Arsip untuk Januari, 2009

#19. a little bit

Mai sudah bersiap tidur. Piyamanya sudah ia kenakan. Manis. Sweet! Tak seberapa lama, ia menguap.
“Hoo-aaa…-hem…”
Mai menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya. Berkat pegas mahal yang berada di dalam ranjangnya, ia seperti melompat-lompat. Perlahan, ia memejamkan matanya.
Hihihi…Ternyata akhirnya jadian juga sama Gio. Padahal, kapan yah gue ngebet banget sama dia? Gue nggak inget!
Mai membuka matanya. Ia bangkit. Tangannya menggapai-gapai laci meja. Serentak, ia membuka. Ia keluarkan diary usang yang sudah lama menemaninya.
Mai membuka halaman terakhir yang masih kosong. Sebentar kemudian, ia sudah mulai mencurahkan isi hatinya pada teman setianya itu. Lanjutkan membaca ‘#19. a little bit’

#18. kesempatan terakhir

“Kamu yakin sama keputusan kamu ini ‘kan, Mai?”
Mai menatap Alexa di depannya.
“Yap. Saya cukup yakin sama keputusan ini, Mbak. Bener.”
“Tolong diinget, ya. Segala keputusan itu, punya konsekuensi sendiri-sendiri sesuai sama keputusan itu.”
“Ya, Mbak. Saya tahu itu.”
“Kamu nggak mau mikir lebih lama lagi? Ini mungkin kesempatan pertama, sekaligus kesempatan terakhir kamu, lho.”
Diam. Mai menatap Alexa yang kini berdiri.
“Saya kira, nggak perlu. Takutnya, nanti kalo kelamaan malah berubah lagi keputusannya.”
Alexa menghela napasnya.
“Kamu nggak nyesel?”
“Buat apa saya nyesel? Pastinya, ada kebaikan tersendiri dari keputusan saya itu, Mbak.”
“Wah, pastinya banyak sekali, Mai. Banyak sekali. Apalagi, setelah denger alesan kamu tadi, saya makin yakin, kalo kamu emang bener-bener seperti apa yang saya kira.”
“Ya. Makasih, Mbak udah ngertiin saya.”
Alexa tersenyum, walau hatinya tak karuan. Ia bingung harus bagaimana lagi terhadap Mai ini.
“Saya permisi.”
Mai bangkit. Ia menuju pintu keluar.
“Mai.” Lanjutkan membaca ‘#18. kesempatan terakhir’

#17. pergi

Mai sudah siap berangkat pagi itu. Ia masih mematut dirinya di depan cermin. Merapikan pakaian, dan juga menambah beberapa bedak di wajahnya. Tak lupa, parfum.

Diam. Mai menatap wajahnya. Cantik.

“Hmm, apa gue harus ngedatengin Mbak Alexa itu, ya?”

Diam. Mai memikirkan segalanya. Ia mempertimbangkan semuanya. Kehidupannya. Pelajarannya. Sekolahnya. Cita-citanya.

“Ini rezeki, Mai. Inget, tuh! Tapi, gue ‘kan nggak pernah pengen jadi bintang iklan. Yah, kalo kemaren sih, emang ngebet. Tapi, kok sekarang jadinya males-malesan, nih! Kenapa, ya? Apa perlu nanya Gio…?”

Mai mengingat-ingat lagi peristiwa kemarin. Ketika Gio berusaha memperbaiki motornya meski tetap tak bisa menyala. Ketika akhirnya ia memutuskan untuk menunggu. Ketika Gio menyuruhnya pergi, meski sebenarnya dia pun tahu, dalam hatinya Gio tak ingin agar dia pergi.

Masa sih, gue harus ninggalin itu semua? Terus, pengorbanan selama ini, buat apa?

Diam. Mai menghela napas panjang. Ia menghembuskan napas sepenuhnya.

“Gimana, ya?” Lanjutkan membaca ‘#17. pergi’

#16. surprise!

Sudah malam ketika Gio mengantarkan Mai ke rumahnya. Mereka menggunakan taksi. Motor Gio ternyata harus masuk ke bengkel, karena Gio ternyata tak bisa menemukan apa yang salah dengan motornya itu.
BLAK!
Gio menutupkan pintu taksi. Tak lama, taksi itu kemudian pergi. Mai menatapnya. Mencoba tetap tersenyum, meski berat untuk dilakukan. Gue tau, Gio! Gue sekarang udah tau!
“Maaf, ya. Jadinya begini. Aku bener-bener minta maaf banget.”
“Nggak apa-apa, Gio. Jangan ngerasa salah gitu, dong. Nyantei aja. Gue sendiri yang nggak ngikutin audisi, biasa-biasa aja tuh!”
Gio memaksakan dirinya tersenyum mendengar kata-kata itu. Sebenarnya, kata-kata itu mengiris hatinya. Tapi, ia tak bisa berbuat banyak.
“Sori, sekali lagi.”
Mai menatap sahabatnya itu. Ia tak pernah melihat Gio seperti malam itu. Sepertinya, Gio begitu menyesal dan kesal. Tapi, kalau boleh jujur, dalam hati terdalamnya pun, Mai terluka dan sangat menyesal. Ia ingin sekali marah, tapi ia tak boleh menunjukkannya di depan Gio. Nggak bisa! Tahan dulu!
Mai membuka pintu gerbang, dan segera menuju teras rumahnya. Gio mengekor di belakangnya.
“And so,…” Lanjutkan membaca ‘#16. surprise!’

#15. nggak jadi, tuh!

“Kemaren sampe jam berapa?”
Diam. Gio menatap Nos tak mengerti.
“Apanya?”
“Yee, katanya nganterin Mai audisi? Gimana, sih?”
“Ooh, itu. Sampe malem. Emang kenapa?”
“Yah, situ pastinya lupa kalo kemaren kita kerja kelompok, ‘kan?”
PLAK!
Gio memukul dahinya keras sekali.
“Wah, iya! Aku lupa!”
“Nah, makanya ‘kan!”
“Duh, sori banget, ya! Emang, ngapain aja?”
“Yah, kalo situ pikir nyusun makalah itu gampang sih, kita kemaren juga paling udah selesai bikin draft makalah.”
“Waduh, jadi nggak enak, nih!”
“Ya, udah seharusnya-lah!”
“Maaf banget, ya. Aku harus gimana nih, buat ngegantinya?”
Diam. Nos berpikir sebentar.
“Hmm, nanti aja deh. Ay pikir-pikir dulu.”
“Sip, deh!”
Gio kembali menyantap makanan mie ayamnya.
“Tumben banget situ telat dateng ke skul.” Lanjutkan membaca ‘#15. nggak jadi, tuh!’

#14. horee! sembuh!

Mai terengah-engah. Ia sedang berlari. Berlari. Berlari. Berulang kali, ia menengok ke belakangnya. Memastikan dirinya aman. Dikejar siapa?
Dada Mai naik-turun. Napasnya tak teratur. Mai berhenti di tengah jalan.
“Hhhaahh….Hhhaahh…Nggak bisa gini…Nggak boleh gini…”
Sebuah bayangan mendekat. Panjang. Besar. Menyeramkan.
Mai terdiam. Pikirannya terpaku. Hatinya berdebar. Ia menoleh.
Mai ingin sekali berteriak, tapi tenggorokannya seperti tercekat. Ia menatap sosok besar di depannya tanpa suara. Hatinya tambah berdebar kencang.
Sosok besar di depannya itu berkumis. Matanya tajam. Telinganya seperti bercaping ke atas. Tangannya bercakar. Kucing!
“Nggak bisa gini! Gue harus bisa! Ini cuma kucing!”
Sosok itu diam mengamati Mai yang mendekat. Sambil gemetar, Mai terus mendekat. Ia mencoba mengatasi rasa takutnya sendiri. Ini cuma kucing!
Mai mendekat, dan mendekat. Ia menjulurkan tangannya perlahan. Ini cuma kucing, Mai! Cuma kucing! Loe pasti bisa! Pasti bisa! Pegang aja! Dia nggak bakalan ngapa-ngapain, kok!
Mai terus mendekat. Akhirnya, tangannya berhasil menyentuh sosok itu. Lembut.
Gile! Lembut juga! Tau gini…
Mai menatap sosok di depannya. Sosok itu menatapnya. Kemudian, tak lama sosok itu mengecil dan mengecil. Menjadi hanya seukuran tungkai tangannya. Lucu. Manis. Imut.
Mai tersenyum. Ia menarik napas lega. Kucing itu kemudian diangkatnya. Dielus-elusnya. Dibelainya.
Hei! Ini cuma kucing! Lanjutkan membaca ‘#14. horee! sembuh!’

#13. the cure

Sudah agak sore ketika Gio menghentikan motornya di depan gerbang sebuah rumah yang sederhana. Lebih mirip sebuah rumah tua yang tak terurus, karena begitu banyak ilalang yang menghiasi jalan masuknya. Gio sendiri tak memasukkan motornya, dan membiarkannya tetap di depan gerbang.
Gio membuka helmnya. Ia turun. Mai di belakangnya.
“Ayo, Mai.”
“Emang, kita mau ke mana? Kok kayaknya angker gini, sih?”
Gio hanya tersenyum.
“Udah, deh. Kamu nyantei aja. Nanti juga, kamu tau sendiri.”
Gio mendahului berjalan ke dalam pekarangan rumah itu. Ia menerobos ilalang-ilalang seperti tak ada apa-apa. Mai mengikuti dengan perasaan was-was di belakangnya.
Gelap. Dingin. Angkuh. Rumah itu seakan-akan menyuruh setiap orang yang mendatanginya agar pergi menjauh dan jangan pernah sekalipun berani mendekatinya.
Gio seakan sudah biasa mendatangi rumah itu. Ia mendekati pintunya yang terbengkalai. Ia memegang pegangan pintunya, kemudian memutarnya sampai terbuka.
“Titi! Titi! Kamu ada di rumah, nggak?”
Gio berteriak memanggil nama seseorang. Titi? Siapa dia?
“Titi! Titi!”
Gio baru saja hendak memasuki rumah tua yang gelap itu, ketika Mai memegang tangannya. Menahannya agar tak masuk, dan menemaninya.
“Apaan sih, Mai? Kamu takut?”
Diam. Wajah Mai tak bisa berbohong.
Gio coba tersenyum.
KOMPRANG! Lanjutkan membaca ‘#13. the cure’


e-book terbaru dari Bersambung…


Burung Kertas dalam e-book

Hit Counter

  • 21,527 hits

RSS feeds

Januari 2009
M S S R K J S
« Des   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Creative Commons License


bloggerhood