#16

Kubuka pintu dan masuk. Kupakai sandal, dan beranjak menuju kamarku.
“Ghita-chan, kau sudah pulang?”
Kutatap Hikaru di ruang TV. Ia sedang menonton sebuah acara.
“Ya. Ada apa?”
Hikaru langsung mematikan TV dan berbalik menghadapku. Sorot matanya menyala-nyala. Jelas, ia menginginkan sesuatu.
“Bagaimana ceritanya?”
Aku tersenyum lemah. Malas.
“Ah, kau ini. Mau tahu saja!”
“Yah, ayo dong! Ceritakan padaku! Aku juga ingin tahu!”
Aku mendekat. Aku duduk di depannya.
“Kau ini. Benar-benar bisa lupa dengan kejadian beberapa saat yang lalu, ya?”
“Ah, kau ini! Jangan mengalihkan pembicaraan! Jangan kau pikirkan masalahku! Aku sudah baik-baik saja! Hanya saja, Aoshi membangkitkan kenanganku.”
Aku tersenyum lagi.
“Baiklah, kau mau tahu sebelah mananya?”
“Semuanya. Lengkap dari awal sampai akhir!”
“Itu pasti lama dan makan banyak waktu!”
“Ya, kau singkat-singkat saja! Ceritakan hal-hal pentingnya!”
Kutatap Hikaru. Ia begitu bersemangat. Haruskah kuceritakan padanya?
“Baiklah. Aku menemuinya di acara itu.”
“Acara yang diberitahu Yamada itu?”
Aku mengangguk.
“Ya. Tadi setelah acara itu selesai, aku menemuinya.”
“Lalu, bagaimana ceritanya sampai ia bisa sampai ke sini? Kalian melakukan apa saja sampai aku pulang tadi?”
Melakukan? Kenapa aku justru berpikiran negatif, ya?
“Kami mengobrol. Lama. Mulai dari kafetaria siang tadi, sampai ia menawarkan untuk mengantarku pulang. Dan, aku tidak mau kasar padanya, jadi kupersilakan ia untuk mampir dan meminum teh sebentar.”
“Hanya minum teh?” tatapan Hikaru berubah. Aku tahu apa artinya!
“Ya. Hanya minum teh.”
“Lantas, kenapa tadi saat aku pulang, kalian sedang berdiri? Sepertinya kalian hendak melakukan sesuatu tapi tidak jadi karena aku keburu pulang.”
“Ah, tidak juga. Itu hanya perasaanmu saja!”
Aku berdiri. Menghindar.
“Tapi, kok sepertinya begitu?”
Aku keluar dari ruang TV.
“Sudahlah. Tak perlu kau tanyakan lagi selebihnya! Aku mau ke kamar dulu!”
Aku segera melarikan diri ke kamarku. Aku tak mau Hikaru menanyakan yang lainnya, karena aku pastinya tak akan bisa menjawabnya.
“Hei, Ghita-chan! Kita belum selesai! Kau masih berutang cerita padaku! Jangan lupa itu!”
Aku diam. Teriakannya tak kuhiraukan.
Gelap. Kamarku hanya diterangi sinar bulan dari jendela. Pastinya Hikaru sudah terlelap selarut ini.
Kuambil kursi dan kudekati jendela. Kubuka. Kubiarkan angin malam menyentuhku. Menyapaku. Mengibarkan rambutku.
Aku berdiam. Menikmati.
Kutatap kertas pemberian Pram di genggaman. Di bawah sinar bulan, aku membacanya. Berulang-ulang.
Hotel Tokyo International. Kamar 307.
Pram. Ada apa sebenarnya denganku? Mengapa aku justru memikirkan Pram?
Kuambil telepon. Kuputar nomor telepon rumah. Aku ingin berbicara dengan Bunda. Kuharap, Bunda belum tertidur di sana. Ah, masa sudah tidur? Sekarang pastinya baru jam sembilan malam di sana!
Nada sambungnya lama. Aku menunggu.
“Halo?”
“Halo? Bunda? Ini aku!”
“Ghita? Ini bener-bener kamu? Tumben banget kamu nelepon Bunda. Ada apa, Nak?”
“Ah, enggak apa-apa, Bunda. Aku cuma lagi pengen denger suara Bunda.”
“Oh. Jadi, nggak ada kejadian apa-apa atau yang penting, gitu?”
Aku diam. Curiga. Apa maksudnya? Kok Bunda ngomong gini?
“Ah, enggak juga.”
“Kamu yakin?”
Aku diam lagi. Heran. Apa maksud Bunda?
“Maksud Bunda apa, sih? Kok perasaan jadi aneh gini? Ada apa Bunda?”
Hening. Bunda tak menjawab.
“Bunda?”
“Ah, nggak apa-apa. Bunda hanya ingin tahu harimu saja.”
“Oh. Aku hanya bertemu dengan seseorang yang aku udah lama nggak ketemu sama dia, kalo itu yang Bunda maksud.”
“Oh. Itu bener?”
“Ya.”
“Boleh Bunda tau siapa orangnya?”
Aku diam sebentar. Haruskah Bunda tahu?
“Pram.”
“Pram?”
“Pram. Dia cowok yang aku kenalin ke Bunda waktu dulu itu.”
“Oh, maksud kamu cowok yang tinggi dan baik itu?”
“Yah, kalo kata Bunda dia gitu, iya sih. Itu emang dia.”
“Lho, kok kamu bisa ketemu dia?”
“Dia kebetulan lagi ada di sini. Dia lagi ada kunjungan sama beberapa orang lainnya ke kampusku.”
“Oh. Dia emang pinter, ‘kan? Wajar aja dia bisa jadi insinyur dan bisa ke Jepang sama orang laennya.”
Mendadak, ada yang terlintas di benakku. Dari mana Bunda tahu Pram seorang insinyur? Adakah yang Bunda sembunyikan dariku?
“Bunda, dari mana Bunda tau Pram itu insinyur?”
Diam. Hening.
“Emm…oh…itu, Bunda nebak aja. Universitas tempat kamu kuliah itu ‘kan terkenal sama kuliah Teknik dan Sastra-nya, ‘kan?”
Bukan. Bukan itu. Pasti Bunda tahu sesuatu!
“Oh.”
“Ah, sudahlah. Kamu nggak usah mikirin ucapan Bunda tadi. Kamu sehat?”
“Ya. Bunda sendiri? Ayah, Dhani, dan si kecil Rhama?”
“Ya, mereka baik-baik saja. Bagaimana kuliahmu?”
Malam itu, aku menelepon Bunda sampai lama. Aku tak mempedulikan tagihan pulsa teleponku yang pastinya bisa membuat Hikaru menjerit histeris. Ah, biar saja. Sekali-sekali ini.
Banyak sekali hal-hal yang aku tahu malam itu dari Bunda. Dhani yang menjadi juara kelas, Rhama yang sudah kelas tiga SD, dan masih banyak lagi. Tapi, ada yang mengganjal. Sikap Bunda dan kata-kata Bunda. Dari mana Bunda tahu Pram seorang insinyur?

0 Responses to “#16”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: