#3. duh! mumet!

PONG!
Sebuah bola bowling mengenai pin-pin yang langsung berjatuhan. Tinggal tiga pin saja yang masih berdiri. Mai mengambil bola lagi, kemudian melemparkannya.
PONG!
Ketiga pin yang tersisa itu, kemudian rubuh. Mai tersenyum. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu beristirahat di mejanya.
“Fiuh!”
“Gile, loe bisa belajar kaya’ gitu, dari sapa Mai?”
“Emang kenapa?”
“Yah, loe bisa ajarin gue, nggak? Gue ‘kan juga pengen, jago bowling kaya’ loe. Siapa tau, nanti partner bisnis gue, ada yang ngajakin bowling. Kalo nggak bisa ‘kan, malu-maluin aja!”
Mai tersenyum.
“Emangnya, ada partner bisnis loe yang mau ngajakin? Bukannya, partner bisnis loe kebanyakan cuma anak SMA kaya’ kita juga?”
“Yah, Mai! Itu ‘kan sekarang! Kalo nanti, begitu usaha gue udah jadi kerajaan bisnis, gimana coba? Masa’ gue nggak bisa maen bowling?”
“Emangnya penting, gitu?”
Ve diam. Ia menunjukkan raut tak senang. Mai tersenyum lagi.
“Ya udah. Gue ajarin, deh.”
“Asyik!”
“Tapi…. Ada tapinya, lho!”
“Apaan?”
“Nggak sekarang, ya! Gue lagi mumet, soalnya!”
“Yah…”
Ekspresi senang di wajah Ve hilang seketika, dan berganti dengan kekecewaan. Mai sendiri, mulai menunjukkan muka pusingnya.
“Emangnya, loe mumet kenapa Mai?”
Mai meminum sodanya.
“Tau, nih. Akhir-akhir ini, gue puyeng melulu bawaannya! Yah, banyak deh!”
“Wah, jangan bilang, loe mumet gara-gara temen loe itu? Siapa namanya? Giok?”
Mai tersenyum. Bener! Salah satunya dia penyebab kemumetan itu! Gio!
“Gile, loe! Nama orang maen ubah aja! Gio! G-I-O! Nggak pake K, di belakangnya!”
“Yah, itu deh! Si Giok itu! Dia bikin ulah lagi, ya? Atau, kunci loker loe nggak bisa kebuka lagi? Atau, ada yang laen?”
“Aduh, Verawati Indah Suci Meilani Putri Ananda Harnomo! Loe bisa diem, nggak sih? Nanyanya, satu-satu dong!”
Ve diam. Ia paling tak suka jika ada yang memanggilnya dengan nama panjangnya. Memang bagus dan indah, sih. Tapi, panjang buanget!
“Pertama, kunci loker gue nggak ada masalah. Setelah insiden tempo hari, gue jadi lebih waspada, kok. Nyante aja. Lagian, gue juga malu udah nuduh sobat curhat gue yang enggak-enggak. Jadinya, ‘kan gini. Kita jadi pada ngejauh. Gue juga, jadi rada illfeel sama dia. Sayangnya, gue belum berani minta maaf sama dia.”
Ve diam mendengarkan dengan seksama.
“Kedua, gue udah dua minggu ini nggak kena apa pun dengan yang namanya kejahilan seorang Gio. Selaen gara-gara insiden itu dan rasa illfeel gue, kita juga lagi jarang ketemuan. Padahal, sebenernya gue sering banget ngeliat dia, dan gue yakin dia juga sering banget ngeliat gue, tapi…tau, deh! Kok jadi gini, ya?”
“Terus, apaan dong? Si Giok, bukan! Kunci loker, bukan! Jadinya apa? Apa Mai?”
Mai diam. Ia tersenyum-senyum sendiri menatap Ve di sebelahnya. Kadang, Ve lucu juga! Apalagi, pas nyebutin nama Gio jadi Giok!
“Bentar. Mendingan, gue tunjukin aja, deh sama loe.”
Ve mengangkat sebelah alis matanya. Mai sendiri, mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama.
“Nih, loe baca deh.”
Ve mengambil kartu itu, dan membacanya dalam hati. Sedetik kemudian, ia menatap Mai seakan tak percaya.
“Hah? Alexa, dari PH Tebas Production? Kok, loe bisa dapet kartu namanya? Dapet dari mana? Loe ketemuan sama dia? Trus, loe ditawarin kerjaan, nggak? Eh, asal loe tau aja, ya Mai! Mbak Alexa ini, dia ‘kan yang suka nemuin dan ngejadiin bintang-bintang terkenal yang ada sekarang!”
Mai diam. Ia menatap Ve yang tak henti bicara.
“Trus, loe tau nggak? Mbak Alexa ini, dia ‘kan punya koneksi ke macem-macem PH yang udah yahud! Kalo loe pengen jadi bintang terkenal, loe nggak salah, dah kalo ketemuan dia! Dan, yang gue tau, orangnya itu asyik, trendy, modis, dan gaul abis! Awet muda, dan cantik lagi! Oh, I wish I met her someday…”
Mai terheran-heran penjelasan panjang lebar dari Ve. Ia sendiri tak seheboh itu saat bertemu dengan Alexa tempo hari.
“Mai, kok loe diem, sih? Loe belum jawab pertanyaan gue! Hoi, Mai!”
Ve mengguncang-guncang bahu Mai sampai akhirnya Mai tersadar dan kembali lagi ke dunia nyata.
“Eh..oh..iya. Ada apa?”
Ve mengangkat sebelah alisnya lagi. Pasti Mai nggak ngedengerin yang tadi, nih!
“Ah, nggak apa-apa. Sekarang, loe jawab aja pertanyaan gue tadi.”
Ve sudah mulai tenang lagi. Mai sendiri, sudah mulai ngeh.
“Oh, itu kartu nama gue dapet dari ada yang ngasih waktu gue jalan ke mall kemaren, disuruh nyokap.”
Mulut Ve menganga lebar.
“Hah? Trus, yang ngasih kartu nama itu, orangnya gimana Mai?”
Mai mengernyitkan dahinya. Ia mencoba mengingat-ingat kembali orang yang dimaksud. Kurang lebih, sudah seperti apa yang tadi Ve sebutkan.
“Yah, apa yang seperti loe sebutin tadi. Kalo nggak salah, kaya’ gitu deh.”
Mulut Ve menganga semakin lebar. Ia berteriak.
“Ou-eM-Gee!”
Mai menutup telinganya. Bahkan, sifat tomboinya bisa hilang jika sudah bersama Ve. Apalagi, jika Ve sudah kumat seperti saat ini.
“Loe…ketemu…Mbak…Alexa…?”
Mai mengangguk pelan.
Ve tak percaya dengan apa yang ia temui dari sahabatnya ini. Kemudian, bola matanya berputar ke atas, dan ia menjatuhkan dirinya. Pingsan.
Mai panik. Ia segera meraih tubuh Ve sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Ia kemudian menepuk-nepuk pipi Ve.
“Ve! Ve! Loe kenapa, Ve? Sadar, Ve! Sadar!”
Tapi, Ve tak memberi jawaban.
“Ve! Sadar, Ve! Nyebut! Nyebut!”
Tetap. Ve tak sadarkan diri.

PONG!
“Ya! Strike!”
Gio berteriak kegirangan setelah berhasil merubuhkan semua pin dengan bola bowlingnya. Ia mengepalkan tangannya, dan kemudian berjalan ke arah meja. Nos ada di sana.
“Hmm, akurasinya naek sampe tujuh puluh persen. Dibandingin minggu kemaren yang cuma lima puluh tiga persen, kenaekannya drastis juga, nih! Kalo strike terusan gini, bisa nambah jadi sembilan puluh persen!”
Gio duduk di sebelah Nos.
“Kamu nulis apaan lagi, sih?”
“Ini, ay lagi bikin statistik perkembangan bowling situ. Ternyata, situ berbakat juga buat maen bowling, ya? Kenapa nggak pernah ikutan turnamen?”
“Ah, ada-ada aja, kamu ini! Apa aja, dibikin gawean! Dibikin tulisan! Kaya’ nggak ada kerjaan laen aja! Lagian, ngapain juga ikutan turnamen? Bowling itu ‘kan buat fun!”
“Yee, kata siapa ini bukan kerjaan? Kalo ay mau, ay bisa aja ngumpulin duit dari nulis-nulis ini, lho! Jangan salah! Trus, emang sih fun, tapi kalo tau-tau bisa menang di turnamen kan, bangga juga, tuh!”
“Yaaahh, terserraahhh! Apa aja pasti dibikin duit melulu!”
Nos mencibirkan bibirnya.
“Kamu mau minum apa, nih?”
“Ah, ay belum haus. Situ aja. Situ ‘kan, dari tadi maen melulu. Nggak pernah berenti-berenti.”
“Ya udah, deh. Aku mesen minum dulu, ya. Kamu jagain aja line kita ini.”
Nos mengangkat sebelah jempolnya.
Gio beranjak. Ia pergi dari mejanya, dan mendekati kedai minuman. Seorang pelayan yang sudah biasa melayaninya, mendekat. Ia tersenyum. Gio pun balas tersenyum.
“Mau pesen apaan? Creamy cappucino?”
“Ah, tau aja. Satu, ya.”
“Oke!”
Pelayan itu berbalik. Ia membuatkan pesanan Gio. Gio sendiri duduk di kursinya, dan menatap ke sekitar. Arena bowling ini, sudah lama menjadi tempat nongkrongnya selain Jimbo. Apalagi, Jimbo sendiri yang pertama kali mengajaknya kemari saat pertama kali dulu.
Tak banyak yang berubah dari arena ini. Kecuali mungkin, penambahan beberapa line baru, dan tentunya, pasangan mainnya.
“Kok baru keliatan lagi?”
“Maksudnya?”
Gio menatap ke arah pelayan yang sudah membawakan pesanannya.
“Yah, dua bulan ini, kemana aja? Kok ngilang gitu aja?”
“Ah, masa iya? Udah dua bulan, ya? Perasaan, baru bentar, deh. Abisnya, lagi sibuk di skul, nih. Maklum, baru masuk kelas baru.”
“Oh, pantes.”
“Pantes kenapa?”
“Yah, sekalinya muncul, kok nggak barengan sama temen yang dulu? Kenapa? Udah putus, ya? Padahal, temennya yang dulu, sering banget, lho kemari.”
Gio mengernyitkan dahinya.
“Maksudnya?”
“Iya. Yang cewek tomboi itu, lho. Dia sering banget kemari. Terakhir, baru tadi sore. Sebelum Anda ke sini.”
“Ah, yang bener? Tadi sore, Mai ke sini? Kok nggak ketemu, ya?”
“Yee, mana ketemu, lah! Anda kemari ‘kan, udah malem. Temen Anda – siapa namanya? Mai? Dia sebelum malem juga udah pulang. Dia cuma maen dua game, sama temen barunya juga.”
Diam. Ada perasaan aneh di hatinya. Menggelegak. Seperti cemburu. Beneran?
“Lho, kok malah diem? Emang bener, ya? Udah putus?”
Gio mencoba tersenyum.
“Ah, bisa aja! Mana bisa putus, lah! Kita ‘kan cuma temenan, doang!”
“Lho, temenan kok, sekarang jarang barengan lagi?”
“Yah, biasa. Udah beda kelas, udah ketemu temen baru lagi. Jadinya, misah. Gitu..”
“Oh..”
Pelayan itu manggut-manggut. Gio diam menatap. Ia sebenarnya ingin menanyakan sesuatu, tapi…Nanya, nggak?
“Temen barunya itu, cewek apa cowok?”
Pelayan itu diam. Ia berpikir sebentar, kemudian tersenyum. Ia mengerti arah pertanyaan Gio.
“He-he. Cemburu, ya?”
“Aku? Cemburu? Ngapain?”
Gio coba mengelak. Tapi, pelayan itu justru semakin tersenyum.
“Ya, udah. Nggak apa-apa. Mau cemburu apa enggak juga, saya nggak ada urusannya, kok. Itu ‘kan urusan Anda sama temennya.”
Gio diam. Menunggu.
“Temennya cewek, kok. Nyante aja. Kalo Anda mau, ntar saya bantuin deh, buat nembaknya.”
Mata Gio membelalak, tapi ada rasa tenang di hatinya. Pelayan itu nyengir mirip kuda.
“Atau, jangan-jangan gara-gara cewek itu, ya?”
Pelayan itu menunjuk ke arah meja yang tadi diduduki Nos. Gio sendiri heran, kenapa bisa ada cewek di sana. Ia mengamatinya lebih seksama. Ren.
“Oh, itu. Bukan, kok. Dia cuman temen sekelas doang. Itu aja.”
“Oh, temen sekelas. Temen, apa temen, nih?”
Gio tersenyum.
“Ah, bisa aja!”
Pelayan itu tersenyum sama halnya lalu berbalik, dan mengurusi kedainya lagi. Gio sendiri, pergi dengan membawa creamy cappuccino-nya.
“Ren, kapan dateng?”
Ren menatap Gio. Ia tersenyum. Ia terlihat lebih manis jika rambutnya dikepang dua seperti sekarang. Selain karena panjang, rambutnya juga terawat.
“Baru aja, kok!”
Gio duduk di kursi yang kosong, dan menyimpan creamy cappuccino-nya di atas meja.
“Sori ya, aku cuma beli satu.”
Ren tersenyum.
“Nggak apa-apa.”
Nos tak peduli. Ia masih saja asyik dengan pekerjaannya sendiri. Ren diam. Ia salah tingkah.
“Ren, kamu bisa maen bowling?”
“Hah, aku?”
“Iya. Bisa, nggak?”
Mata Ren membulat. Ia menggeleng.
“Yah. Coba bisa, kan kita bisa maen sekarang. Abisnya, Nos sok sibuk aja, sih!”
“Eh, enak aja situ! Ay ‘kan ngerjain sesuatu yang mungkin bisa bikin duit, tau!”
“Iya! Duit boongan!”
Ren tersenyum. Gio menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lagipula, kalopun ay maen, belum tentu ay bisa menang! Situ ‘kan, jadug banget maen bowlingnya!”
“Huh! Dasar males! Ngeles melulu!”
Nos membetulkan letak kacamatanya.
“Atau, gini aja deh. Situ ajarin aja caranya ke Ren. ‘Kan, nanti kalian bisa maen bareng! Terus, ay bisa bikin statistik perbandingan game bowling antara pria dan wanita. Wiihh…keren juga tuh, kalo nantinya bisa dijual. Yes!!”
Gio mengangkat sebelah alis matanya. Mulut Ren menganga.
“Ah, jangan deh. Nggak usah.”
“Eh! Nggak apa-apa, lagi! Ayo! Aku ajarin, aja deh!”
“Ah, enggak usah.”
“Ayo! Ayolah!”
Gio berdiri. Ia menarik Ren ke line. Mau tak mau, Ren akhirnya tertarik juga untuk belajar bowling. Nos hanya senyum-senyum sendiri di mejanya.
“Oke, sekarang kita mulai, ya.”
Gio mengambil sebuah bola. Ia menyodorkannya ke Ren.
“Ni bola, mau diapain, nih?”
“Pegang bolanya, kaya’ gini, nih.”
Gio mencontohkan cara memegang bolanya. Ia memasukkan jari-jarinya ke lubang yang tersedia di bola bowling.
“Terus, kamu lempar ke sana.”
Gio mengayunkan bolanya ke arah pin. Tapi, tak ia lepas. Ia hanya mencontohkannya saja.
Ren memperhatikan dengan seksama. Hatinya begitu berbunga-bunga.
“Nih, coba.”
Ren mengambil bola dari tangan Gio. Kemudian dia mencoba memasukkan jari-jarinya. Pas!
“Terus, udah gitu gimana?”
“Kamu lempar ke pin-pin itu. Bisa?”
Ren bingung. Ia ingin sekali melempar, tapi ia takut salah. Ia menggeleng.
“Coba contohin dulu. Aku takut salah.”
Gio tersenyum.
“Lha, kenapa harus takut? Salah juga, nggak apa-apa, lagi. Yang penting, tau rasanya aja dulu.”
“Enggak, ah.”
Ren melepas jari-jari dari bolanya, dan memberikannya pada Gio.
“Ya udah, deh. Aku contohin dulu, ya.”
Gio memegang bolanya, kemudian melemparkannya ke arah pin. Begitu bolanya terlepas dari tangannya, terdengar suara seperti gemuruh. Kemudian…
PONG!
Pin-pin itu rubuh terkena bola bowling Gio. Ia tersenyum puas. Ren hanya bisa diam memperhatikan dengan penuh kekaguman.
Gio mengambil bola lagi.
“Nih, sekarang giliran kamu. Coba, ya!”
Ren mengambil bola dari tangan Gio. Ia memasukkan jari-jarinya. Kemudian, ia bergerak ke arah line.
“Inget, ya..Ambil ancang-ancang dulu, sebelum ngelemparnya.”
Ren mengangguk. Tak lama, ia sudah melemparkan bolanya. Suara gemuruh itu terdengar lagi. Hati Ren dag-dig-dug.
Gio diam. Ia jadi teringat sesuatu. Ia jadi teringat pada seseorang. Ia pernah mengalami kejadian serupa saat ini. Mengalaminya, dengan seseorang lain.
Bola bowling itu semakin mendekati deretan pin. Dan…
PONG!

0 Responses to “#3. duh! mumet!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: