#11. jahil

Hari ini sekolah pulang cepat. Bukan apa-apa, tapi para staf pengajar akan rapat mendadak. Katanya sih, ada urusan dengan bagian keuangan. Makanya, seluruh kelas diinstruksikan untuk belajar di rumah. Padahal, baru jam 10! Masih pagi banget, ‘kan?
Gio membereskan perlengkapannya tergesa-gesa. Ia terburu-buru seperti akan ketinggalan sesuatu. Sementara itu, Nos santai-santai saja di sebelahnya.
“Situ mau ke mana? Kok buru-buru banget?”
“Aku mau nganter Mai, nih. Dia ada audisi hari ini.”
“Wah, audisi apaan, tuh? Kok kaya’nya penting banget?”
“Iklan.”
Selesai. Gio sudah selesai membereskan tasnya. Ia kemudian memanggulnya.
“Eh, hati-hati, ya! Di jalan banyak Polisi!”
“Yah, kalo cuma itu aja sih, aku juga tau.”
“Yee, ay ‘kan cuma mesenin aja, biar situ hati-hati! Jangan kebut-kebutan! Biar nggak ditilang!”
“Duh, iya Bapak Guru.”
“Lha, kok Bapak Guru?”
“Abisnya, kamu kaya’ guru SD aja sama muridnya.”
“Enak aja!”
“Ya udah, deh. Aku cabut dulu, ya.”
Gio sudah berjalan. Kemudian, Nos teringat sesuatu.
“Hoi! Gio!”
Gio berhenti di ambang pintu kelas. Ia berbalik menghadap Nos.
“Jangan lupa! Hari ini, kita mau ngerjain makalah di rumahnya Ren!”
“Oke!”
Gio mengacungkan jempolnya, kemudian berbalik. Ia menghilang di luar kelas.
Nos melanjutkan beres-beresnya. Tanpa ia tahu, Ren datang dari belakangnya.
“Emangnya, dia mau ke mana lagi, Nos?”
“Katanya sih, mau nganterin Mai. Audisi iklan, gitu deh…”
“Oh.”
“Emangnya kenapa?”
“Yah, hari ini ‘kan rencananya kita mau ngerjain makalah. Masa’ dia enak-enakan terus?”
“Yah, biarin aja, lah. Dia juga punya privasi sendiri. Kalopun nantinya dia nggak kerja sama sekali, dan namanya tetep ada di makalah kita, so what? Yang penting, kita ngerjainnya ikhlas. Itu aja!”
“Tapi…”
Bukan hanya itu, Nos! Masih ada lagi! Aku ingin Gio! Aku ingin Gio jadi milikku! Aku ingin Gio selalu bersamaku! Aku ingin Gio takluk padaku!
“Apa lagi?”
Ren menggigiti bibir bawahnya.
“Ah, nggak apa-apa deh. Kapan-kapan aja dilanjutinnya.”
“Oke.”
Nos menutup tasnya, dan memanggulnya.
“Jadi, pulang dulu atau langsung ke rumah situ, Ren?”
Ren mengangkat alis.
“Yah, terserah.”

Mai tampak gelisah. Ia tak bisa berdiri diam di depan kelasnya yang sudah kosong. Ve duduk di sampingnya.
“Duh Mai, masih lama, nih?”
Mai menatap arlojinya.
“Yah…Bentar lagi, deh.”
“Emang, loe mau ke mana, sih? Ada janji sama Gio, ya?”
Mai diam. Ia menatap Ve.
“Yah, bisa dibilang gitu, deh.”
“Ciee, yang udah baekan kemaren malem. Wit-wiw! Wit-wiw!”
“Hus!”
Ve tak peduli. Ia membuat kegaduhan. Ia benar-benar ingin menggoda Mai. Senyumnya begitu jahil.
Seseorang berlari mendekat. Kemudian berhenti. Napasnya ngos-ngosan. Ia menatap Mai yang menyambutnya.
“Hai. Udah lama nunggu, ya?”
“Ah, enggak juga. Lumayan, lah.”
Ve diam. Ia menatap Mai dan juga Gio.
“Tuh ‘kan, bener…”
Mai menoleh. Ve berdiri.
“Apaan yang bener?”
“Kalian mau ngedate, ya?”
“Ve!”
“Apaan, sih?”
Ve menoleh pada Mai. Ia senang sudah bisa mengganggu Mai.
“Bukan ngedate. Aku cuma mau nganter Mai aja, kok. Gitu aja.”
“Alaahhh, masa’ iya? Pasti mau ngedate, nih! Balik cepet gitu, lho!”
“Ve!”
Mai menatap Ve dengan tajam. Duh Ve, plis deh!
“Ya udah. Kita berangkat aja, yuk! Ayo Gio!”
Mai buru-buru meraih tangan Gio, dan membawanya pergi. Meninggalkan Ve.
“Lha! Kok buru-buru! Beneran, ya? Sukses ngedate, ya! Nanti, cerita-cerita, oke?”
“Daagg, Ve.”
Gio hanya bisa diam saja didorong-dorong oleh Mai. Semakin lama, mereka semakin jauh.

Gio mematikan motornya. Ia memarkirkan motornya, di samping deretan motor-motor lainnya. Sebuah gedung besar – lebih mirip hanggar, berada di dekatnya.
Studio 31
“So, udah nyampe ‘kan? Turun, gih! Sana!”
Diam. Mai tak bergerak. Ia masih berdiam di belakang Gio.
“Mai.”
Diam. Mai tak menjawab. Ia bimbang.
“Mai!”
“Duh! Apaan, sih? Gue ‘kan lagi mikir, tau!”
“Yee! Mikir boleh aja, Non! Tapi, turun dulu dong! Berat, nih!”
Terpaksa, Mai turun dari motor Gio. Ia cemberut. Gio menatapnya. Ia tak turun.
“Nah, seperti kesepakatan kita kemaren, aku cuma nganterin aja, ‘kan? Udah dulu, ya.”
Gio memundurkan motornya. Ia hendak beranjak kembali. Mai buru-buru memegangnya.
“Gio! Jangan pergi, dong! Temenin gue! Temenin!”
“Nggak!”
“Ih, temenin dong! Gue ‘kan, takut! Ngeri!”
“Nggak!”
“GIO!”
Gio diam. Ia agak risih juga jika Mai terus-menerus meneriaki dirinya. Apalagi, kru yang berada di sekitarnya sudah menatapi mereka. Gile! Tengsin, nih!
Gio membuka helmnya.
“Kan, kemaren bilangnya nganterin aja. Gimana, sih?”
“Yah, itu ‘kan kemaren. Bukan sekarang.”
“Ih, kok jadi plin-plan gitu. Nggak kenal, deh!”
“Biarin!”
Gio diam. Ia berpikir.
“Nanti, kalo ada apa-apa sama gue, gimana? Loe mau tanggung jawab? Kalo gue tau-tau ngilang, pasti loe yang bakalan jadi tersangkanya. Soalnya ‘kan, loe orang terakhir yang keliatan bareng gue.”
“Tapi, kalo aku punya alibi nganterin kamu ke sini, gimana?”
“Yee, kalo loe udah nunjukkin ke sini, trus tau-tau di sini nggak ada yang tau keberadaan gue juga, gimana? Inget, lho! Gue punya saksi yang nguatin kalo loe bisa jadi tersangka!”
“Emangnya siapa?”
Mai diam. Ia tersenyum nakal. Merasa menang. Puas.
“Ve. Tadi ‘kan, dia ngeliat loe sama gue.”
Gio mengernyitkan dahinya. Ia merasa kalah. Kesal. Masa dimaenin sama cewek, sih?
“Tapi…”
“Apa lagi? Loe mau ngomong apa lagi?”
Gio diam. Ia menghembuskan napas panjang. Mengakui kekalahannya. Gile! Kalah! Tapi, nggak apa-apa deh. Kalo entar beneran ada ‘apa-apa’ sama Mai, gimana?
“Ya, udah! Udah!”
Gio gusar. Ia memasukkan motornya lagi ke parkiran. Tak lama, ia pun turun dan menemani Mai.
Mai tersenyum. Hatinya senang. Yes!

Ramai. Di dalam Studio 31 begitu riuh. Peralatan-peralatan shooting berserakkan di mana-mana. Kesibukan terpancar di mana-mana. Gio dan Mai berada di salah satu sudut. Diam. Memperhatikan.
“Nah, sekarang gimana?”
Mai mengangkat bahunya.
“Duh, nggak tau deh. Gue juga bingung!”
“Lha?”
“Abis, waktu itu, Mbak Alexa cuma nyuruh gue dateng ke sini, trus bilang aja kalo gue disuruh sama dia. Nanti juga, pada ngerti. Dia bilang gitu.”
“Trus, harus ngomong dan bilangnya sama siapa?”
“Tau!”
Gio menggelengkan kepalanya. Kacau ini!
Seorang wanita berpenampilan agak modis lewat di depan mereka. Ia tampak sibuk memegang beberapa kertas. Sepertinya jadwal. Gio berinisiatif untuk bertanya padanya.
“Maaf, Mbak.”
Wanita itu berhenti. Ia menatap Gio dan Mai di sampingnya yang masih memakai seragam. Sekejap, ia mengeryitkan dahinya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Begini, Mbak. Yang punya wewenang di sini, siapa ya?”
“Emangnya kenapa?”
“Begini, temen saya ini, disuruh dateng kemari. Ini bener ‘kan, lagi ada audisi?”
Wanita itu menatap Mai lekat-lekat. Dari atas, sampai bawah. Seakan-akan, tak mau melewatkan sedikitpun.
“Ya. Lagi ada audisi. Emangnya, temennya disuruh sama siapa?”
Gio menatap Mai. Berharap Mai mau menjawab. Tapi, tidak.
“Mbak Alexa.”
“Maaf, saya nggak salah denger? Mbak Alexa?”
“Ya.”
“Sebentar.”
Wanita itu memeriksa kertas di tangannya. Ia membuka-buka beberapa lembaran, dan membacanya satu-persatu. Lalu, ia melihat sebuah foto. Agak buram, karena hasil jepretan kamera ponsel. Seorang gadis tengah melihat etalase di gambar itu. Sekilas, ia mencocokkan dengan Mai.
“Hmm.”
Diam. Gio menunggu. Mai tak bersuara sedikitpun.
“Oke. Kalo gitu, mendingan ikut saya aja, deh. Ke arah sini.”
Wanita itu berjalan lebih dulu. Gio mengikutinya. Mai menahannya.
“Kita mau ke mana?”
“Udah, deh! Ikut aja dulu! Ayo!”
Gio menarik tangan Mai dan mengikuti wanita tadi. Beberapa set shooting dilewati. Tampak lampu-lampu yang silau menyinari ruangan Studio 31 yang begitu besar. Kemudian, di sebuah pintu mereka berhenti.
“Masuk ke sini. Tunggu sebentar, ya.”
Wanita itu membuka pintunya. Gio hendak melongok terlebih dulu. Ia melihat sebuah ruangan putih kosong, dan ada beberapa bangku. Di seberangnya, ada sebuah pintu lagi.
“Ya, silakan.”
“Makasih, ya.”
Gio melangkah masuk. Mai mengikuti di belakangnya. Wanita itu tak ikut masuk, ia kemudian menutupkan pintunya. Tak lama, ia pergi.
Gio mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Sementara itu, Mai mengintip ke luar jendela yang bertutupkan tirai. Ia sedang melihat proses shooting sebuah iklan. Meski tertutup, namun ruangan itu sejuk karena ada sebuah penyejuk udara.
“Hmm, kita disuruh nunggu mau ngapain, ya?”
“Apa?”
Mai bergerak menuju Gio. Ia kemudian duduk di samping Gio.
“Yah, disuruh nunggu di sini itu, mau ngapain?”
Mai mengangkat bahu.
“Lagian, kamu juga sih, tadi malah nggak ngomong sama sekali! Mana ada bintang yang pemalu!”
“Ih! Justru itu! Nanti, gue yang pertama dan jadi ciri khas!”
“Yee, kalo nggak laku gimana?”
“Biarin! Wee!”
Mai menjulurkan lidahnya.
Lalu, diam. Menunggu. Hening. Gio duduk saja menatapi ruangan itu. Sementara Mai, terus-menerus bergerak. Terkadang, ia sedang menatap ke luar jendela. Terkadang, ia sedang duduk diam saja di kursi. Terkadang, ia mengelilingi ruangan itu, dan memeriksa. Dan, masih banyak lagi yang ia lakukan.
Di sebuah sudut ruangan, ia berhenti.
“Eh, Gio! Ada kamera di sini!”
Gio berbalik. Ia menatap ke arah yang sama. Mai sedang berpose ‘gila’ di sana. Seperti sedang melakukan adegan sebuah iklan.
“Mai! Kamu ngapain? Dasar gila!”
“Ah, biarin aja! Siapa tau, nanti aku bisa minta rekamannya. Kan lucu! Aku pengen ngeliat kalo aku lagi ‘gila’ gimana.”
“Huh! Dasar kampungan! Kaya’ nggak pernah masuk kamera aja!”
Mai terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba, pintu yang satu lagi dan letaknya di seberang ruangan berbunyi. Ada seseorang yang membukanya.
KLIK!
Mai mundur. Ia agak terkejut dengan suara pintu itu yang tiba-tiba. Gio berdiri. Menatap ke arah pintu. Menunggu. Was-was.
Hati Mai berdebar. Perlahan tapi pasti, ia menunggu pintu itu terbuka lebar dan memperlihatkan sosok di belakangnya.
Ada siapa? Kok misterius gini? Ada apa, ya? Kok jadi serem gini?

0 Responses to “#11. jahil”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: