#11

“Sudah kuduga akan menemukanmu di sini.”
Seorang wanita berdiri di samping mejaku. Raut mukanya tampak tak senang. Aku menatapnya dengan malas-malasan.
“Hai, Reiko.”
“Kenapa kau tidak masuk kuliah?”
Aku diam. Tak menjawab. Reiko duduk di kursi depanku. Aku menatap ke luar jendela kafetaria. Hujan.
“Ghita-chan?”
“Entahlah.”
“Apa maksudmu dengan ‘entahlah’ itu?”
“Aku tidak tahu.”
“Ada apa denganmu? Biasanya kau yang paling semangat masuk kelas. Apalagi, hari ini kelas speaking-nya Pak Abe.”
“Ah, aku lagi malas.”
“Hikaru saja, tidak tahu ke mana kau!”
“Hikaru – dia masuk kelas?”
Reiko mengangguk.
“Baguslah.”
Reiko menatap heran. Aku menghirup kopi hangat di depanku.
“Kau kenapa? Ingatlah, sebentar lagi kau sudah harus mulai menulis skripsi!”
“Justru itu dia! Mana bisa aku menulis skripsi jika pikiranku sedang kacau seperti pagi ini!”
“Maksudnya?”
Aku tak menjawab. Aku menatap kembali ke luar kafetaria.
“Sudahlah. Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku. Dan, tadi Hikaru titip terima kasih.”
“Terima kasih kembali.”
“Ya. Selamat tinggal!”
“Hati-hati di jalan!”
Reiko pergi. Aku tak beranjak. Kafetaria sepi. Mungkin karena hujan di luar sana. Jadinya, orang-orang susah pergi ke kafetaria ini. Reiko terlihat mengeratkan jaketnya dan kemudian pergi menerobos hujan.
Sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Dua pria keluar dari dalamnya. Mantel mereka begitu besar. Tampang mereka kaku. Aneh. Berbeda dengan orang Jepang kebanyakan. Mirip tampangku. Orang asing! Orang Indonesia!
Mereka berdua berdiam sebentar di depan gedung. Mengobrol. Kuperhatikan seorang di antaranya dengan seksama. Potongan tubuhnya kukenali. Pram. Itu Pram! Pram?
Mataku memicing. Kucoba melihat lebih jelas. Benarkah itu Pram?
Benar. Itu Pram!
Kusambar tas dan mantel. Aku berlari ke pintu keluar. Hujan deras menyambutku ketika aku keluar kafetaria. Basah.
“PRAM!”
Kedua pria di seberang tak menoleh. Mereka tetap asyik dengan obrolan mereka.
“PRAM!”
Seseorang keluar dari dalam gedung. Ia menyalami kedua pria yang sedang mengobrol itu. Tak lama, mereka lalu masuk.
“PRAM!”
Percuma. Suaraku kalah oleh derasnya hujan. Aku kecewa.
Aku maju. Mencoba menyeberang. Tak bisa. Jalanan penuh dengan lalu lalang mobil. Aku tak berani. Aku takut. Aku mundur kembali. Rambutku mulai basah.
Kuputar otak. Mencari akal. Hujan semakin deras.
Tak lama, ketiga pria itu keluar lagi. Mereka bersalaman, dan bercakap sebentar.
“PRAM!”
Aku melambai.
Dua pria asing itu, masuk kembali ke dalam mobil tanpa mempedulikanku. Lambaianku tak berhenti. Lagi, dan lagi.
“PRAM!”
Mobil yang membawa kedua pria itu perlahan bergerak. Meninggalkan gedung seberang. Diiringi tatapanku.
“Pram…”
Mobil itu menjauh dalam derasnya hujan dan lalu lalang jalanan kampus. Mobil itu membawa Pram. Benarkah itu Pram? Benarkah? Atau, hanya perasaanku saja?
Hujan membasahi segenap tubuhku. Biar. Aku tak peduli. Seiring suasana hatiku yang gundah.
Pram. Adakah kau di dalam mobil itu? Mengapa kau tidak mendengar panggilanku? Pram, sudahkah kau melupakanku?
Kereta dalam kota Tokyo begitu sepi sore itu. Tak biasanya begini. Padahal, sekarang hari kerja, dan jam-jam pulang kantor. Tapi, tetap saja gerbongku hanya terisi enam orang.
Aku diam. Melamun. Lagi? Aku tak masuk kelas kuliah hari ini. Aku melarikan diri ke kafetaria. Aku menyembunyikan diriku di sana. Dan kemudian, aku melihatnya. Aku melihat Pram.
Pram, benarkah tadi itu dirimu yang kulihat di seberang kafetaria saat hujan? Benarkah Pram? Ada perlu apa kau kemari? Atau jangan-jangan, kau termasuk rombongan insinyur Indonesia itu, ya? Pasti! Ah, aku harus hadir dan memastikannya besok!
Di sebuah stasiun, kereta berhenti. Seorang wanita naik. Sekilas, aku mengenalinya. Ya, dia wanita yang menelepon dan super sibuk waktu pagi itu!
Wanita itu naik dengan wajah lelah. Ia membawa beberapa berkas dokumen yang tebal. Ia duduk di depanku. Beberapa kali, ia menghela napas.
Kemudian, ponselnya berdering.
“Halo? Ya, ini aku. Ada apa? Oh, ya. Aku tahu. Terima kasih atas ucapan selamatnya. Kita berhasil memenangkan tender itu. Ah, itu ‘kan hasil kerja keras kita semua, dan bukan aku saja!
“Ya. Kita harus segera berbenah dan bersiap untuk memberikan pelayanan terbaik bagi mereka. Jangan sampai proyek mereka terbengkalai, dan kemudian tender ini jatuh ke
pihak lain. Nanti, kita berikan mereka rencana keuangan proyek yang sudah fix. Ya, kau berikan saja pada Tuan Bakhtiar. Dia wakil perusahaannya.”
Bakhtiar? Kok Indonesia banget?
Aku berpikir.
“Apa? Nama depannya? Pramudya, kalau tidak salah. P-R-A-M-U-D-Y-A. Pramudya.”
Hah? Pramudya? Pramudya Bakhtiar? Bukankah itu nama panjangnya Pram? Berarti, Pram ada di sini! Pram ada di Jepang! Pram ada di Tokyo!
Aku tergugah dan ingin segera bertanya. Tapi, kereta berhenti. Sudah sampai. Wanita itu bergegas turun. Aku bangkit. Kucoba mengejarnya.
“Nona!”
Wanita itu tak menoleh. Ia tetap berjalan ke depan tanpa melihatku.
“Nona!”
Wanita itu sampai di luar stasiun. Ia menaiki taksi yang sudah menunggu. Pergi.
Aku berhenti di luar stasiun. Napasku terengah-engah. Kutatap taksi yang membawa wanita itu pergi menjauh. Yah!
Pram. Benarkah kau ada di Tokyo? Lalu, kenapa kau tak mencariku? Apa kau sudah lupa akanku? Pram. Aku merindukanmu!
Kubuka pintu rumah dengan malas. Kulangkahkan kakiku masuk dengan gontai. Kulepas mantel. Kusimpan begitu saja di tiang gantungan. Air hujan yang menempel segera menetesi lantai.
“Ghita-chan, kaukah itu?”
“Ya.”
Aku berjalan ke dapur. Hikaru berada di sana. Ia sedang menyajikan makanan dari microwave.
“Kau sudah makan?”
“Belum.”
“Ya, sudah. Kita makan bersama.”
“Kau sudah baikan, Hikaru?”
“Sudah agak mendingan.”
“Oh, ya. Pesanmu sudah disampaikan Reiko.”
“Oh, baguslah.”
Hikaru menyimpan sepiring cap-cay di meja. Ia membuka rice cooker, dan menuangkan nasi ke dua mangkuk.
“Makanlah. Ini masakan Thailand. Aku membelinya saat pulang tadi.”
“Cap-cay.”
“Apa katamu?”
“Cap-cay.”
“Itu namanya?”
“Mungkin. Karena mirip seperti yang sering aku makan.”
“Oh, benarkah?”
“Ya. Di negaraku disebut seperti itu. Aku baru tahu jika cap-cay dari Thailand.”
“Memang, asalnya kau kira dari mana?”
“Cina.”
“Ah, kalau begitu ini pasti bukanlah cap-cay. Hanya mirip saja. Selamat makan!”
Hikaru mencomot sesendok cap-cay dan menaruhnya di mangkuknya. Ia mulai makan. Aku diam. Nafsu makanku tidak ada. Aku hanya menatap semangkuk nasi di depanku.
“Dari mana saja kau seharian ini?”
“Aku di kafetaria.”
“Pantas Reiko menanyakanmu padaku tadi saat kelas pertama di kelasnya Pak Ogata. Kemudian, ia bertanya lagi padaku di kelasnya Pak Abe.”
“Hmm.”
Hikaru menyuapkan makanannya lagi.
“Kau kenapa, sih hari ini? Apa karena aku kemarin jadinya kau lemas dan tak bersemangat? Jangan-jangan, kau tertulari penyakit sedihku, ya?”
Sejenak, aku tersenyum.
“Tidak. Tidak juga. Bukan itu. Ini hal lain.”
“Oh. Bolehkah aku tahu?”
Aku diam. Haruskah aku memberitahunya?
“Pram.”
“Pram?”
Hikaru menyimpan mangkuk nasi dan sumpitnya ke meja. Ia menatapku dalam-dalam.
“Pram? Kekasihmu itu?”
“Ya.”
“Ada apa? Sebuah kebetulan, setelah tiga tahun ini kau baru memikirkannya. Apa sebab?”
“Dia di sini. Tokyo. Jepang.”
“Hah? Bagaimana bisa? Bagus itu! Tapi tunggu, kenapa dia tak mencari dan menemuimu?”
“Aku melihatnya di kafetaria tadi. Aku juga tidak tahu kenapa dia tak mencariku. Mungkin, ia sudah lupa padaku.”
“Kafetaria? Berarti tadi dia berada di kampus kita! Apa Reiko juga tahu?”
“Tidak. Tadi aku hanya sekilas saja melihatnya di seberang jalan.”
“Tunggu, dia di seberang jalan dan kau hanya diam di kafetaria dan melihatnya? Kau yakin itu Pram?”
“Aku yakin seyakin-yakinnya, Hikaru!”
“Lalu, kenapa kau tidak menghampirinya?”
“Tadi hujan, Hikaru! Dan juga, aku tak bisa menyeberang jalan. Banyak mobil!”
“Ah, itu mungkin bukan Pram-mu. Mungkin itu orang lain yang kebetulan mirip dengannya. Apa tadi kau memanggilnya?”
“Ya. Bahkan aku berteriak berulang kali.”
“Wah, kalau begitu dia pasti bukanlah Pram-mu.”
“Tapi, tadi itu hujan deras. Sehingga pastinya suaraku tidak terdengar karena kalah oleh suara derasnya hujan.”
“Ah, sudahlah. Kalaupun benar itu Pram-mu, pastinya dia sudah memberi kabar padamu, bukan?”
Hikaru kembali makan. Aku diam. Aku ingin melanjutkan. Aku ingin mengatakan kejadian kecil di kereta tadi, tapi…. Ah, sudahlah. Biarkan saja.
Pram, jika kau benar berada di Tokyo, kenapa kau tidak menghubungiku? Atau, apakah karena kau tidak tahu keberadaanku?

0 Responses to “#11”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: