#20

Deburan ombak menyapa pantai. Sepi. Damai. Aku duduk sendiri. Angin laut menyibakkan rambutku.
Aku menunggu. Menunggu siapa?
Kurasakan, seseorang mendekat. Aku ingin menoleh, tapi aku tak bisa. Dalam hati, aku bertanya-tanya. Siapa dia?
Rambutku seakan-akan dibelai. Lembut sekali. Hanya satu orang yang bisa membelaiku lembut seperti itu.
“Pram?”
Orang itu duduk di sebelahku. Aku menoleh. Dia tersenyum. Pram.
“Ghita, terima kasih, ya.”
“Untuk apa?”
Pram membuka genggaman tangannya. Sesosok burung kertas berada di sana.
“Ini….”
“Ya. Ini burung kertas. Sama seperti yang pernah aku kasih sama kamu.”
“Berarti-“
Pram berdiri. Ia tersenyum cemerlang sekali.
“Sekarang, bangunlah.”
“Apa maksudmu?”
“Bangun, Ghita. Bangunlah.”
Aku tak mengerti. Kucoba berdiri, tapi entah kenapa ragaku tak kukuasai.
“Bangun, Ghita. Bangunlah.”
Aku mencoba berdiri lagi, tapi tak bisa. Ada apa ini?
Tak lama, semuanya hilang. Tak ada lagi yang berada di sekitarku. Hanya gelap. Pekat. Sendiri. Dan kata-kata Pram yang terus terngiang.
“Bangun, Ghita. Bangunlah.”

“Bangun, Ghita. Bangunlah.”
Tubuhku diguncang pelan. Gelap. Kubuka mata. Aku terlelap!
Buram. Kuusap-usap mataku. Seseorang tersenyum di depanku. Perlahan tapi pasti, ia membelai rambutku.
“Pram! Kau sudah sadar!”
Aku melompat. Ingin segera kupeluk Pram. Hatiku sangat senang. Ingin rasanya aku memekik karena gembira. Belum pernah aku merasa segembira ini melihat Pram sadar.
“Wo…wo…Tahan, Non. Peluknya pelan-pelan aja, ya. Dadaku masih sakit, nih.”
Aku tak peduli. Segera saja aku memeluknya. Erat.
“Uhuk!”
“Sori.”
Aku duduk kembali. Senyum menghiasi wajahku. Senang. Gembira. Kugenggam erat tangan Pram. Hangat. Tak lagi dingin dan kaku.
“Histeris banget!”
Aku tersenyum. Malu.
“Muka kamu jadi merah, ih! Lucu!”
Pram mencoba tertawa. Tapi, suara yang keluar justru seperti terkekeh. Lebih mirip kakek-kakek! Aku pun tertawa juga.
“Kalo nggak histeris, harus gimana dong?”
Pram tersenyum.
“Kok kamu udah sadar? Dari kapan?”
“Jadi, aku nggak boleh sadar, nih, ceritanya?”
“Ih, bukan gitu. Tapi-“
“Tapi apa?”
Aku diam. Tak bisa menjawab.
“Hm…Sadarnya baru aja, kok. Tadi.”
Aku diam. Senang.
“Nggak tau kenapa, tapi pas aku nggak sadar tadi, kayaknya ada yang nyuruh aku buat bangun, gitu. Siapa, ya? Sampe nangis-nangis segala, deh.”
Pram tersenyum nakal. Ia menggodaku.
“Ih, sorry ya! Ngapain juga aku nangis-nangis segala?”
“Tuh, ‘kan. Berarti bener, kamu yang tadi ngomong itu…”
Diam. Aku kena lagi!
“Udah, ah. Aku panggil dokter dulu!”
“Lho, buat apa manggil dokter? Ngapain?”
“Yee, emangnya kamu nggak mau diperiksa? Siapa tau, ada yang nggak beres sama kamu!”
“Tapi-“
“Udah, deh. Percaya, ya!”
Kucoba melepas genggaman Pram dengan berdiri. Tapi, Pram tidak melepaskan tanganku. Aku diam. Menunggu.
“Ada apa?”
Pram diam. Hatiku berdebar. Situasi seperti ini yang selalu kuhindari! Kenapa juga sekarang begitu? Apa Pram akan berbicara sesuatu?
“Bisa kamu buka jendela. Sebenernya, udah pagi apa belum, sih?”
Aku tersenyum. Senang. Lucu. Masih saja Pram bisa bercanda. Emang iya?
“Ada apa? Kok malah ketawa?”
“Nggak. Aku cuma lucu aja. Aku kira, tadinya kamu mau ngomong appaaaa…. gitu, sama aku. Eh, nggak taunya cuma nyuruh buka jendela doang!”
“Oh.”
Pram diam. Tapi, senyuman kecil berada di wajahnya.
“Ya udah! Cepetan sana!”
Aku mengangguk. Tersenyum.

Taman yang berada di dalam wilayah rumah sakit, tidak begitu ramai siang itu. Damai. Entah, apa karena memang sedang sepi, atau apa. Yang pasti, tak ada yang menggangguku dan Pram. Kudorong kursi rodanya perlahan. Di sebuah bangku, aku berhenti.
Sengaja kubawa Pram kemari. Aku ingin menepati janjiku tentang memperlihatkan bunga Sakura padanya. Lagipula, dokter yang memeriksanya kemarin, justru menyarankan untuk membawa Pram keluar dari kamar untuk penyegaran dan perubahan suasana.
“Kamu liat pohon itu? Itu pohon Sakura, namanya. Bunganya bentar lagi bakalan mekar. Dan, pas itu, Festival Hanami bakalan digelar di Jepang sini.”
“Kapan?”
“Sebentar lagi.”
“Hanami. Namanya aneh banget!”
“Ya. Hanami asalnya dari dua kata. Hana-, yang artinya bunga. Dan, -mi yang artinya melihat.”
“Jadi, arti gamblangnya itu, melihat bunga, gitu?”
Aku mengangguk.
“Wah, kamu jadi tau segala macem soal Jepang, ya setelah tinggal di sini?”
“He..he.. Bisa aja, kamu!”
“Yah, coba di Jakarta ada seperti ini. Kan bagus.”
“Ye…Mana bisa bunga Sakura idup di Jakarta! Kan, di sana panas! Bunga Sakura itu cocoknya cuma di udara sedang. Buktinya, di Washington bisa idup. Soalnya, iklimnya sama!”
Pram manggut-manggut.
Hening. Kami saling menatap. Angin musim semi berdesir.
“Sebenernya, aku ada alesan laen buat dateng ke sini.”
“Apa, tuh? Aku boleh tahu?”
“Aku ngejemput kamu.”
Aku tersentak. Diam. Jawabannya begitu menohok. Terlalu jujur! Apa benar?
“Aku nggak ngerti. Maksud kamu sebenernya apa, sih?”
Pram merogoh ke dalam selimut di pangkuannya. Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Apa isinya? Kapan ia menyembunyikannya? Jangan-jangan…
Perlahan, Pram membukanya.
“Cincin?”
“Ya.”
“Untuk apa?”
Pram mengambil tanganku. Ia menatapku dalam. Sedalam samudra biru yang ingin kuselami. Tatapan yang pernah membuatku luluh dan tenggelam dalam misteri sesosok Pram.
“Aku ingin kamu menikahi aku.”
Apa?
“Maaf, Pram. Tadi, kamu nyebut menikah? Aku nggak salah denger, tuh?”
“Nggak. Kamu nggak salah denger. Aku emang nyebut kata itu. Menikah.”
Diam. Gelisah. Kutarik tanganku. Rona muka Pram langsung berubah.
“Ada apa? Emangnya, ada orang lain?”
“Bukannya kamu bilang, kalo kamu lagi deket sama seseorang?”
“Ya. Bener. Dan, seseorang itu kamu.”
“Aku?”
Pram mengangguk.
“Aku?”
Pram mengangguk lagi.
“Lalu, ceritamu itu-“
“Ya. Aku udah ngomong sama Bunda, kok.”
“Tapi, kok Bunda nggak ngasitau aku?”
“Sengaja. Aku yang minta. Biar jadi kejutan.”
Sekelebat, aku teringat dengan percakapan malam itu. Betapa Bunda bisa menyebut Pram seorang insinyur padahal aku tak menyebutkannya. Pantas saja!
“Tapi-“
“Buktinya, sekarang kamu terkejut, ‘kan?”
Aku diam. Tak kujawab. Bimbang.
“Jadi?”
Aku bingung. Pusing! Haruskah kuterima lamaran Pram begitu saja? Aku dan dia, ‘kan sudah lama berpisah! Kenapa jadinya seperti ini? Kenapa begitu tiba-tiba? Apa ini kebetulan? Atau, inilah yang ditandai oleh misteriusnya burung kertas yang kutemukan dan kemudian hilang tiba-tiba itu?
“Ada apa lagi?”
“Enggak. Hanya saja, aku ngerasa kita ‘kan udah lama nggak ketemu. Yah, sekitar tiga taun lebih, deh. Pasti, banyak banget yang berubah.”
“Jadi, kamu butuh waktu?”
Bimbang. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ‘ya’?
“Bukan begitu, tapi-“
Tanpa kata, Pram meraih tanganku lagi. Lembut. Hangat. Tenang.
“Aku percaya sama kamu. Bahkan sebenernya, aku udah mau ngomong gini sejak dulu. Sejak sebelum kamu berangkat. Tapi, dari berbagai perhitungan, akhirnya aku tunda. Sampe sekarang.”
Aku diam. Hatiku berdebar. Rasa apa ini? Cinta-kah? Benarkah Pram juga mencintaiku? Tuluskah?
Hening. Lama.
“Baiklah. Aku mau.”
Pipiku terasa hangat. Mungkin merah dan merona. Aku malu!
“YES!”
Pram berusaha bangkit, walau lemah. Aku membantunya. Kami berpelukan.
“Terima kasih, ‘Ta.”
“Sama-sama.”
“Dan, aku masih ada kejutan lagi, lho.”
Kutatap Pram dengan tajam. Curiga. Kejutan apa lagi yang bakalan dia kasih?
“Tunggu aja tanggal mainnya!”
Pram tersenyum misterius.

0 Responses to “#20”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: