seri cerita bersambung dari Burung Kertas sudah mencapai akhir. Tapi, itu tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan disambung kembali. Dengan tidak menghilangkan unsur cerita dari seri Burung Kertas yang sudah tayang.

Sekedar informasi, seperti sudah diketahui sebelumnya dan juga melalui email yang dikirimkan, Burung Kertas sudah dibukukan dalam bentuk e-book. Untuk e-book dari Burung Kertas terdapat dalam dua jenis. Yang pertama adalah bentuk *.pdf, dan satu lagi dalam bentuk *.exe. Untuk bentuk *.pdf, pembaca Bersambung… dapat menghubungi langsung ke redaksi, melalui email ke redaksi.bersambung@gmail.com. Dan, jika ingin mendapatkan bentuk *.exe silakan mendatangi website spotbit, di http://www.spotbit.com/main/magazine.php?&prod=5549.

Setelah Burung Kertas, redaksi siap memberikan cerita bersambung lain yang akan tayang di Bersambung… Kali ini, masih tentang cinta, tapi ceritanya lebih ringan dan juga menyinggung tentang persahabatan. Mau tahu lengkapnya? Nantikan sambungan terbaru, hanya di Bersambung… (https://bersambung.wordpress.com)

Salam!

Redaksi.