#15

Teko teh sudah hampir kosong. Cangkirku dan Pram sudah kosong. Ia diam di hadapanku. Lama.
“Udah lama kita nggak ngobrol sebanyak dan selama ini.”
“Ya. Kalo lagi minum teh, enaknya emang ngobrol, sih. Apalagi kalo sama Hikaru. Wah, bisa lupa waktu!”
Pram tersenyum. Ia menatap arlojinya. Kulihat dirinya.
“Jam setengah delapan. Aku harus balik ke hotel sebelum mereka ngehubungin polisi dan ngabarin orang hilang.”
“Ya.”
Bisa saja Pram bercanda!
Kukira, Pram akan bangkit. Tapi, ternyata ia hanya diam dan menatapku. Aku hanya bisa diam. Beku. Kaku.
“Kamu masih single?”
Hah? Kok tiba-tiba nanya itu? Apa maksudnya?
“Ya.”
Duh, kok jujur banget, sih? Kelepasan, nih!
“Kamu sendiri?”
“Aku juga…”
Yes! Kok?
“…Tapi, sekarang-sekarang ini, aku lagi deket sama seseorang.”
Yah, kecewa deh! Kecewa?
“Kenapa? Kok mukamu langsung berubah?”
“Ah, enggak apa-apa. Baguslah kalo kamu lagi deket sama dia. Dan juga, nginget-nginget rencana-rencana yang udah kamu pernah bilang dulu ke aku.”
“Ya. Apalagi, sekarang udah hampir semua yang aku rencanain udah jadi kenyataan.”
“Emangnya, apalagi yang belum?”
“Nikah.”
Aku diam. Nikah? Pram ingin nikah? Dengan siapa? Apakah dengan wanita yang sedang dekat dengannya ini?
“Sudah seberapa deket?”
“Apanya?”
“Sama orang yang lagi dideketin ini.”
“Oh. Lumayan.”
“Bagus.”
“Tapi, aku lagi ada masalah.”
“Apa?”
“Kaya’nya, aku bakalan susah buat nyatain ke dia.”
“Udah coba deketin keluarganya?”
“Wah, jangan tanya! Aku bahkan udah nanya dan minta izin sama nyokapnya!”
Sialan! Ternyata dia memang benar-benar sudah siap. Yah, hilang sudah peluangku! Tapi, kenapa aku berpikiran seperti ini?
“Tapi?”
“Tapi, aku nggak tau gimana cara bilangnya ke dia kalo aku ‘tuh sebenernya suka, dan sayang sama dia.”
“Dia orang mana?”
“Ya, Indonesia-lah!”
“Ya, itu aku tau. Maksudku, sekarang ini apa kerjaannya?”
“Oh, kalo nggak salah, sih…Dia masih kuliah gitu, deh.”
“Wah, susah tuh! Apalagi, sekarang ini kebanyakan cewek pengennya jadi wanita karir. Mereka nggak terlalu mikirin buat nikah cepet-cepet. Apalagi kalo masih kuliah.”
“Emang, sih. Aku udah ngeduga itu.”
Hening.
“Kalo kamu gimana?”
“Maksudnya?”
“Yah, apa kamu juga berpikiran buat jadi wanita karir juga?”
Aku diam sebentar. Bingung. Kenapa Pram bertanya hal-hal seperti ini? Apa tujuannya? Kenapa ia banyak sekali menanyakan pertanyaan yang agak-agak aneh?
“Sebentar, Pram. Aku mau tanya dulu. Apa, sih tujuan kamu nanya gini sama aku?”
“Kenapa emangnya? Aneh?”
“Jawab aja pertanyaanku.”
“Yah, aku cuma mau ngebandingin aja. Kamu ‘kan cewek. Wanita. Perempuan. Apa mungkin setiap perempuan itu mikirnya sama seperti apa yang kamu bilang?”
“Cuma itu?”
Pram meraba dagunya.
“Ya.”
Bohong! Pasti ada yang lainnya! Tapi apa?
“Jadi?”
“Apanya yang jadi?”
“Pertanyaanku. Apa kau ingin jadi wanita karir juga?”
“Nggak juga. Aku nggak munafik, ya. Sebenernya, aku juga pengen jadi wanita karir. Tapi, kalo misalnya aku tau-tau dapet jodoh, dan langsung married. Why not?”
Pram diam. Ia sepertinya hendak tersenyum. Tapi, cepat-cepat ia merubah posisi duduknya.
“Oke.”
“Balik lagi ke masalah kamu. Dia kuliah di mana?”
Pram diam. Alisnya terangkat satu. Tersenyum.
“Rahasia.”
“Lho, kok gitu, sih? Apa aku nggak boleh tau?”
Pram meraba dagunya lagi. Ia memainkan janggut tipisnya.
“Mmm…, nggak. Kamu nggak boleh tau. Ini privasiku.”
Aku menghela napas. Kusandarkan diriku ke sandaran kursi. Yah, nggak tau, deh! Padahal, aku pengen banget tau siapa cewek yang lagi dideketinnya!
“Lalu?”
“Gini aja, deh. Dia tau kamu lagi ke Jepang?”
“Asalnya enggak. Tapi, sekarang dia sepertinya udah tau.”
“Nah, kamu kasih aja sesuatu yang khas dari Jepang! Yah, sekalian pas ngasih itu, kamu ngaku dan nyatain rasa suka kamu sama dia!”
“Wah, gimana ya? Aku ‘kan nggak tau apa yang khas dari Jepang!”
“Gimana kalo nanti, di Festival Hanami, kamu cari aja sendiri! Banyak, lho! Banyak banget!”
“Wah, boleh juga tuh! Emangnya kapan?”
Diam. Kutatap Pram. Pintar juga ia memancingku.
“Hmm, ‘kan udah aku bilang tadi. ‘Tunggu aja tanggal mainnya!’”
“He-he-he. Kamu masih inget aja. Ternyata kamu masih sama. Nggak gampang lupaan!”
“Ya, Ghita gitu, lho!”
Pram tertawa. Cakep juga!
“Aku harus pergi, nih.”
Pram berdiri. Aku sama halnya.
“Ayo, kuantar kau ke depan.”
Pram memakai jasnya. Ia membenarkan dasinya. Aku tergerak untuk membenarkan. Aku maju. Dan membenarkan dasinya. Pram diam. Ia menatapku.
“Nah, selesai.”
“Thanks.”
“Kamu ini, emang paling nggak becus kalo soal penampilan.”
“Yah, namanya juga insinyur. Ngapain aku susah-susah pake dasi kalo setiap hari ada di lapangan?”
“Emang, kerja kamu apaan sebenernya?”
“Sebenernya, sebelum aku dikirim ke sini, aku udah kerja di perusahaan tambang gitu. Aku jadi bagian Quality Control. Kerjaku di lapangan tiap hari. Ngawasin hasil.”
“Oh. Enak kerjanya?”
“Yah, kalo kamu anggep bisa punya rumah dan mobil sebagai standar. Aku bilang itu lumayan.”
Aku tersenyum. Pram sama halnya. Gile! Udah punya rumah dan mobil?
“Terus, gimana sekarang setelah ditinggal? Kamu ‘kan belum lama kerja di sana.”
“Mmm, aku nggak sepenuhnya ninggalin kerjaan itu. Karena ternyata, perusahaan tempatku bekerja ini, sedang akan membuka cabang di Jepang sini. Dan, aku jadi salah satu pionir karyawannya.”
Pantas! Pasti ini yang wanita di kereta itu bicarakan!
“Wah. Enak, dong!”
“Ya.”
Hening. Aku dan Pram hanya bertatapan.
Entah dorongan dari mana, perlahan aku dan Pram mendekat. Kepala kami saling berdekatan. Kupejamkan mata. Aku ingin menciumnya!
Hatiku berdebar. Perasaanku tak menentu. Serasa lama sekali. Aku ingin mencium Pram! Ayo! Cepat! Pram, cium aku!
“AKU PULANG!”
Teriakan Hikaru menyadarkanku. Kubuka mata. Menjauh. Pram sama halnya. Kami berdiri masing-masing. Kikuk. Salah tingkah.
“Hei! Ternyata ada tamu! Siapa, Ghita-chan?” Hikaru muncul di pintu ruang tamu.
“Uh…oh..dia…”
“Saya Pram. Saya teman Ghita dari Indonesia.” Pram menjawab dalam bahasa Jepang. Kok bisa?
“Oh, jadi Anda ini Pram, ya? Bahasa Jepang Anda, lancar juga! Belajar dari mana?” Hikaru bertanya dalam bahasa Jepang juga.
Pram bingung. Ia diam.
“Maaf, saya hanya bisa perkenalan saja. Tapi, saya mengerti apa yang Anda ucapkan. Hanya saja, saya tidak bisa menjawabnya dalam bahasa Jepang juga.”
Hikaru menatap heran Pram yang menjawab dalam bahasa Indonesia.
“Ah, tidak apa. Dulu, aku juga begitu dengan bahasa Indonesia. Baru setelah aku mendapat homestay bersama Ghita-chan, aku bisa lancar seperti ini.” jawab Hikaru dalam bahasa Indonesia.
Pram tersenyum.
“Anda baru datang, atau mau pulang?”
“Pulang. Dia mau pulang, Hikaru. Dia masih ada acara.”
“Oh. Pasti masih dalam rangkaian kunjungan Anda ke Jepang kali ini, ya?”
“Ya.”
“Ya, sudah! Ayo Pram, aku antar kamu ke depan!”
Aku mendekati Pram. Kudorong ia menuju pintu depan.
“Hei, Ghita-chan! Nanti, cerita-cerita, ya!”
“Enak saja!”
Aku mencibir Hikaru yang langsung balik mencibir. Kutinggalkan ia, dan menuju pintu depan dengan Pram.
“Jadi, tadi itu Hikaru?”
“Ya. Dia cerewet dan selalu pengen tau, ya?”
“Ada benarnya.”
Pram dan aku berjalan berdampingan. Kuantar ia ke stasiun. Kami tak membahas kejadian sebelum Hikaru pulang tadi. Ataukah belum?
“Emang, malem gini masih ada kereta?”
“Ya, ada! Ini bukan Jakarta yang udah sepi di jam-jam segini! Ini Tokyo! Kereta ke pusat kota, masih ada sampai jam sepuluh.”
“Oh.”
Tak lama, kami sampai di stasiun. Sepi. Pram membeli tiket. Kami lalu duduk menunggu di kursi peron.
“Mengenai yang tadi…”
Aku menunggu. Pram menatap ke rel. Aku tahu arah pembicaraannya.
“Kenapa?”
“Kita anggap itu nggak pernah terjadi, ya. Mengingat status kita yang berbeda daripada dulu.”
Aku diam. Yah! Kok gitu, sih! Coba Hikaru nggak pulang, pasti aku udah dicium Pram! Dicium? Kenapa sekarang aku jadi pengen gini, ya? Apa karena…
Hening. Sepi. Rel kereta di depanku mulai berderak. Tanda kereta datang.
“Oh, iya. Hampir kelupaan!”
Pram mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kertas dan pulpen. Ia menuliskan sesuatu di atasnya.
“Ini tempat aku menginap.”
Kutatap kertas itu. Kubaca.
Hotel Tokyo International. Kamar 307.
“Kalo ada apa-apa, hubungin aja ke situ.”
“Oke. Sip!”
Sebuah lampu sorot membelah gelap. Kami berdiri. Ini kereta ke pusat kota.
“Keretanya udah nyampe.”
“Iya.”
Lama, kami bertatapan. Kereta berhenti, dan membuka pintu.
“Aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi!”
“Hei, bentar!” kutarik tangan Pram. “Kapan kira-kira kamu ada waktu kosong seharian?”
“Hmm…besok aku ada seminar dan peragaan di auditorium. Lusa, masih ada meeting.”
Yah, masa’ nggak ada yang kosong, sih?
“Coba kamu hubungin aku besok malem! Nanti, aku cek lagi jadwal buat lusa. Siapa tau, meeting itu nggak bakalan lama. Atau, besok kamu dateng aja ke auditorium! Nonton dulu!”
TIT!
Tanda kereta akan segera berangkat. Pram beranjak mendekati kereta.
“Sudah, ya! Aku pergi dulu!”
“Kamu tau di mana turunnya, ‘kan?”
“Ya! Turun aja di stasiun deket kampus kamu, ‘kan?”
Pram melompat masuk ke dalam kereta tepat sebelum pintunya menutup. Ia berdiri dekat kaca dan menatapku.
“Telepon aku!”
Suara Pram teredam. Tak terdengar jelas. Tangannya menirukan gagang telepon. Aku tersenyum. Mengangkat jempol. Ia sama halnya.
Kereta mulai bergerak lambat. Semakin lama, semakin cepat. Aku melambai. Pram juga. Entah, tapi ada perasaan kehilangan di hatiku.
Rel di peronku sudah kosong. Kereta sudah pergi. Dengan Pram di dalamnya. Aku pulang. Dengan sesuatu yang terasa di hatiku. Apa ini? Bahagia-kah, atau lebih dari itu? Mungkinkah cinta? Tapi, kenapa aku merasa begitu kehilangan?

4 Responses to “#15”


  1. 1 nurul November 9, 2008 pukul 12:40 pm

    Hm….asyik banget….
    ngalir….
    Jadi inget sama manusia bermata sipit dari negeri sakura.
    Ditunggu kelanjutannya…

  2. 2 Billy Koesoemadinata November 10, 2008 pukul 12:48 am

    hehe..

    thanks nurul

    memang diusahakan supaya cerita ini tetap mengalir dan terasa ‘ringan’😉

    pokoknya,, baca kelanjutannya ya..

    Billy K.

  3. 3 warmorning November 10, 2008 pukul 6:36 am

    yah, ciumannya gak jadi *pembaca rada kecewa..* hehe
    seru juga tuh

  4. 4 Billy Koesoemadinata November 10, 2008 pukul 7:40 am

    ahahah…

    kan udah ada UU Pornografi..
    😛

    Billy K.
    https://bersambung.wordpress.com
    http://iamthebilly.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: