#10. the fight for our heart

“Gio, kamu kemana aja? Kok udah lama, nggak keliatan?”
Gio tersenyum. Ia menatap kedua orangtua Mai di depannya dengan malu-malu. Duduknya jadi tidak enak. Ia salah tingkah. Gile! Ortu Mai, lagi pada ngumpul, ya? Tau gini, nggak usah dateng malem gini, deh!
“Ini, Tante. Saya sibuk sama kelas saya yang baru.”
“Oh, pastinya udah masuk kelas tiga, kamu harus bisa ningkatin belajar, ya?”
“Iya, Oom.”
“Mau ketemu Mai, ya?”
Iya! Emangnya mau ketemu ortunya? Ngapain?
“Iya, Tante. Ada ‘kan?”
“Ada-ada. Tadi sih, lagi bareng sama Ve di kamarnya. Bentar lagi juga turun, kali. Masa’ nggak denger suara motor kamu?”
Gio tersenyum. Ia tersipu.
“Atau, bentar deh. Tante panggil dulu, ya.”
Mama-nya Mai berdiri. Ia menaiki tangga, menuju kamar Mai. Papa-nya Mai dan Gio, duduk berdua saja di ruang tamu.
“Entar, mau ngelanjutin kuliah di mana?”
“Wah, saya belum tau, tuh Oom. Pengennya sih, masuk ITB. Tapi nggak tau.”
“ITB? Wah, bagus tuh! Pengen jadi insinyur, ya?”
“Iya, Oom.”
“Bagus…Bagus…Tapi, apa nggak kejauhan, tuh? Terus nanti, mau tinggal di mana?”
“Yah, nggak juga sih, Oom. Di sana juga ada sodara.”
“Oh. Baguslah.”
Sementara itu, Mama-nya Mai sudah sampai di kamar Mai.
Tok-tok!
“Mai! Ada Gio, tuh!”
Mai membuka pintu. Ia sudah berganti baju. Penampilannya juga rapih. Ve berdiri di belakangnya.
“Iya, tau. Lagi ganti baju dulu.”
“Oh. Ya udah. Ke bawah sana! Udah ditunggu!”
“Sip!”
Mama-nya Mai kemudian berbalik. Ia menuruni tangga, dan kembali ke ruang tamu. Sementara itu, Mai masih berdiam di ambang pintu kamarnya.
“Jadi? Gimana?”
“Aduh. Kok jadi nggak pede, ya?”
“Yee. Jangan gitu, dong! Tumben-tumbenan banget! Ayo! Gue juga, pengen balik, nih!”
Ve menerobos Mai. Ia menarik tangan Mai.
“Eh, tunggu-tunggu! Gue bisa jalan sendiri!”
Hati Mai berdebar tak menentu. Gio ada urusan apa, ya? Kok tumben banget! Padahal, dia ‘kan udah lama nggak maen ke sini. Apalagi, pas malem kaya’ gini! Atau, ada hubungannya sama telepon gue tadi siang? Ah, masa iya?
Mai dan Ve menuruni tangga dengan tergesa. Sengaja, karena Ve ingin segera pulang. Mai sendiri berjalan di belakangnya, dan merasa seperti anak kecil. Kedatangan mereka menimbulkan kegaduhan di tangga. Gio menoleh.
Tiba di anak tangga terakhir, Mai menarik tangannya. Ia berhenti. Ve melotot padanya. Gio berdiri.
“Nah, itu dia.”
Gio tak mempedulikan ucapan Mama-nya Mai. Ia hanya diam, dan menatap ke arah Mai. Seakan-akan, sudah lama tak melihatnya. Mai sendiri, berusaha menghindari tatapan itu, dengan menunduk. Ve tersenyum-senyum sendiri.
“Met malem, Mai.”
Ve menoleh pada sahabatnya. Ia heran, kenapa Mai belum menjawab. Ia menendang pelan kaki Mai yang langsung saja menoleh. Ve memberi isyarat.
“Oh, met malem juga, Gio.”
Diam. Mai tak bisa melanjutkan. Ia salting. Gio sendiri diam. Ia belum melanjutkan juga. Diam-diam kedua orangtua Mai kemudian bergerak ke dalam. Dalam suasana yang kikuk, Ve mencoba mencairkan suasana.
“Dari mana?”
“Oh, sengaja dari rumah. Kamu sendiri, suka kemari ya?”
“Ah, enggak juga. Ini kebetulan aja, tadi Mai telepon gue. Emang kenapa?”
“Yah, nggak apa-apa. Bagus aja. Jadi, Mai nggak kesepian. Kan soalnya, semenjak pisah kelas, aku jadi sibuk banget.”
Mai diam. Ia mendengarkan dengan seksama. Tangannya mempermainkan gelang batu di pergelangan tangannya. Sesekali, ia membunyikan lonceng kecilnya pelan-pelan.
Ting…
“Hmm, gue balik aja, deh. Udah malem.”
Mai langsung mendongak. Ia menatap Ve yang mulai bergerak mendekati pintu.
“Lho, kok buru-buru? Acara curhatannya keganggu sama aku, ya?”
“Ah, enggak juga. Gue kali, yang ngeganggu loe pade kalo nggak cepet pulang.”
Mai tak bisa berkata. Ia sebenarnya ingin sekali menahan Ve agar tak cepat pulang, tapi – entah kenapa, suaranya seperti tercekat di tenggorokannya.
“Oom, Tante! Saya pulang dulu, ya!”
“Oh, iya Ve! Hati-hati di jalan, ya! Salam buat orangtua kamu, ya!”
Mama-nya Mai memunculkan kepalanya, sambil tersenyum.
“Oke, Tante!”
Ve tersenyum. Ia mendekati pintu. Sudah bersiap untuk pulang. Ia membenarkan letak jaketnya. Mama-nya Mai sendiri, kembali menghilang. Hei, maunya apa sih, ortu Mai ini?
“Oke deh, Mai. Gue balik dulu, ya. Loe bedua aja deh, sama Gio. Katanya, loe udah lama nggak ngobrol sama dia. Eh, salah deng. Baru minggu kemaren, ya?”
Mai diam. Ia tetap tak bisa berkata. Kenapa? Kenapa nggak bisa ngomong? Kenapa? Apa karena situasi ini? Apa karena malam ini? Apa karena kedatangan Gio yang secara tumben datang malam-malam begini?
“Mai? Halo?”
“Eh, oh, iya. Iya, deh. Hati-hati, ya!”
Hah? Kok malah ngomong itu? Bukan itu! Bukan itu!
“Oke, deh. Gue cabut, ya! See ya! Met malem semua! Daaag, Gio..”
Gio tersenyum mendengarnya. Ve berjalan keluar dari pintu, dan beranjak pulang. Mai diam. Ia hendak menahan, tapi…
Aduh, Ve! Ve! Ve! Jangan pulang! Tadi aku salah ngomong! Ve! Ve! Temenin aku! Temenin aku! Ve!
Ve sudah pergi. Tinggal Mai dan Gio saja di ruang tamu. Mereka berdua, masih berdiri di posisi masing-masing, dan tak bicara sepatah kata pun. Sepi. Hening. Kikuk.
Hei! Kenapa ini! Kok gue jadi nggak bisa ngomong! Ada apa ini? Mana Mai yang yang tomboi dan selalu berani itu! Emangnya, siapa yang di depan gue ini? Cuma Gio aja, kok! Ini cuma Gio! Harusnya, gue bisa ngomong, dong! Ayo! Ngomong!
Mai tersenyum kecil. Gio yang sedari tadi menatapnya, kemudian tersenyum juga. Senyuman apa itu? Senyum beneran? Atau…
“Lho, kok senyum?”
Gio bergerak. Ia lega juga akhirnya Mai berbicara. Yes! Akhirnya, dia ngomong juga!
Gio bergerak mendekati kursi ruang tamu. Ia memegang sandaran kursi, kemudian bersandar.
“Yah, abisnya dari tadi kamu diem aja, sih. Aku kira, kamu jadi bisu.”
“Ih, gue ngomong juga kali! Lah, tadi pas Ve balik, gue ‘kan ngomong!”
Gio tersenyum lagi. Kali ini, terlihat deretan giginya yang rapi. Akhirnya, gue bisa ngomong juga! Nah, gitu dong!
Mai bergerak. Ia mendekati Gio. Ia duduk di hadapan Gio. Ia memasang muka manis. Berusaha menyembunyikan rasa dag-dig-dug dalam hatinya. Kok gini, ya?
“Tumben, loe dateng semalem ini.”
“Lha? Emangnya, belum pernah semalem ini, ya? Emang, sekarang jam berapa, sih?”
Gio berlagak polos, dan melihat arlojinya. Ayo Gio! Bilang apa mau loe!
“Udah, deh. Loe pasti ada maunya. Iya, ‘kan?”
Gio tersenyum. Ia menatap Mai.
“Hehe. Tau aja. Kamu udah tau sifatku.”
Lalu, diam. Sepi. Hening. Mai menatap Gio yang begitu diam. Berbeda sekali dengan hari sebelumnya, saat mengantarnya ke Tebas Pro. Ayo! Coba, dia bakalan nyinggung telepon tadi siang nggak, ya?
“Kok, perasaan ada yang beda, ya?”
Gio mengangkat sebelah alisnya.
“Ah, masa iya? Apaan yang beda?”
Mai mendengus.
“Wah, bener-bener beda, nih. Ada cerita apa? Hebat banget, dalam dua hari, bisa berubah sedemikian rupa.”
“Oh, kamu, gitu?”
Mai mendengus lagi. Gio sebenarnya, hendak mencairkan suasana dengan sifat konyolnya. Tapi, nggak berhasil, tuh!
“Ya udahlah. Terserah. Mau ngomongin apa lagi, nih? Loe nggak mungkin cuma pengen ngeliat gue sebelum tidur, ‘kan?”
Gio tersenyum. Ia meraba saku kemejanya. Dikeluarkannya secarik kertas. Kertas apaan, tuh?
“Ini. Mungkin ini punya kamu. Tadi, aku temuin di kantin.”
Mai menatap kertas di meja. Sekilas, ia tampak mengenalinya. Sekali gerak, ia sudah memegangnya. Walau sudah lecek, tapi ia masih tetap bisa membaca tulisan yang tertera.
Studio 31
Jl. Arena no.392
Audisi iklan, Rabu 12 November
“Wah, kok loe bisa nemuin ini! Ini penting banget! Gue kirain ilang! Nggak taunya, ada sama loe, ya?”
Gio tersenyum.
“Yah, tadi pas aku ke kantin, ternyata ada yang nempel di sepatuku. Tadi pagi itu lho, pas aku gangguin kamu.”
“Bukan gangguin! Ngagetin!”
“Yah, terserah deh.”
“Lha, kenapa nggak dikasiin dari tadi? Pas di skul ‘kan, lebih enak dan nggak usah nyusahin loe buat dateng kemari!”
“Ah, aku nggak ngerasa kesusahan kok, nganter kemari. Yah, sekalian anjangsana sama ortu kamu. Kan udah lama, aku nggak ketemu mereka.”
“Yes! Kalo gini, jadi dong!”
Mai mengepalkan tangannya. Gelang batunya ikut bergerak.
Ting…
Gio merasa puas. Ia senang melihat Mai gembira.
“Emang, kertas itu penting, karena waktu kemaren aku nganterin kamu, ya?”
“Iya! Iya! Thanks banget, ya!”
Mai melonjak. Ia begitu senang. Ia kemudian, mendekati Gio. Tapi, kemudian ada perintah dari dalam hatinya untuk segera berhenti. Mau ngapain, Mai? Mai berhenti. Ia berdiri begitu saja di dekat Gio.
Gio diam. Ia menatap Mai yang juga diam.
“Eh, kok malah berdiri?”
Kikuk. Mai kembali ke kursinya. Ia duduk kembali. Ia berusaha menyembunyikan rona wajahnya. Gio tersenyum-senyum kecil.
“Emangnya tadi mau ngapain, Mai?”
Diam. Mai tak menjawab. Ia bingung. Tadi itu mau ngapain? Beberapa pikiran jelek dan kotor, mulai bermunculan dalam pikiran Mai. Ia buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran jelek dan kotor itu.
Lama, Mai coba menguasai dirinya kembali. Ia seakan-akan bukan dirinya ketika tiba-tiba saja berdiri, dan mendekati Gio. Dan, Gio sendiri hanya diam sambil tersenyum-senyum sendiri menatap tingkah laku Mai.
“Jadi, apa hubungannya kertas itu, sama kemaren Mai? Emang bener, besok kamu mau ngedatengin audisi itu?”
Diam. Mai memikirkan jawaban yang tepat. Jujur, atau boong ya?
“Yah, gue juga belum tau mau dateng apa enggak. Masih bingung, nih!”
Nah! Akhirnya ngomong juga! Gini, dong! ‘Kan jadinya telepon kamu tadi siang, nggak usah sampe nggak aku angkat, Mai!
“Lah, kenapa bisa bingung? Bukannya bagus, kamu baru dateng sekali, tapi udah langsung ditawarin buat ikutan audisi? Sapa tau, itu rezeki kamu!”
“Yah, emang sih…Tapi…”
“Nunggu apa lagi? Katanya pengen jadi artis yang terkenal, kok mau audisi buat maju aja, nggak berani? Lagian, mana Mai yang jagoan Taekwondo itu?”
Mai coba tersenyum. Setelah sekian lama, barulah sekarang ini ia curhat dengan Gio lagi. Dan seperti biasa, Gio selalu bisa memberi beberapa jalan dan pencerahan untuk pemikirannya yang dipenuhi berbagai perhitungan.
“Jadi, menurut loe gimana?”
“Hmm, nggak ada salahnya dicoba, ‘kan? Cuma audisi ini.”
“Iya, audisi! Tapi, kalo nanti kaya’ video porno-nya Sarah Azhari waktu dulu itu, gimana? Nanti, kalo tau-tau ada kamera tersembunyi gimana?”
Gio tersenyum. Ia mengekeh.
“Hehe. Kamu ini, parno-an banget, sih! Sifat tomboi dan sok berani kamu itu, udah bener-bener ilang, ya semenjak masuk kelas tiga dan temenan sama Ve – yang super feminin.”
“Enak aja! Loe sendiri, gimana? Malem ini jadi cool banget! Jaim banget! Nggak cocok tau!”
Gio dan Mai tertawa bersama. Sesuatu hal yang sudah lama tak mereka lakukan.
“So?”
Mai kembali terserang bimbang. Didatengin nggak, ya?
“Kalo kata aku sih, kamu datengin aja dulu. Nggak ada salahnya. Masa’ iya, seorang Alexa yang talent scout PH ternama, sebegitu mudahnya ngejerumusin seseorang yang pengen jadi bintang, sih?”
Nggak, Mai. Jangan pergi! Aku cuma basa-basi aja! Jangan pergi!
“Hmm, iya juga, sih.”
“Tapi, kalo buat kamu, sepertinya ia tega, deh.”
Mai melotot. Ia meraih bantal, dan melemparkannya. Gio langsung menangkapnya dengan sigap.
“Hei! Aku ‘kan becanda! Kok dianggep serius, sih?”
“Abis, dasar ASBUN, loe!”
“Biarin!”
Diam. Kembali hening.
“Apa perlu ditemenin? Ve juga bisa nemenin kamu, ‘kan?”
Jangan pernah ngajakin aku, ya! Aku nggak mau!
“Apa? Ve? Waduh! Jangan, deh! Jangan! Dia bisa-bisa ngerepotin banget! Dia ‘kan pengen banget ngalamin nasib kaya’ gue! Cuman, yah gitu deh…”
“Terus, mau ditemenin sapa?”
Diam. Mai menunduk sebentar. Ia kemudian menatap Gio di depannya. Seakan mengerti, Gio langsung menggeleng.
“Nggak. Jangan pernah berharap aku mau nemenin kamu. Cukup sekali kemaren aja! Nggak!”
“Tapi, siapa lagi yang mau nemenin gue? Loe nggak kasian sama gue?”
“Yee…Ngapain juga aku kasianin kamu! Masih banyak orang-orang yang lebih sengsara daripada kamu, kok!”
Mai merengut. Ia tak senang jika dibanding-bandingkan.
“Nganter juga, nggak mau?”
Diam. Gio berpikir sebentar.
“Hmm, kaya’nya kalo nganter boleh juga, tuh. Tapi, cuma nganterin doang ‘kan? Nggak ada yang laen? Jangan cari-cari alesan buat nemenin dan nungguin kamu, ya!”
“Iya, iya deh! Nganterin doang! Tapi, sampe masuk ya!”
“Huh!”
Giliran Gio yang melempar bantal. Pelan, tapi tepat mengenai muka Mai.
“Aduh! Kena muka! Kena mata!”
“Ups!”
“Ih! Dasar!”
Mai balas melempar bantal ke arah Gio. Malam itu pun, dihiasi dengan perang lempar bantal antara Mai dan Gio.

0 Responses to “#10. the fight for our heart”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: