#16. surprise!

Sudah malam ketika Gio mengantarkan Mai ke rumahnya. Mereka menggunakan taksi. Motor Gio ternyata harus masuk ke bengkel, karena Gio ternyata tak bisa menemukan apa yang salah dengan motornya itu.
BLAK!
Gio menutupkan pintu taksi. Tak lama, taksi itu kemudian pergi. Mai menatapnya. Mencoba tetap tersenyum, meski berat untuk dilakukan. Gue tau, Gio! Gue sekarang udah tau!
“Maaf, ya. Jadinya begini. Aku bener-bener minta maaf banget.”
“Nggak apa-apa, Gio. Jangan ngerasa salah gitu, dong. Nyantei aja. Gue sendiri yang nggak ngikutin audisi, biasa-biasa aja tuh!”
Gio memaksakan dirinya tersenyum mendengar kata-kata itu. Sebenarnya, kata-kata itu mengiris hatinya. Tapi, ia tak bisa berbuat banyak.
“Sori, sekali lagi.”
Mai menatap sahabatnya itu. Ia tak pernah melihat Gio seperti malam itu. Sepertinya, Gio begitu menyesal dan kesal. Tapi, kalau boleh jujur, dalam hati terdalamnya pun, Mai terluka dan sangat menyesal. Ia ingin sekali marah, tapi ia tak boleh menunjukkannya di depan Gio. Nggak bisa! Tahan dulu!
Mai membuka pintu gerbang, dan segera menuju teras rumahnya. Gio mengekor di belakangnya.
“And so,…”
Mai menoleh, dan menatap penuh tanya.
“Sepertinya, sampai sini dulu petualangan kita hari ini.”
“Haha, konyol kamu! Emang, kita udah bertualang ke mana aja hari ini?”
“Lha, aku mungkin nggak bertualang. Tapi kamu? Kamu ‘kan tadi pules tidur di pos satpam? Nah, udah ke mana aja tadi siang itu?”
“Ih, enak aja! Dasar asbun, loe!”
“Hehe.”
Mai tersenyum kecil mendengarnya. Ia memperhatikan Gio di depannya. Ayo! Ngomong, yang tadi siang dong! Ngomong!
“Udah malem.”
“Yah, mendingan aku cepetan pulang, deh. Capek banget, nih! Yang penting, kamu udah nyampe rumah.”
“Ya, makasih ya.”
“Makasih buat apa?”
“Yah, udah usaha buat bisa nganterin gue, meski akhirnya cuma bisa nganterin ke rumah dan nggak ke mana-mana.”
“Lha, harusnya aku yang terima kasih sama kamu. Soalnya, kamu masih mau nungguin aku. Padahal, kamu bisa aja pergi ninggalin aku begitu aja.”
Diam. Mai coba meresapi perkataan Gio. Tapi, mana kata-kata tadi siang itu? Waktu gue tidur itu? Mana?!
“Impas kalo gitu.”
“Sip.”
Diam. Gio tak juga pulang. Ia masih menunggu. Apa? Mai sendiri masih berdiam di depannya, dan tak juga masuk ke rumah. Ngapain? Masih ngarep?
“Oke. Nggak usah pake lama, deh. Daaag..”
Gio undur diri. Ia pergi dari rumah Mai.
“Daaag, juga. Hati-hati di jalan, ya.”
“Salam buat Mama dan Papa kamu, ya.”
Mai tersenyum.
Gio keluar dari halaman rumah Mai. Dengan sigap, ia membuka pintu gerbang dan segera menghilang dalam gelapnya malam. Mai diam. Ia masih menunggu. Memperhatikan. Kenapa Gio nggak juga ngomong soal kata-katanya tadi siang? Apa dia takut?
Baru setelah yakin Gio sudah pergi, ia kemudian masuk ke dalam rumah.

KRRIING! KRRIING!
Mai keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi. Ia mengangkat telepon di kamarnya. Ternyata, kedua orangtuanya sedang keluar rumah menghadiri sebuah undangan pernikahan. Jadinya, ia sendiri bersama seorang pembantu yang sudah lama ikut dengan keluarganya malam ini.
“Halo?”
“Selamat malam. Bisa bicara dengan Mai?”
Mai diam sejenak. Ia berusaha mengenali suara itu.
“Ya, malam. Saya sendiri yang bicara di sini.”
“Mai?”
“Ya, itu saya. Ini siapa, ya?”
“Mai, ini saya! Alexa!”
Mai diam. Ia merasa malu dan tak ingin bicara dengannya sekarang ini. Apalagi, mengingat kasus tempo hari.
“Oh, ada apa, Mbak?”
“Sedang apa, Mai?”
“Yah, saya baru pulang, Mbak. Baru nyampe. Memangnya kenapa?”
“Oh. Nggak apa-apa. Saya cuma pengen tau aja.”
Diam. Mai menangkap ada yang berbeda dengan nada bicara Alexa malam itu. Jangan-jangan, mau ngabarin kalo audisi itu udah ada dapet yang laen!
“Kenapa, Mbak? Ada yang mau disampein sama saya?”
Diam. Alexa belum menjawab. Seperti terdengar sebuah gumaman.
“Halo? Mbak Alexa?”
“Ya! Saya masih di sini. Tapi, bagaimana ngomongnya, ya? Saya juga bingung, nih!”
Tanpa harus dilanjutkan, Mai coba menerka apa yang akan terjadi nantinya. Huh! Pasti udah ada yang dapet, ‘kan! Tuh, coba aja tadi motornya Gio nggak tiba-tiba mogok! Pastinya, gue yang dapet tuh!
“Ngomong apa, Mbak? Masalah audisi iklan yang kemaren itu, ya?”
“Ya..Begitulah. Saya jadi bingung, nih.”
“Yah, nggak apa-apa, Mbak. Saya ikhlas kok, kalo audisi itu nggak saya dapetin. Mungkin bukan rezeki saya, Mbak.”
“HAH?”
Mai terkejut juga mendengar suara Alexa yang tiba-tiba itu. Benar-benar di luar dugaannya. Kok, malah ngomong gitu?
“Sebentar Mai, saya mau tanya, nih. Jangan-jangan, kamu pikir kamu nggak dapet audisi itu, ya?”
Diam. Mai coba menenangkan pikirannya sendiri. Lho, emangnya dapet?
“Ya.”
Sontak saja, Alexa tertawa. Begitu berisik. Begitu lebar. Mai menjauhkan gagang telepon dari telinganya.
“Hahahahahaha….!!”
Agak lama, barulah reda.
“Mbak, kok ketawa sih?”
Alexa belum menjawab juga. Ia sepertinya masih mencoba untuk mengendalikan tawa dan juga nafasnya. Mai mesem-mesem.
“Halo, Mbak Alexa? Masih di sana, nggak?”
“Ya, ya. Saya masih di sini. Aduh! Maaf, ya! Saya jadi ketawa sendiri begini. Maksudnya sih, nggak mau ketawa. Tapi…”
Alexa tak melanjutkan ucapannya. Suara yang kemudian terdengar lebih gaduh, dan mirip ringkikan.
“Mbak Alexa?”
“Ya! Ya. Saya cuma mau ngabarin ke kamu, sebenernya kamu dapet audisi itu, Mai. Yah, setelah lobi yang panjang dan melelahkan, ternyata mereka akhirnya mau nerima kamu jadi bintang iklan itu.”
“Lho, kok bisa gitu? Gimana ceritanya, Mbak? Saya ‘kan belum ngasitau kalo phobia saya udah sembuh.”
“Hihihi. Soalnya ada yang lucu, nih Mai. Tadi sore, ceritanya ada lagi yang dateng buat audisi itu. Dan, dia sukses berat!”
Diam. Mai agak down juga mendengarnya.
“Tapi…Ada tapi-nya, ya Mai.”
“Apaan, Mbak?”
“Gini, ternyata dia takut sama binatang laen! Aneh banget, ‘kan? Sama kucing nggak takut, tapi sama binatang laen dia takut! Kebalikan dari kamu!”
“Lha, bukannya bagus itu, Mbak?”
“Yah, mungkin buat iklan ini, itu bagus. Tapi, klien saya itu, maunya bintang iklan yang bakal jadi nantinya, nggak takut sama binatang sama sekali. Kalo kaya’ yang tadi sore, yah parah banget, itu!”
Mai diam. Ia coba menahan agar tak tertawa. Ia senang bukan main. Gile! Gue mimpi apaan, nih? Ketiban durian jatuh, ya?
“Hahahaha!”
Mai mendengar Alexa tertawa. Kali ini, ia tak menjauhkan gagang teleponnya lagi. Karena ia juga merasa sama senangnya.
“Oh, ya. Katanya kamu mau usaha biar bisa nyembuhin phobia kamu. Emang, udah sampe mana, nih usahanya?”
“Wah, saya udah sembuh, Mbak!”
“Yang bener kamu? Jangan bercanda, ah!”
“Beneran, Mbak! Saya udah sembuh! Kemaren itu, sepulang dari audisi yang bikin capek banget, saya langsung diajak Gio – temen cowok saya buat nyembuhin.”
“Diajak ke mana?”
“Temennya gitu, deh. Dia ngasih saya ramuan yang katanya bisa nyembuhin phobia saya.”
“Wah, boleh juga, tuh! Ramuan apa?”
“Katanya sih, Ramuan Pemberani.”
“Hebat juga, ya! Terus, manjur?”
“Yah, manjur Mbak! Manjur banget! Malah, sekarang saya udah nggak takut lagi sama kucing! Saya udah ngegendong kucing berapa kali hari ini, Mbak!”
“Hehe. Baguslah. Kalo gitu, kita udah siap buat ngambil gambar. Kamu saya tunggu di kantor, ya!”
“Kapan, Mbak?”
“Besok!”
“Besok? Nggak kecepetan tuh, Mbak?”
“Ya…Di dunia entertainment kaya’ gini, nggak ada yang namanya kecepetan. Yang ada jangan sampai kita terlambat. Emangnya mau nggak berhasil?”
“Ya…Enggak pengen sih, Mbak.”
“Ya! Makanya besok saya tunggu, ya!”

Gio langsung menjatuhkan dirinya begitu saja di atas ranjangnya. Ia begitu lelah hari ini. Belum lagi, masalah motornya yang mogok tiba-tiba. Ditambah, ia tak bisa mengantar Mai untuk audisi. Ia begitu menyesal.
Dasar! Coba tadi motor nggak ngadat!
Gio belum mengganti bajunya. Pakaiannya masih yang tadi siang, dan berbalut kotornya oli. Ia pun belum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Padahal, biasanya ia paling anti jika belum bersih sudah naik ranjang!
Gio memejamkan matanya. Kamarnya ia kunci. Sengaja. Ia tak ingin diganggu oleh siapa pun malam ini. Ia sedang ingin sendiri.
Tilulit! Tilulit!
Gio diam. Ia sedang malas menjawab teleponnya. Huh! Siapa, sih?
Tilulit! Tilulit!
Masih. Gio masih mendiamkan ponselnya berbunyi. Ia masih enggan. Siapa, ya?
Tilulit! Tilulit!
Gio bergerak. Ia meraba tasnya. Ia membuka ritsleting depan, dan mengeluarkan ponselnya yang menyala dan bergetar. Ia menatap layarnya.
Mai. Mai? Kok nelepon? Kenapa ini? Mau mencak-mencak, atau mau negor? Ah, kok negative thinking duluan, sih?
“Halo?”
“Gio, gue nggak mau lama-lama. Gue tau loe lagi capek banget. Jadinya, pertama-tama gue minta maaf dulu ya, kalo ganggu waktu istirahat loe.”
“Ya udah. Nggak apa-apa. Mau ngomong apa?”
“Hei! Barusan aja Mbak Alexa nelepon gue, katanya gue dapet job audisi itu. Padahal, gue nggak dateng, ‘kan? Tapi, dia tadi kasih kabar kalo gue yang dapetin!”
“Hah? Kok bisa?”
Mata Gio membuka. Ia segar kembali.
“Ah, cerita lengkapnya besok aja, deh. Mendingan, loe istirahat aja dulu. Jangan lupa mandi, ya!”
“Ta-tapi, Mai…”
“Yuk! Bye! See you, besok!”
Tit!
Gio menatap ponselnya dengan terheran-heran. Ia mencoba memikirkan kembali perkataan Mai. Apa? Udah dapet jobnya? Kok bisa? Padahal ‘kan, kemaren audisinya gagal! Apa ada konspirasi? Jangan-jangan, KKN lagi!
Gio bergidik.
Hii…! Kok bisa-bisanya, ya? Tapi…
Gio mendudukkan dirinya. Ia masih memegang ponselnya. Kemudian, ia menelepon seseorang.
Tuuuut. Tuuuut.
Nada sambungnya memang lama. Lama banget!
Tuuuut. Tuuuut.
“Halo? Sapa, nih?”
“Titi? Ini aku, Gio!”
“Oh, Gio! Ada apa? Tumben nelepon malem-malem! Gimana ramuan yang kemaren Titi kasih? Tok-cer?”
“Wah! Tok-cer banget! Kok bisa, sih? Emang, dalemannya apaan?”
Titi cekikikan. Sesaat, suaranya lebih mirip suara tertawa para hantu di film-film lokal jaman dulu.
“Yah, nggak banyak. Itu semua, rahasia besar!”
“Yah, ‘kan. Gitu, deh. Kasitau, dong! Apa kamu kasih esensi nasib baik juga, ya?”
“Lho, kok bisa mikir gitu? Emangnya kenapa?”
“Yah, hari ini Mai ternyata bisa nyembuhin phobianya. Dan, harusnya hari ini kita langsung audisi tambahan. Tapi, nggak jadi soalnya motorku ngadat. Eh, tapi kok tadi Mai justru nelepon kalo dia udah ditelepon sama agensinya dan dapetin job itu.”
Diam. Titi memperhatikan.
“Halo? Titi?”
“Yah! Titi masih di sini. Santei aja!”
“Jadi?”
“Hmm…Gimana, ya? Titi sebenernya nggak mau ngungkapin. Soalnya, takutnya nanti ngejatohin pamor Titi, dong. Apalagi, kalo sampe bocor ke orang banyak.”
“Ya-elah, cuma sama temen deket sendiri ini, masa’ nggak percaya, sih?”
“Hmm….Gimana, ya?”
Diam. Gio berharap Titi mau mengungkapkan rahasianya.
“Yah, sebagian besar ramuan yang kemaren itu sebenernya cuma susu kental manis cokelat. Itu aja.”
“Susu cokelat?”
“Yah, ditambah beberapa obat tidur, dan ekstrak makanan. Plus, satu jampi-jampi ajaib, pastinya! Nah, kalo yang terakhir tadi itu, top secret banget! Nggak boleh ada yang tau!”
“Ah, yang bener, Ti!”
“Bener! Kapan sih, Titi boong sama Gio?”
“Ta-tapi…”
Gio tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia memikirkan kembali peristiwa kemarin malam. Saat Mai sudah meminum ramuannya.
“Hei, ada benernya juga, Ti! Makasih ya, sekali lagi!”
“That’s what friends are for! Ya, nggak?”
“Sip! Makasih banyak, ya Ti!”
“Oke!”

0 Responses to “#16. surprise!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: