#2. what’s up, Mai?

Klinting!
Gio masuk ke dalam Jimbo café siang itu. Panas menyengat. Ia memang sengaja ingin mendinginkan tubuhnya, sekaligus nongkrong sebelum pulang ke rumah. Selain itu, Jimbo café memang sudah menjadi tempat nongkrong pilihannya sudah sejak lama.
Gio duduk di sebuah kursi yang letaknya agak ke dalam. Sengaja. Itu permintaan Nos yang juga ikut bersamanya. Ren sendiri, juga tampak di antara mereka.
“Mau pesen apaan, Nos?”
“Apaan aja, deh. Terserah. Tapi, jangan yang ada cafeinnya, dan jangan terlalu manis. Kalo bisa sih, air putih aja, buat ay. Tapi, kalo situ mau nraktir yang laen juga, nggak apa-apa, sih.”
Gio merengut.
“Yee..! Kalo gitu sih, bilang aja kamu lagi cekak, dan pengen ditraktir!”
Nos hanya tersenyum.
“Yah, habisnya ay takut situ marah atau malahan nggak mau nraktir ay. Padahal ‘kan, situ yang sering ngajakin ay kemari.”
“Ya udahlah. Kamu ngedekul aja di situ!”
Senyuman Nos semakin lebar. Gio menatap Ren.
“Kalo kamu, Ren?”
“Emm…Terserah kamu aja, deh. Aku apa aja juga, boleh.”
“Wah, aer comberan juga boleh, dong!”
Tanpa komando, Ren langsung saja memukul pundak Nos perlahan, dan tersenyum kecut. Gio menyadari hal ini.
“Udahlah. Nggak usah didengerin omongannya dia itu. Ya udah, aku yang pesen aja, ya?”
Ren mengangguk. Gio segera beranjak untuk memesan minuman. Nos ditinggal. Ia hanya mengeluarkan buku catatannya dan menulis. Sementara itu, Ren memperhatikan.
Klinting!
Mai terlihat memasuki Jimbo café. Ia sendiri. Ve tak bersamanya. Ia segera menuju meja bar. Gio kebetulan masih berdiri dan menunggu pesanannya.
“Eh, Mai. Tumben sendiri. Ve ke mana?”
“Aaahh…”
Mai menyimpan tasnya ke meja. Ia membenamkan kepalanya ke tangannya yang dilipat di atas meja. Gio menatap heran. Ada apa dengan Mai hari ini?
“Ini dia pesanannya, Gio. Dua chocolate milkshake, sama creamy cappuccino.”
“Sip. Thanks, Jimbo.”
Gio mengambil pesanannya. Tapi, ia belum beranjak. Jimbo menoleh ke arah Mai.
“Dia kenapa?”
Gio mengangkat bahu.
“Kok bisa?”
Gio mengangkat bahunya lagi.
“Biasanya kamu suka barengan dan tau segala macemnya soal dia. Kok sekarang jadi gini?”
“Yah, biasalah. Sejak kita pisah kelas, kita juga jadi jarang ketemuan dan curhatan.” Gio berbisik.
Jimbo mengangguk.
“Udah, ya. Kalo bisa, ajak ngobrol aja dulu, Jimbo. Aku masih ada kerjaan, nih!”
Jimbo mengangkat jempolnya. Ia mengedipkan sebelah matanya.
“Thanks, ya.”
Gio membawa nampan berisi pesanannya, dan segera menuju mejanya. Di sana, Nos dan Ren sudah menanti.
Dari balik tangannya, Mai mengikuti langkah Gio kembali ke mejanya. Ia ingin sekali memanggil Gio dan mengajaknya bicara. Tapi, ia lihat ada orang lain di sana. Ada gadis lain di sana. Ia pun mengurungkan niatnya.
Mai meraba gelang batu di tangannya. Ia memainkan salah satu batunya agak lama, dan membunyikan lonceng kecil yang berada di sela-sela batu itu.
Ting…
Jimbo mendekati Mai. Ia mendekati kepalanya yang masih menghilang di balik tangannya.
“Mai, ada apa? Ngantuk? Tidur aja dulu gih, di belakang. Atau, kamu lagi sakit, ya? Mau aku bikinin orange squash?”
Mai mengangkat kepalanya. Matanya seakan lelah. Ia menatap Jimbo.
“Nggak, makasih Jimbo. Gue cuma kurang tidur aja semalem. Pengennya sih, tidur. Tapi, mendingan gue pulang aja deh. Enakan tidur di rumah. Lebih bebas!”
“Ya udah, sana! Jangan ngelayap melulu, makanya!”
Diam. Mai berpikir sebentar.
“Hmm… Thanks buat tawarannya, Jimbo! Gue cabut dulu, ya!”
Mai menyeret tasnya, dan pergi ke luar Jimbo café. Ia tampak lemas. Jimbo menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kelakuan Mai siang itu.
“Kenapa katanya, Jimbo?”
Gio sudah berada di meja bar lagi. Ia mengharap jawaban dari Jimbo.
“Tau, deh.”
“Lha? Udah nanya, ‘kan?”
Jimbo mengangkat bahunya.
“Yah, dia bilang sih, katanya kurang tidur gitu, deh. Udah aku tawarin buat tidur dulu di belakang, tapi dianya nggak mau. Katanya sih, mau pulang aja.”
“Oh.”
Jimbo mengelap meja.
“Udah dulu, ya. Aku balik ngurusin café ini lagi.”
Jimbo berbalik. Gio hanya bisa diam sambil meratapi kepergian Mai. Ada apa sebenarnya dengan Mai hari ini?
Gio berjalan kembali ke mejanya. Nos masih asyik saja menulis. Ren memperhatikannya sambil meminum minumannya.
“Ada apa? Kok lemes?”
“Hah? Masa’ iya?”
Nos melihat dari balik kacamatanya. Senyuman Gio terasa hambar.
“Udah deh, kalo mau nyerita, ya nyerita aja. Ay siap jadi tampungan, kok!”
Gio diam. Ia masih bingung dengan kelakuan Mai hari ini. Ia menatap Ren. Nos mengerti dalam diamnya.
Merasa diperhatikan, Ren bergerak. Ia menatap Gio dan Nos.
“Eh, aku ke toilet dulu, ah, bentar.”
Ren pergi ke toilet. Selintas, ia mencuri pandang pada Gio. Tak lama, ia menghilang di balik pintu toilet wanita.
Gio duduk di depan Nos.
“Ini soal Mai.”
“A-ha. Terus?”
“Aku rada aneh aja, sama kelakuan dia hari ini.”
“Aneh gimana, maksud situ?”
Gio mengangkat bahunya.
“Yah, kamu juga ngerti mungkin, Nos. Masa’ udah lupa sama insiden kunci gembok loker tempo hari?”
“Ya. Itu ay inget. Maksud ay, hari ini Mai kenapa?”
“Dia…dia beda banget!”
“Beda gimana? Emangnya, dia bisa berubah kaya’ supergirl, gitu?”
“Ya bukan gitu, lah! Maksudku, hari ini dia keliatan lemes banget! Tumben-tumbenan, ‘kan?”
“Situ udah nanya kenapa?”
“Belum.”
“Lha, kenapa nggak tanya?”
“Abisnya, aku udah coba nyapa, tapi dianya yang langsung diem aja. Aku ‘kan serem juga, kalo tau-tau dia nyemprot aja tanpa pemberitahuan dulu.”
“Yee, itu risiko tiap cowok kali! Apalagi, kalo mau deket sama cewek!”
“Eh! Mai itu udah deket sama aku, dari kelas satu dulu, kalee!”
Nos diam. Ia tersenyum. Gio heran.
“Ngapain kamu cengengesan gitu? Ada yang lucu, emangnya?”
“Ah, enggak. Tau-tau, saraf di muka ay, langsung nyuruh ay buat senyum. Refleks itu!”
“Bisa aja, kamu!”
Nos tersenyum lebih lebar.
“Tadi sih, Jimbo udah nanya. Trus, katanya Mai lagi kurang tidur dan istirahat. Emang, abis ngapain ya? Atau jangan-jangan, lagi banyak pikiran lagi.”
Nos mengangkat bahu.
“Kenapa ay harus tau?”
“Tapi, kenapa aku nggak tau, ya?”
“Nah, itu baru masalah! Masa’ iya, sobat dari pertama masuk SMA, dilupain gitu aja? Wah, jangan-jangan, udah ada konspirasi baru, nih!”
Hah? Aduh, Nos! Plis, deh!
“Eh, ngawur kamu!”
“Ngawur? Sebelah mananya? Emang, ada aturan mana yang ngawur dan mana yang nggak ngawur?”
Gio diam. Nos ada benarnya juga.
“Eh, Nos. Aku heran, nih.”
“Kenapa emangnya?”
“Yah, aku heran kenapa pas di saat-saat kaya’ gini, pikiranmu bisa cemerlang juga kalo udah ngebahas soal hati, dan cinta.”
“Ciee, yang lagi ngebahas soal cinta, ni yee…”
“Wah, kacau ini! Ternyata Nos, kamu lebih gila daripada yang aku bayangin sebelumnya!”
“Hei! That’s Me! Nos! A.K.A. Chronos! Eh, kebalik, ya?”
Gio memukul bahu Nos pelan.
“Dasar freak.”
Ren mengintip dari balik pintu. Ia mengangguk-angguk sendiri. Kemudian, ia berjalan keluar. Kembali ke meja.
Menyadari kedatangan Ren, Gio dan Nos langsung berhenti bicara tentang Mai. Mereka tampak biasa-biasa lagi.
“Ada apa, sih? Kok kaya’nya serius banget?”
Ren mengumbar senyum. Seakan-akan tak ada yang terjadi.
“Ah, nggak apa-apa, kok! Nyante aja! Biasa, lah!”
“Iya! Bisnis…bisnis…”

Mai berbaring di atas ranjangnya. Diam. Ia memejamkan matanya. Menikmati hembusan semilir angin yang masuk dari jendela kamarnya yang terbuka. Lonceng di gelang tangannya berbunyi pelan terkena embusan angin.
Ting…
Perlahan, Mai membuka mata.
“Hmm, apa iya gue bisa jadi bintang iklan seperti yang Mbak-mbak itu bilang, ya? Aduh, gue tuh kenapa sih, ya? What’s wrong with me? Kok jadi penasaran banget gini? Apa, emang gue kaya’ gini, ya?”
Mai memainkan rambutnya yang pendek itu. Sangat pendek, sehingga terkadang ia terlihat begitu macho sebagai seorang cewek.
“Aduuuhh…Kok jadi kepikiran gini, ya? Lagian, kok kemaren bisa ketemu Mbak itu, ya? ADDUUUHHH!”
Mai memukul-mukul bantal dan gulingnya. Ia gemas. Ia begitu memikirkan ucapan seorang wanita kemarin sore, ketika ia kebetulan sedang belanja disuruh Mami-nya, dan melihat-lihat etalase di mall.
Seorang wanita yang lebih mirip sebagai wanita karir, mendekatinya dan menyapanya.
“Kamu bisa seperti itu, kalo kamu mau.”
Mai menoleh ke arah wanita di sampingnya. Kacamata dan ponsel yang ditentengnya menandakan ia wanita kantoran dan cukup gaul. Tapi, siapa dia, dan sedang apa dia di mall gini sambil gangguin anak orang?
“Maaf, Anda ngomong sama saya?”
Wanita itu kemudian menatap ke arah Mai. Ia mengamati postur Mai dari atas sampai bawah.
“Nama kamu siapa?”
Ragu. Mai hampir tak mau menjawab.
“Panggil aja, Mai. M-A-I.”
“Hmm. Mai. Nama yang cukup aneh. Sepertinya, bagus juga kalo nanti saya ngeliat nama kamu ada di mana-mana, Mai.”
Mai mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti.
“Ibu ini, siapa ya?”
Wanita itu menatap Mai tak percaya. Ia membelalakkan matanya.
“Kamu nggak tau siapa saya?”
Mai menggeleng. Ia benar-benar tak tahu.
“Wah, ya sudah. Nggak apa-apa.”
Mai diam. Ia tetap tak mengerti. Wanita itu membuka tasnya, dan mencari-cari sesuatu.
“Ini. Buat kamu. Tolong dipikirin, ya.”
Mai menatap kartu nama yang baru saja diberikan wanita itu. Alexa. Tebas Pro.
“Ini apa, Bu?”
Wanita itu tersenyum. Selintas, ia memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
“Asal kamu tau aja. Saya yang bikin ini.”
Wanita itu menunjuk ke display iklan yang tadi Mai lihat. Iklan sepatu gaul. Sejenak, Mai mengira wanita itu yang bekerja di perusahaan sepatu itu. Tapi kemudian, ia tahu maksudnya. Bu Alexa ini, yang buat iklan itu. Alias, pencari bakat sebuah PH. Mungkin.
“Oh.”
“Dan, satu lagi, ya. Jangan panggil saya Ibu. Saya baru tiga puluh, kok. Panggil aja, Mbak.”
Alexa mencoba mengajak tersenyum. Sementara, Mai masih saja bengong-bengong dengan kartu nama di tangannya. Mall mulai riuh.
“Jadi, saya tunggu kamu di kantor saya, ya. Jangan lupa!”
Mai diam. Ia belum ngeh juga.
“Yuk! Saya duluan!”
Alexa tersenyum. Ia menepuk pundak Mai, kemudian ia pergi.
Baru agak lama, Mai sadar. Ia ditawari untuk jadi bintang iklan! Langsung sama talent scout-nya lagi! Emangnya, tadi ngapain aja, ya kok bisa sampe dapet kartu nama?
Ia memandangi kartu itu agak lama. Kemudian, memandangi orang-orang di sekelilingnya.
Gile! Gue mimpi apa semalem, nih? Eh tapi, kok jadi euforia gini?
Diam. Mai coba mengendalikan dirinya.
“Oke, deh. Gampang ini!”

0 Responses to “#2. what’s up, Mai?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: