#14

Di stasiun Yamaguchi, aku turun. Pram di belakangku. Hari sudah mulai gelap.
“Lalu?”
“Kita jalan kaki.”
“Hah? Emangnya deket?”
Aku hanya tersenyum, dan melangkah lebih dulu. Pada hal-hal tertentu, Pram tetaplah sama. Ia masih Pram yang dulu. Seperti ini, dan tadi saat di kereta. Benarkah? Atau itu hanya akting? Lalu, bagaimana dengan pertanyaannya yang tak kujawab tadi?
“Ta, tunggu aku!”
Pram mengejarku. Ia berjalan di sampingku. Menyamakan langkahnya denganku.
“Aku kira, kuliah di Jepang itu enak. Ternyata, seperti ini, ya?”
“Eh, ini ‘kan aku. Kamu belum liat orang laen yang kuliah di sini, sih! Mereka juga sama aja kaya’ di Indonesia. Kapitalis!”
“Ah, masa’ iya?”
“Iya! Bahkan, lebih parah!”
“Maksudnya?”
“Mereka gampang banget ngambil hati orang.”
Pram kuperhatikan mengernyitkan dahinya.
“Sebentar. Kapitalis yang kau maksud ini, apaan?”
“Kapitalis hati!”
“Kamu lupa? Di semua tempat juga sama, kali. Di Jakarta juga sama. Asal ceweknya mau, gampang aja ‘kan?”
“Tapi, ini ‘kan Tokyo! Harusnya beda!”
“Ya, enggak-lah. Kita nggak bisa ngasih vonis gitu aja.”
“Tapi-“
“Atau, jangan-jangan kamu pengalaman, ya?”
Aku berhenti. Kutatap Pram. Sorot matanya tajam. Dalam. Tapi, penuh canda. Sudah lama aku tidak melihat hal itu. Aku merindukannya! Benar!
“Lho, kok senyum? Ada apa?”
“Nggak. Kadang-kadang, aku kangen juga sama tatapan kamu itu. Dalem!”
“Ayo, kangen juga, ya sama aku?”
“Yah. Nggak juga, sih. Cuma tatapan kamu itu yang dalem itu.”
“Masa’? Seberapa dalem emangnya?”
“Yee..nggak percaya, lagi. Terserah, deh!”
Aku meninggalkan Pram. Lalu, berbelok.
“Hai, Ta! Jangan marah, dong! Aku ‘kan cuma becanda!”
Aku berhenti di depan sebuah pagar. Sudah sampai. Pram menyusul, dan berdiri di belakangku. Napasnya terengah-engah.
“Ta.”
“Ssst…”
Kubuka pintu pagar dan masuk.
“Kamu nggak ikut, Pram? Kita udah nyampe, lho.”
“Hah? Ini homestay-mu?”
Aku mendului Pram. Kubiarkan ia di belakangku. Terheran-heran, mungkin.
Kubuka pintu depan dengan kunciku. Sepi. Gelap. Pastinya Hikaru belum pulang dari kampus. Bagus! Aku bisa berduaan dengan Pram! Lho?
“Hikaru! Aku pulang!”
“Hikaru? Siapa dia?” Pram muncul tiba-tiba di belakangku. Aku kaget.
“Pram! Kamu ngagetin aja!”
“Sori.”
“Hikaru, dia temen homestay-ku. Sepertinya dia belum pulang dari kampus. Masih kuliah kaya’nya.”
“Emang, dia kuliah apa? Di mana?”
“Sastra Indonesia. Di kampus tadi juga.”
“Wah! Sastra Indonesia? Emangnya ada?”
Aku tersenyum lagi. Bisa saja Pram membuatku tersenyum! Apakah ia memang tidak tahu, atau cari perhatian saja? Entahlah.
“Kau mau duduk dulu?”
Pram menatap arlojinya.
“Boleh, deh. Aku masih punya waktu kosong sampe jam delapan.”
“Emang, harusnya acaramu sekarang apa?”
“Ah, biasa. Cuma jamuan makan gitu deh.”
“Lho, kenapa dilewatin? ‘Kan rugi. Siapa tau kamu dapet sesuatu dari situ.”
“Nggak penting! Paling juga ntar ngegosip setelah jamuan makan itu. Males aku! Mereka nggak akan khawatir kalo cuma aku yang ilang. Nggak apa-apa, kok. Nggak usah dipikirin. Lagipula, aku ‘kan udah ngomong tadi, resikonya aku berani tanggung.”
“Tapi-“
“Dan juga, sebenernya aku ada alesan lain.”
“Apa itu?”
Pram diam. Ia tak menjawab. Senyumnya mengembang. Misterius. Menyimpan sesuatu. Apa?
“Ah, sudahlah. Nanti saja! Sekarang, di mana harus kusimpan mantel ini?”
Sialan! Pram selalu berhasil memotong pembicaraanku dan mengalihkannya. Selain itu, ia selalu berhasil membuatku penasaran, dan kemudian tak menjawabnya. Tidak berubah. Masih seperti dulu. Awas, nanti kutagih!
“Di situ. Di tiang. Gantung aja.”
“Oke.”
Kuperhatikan Pram. Ia tambah cakep aja!
“Kau mau minum apa?”
“Terserah, deh.”
“Ya udah. Silakan tunggu di ruang tamu. Aku ke dapur dulu. Jangan lupa buka sepatu! Pake sendal rumah!”
Kutinggalkan Pram dan langsung ke dapur.
Kusiapkan dua cangkir. Kupanaskan teko berisi teh. Lalu, aku ke depan lagi. Ruang tamu masih kosong. Di mana Pram? Apa dia masih di depan?
“Pram, kok nggak masuk?”
Pram berdiri.
“Aku nggak tau di mana ruang tamunya. Baru kali ini aku masuk rumah Jepang. Jadi, aku nggak tau. Kebanyakan pintunya!”
Aku tersenyum. Lucu. Pram masih tak berubah. Ia masih sama. Statusnya saja yang kini berbeda. Ia kini insinyur!
“Ada apa? Kok senyam-senyum sendiri?”
“Nggak. Aku cuma jadi inget waktu pertama kali aku kenalin kamu sama Bunda.”
“He-he. Waktu itu aku saking canggungnya, sampe nggak ke mana-mana dan tetep duduk diem di depan.”
“Iya. Baru deh, abis aku ajak kamu ke dapur, Bunda dan kamu bisa akrab dan nggak kaku lagi.”
“Iya, emang.”
Pram tersenyum. Lagi. Tampan!
“Oh, iya. Ngomong-ngomong, gimana kabar Bunda?”
“Wah, aku nggak tau, ya. Terakhir pas bulan kemaren aku nelepon, dia baek-baek aja.”
“Oh.”
Kok tumben-tumbenan Pram nanyain Bunda? Ada apa ini?
“Tuuut!” tekoku memanggil.
“Ayo masuk. Sini, aku tunjukkin ruang tamunya.”
Aku berjalan duluan. Kubuka sebuah pintu.
“Di sini, ya.”
Pram masuk ke dalamnya.
“Tunggu bentar, ya. Aku siapin minuman dulu.”
Pram mengangguk. Ia duduk manis di ruang tamu.

0 Responses to “#14”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: