#1. the locker incident

“SIALAN!”
BRAK! BRAK! BRAK!
Loker tak bersalah menjadi korban kekesalan seorang gadis di pagi hari. Mukanya terlihat begitu sangar. Cukup menakutkan untuk ukuran seorang gadis SMA.
“Ni loker kenapa, sih? Hu-uh!”
BRAK! BRAK! BRAK!
Untung sekolah masih kosong. Jadi, tak ada yang mengganggunya. Lagipula, kalaupun ada, apa mereka berani mengganggu?
BRAK!
Satu pukulan keras mendarat di pintu loker itu. Penyok. Gadis itu tak terlihat kesakitan. Ia seperti menikmati melepas kekesalannya.
“Dasar! Kalo tau gini, bukunya gue bawa pulang kemaren!”
Gadis itu mengangkat tasnya ke bahu. Ia merengut. Marah.
“Hoi, Mai!”
Mai menoleh. Ia tak menjawab. Matanya menyorot tajam.
“Apaan, sih loe? Pagi-pagi gini udah teriak-teriak? Nggak tau apa, gue lagi kesel banget?”
Mai berjalan. Yang memanggilnya tadi, berusaha menyamakan langkahnya.
“Yee..Kok malah nyolot, sih? Kenapa? Penyakit pagi hari? Wah, jangan-jangan bawaan bulanan, nih!”
“Duh, Gio! Plis, deh! Loe kayaknya gatel banget ya, kalo nggak ngerecokin gue di pagi hari kaya’ gini?”
“Makanya, cerita dong! Kenapa kamu sampe kesel banget? Biasanya, kamu suka nyerita. Udah pisah dan beda kelas aja, kamu jadi jarang nyerita lagi sama aku. Kenapa, sih kamu ini?”
Mai menghentikan langkahnya. Gio juga berhenti.
“Eh, loe nggak berubah juga, ya? Masih aja bawel! Pantesan aja nggak ada cewek yang mau sama loe!”
“Waduh, dalem banget omonganmu. Tapi, nggak apa-apa. Aku juga nyadar kok. Aku tau banget, sifat bawelku ini sebenernya penyakit menular. Dan, sapa lagi kalo bukan kamu , yang nularin sifat bawelku ini. Lagian, ngapain juga cewek-cewek pada ngedeketin aku? Aku juga ada alesan laen yang bikin cewek-cewek itu pada ngabur.”
“O ya? Emang apaan?”
Gio diam. Ia tersenyum simpul. Jahil. Ia melirik Mai.
“Ya…alesan itu kamu, tau! Mana ada lagi, cewek yang mau deketin aku kalo mereka nyadar ada kamu di samping aku? Kamu ‘kan cewek garang. Juara dua turnamen Taekwondo kota, gitu lho…”
“Hah?”
“Ya, iyalah. Nyadar aja, dong. Dua taun kemaren, mana ada aku nyendiri tanpa kamu di samping aku? Lagian, kamunya juga yang terus-terusan ngegrusuin aku!”
“Hah?”
“He-he-he.”
“GIO! DASAR ASBUN, LOE!”
Gio tersenyum menyeringai. Ia sangat senang sudah bisa menambah kemarahan Mai. Bukan apa, tapi memang begitulah yang dulu biasa terjadi di antara persahabatan mereka.
Mai coba meraih Gio. Tapi tak sempat, karena Gio sudah langsung kabur dengan langkah seribu sambil tertawa senang.
“GIO!”

Kantin cukup ramai siang itu. Selain memang karena jamnya istirahat, tapi juga kebetulan pedagang yang biasanya mangkal di kantin itu, kebanyakan sedang pulang kampung. Jadinya, kantin menjadi ramai oleh kesibukan dan antrian.
Di sebuah meja, Mai duduk. Ia hanya sedang menemani Ve, dan menikmati pemandangan keramaian di kantin.
“Ve, coba loe liat, deh. Pas lagi rame gini, pastinya pedagang itu pada untung gede, ya? Apalagi, yang jualannya lagi pada dikitan.”
“Ya, iyalah. Itu ‘kan salah satu prinsip ekonomi. Modal sesedikit mungkin, untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.”
“Hah? Kok gitu, emangnya nyambung?”
“Lha, iya dong!”
“Emang iya? Bukannya kalo lagi sepi yang jualan gini udah nggak ngaruh lagi, tuh yang namanya prinsip ekonomi?”
“Terus, apaan dong?”
“Kalo kata gue, yang gini ini, namanya kondisi ekonomi. Alias, aji mumpung!”
“Masa’ iya?”
“Yah, loe gimana, sih? Kok malah diajarin gue yang belum pernah dan masih buta sama usaha dan dagang?”
“Abis, perasaan ya, di usaha dagang gue, belum pernah tuh dapet yang namanya aji mumpung dan dapet pelanggan banyak.”
“Sumpeh, loe?”
“Asli! Soalnya, pelanggan gue emang nggak pernah sepi! Tiap hari selalu bikin gue sibuk, dan dapur gue selalu ngebul!”
“Sialan, loe! Gue kirain, usaha loe kadang-kadang sepi pelanggan dan nggak pernah dapet rezeki nomplok lewat aji mumpung.”
“Yee.., lagian udah tau gue punya usaha lumayan lama, kenapa juga gue nggak ngerti apa yang loe bilang tadi?”
“Jadi, tadi loe cuma belaga o’on doang?”
Ve diam. Ia tersenyum.
“Yah! Brengsek banget, loe! Jadinya, gue yang o’on dong!”
Ve mulai tertawa. Ia tak kuasa menahan rasa gelinya lagi.
“Lagian, sapa suruh loe jadi kaya’ pengamat ekonomi yang jadug banget?”
Mai cemberut.
“BIARIN! Suka-suka gue, dong! Udah ah, loe nambah ke-bete-an gue aja, ni hari!”
Ve menghentikan tawanya.
“Emang, loe udah bete kenapa aja?”
DUG!
Mai meninju meja dengan kepalan tangannya.
“Gila! Loker gue, lagi-lagi nggak bisa dibuka! Padahal, gue baru aja ganti gemboknya minggu kemaren. Kok bisa macet lagi, ya?”
“Loe lupa nomor kombinasinya kali?”
“Yah, masa iya? Gue nggak bakalan lupa, dong! Nomor kombinasi yang gue masukin ‘kan unik banget!”
“Yah, mungkin loe ngasitau orang laen soal nomor loe itu, terus dia ngisengin loe dengan ngubah nomornya itu.”
“Oh iya, ya..”
“Nah, bisa jadi ‘kan?”
PLOK! Mai meninju telapak tangannya sendiri.
“Kalo gitu, tersangkanya, loe dong!”
Ve melongo.
“Lha? Gue? Kok bisa?”
“Abis, kan cuma loe doang yang tau nomor itu selaen gue! Wah, loe kok tega banget sih, Ve?”
“Hah? Kok loe bisa nuduh nggak beralasan gitu? Gue ‘kan nggak punya motif buat gangguin loe!”
“Ah, masa iya?”
“Asli, Mai! Suer! Gue berani sumpah!”
“Bener?”
Ve mengangkat tangan kanannya.
“Sumpah!”
Mai diam sebentar. Ia berpikir.
“Terus, kalo bukan loe, siapa dong yang punya motif buat ngisengin gue?”
“Aaaauuuuu, dah!”
“Masa Gio, sih? Dia emang punya motif sih. Soalnya, dia ‘kan sering banget ngisengin gue dari kelas satu dulu. Tapi, kok dia bisa tau nomor kombinasinya, ya?”
“Loe nyatet di kertas nggak? Atau, apa gitu?”
“Iya.”
“Trus, kertasnya mana?”
“Bukan di kertas. Tapi, di telepon gue!”
“Coba, loe liat. Masih ada, nggak?”
Mai segera mengutak-atik ponselnya. Ia membaca note yang berisikan nomor kombinasi gembok lokernya. Masih ada!
90882
“Masih utuh, kok.”
“Terus, loe pernah minjemin telepon loe ke sapa aja? Ada kemungkinan nggak, kalo mereka iseng buka-buka, dan ada yang baca nomor itu, terus ngisengin loe?”
Diam. Mai coba mengingat-ingat kembali orang-orang yang ia temui dan mungkin meminjam ponselnya. Tiba-tiba, ia teringat pada seseorang.
“Wah! Sialan! Gue tau sapa orangnya!”
Mai langsung saja berdiri dan beranjak sambil berlari. Ve mengikutinya.

Gio sedang asyik mengerjakan soal bersama Nos di kelasnya. Mereka benar-benar menikmati, karena memang bidang mereka. Ilmu Eksakta – Kimia.
Dua gadis terlihat mendekat. Salah satunya terlihat begitu kesal. Mereka mendekati meja Gio.
“ARGIO HERNANZA! Loe tega banget, sih!”
Gio mendongak. Ia melihat wajah gadis yang memanggilnya.
“Eh, kamu Mai. Tumben banget kamu ke kelasku. Ada apa?”
“Yee, belaga pilon lagi! Udah tadi pagi gangguin gue, masih aja loe sok nggak tau!”
Seluruh isi kelas 3-IPA-3 menoleh ke arah mereka. Tapi, Nos tak peduli. Ia tetap mengerjakan soal. Gio berdiri.
“Kita keluar, yuk. Jangan di sini. Malu-maluin, aja.”
Gio meraih tangan Mai dan menariknya keluar. Ve mengikuti di belakangnya. Nos tetap diam. Tak peduli. Tapi, sepasang mata menatap kepergian mereka.
Sampai di luar pintu kelas, Mai menarik tangannya.
“A-ah! Lepas!”
“Oke. Maksud kamu apa?”
“Loe tu ya, tega banget sih sama gue! Lama-lama, loe keterlaluan juga, ya! Kalo loe nggak suka sama gue, jangan gini caranya! Jangan mentang-mentang udah pisah kelas jadi gini, dong!”
Gio tetap diam. Ia tak mengerti.
“Bentar, aku ada yang ilang info di sini. Maksud kamu apa sih, Mai? Kok, dari gangguin tadi pagi, sampe masalah aku nggak suka sama kamu? Apa hubungannya? Trus, kok malah balik lagi ke masalah beda kelas? Bukannya udah kita omongin dulu, masalah itu?”
Mai diam. Ia menatap Gio dengan penuh kemarahan.
“Kunci loker gue!”
Diam. Gio mendengarkan. Ia mulai mengerti. Ve sama halnya.
“Kunci loker gue, yang baru gue ganti minggu kemaren, tau-tau nggak bisa kebuka tadi pagi! Loe tau juga, ‘kan?”
“Iya.”
“Nah, udah tau! Sekarang, kasitau gue berapa nomor yang udah loe ganti!”
“Hei, tunggu dulu. Aku ganti nomor kunci gembok loker kamu? Ngapain aku kurang kerjaan kaya’ gitu? Dari mana kamu punya pikiran kaya’ gitu, Mai? Tega banget sih, sama aku yang udah dua taun ini jadi temen curhat kamu sendiri. Lagian, aku juga ‘kan taunya baru sekarang kalo kamu ganti kunci gembok baru. Gimana, sih?”
“Udah, deh! Semua udah jelas! Loe sengaja ‘kan dateng tadi pagi, buat ngetawain gue! Loe juga bisa tau nomor gembok loker gue, pas minjem telepon gue kemaren waktu loe minta SMS! Bener, ‘kan? Ngaku aja, loe!”
Mai menunjuk-nunjuk hidung Gio. Gio sendiri diam. Ia justru tersenyum-senyum.
“Hmm, kaya’nya udah ada salah paham nih, di pikiranmu tentangku. Sekarang, kita ke lokermu aja, deh.”
“Ngapain?”
“Udah, deh! Ikut aja!”
Gio menarik tangan Mai lagi. Kuat. Segera menuju barisan loker, dan langsung ke loker Mai. Seorang cewek keluar dari kelas, saat mereka pergi. Mukanya tampak tak senang, tapi ia bisa menyembunyikannya.
“Ren, situ ngapain? Kok ngumpet-ngumpet?”
Irena – atau yang lebih akrab dipanggil Ren, terkejut mendengar sapaan Nos dari belakangnya.
“Nos, kamu ngagetin aku aja! Kurang kerjaan banget, sih?”
“Yee, justru situ yang kurang kerjaan! Kok, nguping pembicaraan orang! Dosa!”
Ren hanya merengut.
“Emangnya, dia itu siapa, sih?”
“Dia yang mana?”
“Yah, kau tau-lah. Yang tau-tau marah-marah di kelas kita, dan nuduh-nuduh gitu ke Gio.”
“Oh, maksud situ, Mai.”
“Siapa namanya tadi? Mai?”
Nos mengangguk.
“Anak mana?”
“IPS-Dua. Kenapa emangnya?”
“Ah, enggak. Aku cuma pengen tau aja.”
“Pengen tau – sekedar pengen tau, atau pengen tau – pengen bener-bener tau?”
Diam. Ren menatap Nos.
“Yah, terserah kamu aja, deh.”
Ren pergi. Nos hanya diam memandang heran.

Sesampainya di lorong loker, Gio melepaskan tangan Mai. Ia menatap Mai lekat-lekat. Mai balas menatapnya tajam. Kesal. Marah.
“Oke, sekarang coba kasitau aku, berapa nomor kunci gembok loker kamu itu!”
“Ah, bukannya loe udah tau?”
“Yee! Udah, deh! Kamu kasitau aja, sekarang!”
Mai cemberut. Ia asalnya tak mau menjawab. Tapi…
“Sembilan – nol – delapan – delapan – dua.”
Gio memasukkan angka nomor kunci gembok Mai. Dan, kemudian…
KLIK!
“Nah, kebuka ‘kan?”
Diam. Mai terheran. Ve sama halnya.
“Jadi, curiga kamu kebukti? Apa bener aku pelakunya?”
Mai masih diam. Ia tak bisa menjawab. Ia malu, sekaligus marah.
“Ya, udah. Nggak apa-apa. Nggak usah dipikirin. Kamunya aja kali, yang tadi pagi buru-buru, jadinya nggak bisa ngebuka loker loe ini. Lagian, nomor penting sembarangan ditulis di ponsel. Gimana, ya Mai ini? Kok nggak berubah-berubah, sih?”
Gio membuka gembok, dan menyerahkannya ke telapak tangan Mai. Tak lama, ia memegang dahi Mai.
“Heh! Ngapain lagi, loe? Awasin tangan loe!”
Gio tertawa.
“Tuh, pegang gemboknya. Benerin nomornya, dan jangan dicatet atau kasitau ke orang laen. Jangan sampe, kamu nuduh-nuduh orang sembarangan lagi, ya.”
“Iya, iya deh!”
“Oke, deh. Kalo gitu, aku ke kelas lagi. By the way, aku masih demen kok, gangguin kamu. Artinya ‘kan, aku sayang kamu.”
Mai melongo.
“Eh, aku salah ngomong, deng! Maksudnya, aku seneng banget bisa ngisengin kamu.”
“Gio! Dasar asbun!”
Gio tersenyum.

0 Responses to “#1. the locker incident”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: