#14. horee! sembuh!

Mai terengah-engah. Ia sedang berlari. Berlari. Berlari. Berulang kali, ia menengok ke belakangnya. Memastikan dirinya aman. Dikejar siapa?
Dada Mai naik-turun. Napasnya tak teratur. Mai berhenti di tengah jalan.
“Hhhaahh….Hhhaahh…Nggak bisa gini…Nggak boleh gini…”
Sebuah bayangan mendekat. Panjang. Besar. Menyeramkan.
Mai terdiam. Pikirannya terpaku. Hatinya berdebar. Ia menoleh.
Mai ingin sekali berteriak, tapi tenggorokannya seperti tercekat. Ia menatap sosok besar di depannya tanpa suara. Hatinya tambah berdebar kencang.
Sosok besar di depannya itu berkumis. Matanya tajam. Telinganya seperti bercaping ke atas. Tangannya bercakar. Kucing!
“Nggak bisa gini! Gue harus bisa! Ini cuma kucing!”
Sosok itu diam mengamati Mai yang mendekat. Sambil gemetar, Mai terus mendekat. Ia mencoba mengatasi rasa takutnya sendiri. Ini cuma kucing!
Mai mendekat, dan mendekat. Ia menjulurkan tangannya perlahan. Ini cuma kucing, Mai! Cuma kucing! Loe pasti bisa! Pasti bisa! Pegang aja! Dia nggak bakalan ngapa-ngapain, kok!
Mai terus mendekat. Akhirnya, tangannya berhasil menyentuh sosok itu. Lembut.
Gile! Lembut juga! Tau gini…
Mai menatap sosok di depannya. Sosok itu menatapnya. Kemudian, tak lama sosok itu mengecil dan mengecil. Menjadi hanya seukuran tungkai tangannya. Lucu. Manis. Imut.
Mai tersenyum. Ia menarik napas lega. Kucing itu kemudian diangkatnya. Dielus-elusnya. Dibelainya.
Hei! Ini cuma kucing!

Gio masih memejamkan matanya. Tidurnya masih pulas pagi hari itu. Ia sedang bermimpi indah terbang ke awang-awang. Ponselnya kemudian berbunyi.
Tilulit! Tilulit!
Sedikit terusik, Gio bergerak. Ia menyadari jika ponselnya berbunyi.
Tilulit! Tilulit!
Tangannya bergerak. Menggapai-gapai lemari di samping ranjang. Mencari ponselnya.
Tilulit! Tilulit!
Akhirnya, Gio berhasil menemukan ponselnya. Tanpa membuka mata, ia mengangkat sambungan ponselnya.
“Halo?” sahut Gio parau.
“GIIIOOOO…!!! WAAAA….!!!”
Mata Gio langsung terbuka mendengar jeritan itu. Waduh! Kacau ini! Pasti nggak bakalan salah lagi!
“Met pagi, Mai.”
“Pagi juga, Gio! Loe udah bangun belum?”
Gio menatap jam dinding kamarnya dalam remang-remang.
“Ini ‘kan baru jam setengah lima pagi, Mai. Tumben banget loe bangun sepagi ini! Ngebangunin gue, lagi. Ada perkara apa, nih?”
“WAAA…!!”
Gio menjauhkan ponselnya dari kupingnya. Ia berusaha tetap berpikir positif.
“Mai, kamu kenapa? Kok teriak-teriak terus, sih?”
“Wah! Keren banget! Gue udah sembuh! Gue sembuh, Gio! Berkat loe! Gue sembuh dan nggak takut lagi sama kucing!”
Gio mengernyitkan dahinya. Ini mimpi atau….
“Udah sembuh gimana maksud kamu ini? Emangnya udah dicoba?”
“WAAA…!! Belum sih, tapi nggak tau kenapa gue ngerasa PeDe banget! Gue pastinya udah sembuh! Soalnya, nggak ada lagi di pikiran gue soal phobia sama kucing!”
“Lha?”
“Gini aja, deh! Loe ke sini aja sekarang! Trus, pagi ini juga kita cari kucing! Kita liat, kalo gue masih phobia sama kucing apa enggak! Ayo cepet!”
“Pagi ini?”
“YA! Emangnya tadi gue salah ngomong?”
“Emangnya nggak ke skul?”
“Yah, abisnya baru kita ke skul! Makanya, cepetan!”
“Iya, iya deh!”
Tit!
Gio memutus sambungan telepon. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera mengeluarkan motornya dan menuju rumah Mai.
Pagi masih buta, tapi seorang pemuda sudah melaju di sepinya jalanan mewujudkan mimpi-mimpinya dalam kenyataan.

BRRMM! BRRMM!!
Kemudian mati. Sebuah motor berhenti di depan gerbang rumah megah. Seorang gadis berpiyama sambil membawa jaket, segera keluar dari rumahnya dan membukakan pintu. Ia menjumpai temannya di sana.
“Alo Gio, cepet juga loe!”
“Yah, abisnya kamu bilang sekarang, mau nggak mau aku harus cepet dong!” jawab Gio sambil membuka helm.
“Ya udah, nggak usah pake lama. Mending, sekarang kita langsung cabut aja, yuk!”
“Ke mana?”
“Yah, cari kucing!”
“Hah?”

Taman kota terlihat sudah ramai pagi itu. Meski matahari belum sempurna menampakkan dirinya, tapi orang-orang sudah terlihat berolahraga atau sekedar berjalan kaki menikmati udara pagi di sana. Gio memarkirkan motornya di sebuah sudut. Mai bersamanya.
“Nih, sekarang kita di taman. Coba, ada kucing nggak?”
“Hmm, ya udah yuk! Kita cari sekarang aja!”
Mai menarik tangan Gio. Wajahnya tersenyum-senyum. Ia begitu bersemangat sekali pagi itu.
Beberapa langkah berjalan, Mai berhenti. Seekor kucing tengah terlelap tidur di kursi taman. Gio memperhatikannya.
“Gio! Tuh! Ada kucing!”
“Iya, terus?”
“Iya, itu!”
“Lha, katanya udah nggak phobia lagi? Buktiin, dong!”
Mai diam. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya berdebar kencang. Rasa PeDe yang menumpuk di hatinya sejak pagi tadi, hilang tiba-tiba. Ia melihat kucing di kursi di depannya. Nafasnya setengah-setengah.
“Ayo, coba. Atau, mau aku ambilin buat kamu?”
Mai mengangkat tangannya. Memberi tanda agar dia sendiri yang mencoba untuk mendekati kucing itu.
Perlahan, Mai mendekati kursi. Ia mendekati kucing manis yang masih terlelap itu. Mai duduk di kursi di sebelah kucing itu.
Mai menarik napas panjang. Oke, ini dia. Gue pasti bisa! Gue pasti bisa! GUE BISA!
Mai menjulurkan tangannya ke arah kucing itu. Gemetar. Masih takut. Gio menatapnya. Ia menahan napasnya. Ayo, Mai! Kamu pasti bisa!
Sesaat, Mai berhenti dan menarik tangannya kembali. Gio menarik napas kecewa.
“Ayo, Mai! Sabar aja! Pelan-pelan aja! Kamu pasti bisa, kok! Inget waktu turnamen, Mai! Inget!”
Mai sedikit terhibur dengan ucapan Gio. Ia menatap Gio, kemudian tersenyum. Pelan-pelan. Ya! Itu dia! Pelan-pelan saja! Tapi, pasti!
Mai menjulurkan tangannya lagi. Masih gemetar. Napasnya tertahan. Hatinya berdebar-debar. Ia menutup matanya. Semakin lama, tangannya semakin mendekati kucing tidur itu.
“YESS!!! BERHASIL!!!”
Mai terkejut dengan sorakan Gio itu. Ia menatap Gio yang langsung jingkrak-jingkrak.
“Mai! Liat tangan kamu! Liat tangan kamu! Ayo! Liat!”
Mai menoleh pada tangannya yang menyentuh kucing tidur itu. Masih diam. Tapi, itu salah satu bukti jika ramuan yang diberikan itu manjur.
“Sekarang, coba elus Mai. Elus!”
Mai menurut. Ia menggerakkan tangannya. Naik-turun. Mengelus-elus kucing manis itu. Ya! Ini dia! Gue bisa! Akhirnya bisa! Gue bisa ngelus juga! Ini beneran! Bukan mimpi lagi!
Kucing tidur itu bergerak. Menggeliat. Menyadari ada yang mengelus-elusnya. Ia membuka matanya. Menatap Mai.
“Mai, liat Mai! Dia bangun! Dia keenakan sama elusan kamu, Mai! Keenakan! Hahaha…!!”
Mai tersenyum. Ia semakin intens saja mengelus-elus kucing manis itu. Kini, kucing itu sudah bangun dan bergerak. Kemudian, entah dorongan dari mana Mai menggendong kucing itu ke pangkuannya. Gio menatap tak percaya.
Pagi belum sempurna. Tapi pagi itu sudah diawali dengan sempurna. Sebuah semangat baru untuk harapan baru.
Gio duduk di samping Mai. Ia tersenyum sendiri menatap sahabatnya itu sudah bisa mengatasi phobia-nya. Ia ikut senang. Tapi kemudian, senyumnya menghilang. Mai, jangan ambil audisi itu, ya. Aku nggak mau kamu berubah.
Mai menoleh. Ia menyadari perubahan raut muka Gio.
“Gio, ada apa? Kok mesem-mesem?”
Gio langsung saja memasang senyumnya lagi. Berbohong. Demi kebaikan Mai. Benarkah?
“Ah, enggak kok. Itu perasaan kamu aja!”
“Iih, curang!”
Gio menghindar dari cubitan Mai. Kucing di pangkuan Mai, kemudian bangkit. Ia melompat ke jalan. Pergi.
“Lho, Pus! Mau ke mana, Pus? Pus!”
Mai menatap kepergian kucing itu. Sesaat, ia coba mengejarnya. Tapi kemudian, ia mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk di kursi bersama Gio.
“Ada apa, sih? Sepertinya, selama ini ada yang kamu sembunyiin dari aku, deh.”
“Ah, masa’ iya? Emangnya apaan, ya?”
“Tuh ‘kan!”
Gio hanya tersenyum simpul. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Mai. Ia tak ingin Mai tahu, jika sebenarnya ia menyukainya sejak lama. Ia tak bisa mengatakan pada Mai, jika ia tak ingin Mai menjadi bintang iklan. Ia tak ingin Mai berubah.
Jangan paksa aku, Mai! Jangan!
Mai menatap perubahan air muka Gio. Lagi-lagi, gelagat negatif muncul dan Mai menangkapnya dengan jelas. Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Gio, ada apa? Loe nggak suka?
Gio menatap arlojinya.
“Udah siang. Mendingan kita cepetan pulang kalo masih pengen ke skul, tapi nggak telat.”
Gio bangkit. Mai menatapnya. Lama, ia memikirkan apa yang sedang Gio pikirkan. Apa Gio nggak suka kalo gue jadi bintang iklan? Jangan-jangan….
“Ayo, Mai. Kamu nunggu apa lagi?”
Seperti tersadar, Mai kemudian bangkit. Ia coba paksakan senyumnya.
Apa dia takut gue berubah?

0 Responses to “#14. horee! sembuh!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: