#18

Malam sudah menjelang. Di ruang 36, hanya ada aku dan Pram. Ia terlelap dalam damai. Tubuhnya dililiti selang-selang yang menunjang kehidupannya.
Tenang. Sunyi. Sepi.
“Pram…sebenernya, apa sih yang terjadi di peragaan tadi? Kenapa kamu nggak hati-hati? Denger-denger, kamu nolong orang jadi begini. Kenapa? Sampe kapan kamu bakalan terus begini? Kenapa kamu terlalu egois untuk nyelametin orang? Kenapa?”
Hening. Hanya denyut monitor yang menemani. Suara pompa pernapasan ikut menjawabku.
Pintu di belakangku terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruangan.
“Ghita-chan, kau tidak lelah?”
Aku menggeleng. Hikaru menyentuh pundakku.
“Aku turut bersedih.”
“Ya.”
Diam. Tak ada suara.
“Bagaimana Yamada?”
“Dia baik. Luka di kepalanya tak mengharuskannya sampai dirawat di rumah sakit. Hanya beberapa jahitan yang kini menghiasi kepalanya.”
“Oh.”
Lama, kami hanya membisu.
“Kalau kau lelah, pulanglah saja. Aku masih ingin di sini bersamanya. Menjagainya.”
“Tapi, kau ‘kan tidak tahu apa dia akan sadar atau tidak?”
“Justru karena itu. Aku ingin ada di sampingnya saat dia membuka mata dan tersadar nanti. Walau harus menunggu sampai kapan pun.”
“Haruskah kutemani?”
“Tidak usah. Aku tahu kau ingin berada di tempat lain saat ini.”
Hikaru diam. Aku menduga-duga apa jawabannya. Aku tahu, ia sebenarnya ingin sekali menjagai Yamada. Aku tahu itu, Hikaru! Aku tahu!
“Ah, tidak juga.”
Kutatap wajah Hikaru.
“Ayolah. Kau tidak perlu berbohong padaku. Aku tahu.”
“Tapi-“
“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Lebih baik aku sendiri bersamanya. Sehingga, aku bisa tenang menjagainya.”
Hikaru diam. Ia menatapku.
“Baiklah. Tapi, kalau kau ada apa-apa, telepon saja aku. Ponselku akan selalu menyala sepanjang malam. Jangan lupa!”
“Oke.”
Hikaru menyimpan segelas kopi yang masih utuh di meja.
“Kopi ini untukmu. Cari makan-lah. Isi perutmu.”
“Iya. Gampang. Salam saja, ya untuk Yamada.”
Hikaru berhenti. Ia menatapku. Heran.
“Dari mana kau tahu?”
Aku tersenyum.
“Matamu.”
Hikaru semakin tak percaya. Alisnya terangkat sebelah. Aku mendekatinya.
“Sudahlah. Pergi saja sana! Kau tak perlu memikirkan ucapanku jika itu tak benar. Sudah. Pergi sana!”
“Ta-tapi..”
Kuambilkan mantel Hikaru dan memberikan padanya. Tasnya juga. Kudorong ia ke pintu sampai keluar.
“Selamat jalan, Hikaru. Hati-hati!”
“Hei, Ghita-chan…”
KLIK!
Kututup pintu, dan kubiarkan Hikaru berada di luar. Aku berbalik ke ranjang Pram.
“Hei, jaga dirimu, ya!”
“Ya.” jawabku pada Hikaru yang muncul dari balik pintu. Tak lama, ia pergi.

Sudah tiga hari semenjak Pram masuk Rumah Sakit. Aku tak lelahnya menungguinya siang-malam. Hanya kuliah, skripsi, dan Hikaru yang bisa mengingatkanku untuk beristirahat.
Aku menunggu bis di dekat halte kampus. Tak biasanya halte ini begitu sepi. Hanya ada aku dan Hikaru siang ini. Ingin rasanya aku cepat sampai di rumah sakit, dan menunggui Pram lagi.
“Kau tak perlu menemaniku. Aku bisa sendiri, kok.”
Hikaru menatapku tak percaya.
“Tidak apa. Aku hanya takut, kau ada apa-apa. Kau kurang istirahat belakangan ini, Ghita-chan. Jaga juga kesehatanmu! Jangan sampai, hanya karena menjagai orang lain, kesehatanmu sendiri sampai terlupakan!”
“Ya…Ya…Ya…”
“Lagipula, apa jadinya kalau kau tiba-tiba pingsan di jalan?”
Aku diam. Bisa saja Hikaru mencari-cari alasan. Haruskah aku menyindirnya langsung? Haruskah?
“Sudahlah, Hikaru. Kau tak perlu bohong padaku. Semenjak malam itu pun, aku tahu kau selalu ingin bersama Yamada, bukan?”
Hikaru membelalak.
“Dari mana kau punya pikiran seperti itu?”
“Bukankah aku sudah bilang? Dari matamu, Hikaru…Dari mata..”
Hikaru diam. Ia menunduk.
“Ayolah, aku tahu kalau sebenarnya kau menyukainya, ‘kan? Jangan pernah coba-coba membohongiku, ya Hikaru.”
Diam. Hikaru tak menjawabku.
“Iya, benar bukan?”
Hikaru tetap tak menjawab. Ia menggigiti bibir bawahnya. Salah tingkah, sepertinya.
“Tapi-“
Diam. Ia tak melanjutkan kata-katanya. Aku menunggu.
“Tapi apa?”
Hikaru lagi-lagi menunduk.
“Aku memang menyukainya. Tapi perasaanku menyatakan, jika ia lebih menyukai orang lain selain diriku.”
“Siapa?”
Hikaru menatapku.
“Kau.”
Aku tak percaya mendengar jawaban Hikaru itu. Mencengangkan! Itu tak mungkin!
“Ah, tidak benar itu. Kau mungkin salah. Itu tidak mungkin, Hikaru.”
“Tidak! Tidak, Ghita-chan! Itu benar! Buktinya sudah jelas, dan terlihat di depan mataku sendiri!”
“Contohnya?”
“Kau tahu, di malam saat kau menyuruhku pergi dan menemuinya, hal pertama yang dia tanyakan saat bertemu dengaku adalah, kau! Dia langsung bertanya padaku tentang kondisimu!”
Apa? Mana mungkin!
“Dan, tahukah kau, saat kecelakaan di auditorium tiga hari yang lalu, tidakkah kau perhatikan Yamada yang langsung berdiri saat kau datang? Padahal, lukanya cukup parah!”
Aku diam. Tak berani menjawab Hikaru.
“Benar, ‘kan?!”
“Aku tidak menyukainya! Kau-lah yang menyukainya! Aku belum pernah sekalipun memiliki rasa untuknya. Tidak sama sekali!”
“Tapi-“
Bis berhenti di halte. Aku masih diam. Hikaru diam.
“Ada satu hal yang harus kau tahu, Hikaru. Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai Yamada! Kalau dia menyukaiku, aku tak ambil pusing! Karena, aku punya Pram! AKU PUNYA PRAM!
“Kalau kau menyukainya, dekatilah ia! Lupakan masa lalumu itu! Ubah juga pendirianmu! Banyak kesempatan yang bisa kau raih!” ucapku panjang lebar.
Hikaru diam.
“Sudah, aku harus pergi ke rumah sakit. Sampai jumpa!”
Aku naik ke dalam bis tepat sebelum pintunya menutup. Hikaru coba mengejar, tapi percuma. Bis sudah mulai berjalan.
“Ghita-chan! Tunggu! Stop!”
Aku melihat Hikaru menjauh seiring berjalannya bus. Di sebuah kursi kosong, aku duduk dan menghembuskan napas.
Fiuh!

0 Responses to “#18”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: