#21

Beberapa hari kemudian, Festival Hanami yang terkenal itu dimulai. Sakura pun sudah bermekaran di sekitar Jepang. Indah sekali. Belum pernah aku merasa sebahagia ini dengan ditemani kehadiran bunga Sakura. Bagaimana tidak? Pernikahanku akan segera berlangsung!
Jadi, ceritanya berlanjut dari hari itu. Hari saat Pram melamarku. Ternyata, kejutan lain yang ia maksud adalah kedatangan keluargaku. Terutama, Bunda. Aku senang sekali. Semua itu berkat Pram.
Ternyata Pram sudah merencanakan semuanya. Ia memang sudah akan melamarku setibanya ia di Jepang. Tapi, kapasitasnya sebagai insinyur undangan untuk presentasi beasiswa S2-nya lebih ia utamakan. Dan gilanya lagi, ternyata semua anggota tim yang berangkat dengannya – terutama Samiaji, mendukung dan membantunya! Pantas saja, ia bicara begitu misterius tentang tugas-tugas Pram yang belum selesai dan terlaksana.
Samiaji sempat khawatir ketika terjadi kecelakaan. Mereka tak menduga jika peragaan mekatronika-nya Pram, akan berakhir dengan kecelakaan, dan Pram menjadi koma. Tapi, mengetahui aku menjagai dan menunggui Pram, membuatnya tenang dan sadar jika aku memang pantas untuk Pram. Dan, ia berharap Pram cepat sadar. Karena, kalau Pram nggak sadar juga, mana bisa seperti hari ini!
KBRI Tokyo belum pernah seramai siang itu sejak dibuka oleh Presiden Soekarno. Kami semua berkumpul di halaman belakang. Di mana segala persiapan pernikahan sudah tertata rapi, dan tak lupa dihiasi Sakura yang bermekaran sebagai latarnya.
Bunda berada di barisan hadirin yang mengikuti prosesi dengan khidmat. Tiap kali aku menoleh, Bunda tersenyum sambil meneteskan air mata. Bahagiakah ia?
Hikaru, Yamada, Aoshi, dan juga beberapa teman serta dosen kuliahku juga berada di pernikahanku. Mereka semua memberiku selamat, dan juga semangat. Apalagi kalau bukan skripsi! Aku ‘kan, belum nyusun skripsi dan lulus! Tapi, udah nikah duluan! Hehe..
Pram terlihat gagah sekali hari itu. Ia mengenakan setelan jas yang sengaja ia bawa untuk pernikahan ini. Gila! Semangat banget! Dan, tentu saja aku. Bunda bilang, aku tak ubahnya bidadari yang sudah beranjak dewasa dengan gaun pengantin putih.
Tak lama, ijab kabul selesai. Tak perlu aku ceritakan secara detail. Buat apa? Pastinya udah bisa ditebak, ‘kan? Aku dan Pram kemudian bertukar cincin. Senyum tak pernah lepas dari wajah kami. Geli. Kucium tangan Pram hati-hati. Akhirnya! Pram dan aku menikah juga! Kami sudah resmi suami-istri!
Setelah itu, acaranya adalah foto bersama, makan bersama, dan perayaan. Tentunya, tak lama-lama karena KBRI bukanlah tempat pesta. Tapi, tetap saja memberikan kesan yang mendalam. Terutama aku. Karena hari ini adalah sebuah hari yang sangat indah. Dan, kuharap kebahagiaan hari ini takkan pernah berakhir.

Larut malam, aku dan Pram berdiam di kamar. Rasa lelah begitu terasa, tapi kami tak kunjung terlelap. Kusimpan kepalaku di lengan Pram yang kokoh.
“Pram.”
“Hmm?”
“Aku nggak nyangka, kalo bakalan married sebelum wisuda. Apalagi, married sebelum sidang buat skripsi!”
“Terus?”
“Tapi aku seneng banget hari ini. Aku seneng kamu ada di sampingku. Bersama aku. Memiliki aku.”
“Bener, nih?”
“Ya.”
Diam. Kami menatap langit-langit.
“Aku juga nggak nyangka bakalan married sama kamu.”
“Lho?”
“Kamu ‘kan tau, kamu pergi ke Jepang. Sementara, aku di Jakarta, Indonesia. Meski kita sama-sama kuliah, tapi pikiranku nggak tenang!”
“Kok gitu?”
“Siapa yang tau apa yang kita masing-masing lakuin. Siapa yang tau, apa kita masih bisa saling nginget?”
Diam. Aku hanya bisa mendengarkan.
“Dan, aku sayang banget sama kamu, ‘Ta. Aku nggak mau kehilangan kamu! Jujur, ya…Sehabis nganter kamu ke bandara waktu itu, aku pergi ke Puncak. Ngerenung. Sendirian lagi! Pokoknya, mirip orang kurang waras!”
“O…Sayang…Kacian, deh ih. Sedih, ya?”
Kugoda Pram. Ia tersenyum.
“Makanya, aku belajar bener-bener biar bisa ke Jepang, lewat beasiswa S2 dari pemerintah Jepang! Dan, aku dapet deh!”
“Lho, bukannya kamu jadi cadangan?”
Pram tersenyum.
“He-he-he. Aku boong. Aku nomer satunya.”
“Trus, tawaran ke MIT itu? Kamu juga yang dapet?”
“Yup! Tapi, aku kasih ke orang laen aja. Aku lebih milih ke Jepang. Kan, biar bisa ketemu kamu!”
“Ih, boongin aku!”
Kucubit Pram. Kugelitik ia.
“Duh, jangan ngelitikin aku, dong! Geli! Lagian, aku kan baru beberapa minggu ini baru keluar dari rumah sakit. Masa, aku harus balik lagi?”
“Abis…”
Kini, kami berhadapan. Saling menatap.
“’Ta…”
“Apa?”
“Boleh, aku panggil kamu, Ghita-chan?”
Gemas. Aku coba mencubitnya lagi. Menggelitiknya. Ia menghindar. Dan membalas.
Malam semakin larut. Tapi, aku dan Pram justru tak bisa tidur. Kami sibuk bercanda, dan terus saling mengganggu. Maklum! Pasutri baru!

—Bersambung… (?)—

0 Responses to “#21”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: