#13. the cure

Sudah agak sore ketika Gio menghentikan motornya di depan gerbang sebuah rumah yang sederhana. Lebih mirip sebuah rumah tua yang tak terurus, karena begitu banyak ilalang yang menghiasi jalan masuknya. Gio sendiri tak memasukkan motornya, dan membiarkannya tetap di depan gerbang.
Gio membuka helmnya. Ia turun. Mai di belakangnya.
“Ayo, Mai.”
“Emang, kita mau ke mana? Kok kayaknya angker gini, sih?”
Gio hanya tersenyum.
“Udah, deh. Kamu nyantei aja. Nanti juga, kamu tau sendiri.”
Gio mendahului berjalan ke dalam pekarangan rumah itu. Ia menerobos ilalang-ilalang seperti tak ada apa-apa. Mai mengikuti dengan perasaan was-was di belakangnya.
Gelap. Dingin. Angkuh. Rumah itu seakan-akan menyuruh setiap orang yang mendatanginya agar pergi menjauh dan jangan pernah sekalipun berani mendekatinya.
Gio seakan sudah biasa mendatangi rumah itu. Ia mendekati pintunya yang terbengkalai. Ia memegang pegangan pintunya, kemudian memutarnya sampai terbuka.
“Titi! Titi! Kamu ada di rumah, nggak?”
Gio berteriak memanggil nama seseorang. Titi? Siapa dia?
“Titi! Titi!”
Gio baru saja hendak memasuki rumah tua yang gelap itu, ketika Mai memegang tangannya. Menahannya agar tak masuk, dan menemaninya.
“Apaan sih, Mai? Kamu takut?”
Diam. Wajah Mai tak bisa berbohong.
Gio coba tersenyum.
KOMPRANG!
Tiba-tiba saja, sebuah bunyi perkakas logam mengejutkan Mai. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada Gio.
“Gio….”
SREK! SREK!
Seseorang seperti mendekati pintu. Mai sudah ketakutan setengah mati. Ia siap melangkah seribu meninggalkan tempat itu. Cengkeramannya semakin kuat.
SREK! SREK!
Gio tersenyum. Ia menatap ke arah dalam rumah tua yang gelap.
SREK! SREK!
Suara itu semakin mendekat. Suasana semakin mencekam. Meski matahari masih bersinar terang, tapi tetap saja Mai ketakutan setengah mati.
KRAK!
Pintu seperti dipegang seseorang – atau sesuatu, dari arah dalam. Gio melepasnya, dan membiarkannya terbuka. Mai menutup matanya karena ngeri. Duh! Kok bisa dua kali dalam sehari sih, nemuin hal serem gini?!
Perlahan, pintu membuka.
“Gio!”
“Titi! Hai! Apa kabar? Udah lama, ya!”
“Eh! Tumben banget Gio kemari lagi! Udah berapa lama, ya? Coba Titi itung dulu.”
“Ah! Nggak usah diitung, deh!”
Gio segera menyalami seseorang di depannya. Seorang gadis manis berpakaian ala hippie tersenyum dengan anggun di depannya.
Mai diam. Ia masih mencengkeram tangan Gio. Tapi, mendengar suara lembut dan ramah yang menyapa Gio, membuatnya penasaran juga. Perlahan, ia membuka matanya.
“Siapa, tuh?”
“Oh, ini. Dia Mai. Temenku.”
Gio menatap Mai yang mulai bisa membuka matanya. Ia menatap ke arah depannya – arah Titi, dengan hati-hati. Penuh seksama, ia melihat Titi dari arah kaki sampai kepalanya.
“Hai! Kenalin, Titi.”
Mai agak ragu menyambut salam tangan Titi. Meski ia mengakui, Titi cukup anggun dan chic juga memakai busana hippie.
“Ma-Ma-Mai.”
“Oh.”
Titi tersenyum manis. Mai masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia kemudian bersembunyi di belakang punggung Gio.
“Ayo masuk dulu! Pasti, Gio ada urusan sama Titi, ya? Ngobrolnya yang lengkap di dalem, ya!”
“Hehe. Kamu tau aja, Ti.”
“Yah, namanya juga efek samping dari kerjaan sampingan. Ayo masuk!”
Gio menerima tawaran Titi. Ia segera masuk. Mai mengikuti di belakangnya. Tangannya masih mencengkeram erat tangan Gio.

“Oh, jadi gitu, ya.”
“Iya, Ti. Menurut kamu gimana pemecahannya?”
“Hmm…”
Titi memegang dagunya. Ia berpikir. Alisnya mengangkat sebelah. Sekilas, ia memperhatikan Mai yang masih seperti anak ayam.
Gio menunggu. Ia berharap Titi bisa membantunya. Mai di belakangnya, sibuk menyembunyikan wajahnya dari Titi. Berharap, takkan dipelet atau disantet. Hiii…! Ngeri! Pandangan Mai berkeliling. Melihat-lihat kondisi ruangan.
Ternyata, nggak seseram yang dipikirin! Emang, kalo dari luar keliatannya gelap! Tapi, kalo udah masuk kaya’ masuk museum aja! Banyak banget barang-barang antik! Jangan-jangan, ada penunggunya lagi… Hiii….!!
“Mungkin….”
Titi kemudian berdiri. Ia mendekati rak bukunya. Ia mengeluarkan sebuah buku tua yang berdebu, dan membukanya. Ia mencari-cari halaman tertentu. Gio hanya diam memperhatikan. Mai sendiri, tak bisa banyak bicara.
“Nah! Ini dia!”
BLAK!
Titi menutup buku itu, dan menyimpannya kembali ke rak. Ia kemudian, bergerak ke arah dapur. Terdengar beberapa suara seperti sedang membuat sebuah minuman. Tak lama, ia kembali dengan membawa sebotol minuman.
“Nih. Dibawa. Diminum sekali teguk, harus langsung abis, ya!”
Gio mengambil botol itu. Ia mengamati isinya. Kok, mirip susu kental manis, ya?
“Apaan, nih? Emangnya, bisa ngobatin phobia ke kucing?”
Titi tersenyum.
“Itu namanya, Ramuan Pemberani. Dijamin bisa ngilangin rasa takut kita, dan ningkatin rasa PD kita! Pasti tok-cer, dah!”
“Udah ada yang pernah minum sebelumnya?”
“Hmm…Kalo nggak salah, udah ada. Tapi, Titi lupa sama siapa. Soalnya, udah lama banget!”
“Jaminannya?”
“Yah, nggak ada sih. Cuman, daripada terus-terusan phobia?”
“Yakin bisa berhasil?”
Titi mengacungkan kedua jempolnya.
“Kapan sih, Titi pernah nggak berhasil ngasih ramuan?”
“Yah, aku nggak tau deh. Kan baru sekarang aku kemari.”
Titi tersenyum. Giginya terbilang cukup rapi untuk seorang hippie nyentrik. Emangnya masih jaman, ya?
“Ya udah! Nanti, dia minum deh!”
Merasa khawatir, Mai mendekati telinga Gio. Ia membisikkan sesuatu.
“Itu buat gue?”
Gio mengangguk.
“Yakin, loe?”
Gio mengangguk lebih kencang.
“Tapi…”
“Tenang aja! Yang penting, coba dulu!”
Gio kembali menghadap Titi.
“Efek sampingnya?”
“Hmm…Apa, ya? Paling juga, ngerasa rada kenyang dan ngantuk sesudah minum.”
“Itu aja?”
“Ya!”
Diam. Gio berpikir. Berhasil nggak, ya? Kalo temen-temen sih, pada berhasil pake ramuan dia. Tapi,…ini Mai! Ini Mai!
“Berapa?”
“Maksudnya?”
“Yah, masa’ kamu ngasih gratis ramuan ini buat aku?”
Titi tersenyum misterius.
“Hehe. Jadi masalah harga, ya? Ya udah, Titi kasih gratis aja. Itung-itung promosi. Kan, ini pertama kalinya buat Gio! Nanti, baru ke sananya, Gio harus bayar, ya! Wajib!”
“Beneran, nih?”
“Wah, nantangin nih! Udah, deh. Daripada Titi berubah pikiran, mendingan Gio cepetan suruh Mai minum ramuan itu. Biar keliatan reaksinya!”
Diam. Gio berpikir agak lama. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Masa iya Titi ngasih gratisan? Pasti, ada apa-apanya, nih!
“Hmm, oke deh. Thanks, ya!”
“Sip! Sukses, oke!”
Mai tak percaya jika Gio begitu saja percaya dengan omongan Titi. Ia pun bertekad dalam hatinya. Gue nggak bakalan minum itu! Nggak bakalan! Mending gue nggak usah casting susulan, deh! Daripada minum ramuan nggak jelas itu! Nggak!

“Ayo dong, Mai. Minum aja. Nggak apa-apa, kok.”
“Nggak.”
“Ayolah, Mai. Please…Ini ‘kan buat kebaikan kamu juga.”
“Nggak.”
“Mai…”
“Duh Gio! Plis, deh! Sekali nggak, tetep nggak! Lagian, siapa sih si Titi itu! Meski cuco’ dengan style hippie-nya, gue tetep nggak bakalan minum ramuan nggak jelas itu! NGGAK!”
Diam. Gio berpikir. Ia mencoba bagaimana cara agar Mai mau meminumnya.
“Yah, gini deh. Titi – atau Raden Ayu Sri Handoko Pramaning Wongso Tri Astuti, sebenernya temenku dari dulu. Dia temen satu klub bowlingku. Jimbo juga kenal dia, kok.”
“Ah, masa?”
“Asli, Mai! Suer!”
“Sumpeh loe?”
“Sumpeh, deh!”
Gio sudah merasa agak senang dengan reaksi Mai. Tapi kemudian, Mai kembali murung.
“Nggak.”
“Yah, Mai! Kenapa? Takut, ya?”
Mai langsung menatap Gio dengan tajam. Ia paling tak senang jika Gio menggodanya dengan nada seperti yang terakhir.
“Takut, ya?”
Mai semakin marah. Emosinya membara.
“Ya udah! Siniin!”
Mai segera saja mengambil botol kecil di tangan Gio. Ia meminum sampai habis ramuan itu.
Glek! Glek! Glek!
“Ahh…”
Mai kemudian bersendawa. Gio tertawa mendengarnya.
“Haha! Gitu, dong! Itu baru Mai-ku!”
“Nih!”
Gio segera mengambil botol yang disodorkan Mai. Mai sendiri, kemudian mendekati bantalan sofa. Matanya terasa berat. Ia membaringkan dirinya di atas sofa.
“Tadi…efek sampingnya apaan…?”
“Kenyang plus ngantuk.”
“Oh…Huaa…Hemm…”
Mai menggeliat. Kepalanya sudah menempel di bantal sofa. Matanya sudah tak kuat lagi untuk tetap terbuka.
“Gio…”
Gio mendekat. Ia menunggu sambungan ucapan Mai. Tapi, yang ia dengar hanyalah dengkuran. Gio menatap botol di tangannya.
“Gile…Reaksinya cepet juga! Untung, Mai nggak nyuruh aku ikut minum juga! Bisa molor, dah!”
Gio berdiri. Ia menatap Mai yang tertidur pulas di sofa. Gio melepas jaketnya, dan menutupkannya pada Mai.
“Selamat tidur, Mai. Sampai ketemu besok. Moga-moga, kamu nggak phobia lagi sama kucing, ya!”
Gio tersenyum. Ia merasa puas. Kemudian, ia pun pulang setelah pamit pada pembantu rumah Mai. Kebetulan, kedua orangtua Mai sendiri, sedang tak ada di rumah. Jadinya, takkan ada yang mengganggu tidur Mai. Yah, at least buat beberapa jam ke depan!

Di rumah Ren…
Diam. Ren masih menunggu. Ia berkali-kali menatap ke arah pintu. Nos melihatnya.
“Nunggu apalagi, Ren?”
“Gio…”
Nos menghela napas. Ia kemudian meneruskan pekerjaannya lagi. Berusaha tak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Ren.
Ren menghela napasnya berkali-kali. Ia tak lepas menatap arlojinya. Gio, kamu di mana, sih? I hate you, Gio! I hate you!

0 Responses to “#13. the cure”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: