#12

Aku berdiam di balkon malam itu. Jalanan sepi. Tak ada orang yang lewat. Udara malam hari ini begitu dingin. Pasti karena hujan dari siang sampai sore tadi.
Langit begitu cerah. Awan mendung sudah hilang. Bulan bersinar terang.
“Jangan melamun terus! Sudah malam!”
“Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.”
Hikaru muncul dari belakangku. Ia duduk di kursi sebelahku.
“Pasti, kau berpikir tentang Pram.”
Aku mengangkat alis.
“Sudahlah, mungkin benar saja itu dia, Pram-mu. Kau tak perlu khawatir. Maafkan ucapanku saat makan malam tadi.”
“Ah, tidak apa, kok. Aku baik-baik saja.”
“Tapi-“
Aku mengangkat tangan. Hikaru diam.
“Kita lihat saja besok.”
“Ada apa memangnya?”
“Masih ingat selebaran dari Yamada waktu itu?”
“Ya. Aku masih ingat. Oh, kedatangan beberapa insinyur itu, ya?”
Aku mengangguk.
“Siapa tahu, Pram ada di antara mereka semua.”
“Memang, dia insinyur, ya?”
“Waktu terakhir aku bersamanya, dia sedang kuliah Teknik Mesin.”
“Wah, hebat!”
“Ya. Mungkin sekarang dia sudah lulus dengan nilai terbaik, dan terpilih bersama beberapa insinyur lainnya dari Indonesia untuk pergi ke sini.”
“Memangnya, dia pintar?”
“Ya. Dia pintar. Sungguh sangat pintar. Melebihi kepintaranku!”
“Lalu, kenapa dulu dia tak mengambil beasiswa sepertimu untuk kuliah di sini?”
“Entahlah. Kalau tidak salah, dulu itu dia tidak tahu jika ada beasiswa seperti ini.”
“Tapi, dia memang benar-benar pintar, bukan?”
“Ya! Tentu saja! Itu salah satu alasan aku menyukainya. Dulu…”
“Wah, kalau begitu ada kemungkinan.”
Hikaru tersenyum. Aku juga.
“Ya. Semoga saja besok dia ada.”
Angin berhembus. Semilirnya menambah dingin suasana malam.
Gedung Auditorium Fakultas Teknik tampak ramai. Puluhan orang berjalan keluar masuk. Di atas pintu masuk, terpampang spanduk dalam tulisan kanji dan latin.
SELAMAT DATANG INSINYUR INDONESIA
Wah! Pasti benar! Pasti ada Pram di sini!
Aku melangkah ke dalam auditorium. Di sana letak talk show dengan insinyur-insinyur Indonesia itu. Setidaknya, itu yang tertulis di selebaran yang Yamada berikan waktu itu padaku.
Auditorium hanya diterangi beberapa lampu sorot yang mengarah ke depan. Kulangkahkan kakiku hati-hati dalam keremangan. Mencoba tak tersandung. Mencari bangku. Auditorium terlihat penuh.
Aku duduk di kursi agak ke atas. Saat ini sedang presentasi dari seorang insinyur. Arsitek sepertinya. Slide shownya tentang rancangan beberapa gedung. Acara sepertinya belum lama. Belum ada tanda-tanda talk show dengan semua insinyur.
Kulihat meja di panggung itu. Kurang lebih, sebelas orang duduk di sana. Seorang di antaranya orang Jepang. Ia sepertinya moderator sekaligus penerjemah. Sedangkan, sepuluh orang lagi pastinya para insinyur itu.
Kubaca satu persatu nama-nama yang tertera di papan nama dari kejauhan.
Baskoro. Arsitek. Kursinya kosong. Ia pastinya orang yang sedang presentasi di depan itu.
Hasan. Grafika. Leona. Sipil. Nadia. Informatika. Kartika. Komputer. Sudirman. Kimia. Fakhrul. Kelautan. Renaldi. Elektro. Samiaji. Industri. Bakhtiar. Mesin.
Bakhtiar? Kuharap itu Pram. Kulihat kursinya yang terletak di ujung. Kosong. Tak ada orang. Apakah bukan Pram? Ke mana orangnya?
Aku diam. Penasaran sebenarnya. Tapi, aku harus bagaimana? Aku hanya bisa menunggu dan menunggu dalam ketidakpastian.
“Permisi, apa insinyur-insinyur yang datang hanya sebanyak ini?”
“Tidak tahu, ya. Saya juga baru datang. Belum lama.” jawab orang di sampingku.
Aku mendesah. Kecewa. Penasaran. Siapa Bakhtiar yang menjadi insinyur mesin itu? Benarkah itu Pram? Dia di mana?
Tak lama, presentasi berakhir. Baskoro kembali ke kursinya.
“Ya, baiklah. Terima kasih pada Mr. Baskoro yang sudah berbagi presentasi beberapa ilmu yang sudah ia terapkan di Indonesia. Dan, dia sudah mendapat gelar cum laude arsitek dari universitasnya terdahulu.”
Pengunjung auditorium bertepuk tangan. Baskoro tersenyum. Ia berdiri sebentar. Tak lama, ia duduk kembali. Kursi paling ujung masih kosong.
“Baiklah, sambil menunggu Mr. Bakhtiar kembali, kita sambut presentasi kedua dari Mr. Hasan dari bidang Grafika. Silakan.”
Hasan berdiri. Ia menuju podium. Slide show berganti.
Aku menghentak pelan. Kesal. Cemas. Dag-dig-dug. Menunggu. Siapa yang duduk di kursi yang kosong itu? Siapa Mr. Bakhtiar itu? Benarkah itu Pram?
Tak lama, presentasi Hasan dimulai. Seseorang terlihat berjalan dari belakang panggung. Ia mendekati kursi kosong di ujung meja di atas panggung itu. Perawakannya seperti kukenal. Langkahnya juga!
Aku memicingkan mata. Kubungkukkan tubuh ke depan. Kucoba melihat dengan jelas pria yang baru saja duduk di kursi ujung dan sejak tadi kosong itu. Kupastikan pria itu dengan orang yang kuingat.
Pram. Itu Pram! Benar! Pram!
Beberapa saat yang lalu, moderator menutup talk show dengan insinyur-insinyur Indonesia itu. Setelah presentasi panjang dari masing-masing insinyur, dan sesi tanya jawab
yang berlangsung lama, akhirnya selesai juga. Aku bisa segera ke belakang panggung dan menemui Pram. Pram?
Belakang panggung ramai sekali. Beberapa mahasiswa berada di sana. Mereka menanyai insinyur-insinyur itu satu-persatu sesuai dengan bidang kuliah mereka. Aku tolah-toleh. Mencari Pram.
Di sebuah sudut, kulihat Pram. Beberapa mahasiswa mengelilinginya. Mereka sepertinya menanyakan hal-hal tertentu padanya. Pastinya menyangkut presentasinya tentang mekatronika atau robot tadi.
Penampilan Pram berbeda. Ia begitu berbeda! Dewasa. Rapi. Menawan. Mempesona. Intelek. Persis seperti bayanganku pagi kemarin!
Aku melangkah mendekatinya. Kemudian, seorang pria menghalangiku.
“Ghita-chan! Kau ada di sini? Sejak kapan?”
“Duh, Yamada! Jangan menghalangiku! Cepat menyingkir! Aku mau lewat!”
“Jadi, kau tertarik dengan pemberitahuanku waktu itu, ya?”
“Yamada!”
“Kau sendirian? Mana Hikaru?”
“Yamada, tolong minggir. Aku mau lewat!”
“Bagaimana acara tadi? Ramai ‘kan? Seru ‘kan?”
“Yamada!”
“Tapi-“
Kusingkirkan Yamada ke samping. Aku melangkah maju lagi. Tapi, Pram sudah tidak ada lagi di sana. Ia sudah tidak berada di sudut itu lagi. Ia pergi. Ia sudah pergi. Ke mana?
Pundakku dicolek.
“Yamada, aku tak ada waktu untuk bicara denganmu. Aku sedang sibuk!”
Aku tolah-toleh ke sampingku. Tak kuperhatikan belakangku.
Pundakku dicolek lagi.
“Yamada! Hentikanlah!”
Pundakku dicolek lagi. Aku tak suka. Kuputuskan untuk berbalik.
“Yamada, kau in-“
Ucapanku terhenti. Aku terkejut karena bukan Yamada yang kudapati di balikku. Kutatap sosok tegap di sana. Senyumnya khas.
“Pram.”
“Halo, ‘Ta. Apa kabar?” ucapnya dengan suaranya yang dalam.

0 Responses to “#12”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: