#9. can we make a change rapidly?

“DASAR! NGESELIN BANGET, SIH!”
Mai melempar tasnya ke atas ranjangnya. Ia pun menghempaskan dirinya ke atasnya. Ia menghembuskan napas panjang.
“HUH! KESEL! KESEL! KESEL!”
Mai mengambil bantal. Ia menutupkannya ke wajahnya.
Gelap. Mai menemukan kedamaian. Tapi hatinya tetap mangkel.
BRUK!
Mai melempar bantalnya entah ke mana. Ia mencari ponselnya. Ia menghubungi seseorang.
Tuuuut. Tuuuut.
Nada sambungnya terdengar lama. Beberapa kali Mai menunggu, dan juga mengulang menelepon. Tapi tetap, nomor telepon yang ditujunya tak menjawab ataupun mengangkat.
“Huh! Dasar nggak bisa diandelin! Lagi ngapain sih, sampe nggak bisa ngangkat telepon segala?”
Mai membenamkan mukanya ke ranjang.
“Tapi…kenapa harus telepon dia, ya? Kenapa nggak Ve aja…?”
Tetap. Mai melampiaskan dirinya ke ranjangnya.

Gio menyimpan ponselnya yang sedari tadi menyala ke atas meja. Nos menatapnya.
“Sapa?”
Gio tersenyum.
“Hmm. Biasa.”
“Kok nggak diangkat?”
“Sengaja.”
Singkat. Padat.
“Emangnya, kenapa lagi? Tadi diapain si Mai itu?”
“Kena hukuman Bu Tati. Soalnya, mau cabut pas quiz.”
“Oh.”
Diam. Gio menatap ponselnya. Salah nggak ya, nggak ngangkat teleponnya?
“Tumben-tumbenan.”
Gio menatap Nos di depannya yang tersenyum.
“Tumben? Maksud kamu?”
“Hmm. Seorang Gio yang ay kenal, secara tumben sekali, bisa jadi begitu dingin seperti ini. Padahal, kemaren masih nyerocos terus di telepon barengan ay.”
Gio tersenyum kecil.
“Yah, aku cuma pengen ngelanjutin kata-kataku yang kemaren itu. Soal, pengen jadi cool. Yah, back to nature-lah!”
“Tapi, bukannya harusnya situ tetep ngejawab telepon tadi? Kan, situ udah nganterin dia ke PH waktu itu. Kok, dalam waktu sekejap bisa berubah gini?”
Gio diam. Ia memutar ponselnya di atas meja.
“Yah. Kenapa, ya? Aku juga masih bingung, nih. Menurut kamu?”
“Yee, kok malah nanya balik ke ay, sih? Kan, situ sendiri yang ngejalaninnya. Atau, jangan-jangan ada yang terjadi dalam waktu interval malam sampe tadi pagi? Bener, ya?”
Diam. Gio hanya tersenyum.
“Ah, kamu ada-ada aja, Nos.”
“Hei! Who knows what happened with you for the last twenty-four hours?”
“Ada yang tau.”
“Sapa?”
“Aku.”
Nos menepuk pahanya.
“Dasar!”
Gio tersenyum.
“Terus, jadi serius nih?”
“Ya.”
“Mau sampe kapan?”
“Yah, kalo bisa seterusnya. Kan rada asik gitu, kalo jadi cowok cool, dan pendiem.”
“Ha-ha. Kata siapa itu?”
“Kan, barusan aku bilang? Masa nanya lagi, sih?”
“Emangnya situ bisa?”
“Wah, jadi kamu ngeremehin aku, nih?”
“Bukan. Cuman…”
“Apa?”
“Yah, masalah ini udah jadi sensitif gara-gara nyangkut cewek, gitu lho. Kalo menurut ay sih, situ nggak bakalan bisa.”
“Huh! Aku pasti bisa! Pasti!”
Nos tertawa kecil.
“Lha, kok bukannya ngedukung?”
“Yah, liat aja nanti, deh.”
“Oke! We’ll see!”
Nos masih hendak melanjutkan, tapi Ren dan Jimbo sudah datang membawa minuman.
“Hei-hei-hei! Ini minumannya dateng, nih!”
“Iya, nih! Spesial, buat orang yang spesial juga! Makanannya nyusul, ya!”
Jimbo meletakkan nampan di atas meja. Ia kemudian duduk bersama Gio, Nos dan juga Ren.
“Wah, denger-denger hari ini kamu yang nraktir, nih. Ada apa, nih? Baru menang lotre, ya?”
“Ah, kamu Jimbo. Bisa aja!”
“Lha, kata Ren gitu, kok!”
Gio menatap Ren yang terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Mukanya merona.
“Ciee…Ciee…Suit! Suit!”
Jimbo membuat keributan. Wajah Ren semakin berwarna merah saja. Gio pun diam. Hanya Nos yang larut dengan kesibukannya sendiri. Santap habis!

“Heh. Masih bete, nih?”
Mai tak menjawab. Ia memeluk gulingnya, dan menghadap ke arah lain.
“Udah malem. Gue musti balik.”
Mai berbalik.
“Loe nginep aja, deh Ve. Besok kan, libur ini. Temenin gue, ya! Malem ini, aja.”
“Yah, bukannya udah dari tadi siang? Emangnya, gue babysitter loe?”
Mai tersenyum kecil.
“Hehe. Kamu jadi ngingetin aku sama seseorang.”
“Wah, sapa tuh?”
Diam. Mai merasa keceplosan.
“Ah, gue tau. Pasti si Giok, ya?”
Mai tak menjawab. Ia menyembunyikan kepalanya di dalam gulingnya.
“Gue aneh sama loe, Mai. Mungkin, gue kenal deket loe baru tiga bulanan ini, lah. Tapi, loe bener-bener aneh banget, sebagai seorang cewek, Mai.”
“Maksud loe?”
“Yah. Loe boleh aja ngaku tomboi, tapi…”
“Tapi apa?”
“Yah, buat beberapa hal yang sensitif dan butuh pemikiran, loe bener-bener lemah. Loe kaya’ nggak bisa munculin sifat tomboi loe, di depan masalah-masalah.”
Diam. Mai berpikir.
“Makanya, dulu loe deket sama Gio. Asik banget, deh kayaknya, punya temen deket cowok yang bisa diajak gila – dalam tanda kutip, ya.”
Mai tersenyum. Ia memunculkan mukanya.
“Loe bener, Ve. Meski gue keliatannya tomboi, tapi kalo udah hal-hal kaya’ gini, gue lemah banget. Gue nggak tau deh, kenapa bisa gitu.”
Ve tersenyum.
Sebuah motor berhenti di luar gerbang rumah Mai. Mesinnya kemudian dimatikan. Seseorang turun, dan membuka pintu gerbangnya. Ve buru-buru mengintip lewat tirai. Namun, tanpa harus bergerak pun, Mai tahu siapa yang datang.
“Tuh, Prince Charming loe dateng.”
“Iya. Gue tau.”
“Lha, kok bisa?”
“Gue udah kenal suara motornya kali. Kan, dulu juga dia sering kemari. Cuman, kok tumben ya, dia dateng malem-malem gini?”
Mai bergerak. Ia berkaca. Rambutnya yang awut-awutan, ia rapikan dengan sisir. Ve tersenyum melihatnya.
“Eh, jangan lupa ganti piyama loe!”
“Iya, iya!”

Diam. Gio menuruni motornya. Ia membuka helmnya. Retsleting jaketnya ia buka. Lama, ia duduk di atas motornya.
Hmm, bener juga apa kata Nos tadi siang. Aku nggak bisa bertahan agak lama. Pasti ada aja, masalah yang bikin aku balik kaya’ dulu lagi, dan nggak bisa jadi cool. Emang, kalo udah nyangkut cewek, semuanya jadi lebih sensitif!
Gio menghela napas.
Atau, gue tunjukkin aja sifat cool gue sekarang ini, ya?
Gio turun dari motornya. Ia memasuki pekarangan rumah Mai.

0 Responses to “#9. can we make a change rapidly?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: