#4. il decisione

“Jadi, kapan loe mau datengin Mbak Alexa itu, Mai?”
Mai diam. Ia memeluk guling. Sekejap, ia meraba gelang batu di tangannya.
“Tau, deh.”
“Lha?”
Mai diam. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil tiduran. Di luar, hujan.
“Gue lagi bingung, nih.”
“Bingung kenapa? Bukannya, mendingan cepetan loe datengin? Inget, kalo kelamaan, nanti dia keburu lupa sama loe!”
“Yah, kalo itu sih, gue juga nggak pengen. Cuman…”
“Cuman apalagi?”
Mai diam. Ia menghela napas.
“Apa gue bakalan bisa?”
Ve mencoba menahan tawanya. Ia terdengar seperti tersedak.
“Eh, kok loe ketawa, sih? Gue serius, nih!”
“Ha-ha-ha! Loe juga, sih! Setau gue, loe tuh orangnya asik, dan tomboi abis buat ukuran cewek normal! Tapi, begitu disuruh datengin Mbak-Mbak di PH, aja…Jiper, deh!”
Mai merengut. Ia membalikkan badannya. Menghadap dinding.
“Yah, marah deh. Tuh ‘kan, ambegan. Baru gitu aja, udah ngambek. Padahal, tomboi. Gimana, ya? Gue jadi bingung, nih loe tuh orangnya kaya’ gimana. Apa perlu, gue tanyain aja ke si Giok itu?”
Mai langsung berbalik. Ia melotot.
“Jangan coba-coba! Mikirin juga, JANGAN!”
Ve diam. Ia heran mendapati perubahan Mai yang seketika itu. Lalu, Mai kembali menghadap dinding dan memeluk gulingnya.
Ve jadi tambah penasaran. Memangnya, ada apa di antara Mai dan Gio?
“Mai, ada yang gue nggak tau, tentang si Giok itu?”
Mai tak menjawab. Ve lebih mendekat. Ia mengusap punggung Mai.
“Mai…”
Mai mendesah. Lonceng kecil di gelang batunya kemudian berbunyi pelan.
Ting…
“Aaahh…Yang loe tau soal Gio, apa coba?”
“Hmm…”
Ve berpikir keras. Ia mencari apa yang ia tahu tentang Gio. Bersumber dari cerita-cerita Mai, sampai ia lihat dan tahu sendiri Gio itu yang mana.
“Dia kayaknya, anaknya asik. Rame. Jail juga. Bahkan, lucu.”
“Bener. Terus?”
“Tapi, kadang-kadang dia kelewatan banget. Padahal kalo mau, dia kayaknya bisa dijadiin temen curhat yang oke, juga tuh!”
Mai berbalik. Kini ia duduk menghadap Ve.
“Oke. Loe bener. Bener banget! Semuanya!”
“Terus, apa masalahnya sampe loe nggak mau deket-deket sama dia lagi?”
Mai melirik gulingnya. Ia menggigiti bibir bawahnya.
“Apa, ya? Gue juga lagi bingung sebenernya. Soalnya, selaen rasa illfeel gue gara-gara insiden loker itu, hati gue bilang supaya gue jangan deket-deket sama dia lagi. Apalagi, setelah pisah kelas gini.”
“Lha, kenapa?”
“Tau, ya. Tapi, sepertinya ada yang dia sembunyiin dari gue. Ada yang dia nggak kasitau ke gue. Dan, hal itu udah gue rasain semenjak kita naek ke kelas dua. Apalagi, sekarang ini ‘kan dia juga udah punya temen-temen baru.”
“Kok bisa gitu?”
“Habis, gue ‘kan sering banget curhat-curhatan sama dia. Dan, dia selalu jadi pendengar yang baek. Bahkan, dia selalu ngasih solusi yang bagus banget buat gue jalanin. Mulai dari soal cowok, sampe ngeraih semangat gue lagi.”
“Lho, bukannya bagus?”
“Emang, sih. Cuman…”
“Apalagi, Mai?”
Mai diam. Ia tak menjawab. Ia memalingkan pandangannya dari Ve. Bimbang. Mencari-cari apa yang harusnya ia katakan. Menyusun kalimat yang benar, agar Ve mengerti. Begini Ve, Gio udah deket sama cewek laen! Atau, enggak ya?
Mai memainkan gelang batunya. Ia menatap lurus, tanpa berpikir untuk segera menjawab. Lalu, Ve menepuk pundak Mai. Mai sendiri langsung menoleh karena kaget.
“Mai, gue kasitau, ya sama loe. Menurut gue, ketakutan loe itu nggak beralasan. Soalnya, loe belum bisa nemuin alesan yang pas buat ngatasin rasa takut loe itu. Kalo gue pikir sih, loe cuma nggak pengen orang laen deket sama loe. Bener, gitu?”
Mai diam. Ia menggigiti bibir bawahnya lagi. Nggak segampang itu, Ve! Nggak segampang itu!
“Atau, mungkin loe-nya ada rasa kalee sama dia?”
Ve mencoba menggoda. Mai terpancing.
“Ih, enak aja! Mana bisa gue suka sama cowok yang kurang kerjaan, jail, dan sok bener gitu?”
“Lha, tapi biar gitu, dia udah jadi temen curhat yang baek buat loe, ‘kan?”
Mai diam. Ve ada benarnya juga. Tapi…
“Dan, di jaman sekarang gini, udah jarang lho, cowok yang bisa jadi temen curhat yang baek kaya’ dia. Dengan catatan, mengabaikan segala macam keusilan, dan kekurang ajarannya, ya…”
Mai tersenyum mendengarnya.
“Nah, jadi apa yang loe tunggu lagi? Kejar dia aja!”
“Hah? Ngejar cowok? Gengsi, dong!”
“Gengsi? Udah nggak jaman lagi, nunggu-nunggu dideketin cowok dan ditembak! Apalagi, cewek macem loe ini!”
“Eh, sompral banget loe! Emangnya gue cewek macem apa?”
Ve tersenyum.
“Yah, nggak usah gue jawab juga, loe udah bisa ngerti sendiri, ‘kan?”
Mai mengernyitkan dahinya. Ia makin tak mengerti. Ve hanya terus saja tersenyum.
“Ve, maksud loe apa?”
“Ah, pikirin aja sendiri! Loe ‘kan udah gede! Kalo nggak ngerti, loe tanya aja sama si Giok itu!”
Ve bangkit. Ia mengambil jaketnya di kursi belajar Mai.
“Namanya itu Gio, bukannya Giok! Nggak pake ‘K’! Loe gimana, sih?”
Ve makin tersenyum lebar.
“Ya udah. Emang gue pikirin? Mau Gio, kek! Mau Giok, kek! Suka-suka gue, mulut-mulut gue!”
“Dasar, loe!”
“Ya, udah. Gue cabut dulu, ya. Kalo gue lama-lama di sini, bisa-bisa gawean gue bangkrut lagi. Lagian, udah malem nih! Ujan juga udah berenti dari tadi!”
“Yee..Sapa suruh loe ngikutin gue?”
Ve hanya tersenyum saja sambil memakai jaket.
“Terus, baru jam delapan aja, udah dibilang malem. Sorenya jam berapa, Nek?”
“Asal, loe! Ini mumpung ujan berenti, kali! Masa harus nunggu ujan lagi?”
Mai dan Ve sama-sama tersenyum.
“Yuk! Gue mau ciao, dulu! Ampe besok, ya!”
“Daag! Ati-ati di jalan, ya!”
Ve mengangkat jempolnya, dan keluar dari kamar Mai. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Thanks, Ve!
BLAK!
Mai tersenyum senang. Ia memeluk gulingnya lagi. Tapi,…
KLIK!
“Mai…sebenernya masih ada lagi yang harus gue omongin sama loe.”
Mai berbalik ke arah pintu. Ve hanya tampak setengah.
“Apaan?”
“Gelang loe bagus juga. Dapet dari mana, tuh?”
Mai diam. Ia tersenyum nakal.
“Adddaaaa…., deh. Pengen tauuuu…. aja!”
Ve diam. Ia merasa dikacangin.
“Udah deh, ntar kapan-kapan gue kasitau deh. Sekarang mendingan, loe balik aja, gih! Siap-siapin barang buat bisnis loe itu!”
“Oh, jadi ngusir, nih?”
Mai tersenyum. Ve sama halnya.
“Ya udah, deh. Gue balik aja. Gue udah capek, nih! Daaagg…, ya…”
BLAK!
Mai memeluk gulingnya lagi. Ia memejamkan matanya.

Perpustakaan sepi. Gio sedang mengerjakan pendahuluan makalah tugas sainsnya. Nos berada bersamanya. Ia membuka-buka buku sebagai referensi.
“Yang ini, gimana?”
Gio menatap beberapa gambar astronomi yang ditunjukkan Nos.
“Hmm, gimana ya? Ntar, susah nggak nyari narasumbernya?”
“Yah, lumayan sih. Tapi, begitu nemu, hal-hal laennya udah gampang. Soalnya, semuanya ada di satu tempat narasumber itu.”
“Gimana, ya?”
Gio berpikir. Ia menatap Nos.
“Mau, nggak?”
“Gimana, ya?”
Nos diam menatap Gio. Lama-lama, ia tak sabar juga. Ia menutup buku tebal yang tengah dipegangnya.
BLEK!
“Lho, kok ditutup, sih?”
“Abisnya, situ nggak jawab juga tawaran ay!”
“Kan aku lagi mikir, Nos!”
“Huh!”
Beberapa orang di sekitar mereka langsung menatap tajam karena merasa terganggu. Gio dan Nos, langsung terdiam.
“Ssstt…!!”
Gio malu. Sementara Nos langsung membuka lagi sebuah buku, dari tumpukan di depannya.
“Nos.”
“Hmm?”
Nos tak menoleh.
“Nos.”
“Hmm!”
Gio tak kurang akal. Ia mencubit lengan Nos.
“WADAOW!”
Orang-orang di sekitar langsung menatap tajam lagi.
“Sssttt!!!”
Nos mengusap-usap lengannya yang tadi dicubit Gio.
“Apaan, sih situ ini? Kok nyubit-nyubit segala! Udah gitu, sakit banget lagi! Udah kaya’ cubitan cewek aja!”
“Yee! Sapa suruh nggak jawab? Lagian, emang kamu tau rasanya dicubit cewek? Kok bisa? Padahal, deket cewek aja udah dug-serr.”
“Enak aja, kalo ngomong! Ay juga pernah kalee, deketin cewek dan dicubit!”
“He-he.”
“Ya udah! Ada apa?”
Gio meraba dagunya yang licin.
“Kayaknya, makalah astronomi bagus juga.”
Nos tersenyum.
“Ya udah, nanti ay susun list tempat yang harus kita datengin, sekaligus ngasitau Ren. Ngomong-ngomong, mau kapan kita mulai ngedatenginnya?”
“Menurut kamu, gimana?”
“Makin cepet, makin bagus.”
Gio meraba dagunya lagi.
“Ya udah. Hari ini aja!”
“Hari ini? Sepulang skul?”
Gio mengangguk.
“Beneran? Nggak keburu-buru, tuh?”
“Yah, seenggaknya kita ‘kan nanti bisa punya banyak waktu kalo belum selesai.”
“Hmm, ide situ boleh juga.”
“Sip, deh!”

Jam sekolah baru saja selesai. Lonceng pulang sudah berbunyi. Murid-murid sudah banyak yang meninggalkan kelas, dan menyemut di lapangan tengah, tempat parkir, kantin, dan jalan pulang. Tak ketinggalan Gio, Nos dan Ren.
“Oke, coba ay ulangin lagi. Hari ini, kita mau ke Planetarium, Perpus Nasional, Perpus Daerah-”
“…Warnet, tempat makan, tempat nongkrong..”
Nos diam di atas motornya. Ia menatap Gio heran di sebelahnya.
“Situ ngapain sih, nyambung-nyambungin ucapan ay, aja?”
“Abisnya, kamu ngulang-ngulang mulu! Aku ini, nggak budeg, tau! Aku juga nggak pikun!”
“Yee, kok marah, sih! Dasar ambegan!”
Nos mencibirkan bibirnya. Gio membalas dengan menjulurkan lidahnya. Nos membenarkan letak kacamatanya. Ren hanya tersenyum-senyum sendiri. Ia tak banyak bicara.
Gio tak mendengarkan. Ia menaiki motornya, dan membuka kunci stang.
“Ayo, Ren! Naek!”
Ren naik ke boncengan Gio.
“Gue duluan, ya Nos! Gue tunggu loe, di depan!”
Motor Gio langsung meraung dan melesat meninggalkan Nos di tempat parkiran. Ren tak biasa dengan motor ngebut. Ia memeluk Gio.
Dari tempat parkir, Nos menatap kesal. Ia tak menduga jika Gio bisa begitu menyebalkan seperti hari ini.
“Gio kenapa, ya? Nggak biasanya dia kaya’ gini? Atau, cuma pura-pura?”
Tepat di depan gerbang, Gio berhenti.
“Nos mana, ya?”
Ren diam tak menjawab.
“Ren? Loe ada di situ, ‘kan?”
“A-ada.”
“Nos mana, ya? Lama banget, sih tuh anak!”
Ren menarik napas. Harusnya Gio tau, dong! Motornya dengan motor Nos ‘kan berbeda! Motor Nos cuma motor bebek tua!
Di tempat parkir, Nos buru-buru menaiki motor dan mengejar Gio.
Gio masih saja celingak-celinguk. Ren sama halnya. Gio baru saja akan berbalik ke tempat parkir dan mencari Nos, ketika kemudian seseorang memanggilnya.
“GIO, TUNGGU!”
Gio berhenti. Ia tak jadi menggas. Ia memastikan jika ada yang memanggilnya.
“GIO! TUNGGUIN GUE!”
Gio melepas pegangannya dari stang. Ia menoleh ke arah yang memanggilnya. Seorang cewek berlari ke arahnya.
“Gio!”
“Mai? Ada apa? Kok lari-lari segala? Dikejar setan, ya?”
Tak lama, Mai sampai juga. Dadanya naik turun. Ia mencoba menenangkan dirinya dulu. Napasnya terengah-engah.
“Mai, ada apa?”
Merasa sudah cukup tenaga, Mai kemudian menegakkan tubuhnya. Ia menatap Gio dalam-dalam. Nos bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Tanpa bicara, Mai mengirimkan pesan ke Gio dengan perantara mata. Sudah jelas jika persahabatan mereka, membuat mereka saling mengerti tanpa harus mengucapkan kata-kata.
“Ren, turun.”
Ren menatap tak percaya pada Gio.
“Kenapa Gio? Bukannya kita mau nyari bahan makalah tugas sains?”
“Ren, TURUN!”
Ren jiper juga mendengar bentakan dari Gio. Ia langsung turun dari boncengan motor Gio. Mai langsung naik menggantikannya.
“Siap?”
Mai mengangguk.
Gio langsung menggas motornya, dan melajukannya ke arah jalan raya. Meninggalkan debu untuk Ren yang terbatuk-batuk.
“Uhuk-uhuk!”
Ren membetulkan tata rambutnya. Ia tampak kesal. Kecewa. Marah. Ia merasa dinomorduakan. Memang, Mai itu sahabat Gio sejak lama, tapi… Kenapa harus ngebentak?
Tak lama, Nos sampai.
“Lho, Ren, mana Gio?”
“Cabut sama Mai.”
“Hah? Bukannya kita mau nyari bahan buat makalah?”
“Ah, tau deh!”
“Welah-dalah, kok malah begini, sih?”
Ren mengangkat bahunya. Hatinya kesal. Gio!

Di jalan…
Laju motor Gio begitu kencang. Ia membelah angin. Mai di boncengannya. Ia memeluk Gio. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebelumnya.
Gio membuka kaca helmnya.
“Sebenernya…kita…mau…ke mana…?”
Gio mencoba mengalahkan suara angin. Mai memegangi helmnya agar tak tertiup angin.
“Anterin gue….ke….Tebas Prod…”
“Hah? Apaan, tuh?”
“Udah..jalan aja…Nanti….gue kasitau…”
“Alamatnya….di mana…?”
“…Jalan ini…loe…ikutin aja…Nanti…kalo udah….nyampe prapatan…belok… ke kanan…!”
“OKE!”
Gio menutup kaca helmnya. Kemudian fokus lagi pada jalanan.
Mai diam dalam pertanyaan. Ia sebenarnya ingin tahu, siapa cewek yang tadi bersama Gio. Ke mana sebenarnya mereka akan pergi? Kenapa ia memeluk Gio? Tapi, kok malah nanya-nanya kaya’ gini? Apa bener, punya feel pada Gio?
Motor Gio melesat membelah jalan. Seakan-akan memburu waktu yang takkan terulang lagi. Mai mengeratkan pegangannya pada Gio.

0 Responses to “#4. il decisione”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: