#17

Esoknya, aku ke kampus seperti biasa. Selain kuliah dan konsultasi dengan dosen tentang skripsiku, aku kembali menenggelamkan diri di perpustakaan. Mengembalikan beberapa buku yang sudah kubaca, sekaligus mencari lagi beberapa buku yang baru.
Perpustakaan cukup penuh siang itu. Aku tak kebagian tempat duduk. Terpaksa, aku berdiri. Dan agar tak jauh, aku berdiri sambil membaca di dekat rak-rak sastra.
“Hai, kita bertemu lagi.”
Aku menoleh ke suara di belakangku.
“Aoshi? Kok kamu di sini?”
“Ghita, aku mahasiswa sini juga.”
“Oh iya, ya. Sori.”
Aoshi hanya tersenyum. Cute-nya hilang. Lebih cute Pram! Khas!
“Bisa bicara sesuatu?”
“Tentang apa?”
“Hikaru.”
“Kenapa?”
Aoshi diam. Ia melihat sekeliling. Sepertinya, ia takut orang lain mendengar pembicaraannya.
“Aku menyukainya.” bisik Aoshi.
Aku tersenyum. Geli. Ingin sekali aku tertawa, tapi pastinya berisik. Jadi, kutahan tawa itu sampai terbatuk-batuk.
“Kenapa, sih?”
“Kau serius suka sama Hikaru?”
“Iya. Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa. Terus, kau maunya bagaimana?”
“Mmm, dia masih single?”
“Ya.”
“Bagus!”
“Tapi, kupikir sepertinya ada yang sedang mendekatinya! Sudah lama lagi! Sudah sejak setahun yang lalu!”
“Yah… Siapa?”
“Rahasia!”
“Rahasia? Ayolah Ghita, bagi-bagi denganku! Siapa tahu saja, aku berkesempatan!”
“Sudahlah. Lupakan saja. Kau tidak berpeluang, meski yang lagi mendekatinya itu mundur. Percayalah.”
“Bagaimana bisa?”
“Hikaru, dia sedang tidak mau dekat-dekat dengan pria dulu. Trauma!”
“Hah?”
Duh, apa harus aku beritahu sejarahnya?
Ponselku tiba-tiba berdering. Saved by the bell! Wajah Aoshi berubah masam. Aku menjauh, dan mengangkat telepon.
“Halo?”
“Ghita-chan, kau lagi di mana?”
“Eh, Hikaru. Tumben kau meneleponku. Aku lagi di perpustakaan. Ada apa?”
“Bisa ke gedung Teknik, sekarang? Ini sangat penting!”
“Memangnya kenapa? Sepertinya serius sekali?”
“Sudah! Jangan banyak tanya! Pokoknya, cepat kemari! Aku tunggu di lobby dekat auditorium!”
“Tapi-“
KLIK! Tut-tut-tut!
Hubungan teleponku terputus. Kutatap Aoshi.
“Hikaru kenapa?”
“Kau mau ke gedung Teknik, tidak?”
“Kelasku masih lama. Ada apa?”
“Aku juga tidak tahu.”
Mendadak, aku teringat dengan perkataan Pram semalam. Hari ini ada peragaan di auditorium. Ada apa? Apakah menyangkut Pram?
“Ghita. Ada apa? Mukamu kenapa pucat?”
Pucat? Hatiku langsung merasa tak enak. Aku hanya ingin segera pergi. Segera ke auditorium Teknik.
“Sudahlah. Aku hanya ingin pergi.”
“Ke mana?”
“Auditorium Teknik.”
“Untuk apa?”
“Hikaru menyuruhku ke sana. Aku juga tidak tahu. Tapi, hatiku merasa tidak enak.”
“Lho, bukankah sedang ada peragaan mekatronika di sana?”
“Justru itu!”
Kusimpan buku di rak dengan asal. Aku lalu bergegas keluar perpustakaan. Kutinggalkan Aoshi begitu saja. Aku hanya ingin segera menemui Hikaru di lobby dekat auditorium. Ada apa, ya? Nada suara Hikaru terdengar gawat tadi!
Pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran dalam benakku. Kuharap, Hikaru baik-baik saja. Tapi, apa Hikaru saja? Bagaimana kalau yang lain? Bagaimana jika Pram. Pram?
Pelataran gedung auditorium terlihat penuh. Orang-orang sibuk lalu-lalang. Sebagian menampakkan kecemasan. Beberapa di antaranya mengenakan seragam. Ada apa?
Aku memaksa masuk gedung dengan berdesak-desakkan. Aku berjuang untuk segera sampai ke lobby dan mencari Hikaru.
Saat sampai di lobby, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Beberapa orang nampak terluka dan diperban. Mereka tergeletak di lantai. Ada apa ini? Di satu sudut, kulihat Hikaru tengah berjongkok menemani seorang pria. Kepala pria itu diperban.
“Hikaru, ada apa ini?”
Hikaru berbalik. Ia berdiri. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca.
“Ghita-chan, kuatkan hatimu, ya?”
“Hah? Memangnya ada apa?”
Pria di samping Hikaru mencoba berdiri. Ia tertatih. Perban di kepalanya membuatku hampir tak mengenalinya.
“Ada kecelakaan.”
“Bagaimana bisa? Kecelakaan apa? Kok, sampai banyak korban begini? Yamada! Jawab aku!”
Yamada diam. Meringis. Ia meraba kepalanya yang masih diperban itu. Hikaru membantunya duduk. Entah, tapi perasaanku tak enak sekali. Pasti ada hubungannya dengan sesuatu. Pram. Pram?
Aku langsung berbalik menuju auditorium dan berlari.
“Ghita-chan! Tunggu! Kau mau ke mana?”
Aku tak menggubris. Aku langsung menerjang orang-orang yang keluar masuk auditorium. Susah payah, aku baru bisa masuk. Keadaan di dalamnya benar-benar tak bisa kupercaya.
Area tengah dipenuhi dengan berbagai macam barang. Konstruksi, besi, baja, kertas, dan beberapa mesin dan benda yang lebih mirip dengan robot.
Sekejap, Pram terlintas di benakku. Pram, bukankah kau bilang sedang ada peragaan hari ini? Lalu, di mana kau? Mungkinkah peragaan ini…
Aku mencari-cari ke setiap sudut. Pram tidak ada. Hanya tampak beberapa petugas pemadam kebakaran dan satpam yang sedang memeriksa. Berjaga-jaga dan memeriksa, seandainya ada korban lagi.
Pram, kau di mana? Kau baik-baik saja,’kan?
Aku berbalik. Mencoba berlari. Tapi, aku menubruk seseorang.
“Hikaru! Minggir!”
“Kau mau ke mana?”
“Aku mau cari Pram! Dia katanya peragaan hari ini, tapi kok tidak ada kabarnya?”
Wajah Hikaru berubah pucat. Cemas. Ia menunduk sebentar, dan menatapku lagi. Pasti ada yang tidak beres! Pasti!
“Hikaru, ada apa? Apa yang kau sembunyikan dariku?”
“Pram…dia…dia dibawa ke rumah sakit setelah pingsan karena kecelakaan.”
“APA?”
“Tadi, ketika sedang ada peragaan tiba-tiba konstruksi untuk robotnya rubuh, dan menimpa beberapa orang. Sebenarnya Pram tidak akan kena, tapi ia menolong beberapa orang dengan mendorong mereka sehingga ia yang tertimpa.”
Kepalaku pusing. Pijakanku goyah.
“Ghita-chan, kau tidak apa-apa? Ghita-chan!”
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, hatiku diliputi kecemasan. Gelisah. Gundah. Aku menggigiti jari. Hikaru bersamaku.
Sampai di pintu depan, aku menghambur keluar dari taksi dan menuju resepsionis. Kujumpai seorang perawat wanita. Pram! Pram! Pram!
“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?”
“Pram! Pram!”
“Maaf?”
“Pram!”
Perawat itu mengernyitkan dahinya. Tampaknya, ia tak mengerti. Aku ini mencari Pram, tahu!
“Maaf suster, kami mencari seorang pasien bernama Pramudya. Dia dibawa kemari dari Universitas Tokyo. Dia korban kecelakaan siang tadi setelah tertimpa konstruksi. Bisa tolong dicarikan?”
“Oh, sebentar.”
Suster itu menghadap komputernya. Aku menatap Hikaru. Ia tersenyum. Ketenangannya membuatku kagum. Great job, Hikaru!
“Baiklah, Pramudya. Indonesia. Dia sedang di UGD.”
“Terima kasih!”
Aku berlari ke UGD. Papan penunjuk jalan di lorong membantuku menemukan UGD. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang sepanjang lorong. Aku hanya ingin menemukan Pram! Aku ingin menemukan Pram segera!
Aku berhenti di lorong dekat UGD. Seorang dokter dan perawat pria tengah mendorong ranjang. Di atasnya terdapat sesosok pria. Dari jauh bisa kukenali pria di atas ranjang itu. Pram. Matanya terpejam. Beberapa selang menempel di tubuhnya.
“Pram.” ucapku pelan ketika mereka lewat di depanku.
Dokter itu berhenti. Ia menatapku. Perawat pria itu menunggu.
“Anda kenal pasien ini?”
“Ya. Namanya Pramudya Bakhtiar. Orang Indonesia. Dia kenapa, Dok?”
Dokter itu melihat catatannya.
“Ya, benar. Namanya Pramudya. Dia tak sadarkan diri karena beberapa trauma di tubuhnya. Terutama, kepalanya. Ia terkena gegar.”
“Lalu, kapan dia bisa sadarkan diri dan sembuh, Dok?”
Dokter itu diam. Ia seperti menggumamkan sesuatu.
“Sepertinya butuh waktu lama sampai ia sadar sepenuhnya. Sebenarnya, ia tak mengalami luka berat. Beberapa memar, tak akan menghambat kesembuhannya. Tapi, gegar pada kepalanya itu…”
Dokter itu tak melanjutkan kata-katanya. Tanpa perlu ia katakan pun, aku sudah mengerti. Sepertinya, Pram akan koma. Koma…Seandainya bukan kata itu yang terlintas di benakku!
“Apakah ia koma?”
Dokter itu mengangkat alisnya.
“Saya takutkan seperti itu.”
Hatiku serasa dihantam godam. Sakit. Hancur. Lebur.
“Anda tidak apa-apa?”
Aku hanya diam. Dokter itu tetap memandangku. Goyah. Kucari pegangan.
“Ghita-chan, kau tidak apa-apa?”
Kutatap Hikaru. Bagaimana bisa tidak apa-apa! Tapi, suaraku tercekat.
“Nona?”
“Di mana dia akan dirawat?” kataku pada akhirnya.
Tatapan dokter itu kembali seperti biasa. Cengkeraman Hikaru di bahuku melemah.
“Mari, ikuti saya.”

0 Responses to “#17”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: