#15. nggak jadi, tuh!

“Kemaren sampe jam berapa?”
Diam. Gio menatap Nos tak mengerti.
“Apanya?”
“Yee, katanya nganterin Mai audisi? Gimana, sih?”
“Ooh, itu. Sampe malem. Emang kenapa?”
“Yah, situ pastinya lupa kalo kemaren kita kerja kelompok, ‘kan?”
PLAK!
Gio memukul dahinya keras sekali.
“Wah, iya! Aku lupa!”
“Nah, makanya ‘kan!”
“Duh, sori banget, ya! Emang, ngapain aja?”
“Yah, kalo situ pikir nyusun makalah itu gampang sih, kita kemaren juga paling udah selesai bikin draft makalah.”
“Waduh, jadi nggak enak, nih!”
“Ya, udah seharusnya-lah!”
“Maaf banget, ya. Aku harus gimana nih, buat ngegantinya?”
Diam. Nos berpikir sebentar.
“Hmm, nanti aja deh. Ay pikir-pikir dulu.”
“Sip, deh!”
Gio kembali menyantap makanan mie ayamnya.
“Tumben banget situ telat dateng ke skul.”
“Apaan?”
Gio menyimpan sendoknya. Ia menatap Nos di sampingnya.
“Tumben-tumbenan, situ telat dateng ke skul! Biasanya ‘kan, datengnya lebih pagi daripada ay.”
“Oh.”
Gio kembali menyendokkan makanannya. Mie ayam kantin sekolah memang yang terbaik. Sudah lama Gio berlangganan mie ayam itu.
“Abisnya, tadi pagi aku ada acara, sih.”
“Acara apaan? Kok pagi-pagi?”
Gio menyimpan sendoknya. Ia menatap sekeliling terlebih dahulu. Seakan-akan, memastikan tak ada yang akan mendengarnya.
“Kenapa, sih?”
“Yah, aku takut ada Ren di sini. ‘Kan nggak enak aja, kalo nyerita-nyerita soal Mai kalo kedengeran sama dia.”
“Lha, emangnya kenapa dengan Ren? Situ ‘kan nggak ada apa-apa sama dia? Kok jadi gini? Lagipula, nyerita soal Mai? Berarti, tadi pagi situ barengan Mai? Ngapain?”
Gio tersenyum.
“Hehe. Tadi pagi, aku nganterin Mai ke taman. Kita nyari kucing.”
“Buat apa? Mau dipelihara?”
“Bukan!”
Nos diam. Ia menatap Gio yang meminum minuman sodanya.
“Jadi gini, kemaren ‘kan, aku nganterin Mai audisi…”
“Ya, terus?”
“Nah, di audisi itu ternyata dia disuruh interaksi sama kucing. Padahal ‘kan, dia tuh phobia banget sama yang namanya binatang kucing.”
“Lantas? Kok tadi pagi justru nyari kucing?”
“Nah, kemaren itu sepulang dari audisi, aku langsung ngajakin dia buat ketemuan sama seorang temenku yang bisa hal-hal. Dalam tanda kutip, ya.”
“Hal-hal?”
“Yah, magis gitu, deh.”
“Oh. Terus?”
“Yah, aku minta ramuan supaya bisa nyembuhin phobia Mai itu.”
“Dapet?”
Diam. Gio menatap mie ayam-nya. Tinggal sedikit lagi, ia mendorongnya menjauh. Ia sudah selesai makan.
“Yah, tadi pagi Mai udah bisa ngelus-ngelus dan bahkan ngegendong kucing.”
“Wah, asik dong!”
“Ya’i.”
“Jadi, bisa audisi lagi, nih?”
Gio mengangguk.
Seorang gadis mendekat dari arah belakang. Ia tersenyum-senyum sendiri. Ia mendekati Gio.
“GIO!”
Gio terkejut karena gadis itu mengagetkannya dengan langsung menempel di pundaknya dan berteriak. Segera saja, Gio menoleh.
“Eh, Mai. Baru aja diomongin. Panjang umur kamu!”
“Hah? Ngomongin aku? Kok bisa? Ngomongin apaan, nih?”
Mai duduk di samping Gio. Ia meminum minuman soda Gio yang masih tersisa.
“Yah, tadi kita ngomongin soal phobia situ yang udah sembuh. Selamat, ya!”
“Makasih, Nos!”
Mai tersenyum lebar. Ia begitu senang.
“Hmm, daripada ganggu situ berdua, ay mendingan cabut aja, deh.”
“Lha, Nos! Mau ke mana? Kok gitu?”
“Ah, biasa aja kali. Duluan, ya! Gio, jangan lupa ya! Situ masih punya utang sama ay!”
“Sip, deh!”
Nos kemudian pergi. Ia benar-benar tak ingin menganggu Mai dan Gio yang sudah bisa dikatakan, berbaikan lagi.
“Emangnya, loe ngutang apaan?”
Gio menatap Mai.
“Yah, gitu deh. Harusnya ‘kan, kita ngerjain makalah bareng. Tapi, akunya sibuk nganterin kamu terus, jadinya dia ngerjain sendiri. Dan, aku ngutang deh.”
“Ooh, jadi gitu ya. Aku jadinya gangguin aktivitas kamu, dong!”
“Oh, enggak! Enggak! Enggak, kok! Itu sih, biasa! Biasa, itu!”
“Bener, nih?”
“Bener!”
“Ya udah kalo, gitu.”
Tanpa mereka tahu, seseorang sedang memperhatikan mereka dari sebuah sudut kantin. Matanya memicing-micing. Berusaha memastikan apa yang dilakukan. Telinganya waspada. Berharap bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan.
“Nanti siang, kita ke sana lagi, ya?”
“Ke sana, ke mana?”
“Yah, Studio yang kemaren lagi!”
“Hah? Nggak kecepetan, tuh? ‘Kan, baru kemaren!”
“Justru itu dia! Kalo kelamaan, gue takutnya udah ada yang dapet iklan itu! Gue ‘kan udah sembuh! Gue juga bisa interaksi sama kucing!”
“Oh, jadi gitu.”
“Anterin, ya! Kita ke sana lagi nanti…”
“Nganterin doang, nih?”
“Ya enggak-lah! Sambil nungguin juga, dong!”
“Hmm…! Maunya!”
Mai tersenyum. Entah kenapa, hatinya senang sekali. Gio menyentuh rambutnya.
Seseorang di sudut kantin merengut. Ia cemberut. Matanya panas. Hatinya terbakar. Kesal. Marah. Tak rela. Kemudian, ia pergi.

Panas terik menyengat. Sekolah sudah bubar. Gio dan Mai berada di tempat parkir. Gio menaiki motornya. Ia memberikan helm kecil pada Mai untuk segera dipakai.
Gio membuka kunci stangnya. Ia kemudian menyalakan.
DRRDD! DRRDD!
Diam. Gio heran dengan motornya yang tiba-tiba tak nyala. Ngadat! Wah! Kenapa lagi, nih! Kok tumben-tumbenan banget! Jangan mati, dong!
“Kenapa Gio?”
“Tau, nih. Tau-tau, motorku nggak nyala.”
“Businya kali!”
“Bentar, ya.”
Gio turun dari motornya. Ia mengecek motornya. Busi, karbu, gigi, semuanya masih bener. Nggak ada yang salah.
“Ketemu?”
Gio menggeleng.
“Nggak, tuh. Aneh banget! Kenapa, ya?”
Mai menatap arlojinya. Parkiran ramai oleh orang-orang lain yang juga mengambil motornya. Waduh, udah siang banget, nih! Sempet nggak, ya?
Gio berulang kali mengecek seluruh komponen motornya. Tak ada yang salah. Terus, kenapa nggak nyala? Ada apa, nih?
Gio menatap Mai. Ia merasa bersalah jika tak segera mengantar Mai. Ia tahu betapa Mai menginginkan casting itu. Betapa Mai ingin sekali menjadi bintang iklan. Tapi…
“Gini aja, deh Mai. Aku takut kelamaan. Mending, kamu naek taksi aja, gih. Bisa ‘kan?”
Mai diam. Berpikir. Gimana, ya? Nunggu, apa enggak? Gue juga pengennya sih, naek taksi aja. Tapi, masa ninggalin dia? ‘Kan, dia udah bela-belain nganterin gue kemaren dan nggak ngerjain tugas-tugasnya. Gimana ini?
“Nggak apa-apa, Gio. Gue tungguin loe aja. Gue nggak enak ninggalin loe sendiri gini. Apalagi, motor loe lagi nggak bisa nyala gini.”
“Tapi…”
“Udah, deh. Loe cari tau aja kenapa motor loe bisa salah, dan gue tungguin di depan, ya…Di deket pos satpam parkiran. Motor loe yang bener, oke?”
Mai tersenyum. Gio coba tersenyum. Ia tahu, jika Mai sebenarnya ingin cepat sampai di Studio 31. Tapi, harus gimana lagi?
“Kamu yakin, Mai?”
Mai mengangguk. Nggak! Gue nggak yakin! Gue pengennya sih, ninggalin loe aje.. Tapi…Kemudian, ia pergi.
Gio menatap kepergian Mai tanpa kata. Ia merasa sangat bersalah. Ia memaki-maki dirinya sendiri dalam hati. Sialan ni motor! Kenapa lagi, sih pas saat-saat kaya’ gini justru ngadat? Rese banget! Dasar motor sialan!
Gio kesal juga. Ia tak menduga jika kemudian tak ada seorang pun yang membantunya dengan kasus ngadat motornya. Yah, sekedar menanyakan juga nggak apa-apa! Pada kemana, nih?
Parkiran mulai sepi. Kendaraan yang diparkir pun mulai berkurang. Gio masih berkutat dengan motornya. Ia membongkar kotak mesinnya, dan mencari apa yang salah. Begitu juga dengan tangki bensinnya. Matahari sudah mulai condong ke arah Barat.
“Huuff….”
Gio berhenti. Pakaian seragamnya sudah kotor oleh oli motor. Ia tampak lelah. Ia lalu berdiri. Berjalan. Menuju pos satpam parkiran. Putus asa.
Duh, harus ngomong apa, ya sama Mai? Gimana, nih? Padahal, udah bela-belain minum ramuan biar sembuh dan bisa jadi audisi, malah jadi gini! Gimana, sih?
Gio berhenti di depan pos satpam parkiran. Ia menghela napas panjang. Ia melihat Mai masih di sana. Ia duduk sendiri di kursi luar pos. Gio mendekatinya.
“Mai…”
Kepala Mai menunduk.
Gio kemudian duduk di samping Mai. Ia merasa sangat bersalah.
“Mai…Sori banget, ya. Gara-gara motorku ngadat, jadinya kamu nggak jadi ke Studio. Maaf banget, ya. Aku juga nggak tau motorku kenapa, lagi! Rese banget! Mana nggak ada yang bantuin!”
Mai diam tak menjawab. Ia masih tetap menunduk.
“Mai…Aku minta maaf, ya. Mungkin, gara-gara aku, kamu jadi nggak bisa ngambil job itu. Maaf, ya…”
Mai tetap tak menjawab. Gio kemudian merasa aneh juga. Ia menatap Mai yang menunduk aneh. Gio mengelap tangannya. Ia kemudian meraba pundak Mai.
“Mai…”
Kepala Mai kemudian menengadah lemah. Tubuhnya lemas. Matanya terpejam. Mulutnya terbuka. Mengeluarkan suara aneh. Seperti dengkuran yang mendesis.
Gio terkejut. Ia tak menyangka jika Mai tertidur. Gile! Bisa-bisanya molor di waktu kaya’ gini! Emang aneh banget ni cewek satu ini!
Gio coba menahan tawa. Ia cekikikan. Ia benar-benar tak bisa menduga jika Mai justru tertidur sambil menungguinya. Satu sisi, ia bersyukur. Wah, baek juga ni cewek. Mau-maunya nungguin aku. Padahal….
Gio menyeka keringat di dahi Mai. Basah. Angin mendesir. Menggerakkan gelang bebatuan di tangan Mai. Begitu juga lonceng kecilnya.
Ting…
Gio tersenyum. Ia menatap gelang itu. Ternyata, dia masih menyimpannya. Ternyata, dia masih memakainya.
“Mai, sebenernya aku rada seneng juga motorku ngadat. Jadinya ‘kan, kamu nggak usah buru-buru ikutan audisi iklan itu. Jujur ya, aku nggak mau kamu kepilih, Mai. Aku takut kamu berubah. Aku sayang kamu!
“Ah, tapi udahlah. Percuma. Untung sekarang kamu tidur. Jadinya, kamu nggak denger ‘kan apa yang sebenernya aku bilang barusan?”
Gio kemudian bangkit. Ia masuk ke dalam pos satpam untuk menelepon bengkel langganannya agar segera menjemput motornya agar diservis.
Mai bergerak. Matanya masih terpejam, tapi telinganya bekerja 100%! Ia mendengar apa yang Gio katakan barusan. Apa? Jadi gitu, ya? Kok nggak berani ngomong langsung? Kenapa? Kenapa?

0 Responses to “#15. nggak jadi, tuh!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: