#5. tawaran!

Gio menghentikan motornya di depan sebuah gedung bergaya eksentrik. Warnanya mencolok, dengan hiasan eksentrik juga. Mai turun. Ia membuka helm dan memberikannya pada Gio.
“Kamu yakin, ini tempat yang mau kamu datengin? Apa tadi, Tebas Prod?”
Mai mengangguk.
Gio menatap pintu depan gedung itu. Di atasnya, sebuah bentuk logam bertuliskan Tebas Prod dengan watak surealis. Unik!
“Ayo, turun. Temenin gue!”
“Tapi…”
“Ayo, ah!”
Mai menarik tangan Gio sampai hampir terjatuh. Untung, penyangga motornya sudah diturunkan. Sehingga, motornya tak rubuh.
“Bentar, Mai! Aku buka helm dulu!”

Seorang resepsionis wanita berdiri menyambut Mai dan Gio ketika mereka masuk. Gedung itu sepi. Seperti bukan kantor sebuah PH.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”
Mai dan Gio bertatapan. Gio memberi tanda agar Mai mengatakan sesuatu pada resepsionis itu.
“Mmm…Mmm…”
“Mau bertemu dengan siapa?”
Mai menatap Gio lagi.
“Saya….saya…”
“Sudah bikin janji?”
Mai diam. Ia memikirkan apa jawaban yang harus ia katakan. Resepsionis itu menatap Mai penuh selidik. Teliti. Kemudian, ia mengangguk-angguk.
“Maaf, kalau boleh tahu, nama Anda siapa, ya?”
“Sa-saya, Mai.”
Resepsionis itu mengangguk-angguk lagi. Ia membuka mulutnya seperti mengucapkan kata ‘Oh’.
“Anda yang bernama Mai?”
“Be-benar. Itu nama saya. ‘Kan, tadi sudah saya bilang.”
“Benar?”
Gio tak tahan lagi untuk tidak ikut bicara.
“Mbak, cewek ini bener-bener namanya Mai. Lengkapnya, Damai Larasati Widatirta. Cuma, panggilannya aja Mai.”
Resepsionis itu menatap Gio tajam. Ia tampaknya tak senang.
Mai mencubit lengan Gio yang langsung menatapnya. Gio mengernyitkan dahinya seraya mengucapkan, ‘Apa?’.
Resepsionis itu mengangkat teleponnya. Ia menghubungi seseorang. Mai ketar-ketir. Ia takut jika resepsionis itu menghubungi Satpam. Duh, gawat! Masa’ harus urusan sama Satpam, sih?
“Baik, Bu. Saya mengerti.”
Resepsionis itu menyudahi pembicaraannya, dan menyimpan gagang telepon kembali. Ia kemudian menatap Mai dengan ramah, tapi tidak pada Gio.
“Nona Mai, Anda sudah ditunggu oleh Bu Alexa di kantornya. Mari, ikuti saya.”
Mulut Mai menganga. Ia tak percaya pada apa yang ia dengar.
Resepsionis itu berjalan keluar dari mejanya, dan mendahului langkah Mai ke arah tangga. Mai menatap Gio.
“Udah, ikut aja sana! Nggak apa-apa, ‘kan? Atau, perlu aku temenin?”
Mendengar bisik-bisik itu, resepsionis itu tetap menunggu.
“Silakan, Nona Mai. Bu Alexa nggak bisa menunggu lebih lama. Dan, beliau bilang, Anda ditunggu segera! Sendirian!”
Resepsionis itu seakan puas dengan penegasan kata-kata terakhirnya. Ia menatap Gio.
“Udah sana!”
Mai tak berkata apa-apa. Ia masih bimbang. Ia menatap Gio. Cemas.
“Udah, sana! Cepetan!”
Mai menatap bergantian pada Gio, dan resepsionis yang sudah berjalan dan menunggu di tangga. Gio tersenyum. Rasa khawatir dan dag-dig-dug Mai, sementara hilang. Ia mendekati resepsionis.
Gio mengangkat sebelah jempolnya. Mai tersenyum. Tak lama, ia sudah menaiki tangga bersama resepsionis itu. Perlahan tapi pasti, dunia baru sudah menanti Mai.
Berbeda dengan lantai satu yang sepi dan minimalis, lantai dua lebih semarak dan ramai. Sekat-sekat berisikan meja-meja berada di sana. Dan, beberapa orang terlihat lalu lalang dengan pakaian rapi. Lebih mirip sebuah perusahaan keuangan, dibandingkan dengan sebuah production house.
“Lewat sini.”
Resepsionis itu menunjukkan jalan Mai melintasi lorong-lorong sekat. Para pekerja di sana, tak sedikitpun menaruh perhatian pada Mai. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka.
Tiba di ujung lorong, mereka tiba di depan sebuah pintu kaca yang tertutupi tirai dari sebelah dalam. Di kaca itu tertulis, Alexa G. Sama seperti yang tertulis di kartu nama yang diberikannya.
Resepsionis itu membuka pintu. Mai mengikuti masuk ke dalamnya. Seorang wanita yang memakai pakaian rapi, berada di balik meja. Wajahnya terlihat familier, namun penampilannya sungguh berbeda. Meski masih terlihat tetap seperti wanita kantoran, tapi gayanya berbeda.
Alexa tersenyum pada Mai yang baru masuk.
“Ini, Bu. Mai.”
Alexa berdiri. Ia menyalami Mai.
“Silakan duduk, Mai. Kamu baru pulang skul, ya?”
Mai duduk. Resepsionis itu kemudian pergi.
“I-iya.”
“Wah, pastinya capek, ya? Mau minum apa?”
“A-apa aja, deh. Boleh.”
Alexa tersenyum. Ia lalu memencet sebuah tombol di pesawat teleponnya. Sepertinya, tersambung pada bagian rumah tangga atau sekretarisnya.
“Yan, tolong bawain orange juice, ya! Yang dingin!”
“Baik, Bu!”
Alexa kemudian fokus lagi pada Mai. Merasa diperhatikan seperti itu, Mai salah tingkah. Ia memainkan ujung rambutnya yang pendek.
“Kamu pasti grogi, ya?”
Mai hanya tersenyum. Ia malu mengakuinya.
“Ya udah. Nggak pa-pa. Saya udah biasa, kok nemuin hal-hal seperti kamu ini. Mungkin sekarang kamu grogi, tapi kalo udah sukses nanti, boro-boro grogi!”
Alexa bercanda. Ia mencoba mengajak Mai tersenyum.
TOK! TOK!
“Masuk!”
Seorang wanita masuk membawa segelas jus jeruk dingin. Pakaiannya berbeda dengan yang sedari tadi Mai lihat. Pakaian wanita ini, lebih casual. Santai. Jeans, dan kaos.
“Makasih, ya ‘Yan.”
“Sip, Bu!”
Setelah menyimpan gelas di depan Mai, wanita bernama Yan itu kemudian pergi keluar.
“Silakan, diminum, Mai. Mumpung masih seger.”
Malu-malu kucing, Mai mengambil gelas jus itu. Ia meneguknya. Gile! Seger banget! Tenggorokan Mai terasa segar kembali, dan tenaganya pulih.
“Gimana? Enak, ‘kan?”
“Wah, seperti yang baru dibikin aja, Bu. Eh, Mbak maksudnya.”
Alexa hanya tersenyum. Mai menyimpan gelasnya ke meja.
“Sebentar, ya.”
Alexa membuka laci mejanya. Ia mengaduk-aduk, dan kemudian mengeluarkan sebuah map. Ia menyimpannya di atas meja, tepat di depan Mai.
CASE
Begitu tulisan yang tertera di map itu.
“Ayo, buka aja. Silakan!”
Mai menatap Alexa yang terus saja tersenyum. Mai kemudian, mengambil map itu. Perlahan, ia membukanya. Beberapa foto bintang dan selebritis yang sering ia lihat di TV, berada di sana. Tampang-tampang mereka masih culun! Lucu!
“Mereka itu yang aku temuin dulu, Mai. Lucu-lucu, deh pas awal nemuin mereka. Ada yang saya temuin di mall kaya’ kamu. Ada juga, yang saya temuin pas lagi ke kebun binatang.”
“Kebun binatang, Mbak? Maksudnya gimana?”
Alexa tersenyum kembali.
“Ada salah satu di antara mereka ini, dulunya kerja jadi badut di kebun binatang.”
“Ah, yang bener, Mbak? Orangnya yang mana?”
“He-he. Bener, dong! Tapi, saya nggak bakalan kasitau orangnya. Kasian! Nantinya, jadi gosip yang nggak bener, lagi!”
Mai tersenyum. Alexa sama halnya.
Mai kembali membuka-buka dan melihat-lihat foto-foto itu satu-persatu.
“Saya pengen, foto kamu ada di situ, Mai. Beneran, deh.”
Mai diam. Ia berhenti.
“Saya liat, kamu punya potensi.”
Mai menatap Alexa.
“S-s-saya nggak salah denger, tuh Mbak?”
Alexa hanya tersenyum.
“Ha-ha. Kalimat itu yang selalu keluar dari mereka semua, waktu saya bilang hal yang sama.”
Mai diam. Ia malu. Pipinya memerah.
“Jadi? Bagaimana? Kamu terima tawaran saya?”
Mai diam. Ia tak bisa menjawab. Ia harus menjawab apa? Memangnya, Alexa menawarkan apa?
“Gimana, ya? Saya bingung. Saya ‘kan, masih skul.”
“Ya, sudah. Masih skul, bukan halangan, kok! Bisa aja, kamu mulainya dari iklan. Mau, nggak?”
Mai diam kembali. Ia berpikir.
“Bisa saya pikir-pikir dulu? Saya pengen curhat-curhatan dulu, nih Mbak.”
Alexa menyeringai. Ia terbahak-bahak.
“Wah, tentu saja Mai! Tentu saja! Saya sadar, kok! Kamu pastinya butuh curhat-curhatan dulu! Sama cowok kamu, ya?”
Mai tersipu.
“Yo wis, ndak pa-pa. Begini saja!”
Alexa mengambil selembar kertas. Sekilas, sepertinya itu sebuah formulir isian.
“Ini. Kamu isi dulu. Saya juga perlu data-data kamu. Yah, supaya saya bisa ngehubungin kamu, deh.”
Mai membaca dengan seksama formulir isian di tangannya. Nama, alamat, telepon, dan segala pilihan untuk diisi.
“Ini pulpennya.”
Mai mengambil pulpen dari tangan Alexa. Tanpa diulang, ia mengisi formulir isian itu dengan cermat. Alexa diam memperhatikan.
Tak lama, Mai sudah mengisinya dengan penuh.
“Bagus, Mai. Nah, kalo gini ‘kan, saya bisa gampang ngehubungin kamu.”
“Emangnya, nanti kalo ngehubungin saya, buat apa?”
“Yah, nanti kalo kamu udah gabung sama PH saya, ‘kan kalo ada job saya gampang ngasitau kamu. Gitu, lho!”
Mai manggut-manggut saja.
“Dan, satu lagi.”
Alexa mengambil secarik kertas, dan menuliskan sesuatu dengan cepat. Ia kemudian menyodorkannya pada Mai.
“Ini. Ambil, ya. Ini info buat audisi iklan terdekat. Di situ, ada alamatnya. Kalo kamu dateng nanti, bilang aja, kamu disuruh saya. Pasti, mereka juga ngerti. Oke?”
Mai menerima kertas itu dengan ragu. Ia masih tak percaya. Haruskah didatangi? Bisakah Alexa dipercaya? Apa ada jaminan nggak bakalan ada apa-apa?
Mai memasukkan kertas itu ke saku bajunya.
“Sekarang, abis ini kamu mau ke mana?”
“Pulang, Mbak. Saya capek.”
“Naek apa?”
“Motor sama temen, Mbak.”
“Temen? Cowok, apa cewek, nih?”
Alexa menggoda. Mai tersenyum kecil.
“Cowok, Mbak.”
“Wah. Asik, tuh! Pastinya, kamu mau curhat sama dia dulu, ya?”
Mai tersipu.
“Ya udah, nggak usah kamu jawab, kok. Saya ngerti. Saya juga pernah muda.”
Alexa kemudian tertawa. Mai hanya tersenyum kecut.
“Oh iya, kamu ada pertanyaan?”
Mai diam sebentar. Ia berpikir.
“Tadi, di bawah. Resepsionis itu kok, langsung nanya nama saya? Memangnya, begitu ya, sistem di PH ini?”
“Bukan. Bukan gitu. Saya udah titip pesen sama dia, kalo ada anak SMA nyari saya, suruh tanya namanya langsung. Kalo yang nyari namanya Mai – atau kamu, langsung kasitau saya. Gitu.”
Mai manggut-manggut.
“Jadi, jangan lupa sama audisi itu, ya!”
Mai kemudian tersenyum. Keberaniannya sudah muncul.
“Ya! Sekali lagi, makasih Mbak!”
Alexa tersenyum.

0 Responses to “#5. tawaran!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: