Arsip untuk Desember, 2008

#11. jahil

Hari ini sekolah pulang cepat. Bukan apa-apa, tapi para staf pengajar akan rapat mendadak. Katanya sih, ada urusan dengan bagian keuangan. Makanya, seluruh kelas diinstruksikan untuk belajar di rumah. Padahal, baru jam 10! Masih pagi banget, ‘kan?
Gio membereskan perlengkapannya tergesa-gesa. Ia terburu-buru seperti akan ketinggalan sesuatu. Sementara itu, Nos santai-santai saja di sebelahnya.
“Situ mau ke mana? Kok buru-buru banget?”
“Aku mau nganter Mai, nih. Dia ada audisi hari ini.”
“Wah, audisi apaan, tuh? Kok kaya’nya penting banget?”
“Iklan.”
Selesai. Gio sudah selesai membereskan tasnya. Ia kemudian memanggulnya. Lanjutkan membaca ‘#11. jahil’

#10. the fight for our heart

“Gio, kamu kemana aja? Kok udah lama, nggak keliatan?”
Gio tersenyum. Ia menatap kedua orangtua Mai di depannya dengan malu-malu. Duduknya jadi tidak enak. Ia salah tingkah. Gile! Ortu Mai, lagi pada ngumpul, ya? Tau gini, nggak usah dateng malem gini, deh!
“Ini, Tante. Saya sibuk sama kelas saya yang baru.”
“Oh, pastinya udah masuk kelas tiga, kamu harus bisa ningkatin belajar, ya?”
“Iya, Oom.”
“Mau ketemu Mai, ya?”
Iya! Emangnya mau ketemu ortunya? Ngapain?
“Iya, Tante. Ada ‘kan?”
“Ada-ada. Tadi sih, lagi bareng sama Ve di kamarnya. Bentar lagi juga turun, kali. Masa’ nggak denger suara motor kamu?”
Gio tersenyum. Ia tersipu.
“Atau, bentar deh. Tante panggil dulu, ya.”
Lanjutkan membaca ‘#10. the fight for our heart’

#9. can we make a change rapidly?

“DASAR! NGESELIN BANGET, SIH!”
Mai melempar tasnya ke atas ranjangnya. Ia pun menghempaskan dirinya ke atasnya. Ia menghembuskan napas panjang.
“HUH! KESEL! KESEL! KESEL!”
Mai mengambil bantal. Ia menutupkannya ke wajahnya.
Gelap. Mai menemukan kedamaian. Tapi hatinya tetap mangkel.
BRUK!
Mai melempar bantalnya entah ke mana. Ia mencari ponselnya. Ia menghubungi seseorang.
Tuuuut. Tuuuut.
Nada sambungnya terdengar lama. Beberapa kali Mai menunggu, dan juga mengulang menelepon. Tapi tetap, nomor telepon yang ditujunya tak menjawab ataupun mengangkat.
“Huh! Dasar nggak bisa diandelin! Lagi ngapain sih, sampe nggak bisa ngangkat telepon segala?” Lanjutkan membaca ‘#9. can we make a change rapidly?’

#8. pelajaran terselubung

Pagi. Mai sudah sampai di kelasnya. Ia tampak begitu senang. Buktinya, ia senyum-senyum sendiri sejak masuk ke gerbang sekolah. Melihat kelasnya yang masih kosong, Mai langsung menyimpan tasnya, dan pergi keluar lagi. Kantin menjadi tujuannya.
Mai mengambil tempat agak ke sudut. Sengaja, ia memang tak ingin terlalu menarik perhatian. Selain memang kantin masih sepi karena masih pagi, ia juga tak ingin orang lain melihatnya membaca sesuatu. Kertas yang berisikan tawaran audisi itu.
Perlahan, Mai membuka lipatan kertas tawaran itu. Ia merapikannya sebentar, baru kemudian membacanya.
Studio 31
Jl. Arena no.392
Audisi iklan, Rabu 12 November
“Wah, ini ‘kan bentar lagi, nih! Gimana, ya? Dateng, nggak ya?” Lanjutkan membaca ‘#8. pelajaran terselubung’

#7. berubah?

Teras rumah Nos terlihat begitu asri siang itu. Selain memang desainnya yang indah dan menawan, tata letak dari beberapa kursi dan pot tanaman hias, ikut mempercantik teras itu. Di sebuah kursi, tampak Nos sedang asyik dengan tulisannya. Kemudian, dari dalam rumah terdengar suara dering telepon.
“Nos! Angkat, tuh telepon! Bunda lagi sibuk, nih!”
“Ya!”
Nos bergerak. Ia masuk ke dalam rumah, dan mengangkat telepon.
“Halo?”
“Nos. Gimana kemaren?”
“Siapa nih?”
“Aku, Gio. Jadi, gimana?”
“Ah, situ yang gimana? Kok langsung ngabur aja?”
“He-he. Sori, ya. Aku kemaren harus nganterin Mai dulu. Sori, banget!”
“Huh!”
“Apa perlu aku ganti traktir, nih?”
“Wah, kalo buat ay, boljug, tuh! Tapi..”
“Kenapa lagi? Emang kemaren nggak dapet bahan-bahannya? Kemaren ke mana aja, sih?”
“Aduh! Nanyanya satu-satu, dong! Ay, ‘kan jadi bingung, tau!” Lanjutkan membaca ‘#7. berubah?’

#6. problem hati

“Emangnya, tadi kamu ngomongin apa aja, sih Mai? Kok lama banget?”
Mai meminum segelas jus alpukat di depannya.
“Emang lama, ya? Setau gue, cuma bentar deh. Yah, paling-paling cuma setengah jam doang.”
“Setengah jam kepala kamu! Aku nungguin kamu itu, udah sejam kali! Bisa aja lebih! Mulai dari waktu di jalan, nyampe, nungguin kamu di PH itu, terus sampe ke sini, deh.”
“Huh! Dasar asal!”
Mai meninju bahu Gio yang tertawa.
“Biasa deh, soal tawaran buat ikutan agensinya dia, terus jadi bintang gitu…”
“Wah, asyik tuh!”
“Asyik gundul loe!”
“Hah? Emang aku gundul, ya?”
Lanjutkan membaca ‘#6. problem hati’

#5. tawaran!

Gio menghentikan motornya di depan sebuah gedung bergaya eksentrik. Warnanya mencolok, dengan hiasan eksentrik juga. Mai turun. Ia membuka helm dan memberikannya pada Gio.
“Kamu yakin, ini tempat yang mau kamu datengin? Apa tadi, Tebas Prod?”
Mai mengangguk.
Gio menatap pintu depan gedung itu. Di atasnya, sebuah bentuk logam bertuliskan Tebas Prod dengan watak surealis. Unik!
“Ayo, turun. Temenin gue!”
“Tapi…”
“Ayo, ah!”
Mai menarik tangan Gio sampai hampir terjatuh. Untung, penyangga motornya sudah diturunkan. Sehingga, motornya tak rubuh.
“Bentar, Mai! Aku buka helm dulu!”

Lanjutkan membaca ‘#5. tawaran!’


e-book terbaru dari Bersambung…


Burung Kertas dalam e-book

Hit Counter

  • 21,527 hits

RSS feeds

Desember 2008
M S S R K J S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Creative Commons License


bloggerhood