#8. pelajaran terselubung

Pagi. Mai sudah sampai di kelasnya. Ia tampak begitu senang. Buktinya, ia senyum-senyum sendiri sejak masuk ke gerbang sekolah. Melihat kelasnya yang masih kosong, Mai langsung menyimpan tasnya, dan pergi keluar lagi. Kantin menjadi tujuannya.
Mai mengambil tempat agak ke sudut. Sengaja, ia memang tak ingin terlalu menarik perhatian. Selain memang kantin masih sepi karena masih pagi, ia juga tak ingin orang lain melihatnya membaca sesuatu. Kertas yang berisikan tawaran audisi itu.
Perlahan, Mai membuka lipatan kertas tawaran itu. Ia merapikannya sebentar, baru kemudian membacanya.
Studio 31
Jl. Arena no.392
Audisi iklan, Rabu 12 November
“Wah, ini ‘kan bentar lagi, nih! Gimana, ya? Dateng, nggak ya?”
Mai memonyong-monyongkan bibirnya. Ia memang suka begitu jika sedang serius memikirkan sesuatu. Kentara sekali dengan sikap tomboinya.
Tanpa Mai tahu, seseorang mendekat dari arah belakangnya.
“WOI!”
Mai terkejut. Kertas yang sedang dibacanya, terlepas dan jatuh ke lantai. Kesal, ia berdiri sambil berbalik.
“GIO! Kurang kerjaan banget, sih loe!”
Gio tersenyum puas karena jahil. Ia tertawa.
“Lagian, serius banget sih, keliatannya!”
“BIARIN! Suka-suka gue!”
Mai mencibirkan bibirnya, dan memukul lengan Gio. Tak lama, ia kemudian pergi. Ia meninggalkan Gio yang masih tertawa sendirian di kantin. Terpingkal-pingkal, sampai harus duduk untuk menenangkan dirinya.
Agak lama kemudian, barulah Gio berhasil meredakan tawanya. Ia mengambil napas panjang, dan tawa itu berhenti. Hanya tersisa beberapa ledakan kecil, yang menemani air mata senangnya.
Gio berdiri. Ia membenarkan letak tas di pundaknya. Ia beranjak menuju kelasnya yang tak jauh dari kantin. Tiba-tiba, sepatunya menggeser sesuatu.
SREK! SREK!
Gio berhenti. Ia menatap ke lantai, di sela-sela sepatunya. Sebuah kertas. Ia memandanginya agak lama, baru kemudian mengambilnya.
Studio 31
Jl. Arena no.392
Audisi iklan, Rabu 12 November
Gio membaca tulisan yang tertera dalam hatinya. Ia kemudian bertanya-tanya. Kertas siapa ini? Apakah punya Mai?
Masih dihiasi dahi yang berkerut, Gio beranjak menuju kelasnya.
Kalo bener punya Mai, kok nggak ngasitau aku? Pantesan waktu aku nanya kapan audisinya, nggak dijawab! Ternyata, ini ya! Sombong banget, nih! Nggak tau terima kasih banget, sih! Awas, ya! Aku kasih pelajaran!

“Loe nyari apaan, sih Mai?”
Ve menatap Mai yang sibuk mengutak-atik isi tasnya. Buku-bukunya bertumpukan di atas meja.
“Mana, ya? Kok bisa ilang?”
“Apaan yang ilang?”
“Kertas!”
“Kertas apaan? Emangnya penting banget, ya?”
“Pasti, lha!”
“Wah, jangan-jangan, kertas contekan lagi..Mentang-mentang hari ini mau ada quiz Antropologi.”
Mai langsung berhenti mengutak-atik isi tasnya, dan membelalakkan matanya pada Ve.
“Gue nggak salah denger, tuh? Hari ini, kita quiz Antropologi?”
Ve mengangguk.
“Kok loe baru bilang sekarang, sih?”
“Yee…Gue kirain, loe tau!”
“Waduh! Gawat! Tau gini, mendingan gue nggak usah masuk aja, deh!”
Mai buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Kemudian, ia berdiri dan hendak keluar kelas.
“Mau kemana, loe?”
“Gue mau ke UKS aja, ah! Kalo Bu Tati nyariin, bilang aja gue sakit! Pusing, gitu!”
“Huh! Dasar tape, loe!”
“Abis, gue belum belajar sama sekali! Thanks, ya!”
Mai langsung bergerak ke pintu kelas. Ve menatapnya. Seluruh murid sudah berada di dalam kelas, karena memang lonceng masuk sudah berbunyi.
Baru saja Mai akan melangkahkan kakinya keluar kelas, ketika Bu Tati – guru Antropologi yang cukup galak, sudah berdiri di ambang pintu.
“Mai, mau ke mana kamu?”
Mai tak menjawab. Ia mulai berkeringat dingin. Yah, ke-gap!

Lorong sekolah begitu ramai. Banyak sekali orang-orang yang berkumpul di dekat kelas 3-IPS-2. Sebagian dari mereka, tertawa dan tersenyum-senyum kecil setelah lewat. Emangnya ada apa?
Mai membenarkan letak ember di tangan kanannya. Isinya hanya setengah, tapi cukup membuat dirinya pegal. Kakinya pun harus diangkat sebelah. Belum lagi, plang bertulisan “SAYA BERBUAT SALAH” yang menggantung di lehernya, berulang kali bergerak kesana-kemari. Keringat membasahi tubuhnya.
Bu Tati keluar dari kelas. Ia tersenyum-senyum puas. Kacamatanya menambah kesan galaknya.
“Sudah lelah, kamu?”
Mai menatap Bu Tati. Ia memasang wajah memelas.
“Su-sudah, Bu. Saya menyesal, deh Bu.”
Bu Tati tersenyum.
“Ha-ha. Memangnya enak?”
Bu Tati kembali masuk ke dalam kelas. Ia melanjutkan memeriksa hasil quiz yang dilakukan pagi harinya. Sementara itu, semua isi kelas 3-IPS-2 sedang beristirahat.
“Duh, brengsek banget, sih! Udah quiz ngedadak, masih harus begini, lagi! Bete! Bete! Bete!”
Seorang siswa laki-laki berjalan di depan Mai. Ia tersenyum.
“Duh, kasian deh…”
“APA LOE!”
Siswa itu justru tersenyum lebih lebar setelah dihardik Mai.

“Gio! Gio! Ada berita baru, nih! Loe musti tau! Loe musti tau! Wajib!”
Sambil meminum minumannya, ia menoleh. Nos dan Ren berada semeja dengannya di kantin.
“Emangnya apaan, Der?”
“Si Mai! Si Mai!”
“Mai kenapa?”
Deri datang mendekat. Ia meraih gelas minuman Gio dan meminumnya.
“Dia dihukum! Di koridor!”
“Hah? Yang bener!”
“Yee…Pake nggak percaya lagi. Gue beneran! Masa’ iya, gue tega ngeboongin loe? Lagian, gue juga tau kok, ada apa antara loe sama Mai.”
Gio mengernyitkan dahinya. Ia menatap Deri tak mengerti. Ren di depannya langsung berubah sikap.
“Ah! Dasar asal! Ya udah, sekarang kasitau aku di mana Mai!”
Deri bangkit. Ia berjalan lebih dulu. Gio berada di belakangnya. Ren menatap kepergiannya dengan hati yang tak menentu. Nos menatapnya.
“Kalo situ mau, ikut aja Ren. Jangan diem-diem gitu.”
Ren menatap Nos.
“Maksud kamu, apa Nos?”
Nos tersenyum.
“Hmm…Kaya’ nggak tau aja. Yah, terserah situ aja, deh…”
“Apaan sih, Nos? Nggak banget, deh!”
Nos hanya tersenyum.
“Yah…Up to you aja, deh. Situ ini yang ngejalaninnya. Bukan ay…”

“Tuh, bener ‘kan?”
Gio menatap tak percaya. Ia diam sebentar.
“Kok bisa gitu, sih?”
“Katanya sih, dia dihukum gara-gara ketauan mo cabut pas jamnya Bu Tati. Padahal, udah mau quiz tuh!”
Gio menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dasar. Emang nggak pernah berubah.”
Diam. Gio berpikir sebentar. Ia membayangkan kertas yang tadi ditemukannya. Benarkah itu milik Mai? Kenapa nggak ngasitau aku? Hmm, sepertinya ada yang harus dikasih pelajaran, nih.
Bukannya melanjutkan langkahnya mendekati Mai, Gio justru berbalik. Ia menuju kantin lagi. Deri menatap heran.
“Lha, Gio loe mau kemana? Nggak nyamperin Mai?”
“Buat apa?”
Gio kembali melanjutkan langkahnya. Deri mengejarnya.
“Bukannya loe temenan deket sama dia? Kok sekarang jadi jauh-jauhan gini?”
Gio tersenyum.
“Kita ‘kan udah pisah kelas, jadinya ngapain juga aku ngedeketin dia?”
“Lha, kalo masalah temenan, meski pisah kelas, nggak bakalan tamat, kali!”
Gio berhenti. Ia menatap Deri di sebelahnya. Deri balas menatapnya.
“Der, aku pengen dia ngerasain sendiri akibat dari tingkahnya. Sebagai seorang temen yang baek, harusnya aku bisa ngubah sikap dan sifat jeleknya dia, dong.”
Deri diam. Gio ada benarnya juga.
“Lagian, kalopun aku nyamperin dia, apa yang bisa aku lakuin? Melas-melas sama Bu Tati buat nyabut hukuman dia? Gitu? Nggak bakalan bisa, lah!”
Gio kembali berjalan meninggalkan Deri yang kebingungan. Walau sebenarnya, dalam hatinya ia bimbang. Bener nggak ya, bersikap kaya’ gini? Bener nggak, ya?
Gio semakin larut dalam kebingungan dan kebimbangan. Langkahnya terasa berat setiap ia melangkah menjauhi Mai. Ingin hatinya menghampiri Mai, tapi…
Kenapa susah gini? Kenapa? Kenapa kamu nggak berubah juga, Mai?

0 Responses to “#8. pelajaran terselubung”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: