#12. phobia

Perlahan, pintu terbuka lebar. Sebuah sosok berdiri di baliknya. Dalam sekejap saja, Mai mengenalinya. Sosok itu tersenyum ke arah Mai.
“Halo, Mai. Kamu dateng juga.”
“Wah! Mbak Alexa! Kok misterius banget! Ngeri, nih!”
Alexa tersenyum. Ia mendekat. Gio diam. Ia mencoba membawa dirinya.
“Hehe. Maaf, ya. Abisnya, kita pengen liat dulu gimana diri kamu. Gitu.”
“Yah, tapi jangan buka pintu kaya’ tadi, dong! Serem, ‘kan?”
Alexa tersenyum. Ia kemudian duduk di sebuah kursi dekat pintu.
“Duduk, Mai. Ada yang harus dibicarain sekarang ini.”
Mai mendekati kembali kursinya. Ia duduk di sana. Tanpa banyak bicara, Gio mengikutinya.
“Hmm, pastinya dia ini, cowok yang waktu itu kamu omongin sama saya, ya?”
Malu. Mai tak menjawab. Gio segera menolehnya dengan penuh tanda tanya.
“Yah, gitu deh.”
“Haha. Nggak apa-apa. Bagus…Bagus…”
Lalu diam. Hening. Alexa membaca beberapa kertas yang tadi dibawanya. Gio masih menatapi Mai yang menunduk.
“Kamu siap, Mai?”
Mai mendongak.
“Maksudnya?”
“Sebentar, ya.”
Alexa menengok ke arah pintu yang masih terbuka. Ia seperti memberi tanda pada orang di sana.
“Ya, suruh masuk aja!”
Diam. Mai tak mengerti. Tak lama, beberapa orang pun masuk ke dalam ruangan itu, dan duduk di samping Alexa. Pakaian mereka ada yang benar-benar rapi, dan ada juga yang modis, gaul, dan funky.
“Kenalin, Mai. Ini semua staf Tebas. Nanti, kita semua bakalan ngenilai audisi kamu siang ini. Sekaligus, nentuin berhak apa enggaknya kamu, buat maju ke tahap selanjutnya. Dan sekedar informasi, sekarang ini udah tahap dua.”
“Hah? Tahap satu-nya kapan, Mbak?”
“Tadi. Apa kamu nyadar, kalo tingkah ‘gila’ kamu itu, sebenernya kami liatin dari tadi? Dan, dipikir-pikir kami akhirnya sepakat buat ngasih kamu kesempatan buat maju ke tahapan audisi selanjutnya.”
“Emangnya, audisi sekarang apaan, Mbak?”
Belum sempat Alexa menjawab, seseorang masuk ruangan sambil membawa sebuah kandang. Di dalamnya, terdengar beberapa desisan. Sejenak, Mai menduga dia akan berhadapan dengan ular. Ular?
“Yah, jadi kita pengen tau interaksi kamu dengan binatang. Yah, itung-itung kamu lagi bikin iklan, dan binatang ini nantinya jadi partner kamu. Gitu aja. Soalnya, kami udah tau, kamu pasti bisa kalo partnernya sama-sama orang.”
“Wah, binatang apaan emangnya, Mbak?”
Alexa memberi tanda pada pembawa kandang. Ia kemudian mengeluarkan kunci untuk membuka gembok pintunya. Hati Mai semakin berdebar. Binatang apaan, ya? Ular?
“Ayo, Pus..Pus…”
Desisan tadi berganti dengan bunyi mengeong. Perlahan tapi pasti, seekor kucing Angora keluar dari dalam kandang. Dengan lembutnya, ia menggelayut di tangan pembawa kandang itu.
Mai diam. Ia tercekat. Beberapa kali, ia menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi dirinya. Gio di sebelahnya, menyadari perubahan ini. Sebenarnya, ia ingin mengatakan sesuatu, tapi….Gawat! Mai ‘kan takut sama kucing!
“Gimana? Dia lucu, ‘kan?”
Diam. Mai tak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat. Dirinya menegang.
“Oke. Sekarang, coba kamu ambil kucing itu, dan kita liat gimana interaksi kamu sama dia. Silakan.”
Pembawa kandang itu kemudian mendekati Mai. Ia memberikan kucing itu kepada Mai. Tanpa banyak kata, Mai memberanikan dirinya. Sambil berdiri, ia mengulurkan tangannya.
Waduh! Gimana, nih! Gue ‘kan takut kucing! Gimana? Gimana? Gimana?
Kucing Angora itu sudah berpindah tuan. Ia menggelayut manja di tangan Mai. Pembawa kandang tadi, mundur. Mai masih coba bertahan.
Waduh! Kucing, nih! Kucing, nih! Kucing, nih! Gue phobia sama kucing!
Mai memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan pikiran jeleknya. Alexa menunggu di kursinya. Berharap Mai bisa melakukan interaksi dengan baik. Beberapa koleganya menantikan hal yang sama. Gio menatapnya. Berdoa.
Ayo, Mai. Nyante aja. Tenang aja. Kamu pasti bisa, Mai. Kamu pasti bisa! Jangan takut! Ilangin phobia kamu! Itu cuma kucing! Cuma kucing!
Mai masih mencoba bertahan. Tapi, makin lama ia tak bisa bertahan juga. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia merasa lemas. Mukanya pucat.
BRUK!
“MAI!”

Gelap. Mai terjebak dalam gelap. Ia tak bisa meraba ataupun merasakan sedikitpun keadaan sekelilingnya. Ia merasa sendiri. Sepi.
Mai…
Mai diam. Ia mendengarkan dengan seksama. Ia merasa mengenali suara itu.
Mai…
Mai menoleh. Ia mencari-cari sumber suara itu. Seberkas titik sinar, mulai bercahaya. Mai menatapnya. Ia berjalan ke arahnya.
Mai…
Titik cahaya itu semakin besar. Cahayanya semakin menyilaukan. Mai berusaha melindungi matanya dari sengatan sinar itu.
Mai…
Mai merasa dirinya diguncang-guncangkan. Ia bergerak kesana-kemari. Seperti menaiki bus yang melewati beberapa tanggul dan bebatuan.
Mai…
Mai diam. Ia berhenti. Meresapi sekelilingnya. Tak lama, ia merasa dirinya ditarik. Keras. Jatuh.

“Mai! Mai!”
“Uhuk-uhuk!”
Mai membuka matanya. Merah. Seperti sudah lama tak pernah membuka mata. Dadanya naik-turun. Menyesuaikan napasnya yang agak sesak.
Gio mendudukkan Mai. Menyandarkan dirinya ke dinding. Membiarkan Mai beradaptasi dengan keadaan sekelilingnya. Di sekitarnya, Alexa dan beberapa koleganya menatap dengan khawatir. Kucing Angora yang dipegang Mai tadi, kini sudah berada di penjaga kandang lagi.
“Meong…”
Diam. Mai masih trauma. Ia menatap kosong ke arah depan. Gio berada di sana. Berusaha menenangkan dirinya.
“Mai…Tenang, Mai. Tenang. Rileks. Tarik napas…”
Gio mencontohkan menarik napas yang tenang. Mai mengikutinya. Agak lama, barulah Mai bisa menenangkan dirinya. Tapi, ia masih belum bisa berkata.
Gio berdiri. Ia menatap Alexa yang terlihat begitu khawatir.
“Dia memang punya phobia yang cukup parah sama kucing. Udah dari kecil, katanya sih.”
“Oh. Maaf, ya. Saya nggak tau hal itu. Kalo tau gitu, nggak bakalan deh, saya suruh interaksi sama binatang kucing.”
“Hehe. Nggak apa-apa. Tapi, kayaknya sekarang dia shock banget.”
Mai mendehem.
“Ehem!”
Gio menoleh. Mai mengulurkan tangannya. Gio membantunya berdiri.
“Mai, kamu udah nggak apa-apa?”
Mai mengangguk.
Seseorang datang dari arah pintu. Ia membawa segelas air. Ia menyerahkannya pada Mai yang langsung saja meminumnya sampai habis.
“Makasih.”
Alexa mengambil gelas itu dari tangan Mai. Ia masih menampakkan wajah khawatirnya.
“Sini, kamu duduk tenang dulu.”
Mai duduk di kursi. Ia menyandarkan dirinya, dan menenangkan dirinya.
“Alexa! Coba kemari sebentar!”
Alexa menoleh ke arah koleganya.
“Gio, tunggu sebentar, ya.”
Alexa segera berjalan ke arah kolega-koleganya. Ia kemudian terlibat percakapan serius. Mai menarik tangan Gio agar mendekat.
“Kayaknya, gue gagal, deh.”
“Apaan, sih? Nyantei aja! Jangan banyak pikiran dulu! Yang penting, kamu tenangin diri aja dulu! Kamu masih shock, ‘kan?”
“Tapi…”
“Mai! Diem!”
Gio menghardik Mai pelan. Setengah berbisik, agar tak terdengar oleh yang lain. Mai sendiri langsung menurut. Ia menunggu.
Tak lama, pembicaraan Alexa dan para koleganya selesai. Alexa tampak kurang senang dengan pembicaraan itu. Ia kemudian mendekati Gio dan Mai.
“Kenapa, Mbak?”
Alexa menghela napas panjang. Matanya menyiratkan kebingungan.
“Saya nggak tau harus gimana nyeritainnya.”
“Nggak apa-apa, Mbak. Cerita aja. Saya siap ngedengerinnya, kok!”
Alexa menatap Mai yang terduduk. Kemudian, pandangan beralih pada Gio.
“Yah, pada intinya mereka suka sama kamu. Kamu punya sesuatu yang nggak dipunyain sama orang laen. Mungkin, ini masih di awal aja, jadinya gitu. Tapi seenggaknya, menurut mereka itu, kamu bagus banget!”
“Tapi…”
Alexa menghela napas lagi.
“Yah, tapi mereka kecewa dengan phobia kamu terhadap kucing itu. Meski, itu sebenernya faktor nonteknis, tapi mereka agak kecewa. Karena sebenernya, mereka lagi bener-bener nyari orang buat bisa jadi bintang iklan. Dan, kebetulan lagi, iklannya itu nanti bakalan banyak interaksi sama kucing.”
Diam. Mai coba menghibur dirinya sendiri. Hatinya sebenarnya kecewa juga.
“Apa nggak ada iklan yang laennya, Mbak?”
Alexa mengangkat alisnya.
“Yah, harus ikut waiting list.”
Mai semakin diam. Ia tak mengerti. Coba aja, gue nggak takut sama kucing! Pastinya, nggak bakalan gini! Pastinya, gue udah dapet peran itu! Pastinya, gue udah dapet iklan itu!
“Apa nggak ada jalan laen?”
Alexa menatap Gio.
“Yah, kalo kalian mau nyoba lagi, mereka bakalan ngasih kesempatan sampe akhir minggu ini. Itu aja. Tapi, kalo mereka udah dapet sebelum akhir minggu, yah…”
Tanpa harus dilanjutkan, Mai dan Gio mengerti arah pembicaraannya.
“Akhir minggu, ya. Berarti, masih ada empat hari lagi, dong. Gimana caranya, ya?”
Gio mendudukkan dirinya di kursi. Mai menatapnya.
“Jadi?”
Gio diam. Ia masih berpikir. Berpikir. Dan berpikir. Mencari jalan keluar bagi sahabatnya ini. Agar Mai bisa meraih impiannya. Agar Mai bisa mendapatkan perannya itu. Lalu, ia seperti menemukan sesuatu.
Tik!
Gio menjentikkan jarinya. Ia tersenyum. Lalu, ia berdiri.
“Oke, Mbak. Akhir minggu, ‘kan?”
“Ya. Emang, kamu bisa?”
Gio tersenyum misterius.
“Yah, bisa diusahain.”
Mai diam. Ia menatap Gio. Waduh, pasti ada apa-apanya, nih! Pasti!
“Yah, kalo memang bisa sampe akhir minggu, atau sebelumnya, itu bakalan bagus banget! Usahain, ya! Biar saya ngomong lagi sama mereka.”
Gio mengangkat jempolnya. Alexa kembali mendatangi koleganya.
Mai menarik tangan Gio.
“Gio! Loe mau ngapain?”
“Ada, deh. Kamu tenang aja. Pasti berhasil, deh!”
“Hah? Emangnya mau ngapain?”
Gio hanya menjawab dengan senyuman yang penuh dengan misterius.

0 Responses to “#12. phobia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: