#13

“Jadi, kau kuliah di sini?” tanya Pram memecah kebekuan di kafetaria. Cangkir kopinya sudah setengah kosong.
“Ya.”
“Kuliah bidang apa?”
Diam. Aku agak heran mendengar Pram menanyakan hal ini. Tidakkah dulu pernah kukatakan padanya?
“Kau sudah lupa?”
“Yah, hanya ingin memastikan saja.”
“Sastra Jepang.”
“Oh, baguslah! Kau belajar langsung ke sumbernya!”
Aku tersenyum. Pram menghirup kopinya.
“Jadi, kau insinyur mesin terbaik dari Indonesia itu?”
“Sebenarnya, bukan aku.”
“Lalu, kok tadi kau yang duduk di depan dan presentasi saat terakhir tadi? Apa, ya? Mekatronika. Robot.”
Pram tersenyum. Khas.
“Sebenarnya, aku hanya cadangan. Pengganti. Insinyur yang aku gantikan ternyata harus pergi ke MIT untuk tugas belajar. Jadi, ya… aku yang dipanggil dan pergi ke sini.”
“Oh, begitu.”
“Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lepas begitu saja. Sayang, ‘kan? Jarang-jarang, lho. Apalagi bisa kuliah S2 – Master gratis di sini. Di salah satu universitas teknik terbaik di dunia.”
“Ya. Emang bener.”
Hening. Kuminum jus alpukat di depanku.
“Maaf, aku nggak hadir saat wisudamu. Aku nggak tahu.”
“Nggak apa-apa. Itu udah lewat, kok. Udah lama.”
“Berapa lama?”
“Ya, kurang lebih sudah enam bulan lalu.”
Pram tersenyum kembali.
“Kamu nggak kuliah hari ini?”
“Nggak. Hari ini jadwalku kosong.”
“Kok bisa?”
“Aku ‘kan udah mau naik tingkat empat. Sebentar lagi, aku nyusun skripsi, lho!”
“Oh, iya. Aku lupa!” Pram menepuk jidat.
“Nggak apa-apa.”
“Aku lupa kalo kita udah nggak ketemuan dan saling kasih kabar selama tiga tahun lebih ini. Maaf! Maaf!”
Pram tersenyum. Lalu, hening lagi.
Benar juga kata Pram. Sudah tiga tahun lebih. Sudah selama itu ternyata aku berpisah dengannya. Pantas saja aku begitu merindukannya. Apa? Rindu?
“Sejak kapan kau di sini?”
“Kemarin lusa. Aku nyampe dua malem yang lalu.”
Pantes! Pasti kemarin Pram habis uji banding! Pasti wanita di kereta itu benar! Pasti, Pram dan beberapa temannya punya proyek di sini! Pasti Pram wakil perusahaan yang dimaksud itu! Hebat juga! Presentasi, kuliah, dan menjadi wakil perusahaan untuk di Jepang. Hebat!
“Kenapa?”
“Ah, enggak apa-apa. Sampai kapan?”
“Tiga, atau empat harian lagi, deh. Itu juga, kalo nggak ada kejadian yang nggak diduga. Alias, semua berjalan lancar.”
“Ya, aku doain deh, biar lancar.”
“Memangnya, kenapa?”
“Yah, aku cuma lagi mikir. Kalo seandainya kamu bisa lebih lama di sini, mungkin nanti aku bisa ajakin kamu ke festival Hanami di sini.”
“Apa itu?”
“Kamu nggak tau, ya?”
Pram menggeleng. Aku tersenyum. Nakal. Iseng.
“Nanti saja. Tunggu tanggal mainnya, ya?”
Pram tersenyum. Lagi. Entah, tapi hatiku senang sekali saat ini. Ada apa?
“Nanti, boleh aku antar kamu pulang dari sini?”
Aku menatap Pram. Tatapannya begitu serius. Dalam.
“Kau serius?”
Pram mengangguk.
“Kenapa? Apa ada alasan tertentu?”
Tatapan dalam Pram hilang. Ia salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Ah, enggak juga. Aku cuma pengen keliling-keliling aja di kota Tokyo ini. Refreshing.”
“Bener, nih?”
“Ya.”
“Apa kamu enggak takut nyasar?”
“Untuk apa aku takut? Bukannya ada kau bersamaku?”
Aku tersenyum.
“Ya, udah. Tapi, resikonya tanggung sendiri, ya?”
Pram mengernyitkan dahinya.
“Memangnya apa?”
Aku hanya diam. Tersenyum. Nakal. Iseng. Menyembunyikan sesuatu.

“Tiap hari kamu naik kereta?” tanya Pram saat menunggu di peron yang padat oleh penumpang.
“Ya. Aku pake tiket terusan.”
“Oh, pantes tadi kamu langsung ke sini dan nggak ngantri.”
“Sori, ya. Aku belum bilang.”
“Nggak apa-apa. Aku rela ngantri, kok. Mendingan di sini. Tertib.”
“Kalo di negara kita sana, nggak tertib, rebutan, dan kadang-kadang nggak bayar, ya?”
Pram tersenyum. Lagi. Cute! Aku senang!
“Kau tidak merindukannya?”
“Apa?”
“Negara kita. Untuk pulang ke sana.”
“Oh. Jelas saja aku rindu. Sebenarnya, akhir-akhir ini, hampir setiap hari aku rindu segala hal yang berhubungan dengannya.”
“Termasuk aku?”
Aku tak menjawab. Bingung. Apa maksud pertanyaan ini?
“Pram, keretanya dateng!”
Aku, Pram, dan calon penumpang lainnya mundur sampai ke belakang garis kuning. Rel di depanku berderak. Sesuatu mendekat. Tak lama, ia berhenti dan pintunya membuka.
“Ayo, naik.”
“Naik? Penuh gini?”
“Ayolah!”
Kutarik tangan Pram naik kereta. Penuh memang, tapi tak sesak. Masih ada beberapa ruang kosong untuk berdiri dan berpegangan dengan aman dan nyaman.
Kereta perlahan mulai bergerak. Kuperhatikan, Pram agak kikuk.
“Kenapa Pram?”
“Nggak ada copet, ‘kan?”
Aku tersenyum. Geli.

0 Responses to “#13”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: