#0. prologue

Gedung Olah Raga begitu ramai malam itu. Sampai-sampai, lapangan parkir pun tak cukup untuk menampung kendaraan para pengunjungnya. Emangnya, lagi ada apaan, sih?
Seorang gadis duduk sendiri di kursinya. Ia menarik napas, dan menghembuskannya berulang kali. Terlihat jelas, ia berusaha menghilangkan ketegangan yang berada dalam dirinya.
“Tenang, Mai. Nyantei aja. Kamu pasti bisa, kok.”
Gadis itu menoleh pada laki-laki di belakangnya. Ia tengah memijati pundak Mai agar lebih rileks.
“Lha, kok baru keliatan lagi?”
“Hehe. Sori, ya. Aku tadi ke kamar mandi dulu. Nature calls.”
Mai tersenyum. Hatinya agak plong.
“Oke? Siap, ‘kan?”
“Sip!”
Mai mengacungkan jempolnya dari balik sarung tangannya. Penonton begitu riuh di sekitarnya. Menanti pertandingan di lapangan indoor tengah Gedung.
“Nanti kalo bisa, kamu jangan keburu-buru buat nyerang balik, ya. Dia ini, udah punya taktik buat bikin strike, justru pas kita nyerang balik. Mendingan, kamu nyantei aja. Ikutin aja cara kamu maen yang biasa. Jangan kepengaruh, ya?”
Mai coba tersenyum. Peluh sudah membasahi dirinya sejak tadi. Seorang yang berpenampilan seperti seorang wasit, berjalan ke tengah lapangan. Ia memberi isyarat kepada Mai dan juga lawannya, untuk segera bersiap dan menuju ke tengah lapangan.
Mai berdiri. Ia membenarkan seragam taekwondo-nya. Mengencangkan beberapa ikatan, dan juga mengepaskan letak pelindung kepalanya. Tak lupa, ia memastikan pelindung tubuhnya kuat terpasang dengan memukul-mukul agak kencang. Sejenak, ia menghirup napas panjang.
“Ayo, Mai! Kamu bisa! Go! GO, MAI GO!”
Mai mengepalkan tangannya, dan maju ke tengah lapangan. Ia sudah meniatkan dirinya. Ia sudah mempersiapkan dirinya.
Ayo! Ini final! Gue pasti bisa! Gue HARUS bisa!
TENG!
Tanda pertandingan babak final turnamen taekwondo dimulai. Mai mulai memasang kuda-kuda. Ia bersiap untuk menghadapi lawannya, dan melakukan jurus-jurusnya sendiri.
Laki-laki yang tadinya memijat Mai, berteriak menyemangatinya dari bangku pemain. Terus-menerus.
“GO! GO, MAI GO! GO, MAI GO!”

Sepi. Ruang ganti pemain sepi malam itu. Mai sudah mengganti bajunya. Tapi, ia masih asyik duduk di kursinya. Memandangi piala di depannya. Peluh masih membasahi sekujur tubuhnya.
“Hm-hm. Juara dua. Tanggung banget. Padahal, udah masuk final.”
Pelan. Mai berdiri. Raut muka kecewa sekejap terlintas di wajahnya. Ia mengangkat tasnya yang penuh berisikan pakaian seragamnya, dan juga beberapa handuk yang basah dan kotor oleh keringat.
Lama, ia diam. Piala itu masih didiamkannya di lantai.
Juara dua.
“Mai! Mai!”
Samar-samar, Mai mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah pintu.
“Mai! Mai!”
Laki-laki yang tadi menyemangatinya muncul. Ia memasang senyum sepenuh hatinya. Berharap bisa menghibur Mai.
“Mai! Ayo pulang! Kamu masih mau lama-lama di sini? Bentar lagi, GOR ditutup, lho! Ayo!”
Mai tersenyum kecil. Kemudian hilang. Datar.
“Gio.”
Diam. Senyuman di muka Gio mulai hilang. Ia menyadari ada sesuatu dengan sahabatnya ini.
“Kenapa, Mai?”
Gio masuk ke dalam ruang ganti. Ia mendekati Mai. Ia menatap piala di depannya.
“Kenapa? Kamu kecewa, soalnya cuma bisa jadi juara dua?”
Mai tak menjawab. Ia mendengus.
“Nggak usah dipikirin. Ini bagus, kok! Jangan nyesel!”
Gio mengangkat piala. Ia hendak beranjak.
“Ayo, deh! Jangan kelamaan!”
“Tunggu!”
Diam. Gio menunggu. Mai memegang erat tasnya.
“Tapi kan, tanggung banget gitu, lho! Coba tadi aku bisa ngindar dari tendangan muternya! Pasti, hasilnya sekarang bakalan beda, ‘kan?”
Gio coba tersenyum. Ia menyimpan piala Mai di bangku. Mai sendiri menunduk. Pipinya mulai basah.
“Hei. Jangan nangis gitu, dong. Masa taekwondoin jagoanku, nangis gitu aja? Kalo berantem aja, malah makin ganas. Kok ini malah begini?”
Diam. Mai tak menjawab. Pipinya semakin basah.
“Udah, deh. Nyantei aja. Makanya, sekarang mendingan kita cepetan cabut dari sini, ya? Ada sesuatu buat kamu.”
Mai mengangkat kepalanya. Matanya merah. Lelah. Seakan-akan bertanya pada Gio.
“Udah. Nanti aja taunya. Yang penting, sekarang kita cabut dulu. Oke?”
Secara tiba-tiba, Gio mengangkat piala Mai. Ia menarik tangan Mai, dan berlari keluar dari ruang ganti.

Gelap. Pintu pagar rumah Gio terkunci dengan rapat. Bukannya menghentikan motornya, Gio justru menambah kelajuannya. Di belakangnya, Mai memegang erat dirinya. Dan juga, pialanya.
Kok nggak berenti? Emangnya mau ke mana? Gue kira, ke rumah Gio. Tapi…
Gio berbelok berulang kali. Menembus gelapnya jalanan perumahan yang sepi. Di sebuah taman, ia berhenti sebentar. Menunggu. Apa?
Tit! Tit!
Sebuah jalan rahasia terbuka di depannya. Semak-semak belukar di taman itu, seakan mengerti jika tuannya datang.
“Kita mau ke mana, sih?”
“Udah. Kamu diem aja, deh. Nanti juga, tau sendiri. Yang pasti, kejutan deh.”
Diam. Mai menurut. Gio menjalankan motornya lagi. Memasuki jalanan rahasia di balik semak belukar itu.
Gelap. Jalanan rahasia itu tertutupi rimbunan dahan dan ranting. Berkas sinar bulan mencoba menerobosnya satu-persatu. Seperti perjalanan ke dunia lain. Mai semakin mengeratkan pegangannya.
Tak lama, di sebuah ujung jalan Gio berhenti. Ia mematikan motornya, dan membuka helmnya.
“Ayo. Kita udah nyampe, nih.”
Hah? Nyampe? Ke mana? Emangnya kita mau ngapain? Kok sepi gini? Kok gelap gini? Serem!
Mai turun. Ia menyimpan pialanya ke tanah. Pegal. Gio pun turun. Ia membenarkan letak tas Mai yang besar karena penuh itu. Kemudian, ia mengambil pialanya.
“Ayo. Sini! Aku tunjukkin jalannya!”
Gio meraih tangan Mai. Tanpa basa-basi, Mai menurut saja. Ia berusaha berpikir sepositif mungkin. Ini Gio! Nggak mungkin dia berani macem-macem sama gue! Lagian, gue juga bisa bela diri ini!
Gio menerobos gelap. Mai di belakangnya. Masih menduga-duga, apa yang akan terjadi nantinya. Kemudian, Mai melihat seberkas cahaya. Di ujungnya, Gio berhenti. Mai diam. Ia tak bisa berkata-kata melihat pemandangan di depannya. Sekilas, ia seperti mengenali latar tempat itu.
“I-ini…”
“Gimana? Bagus, ‘kan?”
Gio melepas pegangannya. Membiarkan Mai berjalan-jalan sendiri. Gio menaruh tas dan piala Mai di meja.
Mai berkeliling. Ia kemudian duduk di sebuah kursi rotan panjang. Diam. Menatap langit. Gio menyalakan pemutar piringan hitam tua, yang berada di bawah tenda kecil. Tembang-tembang lawas mulai terdengar.
Mai diam. Ia berusaha menenangkan dirinya. Pikiran-pikiran was-was, dan kecewa setelah pertandingan final tadi, dibuangnya jauh-jauh. Ia mencoba mendengarkan lagu-lagu lawas yang pelan, dan begitu menyentuh hatinya. Gio duduk di sebelahnya.
Hening. Dua orang yang telah bersahabat sejak kelas satu SMA itu, kini diam memandangi langit. Menatapi bintang yang bertaburan. Menemani bulan mengarungi malam.
“Tempat ini, keren banget. Gimana ceritanya, Gio? Kok baru sekarang loe ngajakin gue ke sini?”
“Hehe. Bagus, ya. Sengaja, kok. Lagi nunggu momen yang pas aja. Dan lagi, aku juga asalnya nggak tau kalo tempat ini ada.”
Mai menegakkan tubuhnya. Ia menatap Gio di sebelahnya.
“Lho, kok bisa?”
“Yah, kamu ‘kan tau sendiri, sebenernya aku udah lama banget tinggal di perumahan sini. Tapi, kurang lebih baru setaun ini, aku nemuin tempat ini, dan ngerenov, deh.”
Mai menatap sekelilingnya.
“Kenapa? Sepertinya, ada yang familier, ya?”
Mai mengangguk. Gio berdiri. Ia menatap tembok kokoh di depannya, yang menghalangi pandangannya ke rumah di depannya.
“Ini ‘kan, belakang rumahku.”
“Hah? Yang bener, loe!”
Gio menoleh sambil tersenyum. Mai beranjak mendekati Gio. Ia memandangi tembok yang sama.
“Tuh ‘kan, tanaman anggurnya sama. Dulu ‘kan, kita pernah ngambilin.”
Seakan-akan menemukan sebuah penghibur, Mai tersenyum.
“Eh, iya juga. Jadi bener, ya ini belakang rumah loe. Cuman, kok jauh banget buat masuknya? Harus muter-muter dulu.”
Gio tersenyum.
“Yah, sengaja. Biar nggak semua orang bisa nemuin tempat ini. Soalnya, kadang aku suka nyendiri aja di sini. Nenangin pikiran, ditemenin sama Elvis, atau Chet.”
Giliran Mai yang tersenyum.
“Hei…Thanks, ya. Loe tau aja gimana caranya ngibur gue. Loe emang temen terbaek yang pernah gue punya. Gue harap, kalo udah kelas tiga nanti, kita masih temenan ya meski udah pisah dan beda kelas.”
“Yah, aku juga pengennya gitu. Semoga aja.”
Diam. Semilir angin menambah sejuk suasana. Gio mencuri-curi pandang kepada Mai. Sejenak, ia mengagumi kecantikan Mai. Gile! Cakep banget! Coba gue bukan sobatnya, udah gue tembak, nih! Eh, tapi kebetulan banget, nih! Ayo! Tembak aja!
“Mai.”
Mai menoleh sambil tersenyum. Ia menatap Gio yang berubah serius.
“Apa?”
“Ini. Tunggu bentar.”
Gio meraba saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah gelang. Untaiannya batu-batu yang tersusun rapi, dan sebuah lonceng kecil di salah satu ujungnya. Begitu imut.
“Wah! Lucu banget!”
Gio menyodorkannya pada Mai.
“Ini, buat gue?”
Gio mengangguk.
“Beneran, loe?”
“Yah, itung-itung pengingat kalo kita udah jadi sobatan baek selama dua taon belakangan ini. Meski kita masih pengen barengan terus, sapa tau, kita nggak bisa gitu. Jadi, gelang ini buat kamu.”
Mai mengambil gelang itu.
“Ih, kok ngomongnya sinis banget gitu! Tapi, makasih buat gelangnya, ya. Ini bagus banget! Gue bakalan jaga terus, deh!”
Gio tersenyum. Masih ada yang ingin ia sampaikan sebenarnya. Tapi… Ayo! Ngomong aja! Nggak apa-apa! Kapan lagi kesempatan kaya’ gini? Emangnya, mau nunggu lagi? Sampe kapan?
Baru saja Gio hendak berucap, ponsel Mai berbunyi dari dalam tasnya. Segera, Mai mengambil ponselnya.
“Bentar ya, Gio. Halo?”
Mai menjauh. Ia berbicara dengan seseorang di ponselnya. Sepertinya Mama-nya, karena ia menjawab dengan jawaban yang singkat-singkat dan beberapa kali mengucap kata ‘Mama’.
Gio diam. Ia menatap tembok rumahnya. Berpikir. Yah, pake acara telepon lagi!
Agak lama kemudian, Mai baru mengakhiri hubungan teleponnya. Ia kembali mendekati Gio.
“Sori, ya. Itu tadi Mama. Dia kuatir anak gadisnya belum pulang juga. Parno banget, deh! Tapi, gue bilang gue lagi sama loe. Jadinya, dia agak tenang. Tapi tetep, ujung-ujungnya nyuruh pulang cepet juga. Udah malem, katanya.”
Mai tersenyum. Gio coba balas tersenyum. Hambar.
“Ya udah, deh. Kita pulang aja sekarang. Takutnya, nanti Mama kamu nelepon Polisi, lagi! Bisa-bisa, aku jadi buron soalnya ngelariin anak orang, lagi.”
“Ha-ha!”
Mai mengambil tasnya. Sementara Gio membawa pialanya. Ia mencoba menyembunyikan raut kecewanya. Hatinya merasa kesal sekali. Yah!

0 Responses to “#0. prologue”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: