#19

Malam itu, lagi-lagi aku menunggui Pram. Kusandarkan kursiku di dekat jendela. Diam. Menatap Pram. Bulan bersinar hangat. Bintang menemani malamku.
“Pram, aku harap kau bisa mendengarku, karena aku tahu sebenarnya kau bisa, bukan?”
Hening.
“Dua hari yang lalu, seseorang menjengukmu. Namanya Samiaji. Kau kenal?”
Hanya denyut penanda kehidupan yang menjawab.
“Dia bilang, dia leader tim insinyur dari Indonesia itu. Dia nanya sama aku, tentang bagaimana kondisimu. Aku bilang, kau koma. Dia terlihat sedih. Dia bilang, dia ikut berduka. Terus, dia bilang bakalan jenguk kamu lagi setelah semua tugasnya selesai. Emang, tugas kamu selama di Jepang, apa aja, Pram?”
Aku berhenti sebentar. Menghela napas.
Kupegang tangan Pram. Beku. Dingin. Tak bergerak.
“Sampai kapan kau terus begini, Pram? Aku merindukanmu.”
Entah sudah berapa lama Pram tak sadarkan diri, aku tak tahu. Tak kuhitung. Yang pasti, sudah lebih dari seminggu karena beberapa pohon Sakura sudah mulai bermekaran di taman dekat rumah sakit yang kulewati saat aku menjenguk Pram setiap hari.
Aku belum bertemu Hikaru lagi. Dia sepertinya masih marah padaku. Meski aku serumah dengannya, aku tetap tak bertemu dengannya. Apa ia menghindariku? Padahal, aku ingin tahu kabarnya, dan juga Yamada. Apa kabarmu, saudara Nipponku?
Pernah suatu ketika, aku tempelkan kertas pesan di pintu lemari es, tapi sampai sekarang ia tak membalasnya. Apa mungkin, ia tak membacanya? Apa mungkin, aku egois? Memang, aku hampir selalu bermalam di rumah sakit, dan pulang saat Hikaru sudah berangkat, serta pergi kuliah saat Hikaru belum pulang. Hikaru, ada apa denganmu?

Kususuri lorong menuju kamar rawat Pram. Susah payah aku membukanya, karena aku membawa beberapa buku untuk kubaca dan kubikin riset. Aku mau mengerjakan skripsiku sambil menunggui Pram.
Ketika pintu terbuka, ternyata sudah ada orang lain di sana. Mereka langsung menatapku.
“Hikaru? Yamada? Sedang apa kalian di sini? Sudah lama?” aku berpura-pura.
Buku-buku kusimpan di sofa. Hikaru berdiri. Yamada mendekatinya. Perban yang meliliti kepalanya, masih ada. Tapi, sudah berkurang.
Kuganti bunga di vas. Hikaru dan Yamada tetap diam. Selesai, aku lalu berbalik menghadap mereka.
“Aku…aku mau minta maaf soal waktu itu.”
“Yang mana?” aku berbohong. Padahal, aku juga punya salah!
Muka Hikaru berubah. Ia mendekat.
“Tolong maafkan aku. Tolong!”
Aku diam. Tatapan Hikaru melekat. Yamada hanya diam.
“Hikaru, dengarlah. Aku tak pernah mengganggap kejadian itu sebagai salahmu. Jadi, lupakanlah saja.”
“Tapi-“
Kuangkat jariku. Hikaru diam.
“Baiklah jika itu maumu. Aku memaafkanmu.”
Hikaru tersenyum. Yamada mendekat. Kami tertawa dan tersenyum bersama.
“Jadi, bagaimana?” aku melirik Yamada.
“Apanya?”
“Ah, kau jangan berlagak tak tahu begitu, Hikaru.”
Hikaru diam. Perlahan, wajahnya memerah.
“Maksudmu apa, sih?” nada suaranya bergetar.
Aku tersenyum.
“Lantas, kenapa wajahmu memerah jika kau memang tak tahu?”
Hikaru mendesah pelan. Ia seperti terkejut. Gotcha! Yamada, sama halnya. Ia tak banyak bersuara. Mereka coba menghindar. Saling menjauh, dan menghindari kontak mata.
“Ah, aku tahu! Pastinya, kau sudah bilang padanya, ya?”
Hikaru menoleh. Pipinya semakin merah padam. Aku tahu maksudnya!
Aku berdiri. Kudekati mereka, dan menggenggam kedua tangan mereka. Kucoba menahan tawa dengan tersenyum.
“Selamat! Baguslah! Aku turut gembira! Omedetougozaimasu!”
“Tapi, bagaimana kabar Pram?”
Yamada berhasil mengalihkan perhatianku. Pelan, tapi dalam. Aku menjauh. Duduk kembali di kursiku. Kutatap Yamada dan Hikaru.
“Yah, seperti yang bisa kau lihat.”
Hening. Hikaru mendekatiku. Yamada menghadap Pram. Mataku serasa panas. Ada lapisan bening yang mengambang di sana.
“Bersabarlah. Semua perlu waktu. Semua ada proses.”
Hikaru mengusap-usap tanganku.
“Terima kasih, Hikaru. Maaf aku sudah membuatmu kesal waktu itu.”
“Hei, kenapa sekarang jadinya kau yang minta maaf padaku?”
Hikaru mencoba mengajakku tersenyum. Entah, tapi aku turut tersenyum walau pipi ini mulai berlinangan air mata.
“Mungkin ini bisa membantu.”
Kutatap Hikaru yang tersenyum. Ada sesuatu di telapak tangannya.
“Burung kertas?”
Hikaru mengangguk.
“Sudah waktunya kau tahu apa arti dari burung kertas ini.”
“Maksudmu?”
“Ayolah…Kau benar-benar tak tahu ‘kan, apa arti burung kertas ini semenjak kedatanganmu kemari?”
“Iya. Tapi-“
“Dan, sampai sekarang pun, kau tetap tidak tahu, bukan?”
Diam. Hikaru benar adanya. Senyumnya mengembang. Ada apa ini?
“Yamada…”
Yamada bergerak ke sisi lain ranjang Pram. Ia membungkuk sebentar, dan mengambil sesuatu dari lantai. Tak lama, ia kembali dengan sekarung plastik besar, yang berisikan kertas. Tidak! Bukan kertas biasa! Itu lipatan kertas!
“Apa itu? Origami?”
Hikaru mengangguk.
“Ya. Di dalamnya itu, ada sembilan ratus sembilan puluh delapan origami burung kertas. Dan, yang di tanganku ini, yang ke-sembilan-sembilan-sembilan.”
“Apa maksudnya? Kenapa banyak sekali?”
Hikaru diam. Ia menegakkan tubuhnya. Yamada mendekat. Ia menyerahkan selembar kertas pada Hikaru. Aku diam saja menatapnya, sampai Hikaru menyerahkan kertas itu padaku.
“Ini. Untukmu.”
“Tapi, untuk apa kertas ini?”
“Legenda menyebutkan, jika kau membuat seribu buah burung kertas, permintaanmu akan jadi sebuah kenyataan.”
“Tapi, aku tidak membuat sebanyak itu, ‘kan?”
“Tidak. Tapi, jika kau membuat yang ke-seribu, mungkin saja permintaanmu itu bisa terkabul. Mungkin saja…”
Hikaru mengedipkan matanya. Ia tersenyum. Yamada di belakangnya juga tersenyum. Setengah tak percaya, kuambil juga kertas di tangan Hikaru itu.
“Jadi, kau mau mencobanya?”
“Baiklah. Tak ada salahnya kucoba, bukan?”
Kulipat-lipat kertas di tanganku menjadi seekor burung kertas. Tak sempurna, namun cukup rapih dan elok. Sesuai dengan apa yang pernah Hikaru ajarkan padaku dulu.
“Selesai!”
“Bagus. Nah, sekarang buatlah satu permintaan.”
Kupejamkan mata. Kugenggam burung kertas ke-seribu itu di tanganku. Minta apa, ya? Hmm…
Kuharap Pram cepat sadar dan sembuh!
“Sudah?”
Kubuka mata. Kutatap Hikaru. Senyum menghiasi wajahku.
“Sudah.”
“Bagus.”

Larut malam, barulah Hikaru dan Yamada pulang. Kami mengobrol seru. Sesuatu yang hilang sejak beberapa hari yang lalu.
Ternyata, alasan Hikaru menghilang selain karena ia sedang kesal padaku, ia juga menyiapkan burung-burung kertas itu bersama Yamada. Dan, sepertinya ia dan Yamada sudah bisa disebut ‘jadian’. Yah, setidaknya menurutku.
Ada kabar baik dari Yamada. Pihak universitas yang akan menanggung biaya perawatan dan pengobatan Pram. Dan, beasiswa S2 pada Pram tidak terpengaruh oleh kecelakaan itu. Satu sisi, aku bersyukur. Tapi, sisi lainnya….
Dan juga, Yamada menyampaikan permintaan maaf dari Samiaji. Ternyata, leader tim insinyur Indonesia itu, sedang sibuk presentasi sekaligus uji banding bersama kelompoknya – di mana seharusnya Pram berada dan ikut serta. Jadi, untuk sementara ini ia belum sempat menjenguk lagi. Pantas saja, waktu itu ia bilang sedang banyak sekali tugas yang harus dikerjakannya karena belum selesai.
Kutatap Pram di depanku. Ia masih berbaring tak sadarkan diri. Kuhela napas. Kusingkirkan bahan-bahan skripsiku, dan kugenggam erat tangannya. Dingin. Masih dingin dan kaku.
“Pram…”
Tetap. Tak ada jawaban yang kudapat.
Lelah. Aku pun terlelap.

0 Responses to “#19”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: