#6. problem hati

“Emangnya, tadi kamu ngomongin apa aja, sih Mai? Kok lama banget?”
Mai meminum segelas jus alpukat di depannya.
“Emang lama, ya? Setau gue, cuma bentar deh. Yah, paling-paling cuma setengah jam doang.”
“Setengah jam kepala kamu! Aku nungguin kamu itu, udah sejam kali! Bisa aja lebih! Mulai dari waktu di jalan, nyampe, nungguin kamu di PH itu, terus sampe ke sini, deh.”
“Huh! Dasar asal!”
Mai meninju bahu Gio yang tertawa.
“Biasa deh, soal tawaran buat ikutan agensinya dia, terus jadi bintang gitu…”
“Wah, asyik tuh!”
“Asyik gundul loe!”
“Hah? Emang aku gundul, ya?”
Mai meninju bahu Gio lagi. Tapi, Gio keburu menghindar.
“Emangnya, harus gimana dulu biar bisa jadi bintang?”
“Yah, dia bilang sih, ikutan casting bintang iklan.”
“Wah, asyik tuh!”
“Ya, iya-lah.”
Entah, tapi hati Mai menangkap gelagat negatif dari ucapan terakhir Gio. Kenapa, Gio? Loe nggak seneng kalo gue terkenal?
“Kapan?”
Diam. Mai belum menjawab. Ia masih bingung dengan gelagat negatif Gio. Ia bingung harus menjawab apa. Untungnya, Jimbo segera datang.
“Wah-wah! Kok kaya’nya seru, nih! Ngomongin apaan, sih?”
“Eh, Jimbo. Gue kirain, loe tadi nggak jaga.”
“Lha, mana bisa aku ninggalin kafe ini. Bisa-bisa, nggak tenang aku!”
Mereka tertawa. Mai menatap Gio secara sekilas.
“Abis, dari tadi nggak keliatan, sih!”
“Yah, maklum-lah. Namanya juga, pemilik usaha kafe. Pastinya, sibuk ngurusin gono-gini, deh.”
Gio manggut-manggut.
“Oh, ya. Balik lagi, nih! Kalian, lagi pada ngomongin apaan, sih tadi? Kok kaya’nya seru? Apaan? Apaan? Lagi dapet duit, ya?”
Gio dan Mai bertatapan. Mereka menyunggingkan senyum di depan Jimbo.
“Coba tebak!”
Jimbo melihat Mai yang memperlihatkan senyum nakal.
“Wah, pasti ada apa-apa, nih! Apaan, sih?”
Mai makin tersenyum nakal. Ia menyeringai. Gio sendiri, hanya diam-diam saja. Jimbo makin pusing dibuatnya.
“Ayolah…Masa’ kalian tega, sih?”
Gio dan Mai hanya terkekeh.
“Gimana, Mai? Kasitau, nggak?”
“Hmm, gimana ya? Pengennya sih, jangan dulu. Tapi, kasian juga…”
“Iya-lah! Kasian dong sama aku! Masa’ kalian tega ngerjain bapak-bapak kaya’ aku ini?”
Mai dan Gio langsung terbahak-bahak. Mereka tertawa mendengar unsur ‘bapak-bapak’ dalam ucapan Jimbo.
“Jimbo..Jimbo…Kamu udah bapak-bapak? Dari kapan? Merit aja, belum! Umur baru kepala tiga. Kok, bisa jadi bapak-bapak?”
“Yee! Sok tua, loe Jimbo!”
Jimbo hanya diam. Ia tersenyum kecil. Memang benar. Ia baru saja berkepala tiga. Jiwanya masih muda. Tapi, penampilan dan gaya bicaranya yang menekankan jika ia sudah lebih tua.
“Ya udah, deh. Terserah kalian aja. Sekarang, kasitau dong!”
Gio menatap Mai yang juga menatapnya.
“Hmm, gini Jimbo. Ini soal Mai. Dia dapet tawaran casting buat bintang iklan, lho!”
Jimbo hanya diam. Ia membelalakkan matanya. Mulutnya menganga.
“Ah, yang bener?”
Mai mengangguk sambil tersenyum.
“Yang bener?”
“Iya!”
“YANG BENER?”
Mai dan Gio menatap Jimbo dengan tatapan aneh. Tidak biasanya Jimbo berlaku seperti ini. Sampai-sampai, seluruh pengunjung cafe menoleh ke arah mereka.
“Wah, kalo gitu ini harus dirayain! Ayo, deh! Kalian mau pesen apa aja? Gratis!”
“Serius, nih?”
“Yee.. kapan, sih aku nggak serius?”
Mai dan Gio bertatapan.
“SERING!”
Jimbo kemudian tertawa lepas.

Planetarium begitu ramai sore itu. Biasa. Namanya juga, tempat nongkrong yang nggak biasa. Beda githu, lho! Tapi, sebaliknya dengan perpustakaan. Sepi. Hanya tampak beberapa aktivitas di sana.
Ren membolak-balik halaman sebuah majalah ilmiah terbitan luar negeri. Nos berada tak jauh darinya. Ia sama sibuknya. Kemudian, Ren berhenti.
“Nos.”
“Hmm.”
“Masih banyak yang harus dicarinya?”
Nos meluruskan punggungnya. Ia menghirup napas, dan melemaskan otot-ototnya. Ia membenarkan letak kacamatanya.
“Nggak juga. Sepertinya, udah cukup.”
Nos kemudian menutup jurnal yang tengah dibacanya. Ia kemudian menyimpannya kembali ke rak, dan mendekati Ren.
“Emangnya kenapa? Situ udah suntuk, ya?”
Ren hanya tersenyum.
“Yah, gitu deh.”
“Ya udah. Kita cabut aja, deh. Ay juga udah capek. Buku-bukunya beresin, ya.”
Nos membawa buku catatannya, dan berjalan keluar. Ren sendiri, membereskan buku-buku yang sudah dibacanya. Kemudian, ia berjalan keluar mengikuti Nos. Lemas.
“Oke, Pak. Makasih, ya!”
Penjaga perpustakaan tersenyum pada Nos sebelum kemudian pergi. Ren mengikuti di belakangnya dengan lemas. Tak bergairah. Lelah.
Ren tak banyak suara. Nos sendiri, sibuk dengan bayangan-bayangan makalah ilmiahnya yang akan sukses nantinya. Baru, ketika sampai di parkiran Nos menyadari ada yang berbeda.
“Ren, ay baru nyadar, nih. Kok sepertinya, situ diem banget? Kenapa?”
Ren mendesah pelan, dan menatap Nos.
“Ah, nggak pa-pa. Aku cuma capek aja, kali.”
“Oh. Emang capek dan ngebosenin ya, kalo harus baca buku-buku yang …wah…”
Ren tersenyum. Terpaksa.
Nos sebenarnya masih menyadari ada yang aneh, tapi ia tak bisa melanjutkan. Ia kemudian, hanya memakai jaket dan menyalakan motornya.
“Ya udah. Yuk! Kita pulang aja. Ay anter sampe rumah, ya? Mau?”
Ren hanya mengangguk perlahan. Ia kemudian menaiki boncengan motor Nos.

Hujan. Jakarta diguyur hujan sejak mentari tenggelam tadi petang. Kini, sudah larut. Di mana sebagian besar orang-orang sudah terlelap. Tapi, itu tak berlaku untuk seorang Ren.
Dari gelap kamarnya, Ren menatap ke luar jendela. Ia mendesah.
“Yah, padahal tadi udah mau dibonceng sama Gio, tuh…”
Dalam bayangannya, kembali ada kejadian siang tadi. Ketika ia akan pergi dan sudah dibonceng Gio, dan kemudian Mai datang. Tak lama, Gio membentaknya.
Kenapa Gio harus membentak?
Mai menerawang jauh ke dalam hujan. Ia berharap sesuatu. Ia berharap Gio meneleponnya, dan meminta maaf. Tapi….
Malam semakin larut. Hujan semakin deras menemani.

KRRRRIIINGGG!
Jam weker di kamar Mai berbunyi. Keras. Kencang. Gaduh. Dari mimpinya yang membuai indah, Mai terusik.
Sambil masih terpejam, Mai menggapai-gapai. Ia mencari-cari. Tangannya meraih pinggiran ranjangnya, dan menuju meja. Ia mencari jam wekernya untuk segera dimatikan.
KLIK!
Sekali pukul, Mai bisa mematikan jam wekernya. Sambil masih terpejam, ia tersenyum kecil dan meneruskan tidurnya kembali.
Belum sempat ia meneruskan mimpinya, ponselnya berbunyi. Kali ini, Mai tak bisa mencari-cari sambil terpejam karena ia lupa di mana menaruhnya semalam. Meski kemudian tangannya menggapai-gapai di sepanjang meja, tetap ia tak menemukan ponselnya.
Mai bergerak. Ia mendekati pinggiran ranjangnya. Masih berharap bisa menemukan ponselnya sambil masih terpejam. Tapi, ia salah.
GUBRAK!
“ADUH!”
Mai jatuh dari ranjangnya ke lantai. Kepalanya terantuk lantai keramik yang cukup keras. Itu pastinya membuatnya terjaga. Mau tak mau, ia harus membuka matanya.
Sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit, ia meraba-raba lantai di balik selimutnya. Mencari ponselnya yang masih saja berbunyi. Tak lama, ia menemukannya.
“Halo!”
Orang yang meneleponnya diam sebentar. Nampaknya terkejut.
“Halo! Sapa, nih?”
“Halo! Mai! Kok serem banget, sih? Baru bangun, ya? Ini gue, Ve.”
“Oh, loe Ve. Ada apaan, nih? Loe nggak tau, ya sekarang ini jam berapa?”
“Mmm, jam lima pagi, ‘kan?”
“IYA! Ayam jantan aja belum bangun sepagi ini! Kok loe udah nelpon-nelpon segala, sih? Tau, nggak! Gue kejedot!”
Diam. Tapi kemudian, terdengar Ve seperti tertawa.
“Ha-ha-ha-ha!”
“Yee..Malah ketawa, lagi!”
Tit!
Mai mematikan ponselnya, dan melemparnya ke atas kasur. Ia meraba kepalanya yang terantuk tadi. Kemudian, ia menggeliat dan mengusap matanya. Masih ngantuk, nih?
Ponselnya berbunyi kembali. Mai bangkit sambil membawa selimutnya ke atas kasur.
“Ada apa lagi, Ve?”
“Kok dimatiin, sih?”
“Abis! Loe juga, sih!”
“Lha, kok gue? Mana gue tau, tadi loe kejedot!”
“Huh!”
Tit!
Mai mematikan ponselnya lagi. Biasa, orang bangun tidur ‘kan, bawaannya emosi melulu!
Ponselnya berbunyi lagi.
“Apaan sih, Ve?”
“Huh! Dasar ambegan!”
“Ya, udah! Ya, udah! Nggak usah dibahas, deh! Sekarang, cepetan loe kasitau maksud nelepon gue! Tumben banget, nelepon pagi-pagi!”
“Gue lagi pengen aja.”
“Yah. Dasar kurang kerjaan banget, sih loe!”
“He-he. Becanda, kok!”
“Ya udah! Terus apa, dong?”
“Gini Mai, emm…emm…”
“Apa? Gue nggak denger jelas, nih! Kok cuma emm..emm.., doang?”
“Ya, iyalah! Gue ‘kan belum ngomong! Jangan motong, dong!”
Hampir saja Mai mematikan ponselnya lagi, ketika kemudian Ve mengatakan alasan sebenarnya ia menelepon.
“Gimana kemaren pas ketemu sama si itu, tuh…?”
“Siapa?”
“Itu, lho…Masa’ loe lupa gitu aja?”
“Yee…siapa dong! Ayo kasitau gue, atau gue matiin lagi, nih!”
“Ih! Bener-bener ambegan banget ya, loe ni pagi!”
“Gue itung ampe tiga, ya. Satu…”
“Lho?”
“Dua…”
“Iya! Iya! Iya! Si Alexa itu! Gimana?”
“Nah! Bilang kek, dari tadi! Pas gue ketemu Alexa, gitu!”
“Ya, deh. Maaf. Gue ‘kan pengen gangguin loe dulu. Tapi, loe rese banget, sih? Kenapa? Wake up syndrome, ya?”
“Yah, gitu deh.”
“Ya udah. Sekarang, kasitau gue soal ketemuan kemaren itu. Gimana? Gimana? Loe kemaren dianter sapa?”
“Ada, deh.”
“Lho, kok gitu?”
“Sapa suruh nggak mau nganterin gue!”
“Hah? Kapan loe ngajakin gue? Kemaren ‘kan, loe langsung cabut aja pas bubar! Inget, kagak?”
“Emang iya?”
“Dasar o’on!”
“Ya deh. Maaf. Gue lupa, kali ya.”
“Huh! Gue putus hubungan temen sebangku aja, mampus loe!”
“Waduh! Jangan, dong! Loe ‘kan baek!”
“Makanya, cepetan cerita!”
“Iya, deh. Gue ceritain, nih. Tapi, loe nggak usah tau dari awal, ya. Gue ceritain, pas gue udah nyampe aja, ya?”
“Tapi, gue ‘kan pengen tau dari mulai loe berangkat sama sapa, di jalan gimana, gitu!”
“Yah! Udah dikasih, masih nawar lagi! Mau gue ceritain, nggak nih?”
“Ya udah! Ayo cerita!”
“Jadi, begini ceritanya…”
Dan, Mai mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Alexa dan pembicaraannya. Tapi, tidak tentang tawaran audisi. Ia masih menyimpannya untuk dirinya sendiri. Masih ada hal lain, yang lebih penting. Tapi, kenapa nggak mau nyerita dari berangkat dan dianter sapa, ya? Apa takut jadi gosip?
Lama, barulah selesai cerita Mai pada Ve. Selain karena diminta lengkap, Ve juga banyak bertanya. Untuk ukuran seorang cewek yang berjiwa bisnis, Ve cukup cerewet.
“Oh, jadi gitu.”
“Yo’i.”
“Udah selesai? Nggak ada yang kurang, ‘kan?”
Ada, sih…! Tapi, nanti saja dikasitaunya, ya!!
“Yee, ni anak! Kapan puasnya, sih?”
“He-he. Sori, ya. Gue ‘kan, pengen tau aja.”
“Ya! Tapi rasa pengen tau loe, kebangetan! Masa’ tega-teganya bangunin gue di pagi buta gini, sih?”
“Tapi sekarang udah nggak buta lagi, ‘kan? Matahari udah muncul, tuh!”
“Ya pantes aja! Loe ‘kan pengen gue nyerita yang lengkap!”
“He-he.”
“Ayo! Pengen nanya apa lagi? Gue pengen tidur lagi, nih!”
“Ih! Dasar males! Masa’ udah pagi gini, tidur lagi!”
“Biarin! Suka-suka gue! Cepetan! Loe pengen nanya apa lagi?”
“Mmm…”
Mai menunggu.
“Mai, gue masih penasaran, nih. Kemaren, loe pergi dianter sapa, Mai? Masa’ sendiri, sih? Loe ‘kan nggak tau jalan, sama kaya’ gue. Loe boleh tomboi, Mai. Tapi, kalo udah masalah jalan dan transport, loe nggak tau, ‘kan?”
“Ah! Itu lagi! Emangnya penting, ya? Lagian, biar gue nggak tau jalan, tapi seenggaknya ada yang mau nganterin gue!”
“Nah, lho! Kena loe! Berarti bener, ada yang nganterin loe! Sapa, nih?”
Mai diam tak menjawab. Panik.
“Ayo sapa?”
Diam. Mai bimbang. Haruskah ia menjawab?
“Ah! Pengen taaauuuu…..aja!”
Tit!
Mai kemudian memutus hubungan. Ia mematikan ponselnya. Sambil tersenyum puas, ia berbaring di atas ranjangnya kembali. Mencoba untuk terlelap, tapi tak bisa.
Gio. Dia lagi ngapain, ya sekarang ini?
“Hah? Kok malah kebayang Gio, sih? Kenapa, ya?”
Mai mengambil selimutnya, dan menutupkannya sampai kepalanya menghilang.

0 Responses to “#6. problem hati”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: