#17. pergi

Mai sudah siap berangkat pagi itu. Ia masih mematut dirinya di depan cermin. Merapikan pakaian, dan juga menambah beberapa bedak di wajahnya. Tak lupa, parfum.

Diam. Mai menatap wajahnya. Cantik.

“Hmm, apa gue harus ngedatengin Mbak Alexa itu, ya?”

Diam. Mai memikirkan segalanya. Ia mempertimbangkan semuanya. Kehidupannya. Pelajarannya. Sekolahnya. Cita-citanya.

“Ini rezeki, Mai. Inget, tuh! Tapi, gue ‘kan nggak pernah pengen jadi bintang iklan. Yah, kalo kemaren sih, emang ngebet. Tapi, kok sekarang jadinya males-malesan, nih! Kenapa, ya? Apa perlu nanya Gio…?”

Mai mengingat-ingat lagi peristiwa kemarin. Ketika Gio berusaha memperbaiki motornya meski tetap tak bisa menyala. Ketika akhirnya ia memutuskan untuk menunggu. Ketika Gio menyuruhnya pergi, meski sebenarnya dia pun tahu, dalam hatinya Gio tak ingin agar dia pergi.

Masa sih, gue harus ninggalin itu semua? Terus, pengorbanan selama ini, buat apa?

Diam. Mai menghela napas panjang. Ia menghembuskan napas sepenuhnya.

“Gimana, ya?”

Mai menatap jam dinding. Ia melihat beberapa pigura foto di meja kamarnya. Semuanya foto bersama keluarganya. Dan, satu foto yang berbeda. Fotonya bersama seseorang yang paling ia sayang tiga tahun terakhir ini.

“Gio…”

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Mai menatap layarnya. Mencari tahu siapa yang meneleponnya sepagi ini. Private number.

Sekali pencet, Mai menolak panggilan itu. Selang beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi lagi. Masih sama. Private number.

Mai menolaknya lagi. Mai hendak mematikan ponselnya, tapi kemudian ponselnya berbunyi lagi. Private number.

Gemas, Mai mengangkatnya. Ia paling sebal jika ada yang meneleponnya dengan menyembunyikan nomor pengirimnya.

“Halo? Siapa, nih?”

Diam. Tak ada jawaban. Mai menunggu.

“Halo? Nggak bisa jawab, ya?”

Diam. Masih belum ada jawaban. Mai baru akan memutus sambungan, ketika kemudian terdengar jawaban. Berat. Serak. Mai tak bisa menebak jenis kelaminnya.

“Jangan…pernah…ganggu…”

“Maksud loe?”

“Pikirin…aja…idup…loe…sendiri…”

Diam. Mai mendengarkan dengan seksama. Meski, nafsunya sudah menggelegak kesal. Emosinya memuncak.

“Jauhin…Gio…”

Mai tak percaya dengan apa yang ia dengar. Terutama, kata terakhir yang diucapkan penelepon misterius itu. Gio! Gio?

Lalu, KLIK! Sambungan telepon terputus sepihak. Mai masih memegang ponselnya.

“Siapa sih, pagi gini udah iseng? Apa hubungannya sama Gio?”

Jangan-jangan…

Sepulang sekolah, di kantin…

“Yah, jadi gitu ceritanya.”

Mai meminum sodanya. Gio, Ve, dan Nos juga ada di sana. Mereka memperhatikan cerita Mai dengan seksama.

“Ah, kok bisa segampang itu? Gue nggak percaya, ah!”

“Iya! Nggak mungkin segampang itu! Pastinya si Alexa itu, mau ada apa-apa sama situ! Pasti!”

Mai menatap kedua temannya. Kemudian, ia menatap Gio.

“Eh, jangan gitu dong. Kenapa sih, kita nggak bisa ngasih selamat? Bukannya bagus? Meski, emang sih, harusnya dipertanyakan juga kok bisa segampang itu? Atau, jangan-jangan emang seperti itu ya, kalo idup di dunia hiburan? Just like living in the fast lane! Easy come, easy go.”

“Yah, gue juga nggak tau deh. Yang pasti, kemaren Mbak Alexa nelepon gue dan ngabarin seperti itu.”

“Tapi, aneh juga ya, ada yang nggak takut sama kucing, tapi takut banget sama binatang laennya. Ay bener-bener nggak nyangka, tuh! Pastinya, kasus phobia yang langka banget!”

Nos membenarkan letak kacamatanya.

“Apaan sih kamu ini, Nos! Apa aja, dibuat serius banget!”

“Yee, biarin dong! Suka-suka ay, aja!”

Ribut. Nos dan Gio mulai saling melempar berondong jagung. Mai tersenyum melihatnya. Ve perlahan mendekat.

“Diluar segala kecurigaan dan ketidakpercayaan gue terhadap seseorang yang gue kagumin, gue harus ngakuin satu hal sama loe.”

“Apaan, tuh?”

“Nasib loe ternyata sama baiknya kaya’ gue.”

“Hah? Kok sama baeknya? Gimana, tuh?”

“Yah, abisnya kalo loe lebih baek, berarti gue rugi dong! Soalnya, ada yang lebih baek daripada gue! Padahal ‘kan, cuma beda lahan aja!”

“Hahaha!”

Mai tertawa lepas. Ve sama halnya. Mereka berempat bersenang-senang siang itu. Apalagi, kantin tetap menjadi tempat yang pas untuk nongkrong bersama-sama. Apalagi, bersama teman-teman istimewa di hati.

Selintas, Mai teringat kejadian tadi pagi. Tawanya hilang seketika. Ia menjadi diam.

“Jadi, kapan harus ngedatenginnya, Mai?”

Mai menyimpan minuman sodanya. Ia menatap Gio di depannya.

“Hari ini. Tapi…”

“Kenapa?”

“Hmm. Gimana, ya?”

“Kenapa lagi? Bukannya situ pengen banget?”

Mai diam. Ia menatap teman-temannya satu-persatu.

“Kenapa, Mai?”

Diam. Mai coba merasakan hatinya dulu.

“Menurut loe, gimana Gio?”

Gio mengangkat alisnya.

“Lho, kok malah nanya ke aku? Apa hubungannya? Ini ‘kan hidup kamu sendiri. Harusnya, kamu putusin sendiri. Aku ‘kan, bukan siapa-siapa buat kamu. Aku cuma temen doang.”

Diam. Mai merasa Gio coba menghindar darinya. Membiarkannya sendiri. Kata siapa loe cuma temen doang, Gio? Emangnya, loe nggak pernah ngerasa lebih? Gue ngerasa gitu sama loe, Gio! Begitu! Tapi, emangnya iya?

“Oh, jadi gitu ya.”

Mai menyimpan gelas minumannya. Ia tak banyak bicara. Entah kenapa, hatinya serasa kesal sekali. Gio! Kok loe malah nggak ngasih jawaban yang pasti, sih? Mana Gio yang gue kenal?

Mai berdiri.

“Sori, ya. Gue cabut duluan.”

Tak banyak bicara, Mai pergi. Meninggalkan semuanya. Nos, Ve, dan Gio hanya bisa melongo. Mereka bertanya-tanya sendiri.

Gio! Ayo! Panggil gue! Panggil gue! Tahan gue! Temenin gue!

Tapi, tidak. Gio tetap diam. Ia tak menyadari jika Mai sebenarnya ingin dipanggil olehnya. Jika Mai sebenarnya ingin ditemani olehnya. Sampai kemudian, Mai benar-benar sudah menghilang dari pandangan.

“Mai kenapa, sih?”

“Lha, kok malah nanya gue? Loe jawab sendiri, dong! Kok udah kenal dua taun lebih, masih nggak ngerti aja? Harusnya, gue yang nanya gitu sama loe!”

“Lha?”

“Iya. Bener itu. Harusnya, situ jangan justru nanya sama kita-kita. ‘Kan, situ kenal Mai lebih lama daripada kita.”

Diam. Gio coba memikirkan perkataannya tadi. Takut-takutnya, ada yang salah. Tapi apa? Apa yang udah aku ucapin, sampe-sampe Mai gini? Apa, ya?

BRAK!

Gio memukul meja dengan kepalan tangannya. Ia langsung berdiri. Tanpa banyak bicara, ia segera pergi. Nos dan Ve heran.

Aku harus ngejar Mai, dan nanya sendiri sama dia! Ada apa ini? Ada apa, Mai?

Sepanjang lorong kelas, Gio mencari-cari Mai. Ia tak menemukannya di mana pun. Ke mana Mai? Kok bisa ngilang gitu aja? Nggak mungkin!

Gio menyeberang lapangan. Ia mendatangi sekretariat OSIS. Berharap Mai ada di sana. Tapi tidak! Mai tidak ada di sana! Lalu, Mai ke mana?

Gio hampir putus asa, tapi kemudian ia memutuskan untuk mendatangi kelas Mai. Ya. Kelas 3-IPS-2.

Napas Gio terengah-engah saat sampai di pintu kelas. Ia segera melongok ke dalamnya. Kosong. Tak ada siapa pun di sana. Mai ke mana? Masa’ kabur, sih? Terus, ngumpet di mana ya, tuh anak?

Gio menatap ke arah lapangan. Tiba-tiba, di seberangnya ia seperti melihat sosok Mai yang sedang berjalan. Gio diam memastikan terlebih dulu sebelum mendekati. Ya! Itu Mai!

Gio langsung saja menyeberang lapangan lagi. Ia tak peduli jika sedang ada yang bertanding bola basket di sana. Ia hanya ingin segera mendekati Mai. Hampir saja ia terkena operan bola nyasar. Makian dan cacian pemain bola basket, tak ia pedulikan. Yang penting Mai ketemu!

“MAI!”

Gio melompat di depan Mai. Ia menghalangi jalannya. Mai berhenti. Menatapnya.

“Kurang kerjaan banget, sih?”

Mai beralih ke ruang di sebelah Gio. Ia hendak berjalan kembali. Gio kembali menghalanginya.

“Tunggu bentar, Mai. Tunggu.”

“Ada apa lagi?”

“Bentar. Duduk dulu. Capek, nih!”

Gio memegang tangan Mai. Menyuruhnya duduk bersama. Sementara Gio mengatur napasnya, hati Mai berdegup kencang. Ada apa ini?

“Aku takut, aku udah ngucapin sesuatu yang salah sama kamu. Maaf, ya.”

Mai menyunggingkan senyum sinisnya.

“Hmm, baru nyadar, ya?”

“Lha? Berarti bener, ya?”

Mai membuang napas. Ia menarik tangannya, dan berdiri lagi.

“Eh, Mai! Tunggu dulu! Bentar lagi!”

Gio mencoba meraih tangan Mai lagi. Tapi tak bisa. Ia hanya menarik gelang batu pemberiannya. Mai sendiri tak begitu peduli. Ia menarik tangannya begitu saja, dan pergi. Gelang batu itu tertarik dari dua arah. Kemudian, tercerai-berai. Semua batunya berjatuhan di lantai. Loncengnya pun jatuh.

Ting…

Mai diam sesaat. Ia menatap bebatuan dan lonceng kecilnya. Gio masih memegang sebelah gelangnya. Ia terdiam. Tuh ‘kan, jadinya ancur! Gimana, sih!

Mai membuang muka. Ia menatap ke arah sebaliknya. Ia berjalan. Meninggalkan Gio. Meninggalkan gelang batunya yang sudah rusak.

Gio diam. Ia menatap kepergian Mai dalam sepi. Belum pernah ia merasa begitu sedih seperti saat ini. Ia meratapi bebatuan dan lonceng kecil yang kini berserakan di lantai.

Mai, ada apa?

Gerbang sekolah masih penuh oleh beberapa pelajar yang belum juga pulang. Mereka masih asyik nongkrong di sana, sambil menunggu jemputan dan juga angkutan yang akan membawa mereka pulang.

Mai sampai. Ia berdiam cukup lama. Ia menghela napas. Duh, bener nggak ya kaya’ gini? Mana gelang batunya ancur lagi! Gio! Kok loe jadi gitu, sih! Apa gue harus jujur sama loe?

Sepasang mata mengamati Mai dari kejauhan. Ia tersenyum kecil. Ia sepertinya sudah mengamati Mai sejak dari dalam tadi. Pastinya, ia pun tahu jika gelang batu berlonceng yang biasa Mai pakai, sudah hancur karena tertarik oleh Gio. Pastinya, ia tahu jika Mai sedang bermasalah dengan Gio.

Mai menendang kerikil kecil di depannya. Ia menggigiti bibir bawahnya. Sekarang, apa yang harus gue lakuin, ya?

Mai bergerak. Ia maju mendekati jalanan. Ia mencegat sebuah taksi, dan kemudian masuk ke dalamnya.

“Mau ke mana, Mbak?” tanya sopir taksi.

“Udah. Jalan aja dulu. Saya lagi pusing! Yang penting, jauhin daerah ini.”

Tanpa banyak bicara, sopir itu menjalankan taksinya. Membawa Mai yang sedang dalam kebimbangan.

Pemilik sepasang mata itu kemudian, bergerak mendekati gerbang. Ia menatap kepergian Mai. Ia begitu senang. Sepertinya, dunia sudah menjadi miliknya saat itu. Ia kemudian berbalik. Memasuki gerbang sekolah kembali.

Gio berdiam di atas motornya. Ia belum menjalankan motornya sejak ia sampai dari gagal menghadang Mai tadi. Tangan kirinya masih menggenggam gelang batu dan lonceng yang sudah berhamburan.

Pundaknya kemudian ditepuk seseorang. Gio menoleh.

“Halo, Ren.”

“Lho, kok lemes. Kenapa, sih? Eh, apaan tuh?”

Gio segera menyimpan bebatuan dan lonceng kecilnya ke dalam saku jaketnya.

“Ah, enggak. Nggak. Bukan apa-apa. Nggak apa-apa.”

“Kok masih belum pulang? Nungguin siapa?”

“Nggak, kok. Aku nggak nungguin sapa-sapa. Lagi pengen aja.”

“Oh, gitu.”

“Kamu sendiri?”

“Yah, aku masih pengen aja keliling-keliling di sini. Suntuk!”

Ayo, Gio! Tawarin aku buat pulang bareng! Tawarin!

“Oh, ya udah. Selamat berkeliling, ya. Aku pulang duluan. Aku nggak mau ganggu acara kamu. Daaag!”

Gio menyalakan motornya. Ia langsung saja meninggalkan Ren yang langsung cemberut. Yah! Lagi-lagi! Kok nggak sesuai rencana, sih?

0 Responses to “#17. pergi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: