#18. kesempatan terakhir

“Kamu yakin sama keputusan kamu ini ‘kan, Mai?”
Mai menatap Alexa di depannya.
“Yap. Saya cukup yakin sama keputusan ini, Mbak. Bener.”
“Tolong diinget, ya. Segala keputusan itu, punya konsekuensi sendiri-sendiri sesuai sama keputusan itu.”
“Ya, Mbak. Saya tahu itu.”
“Kamu nggak mau mikir lebih lama lagi? Ini mungkin kesempatan pertama, sekaligus kesempatan terakhir kamu, lho.”
Diam. Mai menatap Alexa yang kini berdiri.
“Saya kira, nggak perlu. Takutnya, nanti kalo kelamaan malah berubah lagi keputusannya.”
Alexa menghela napasnya.
“Kamu nggak nyesel?”
“Buat apa saya nyesel? Pastinya, ada kebaikan tersendiri dari keputusan saya itu, Mbak.”
“Wah, pastinya banyak sekali, Mai. Banyak sekali. Apalagi, setelah denger alesan kamu tadi, saya makin yakin, kalo kamu emang bener-bener seperti apa yang saya kira.”
“Ya. Makasih, Mbak udah ngertiin saya.”
Alexa tersenyum, walau hatinya tak karuan. Ia bingung harus bagaimana lagi terhadap Mai ini.
“Saya permisi.”
Mai bangkit. Ia menuju pintu keluar.
“Mai.”
Mai berhenti. Ia berbalik menatap Alexa.
“Jangan buang kartu nama saya, ya. Yah, kalau-kalau kamu berubah pikiran, dan pengen jadi seperti orang-orang yang ada di map saya. Inget, ya. PH ini selalu punya tempat buat kamu.”
Mai tersenyum. Hehe. Kata-katanya klise banget!
“Ya. Sekali lagi, makasih banyak Mbak.”
Mai berbalik. Ia memegang pegangan pintu dengan mantap.
Tak lama, Mai sudah berjalan ke luar dari Tebas Prod. Langkahnya begitu mantap. Pandangnya teguh. Meski, hatinya masih coba ia rasa dan raba.
Ini keputusan besar! Ini final!

PONG!
Gio berhasil menyarangkan strike. Sudah lima belas kali berturut-turut ia melakukan strike. Jimbo yang menjadi lawannya, hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Gile….Gile….”
Gio menjatuhkan dirinya di kursi yang empuk. Ia meminum creamy cappucino-nya.
“Kenapa, Jimbo?”
“Yah, kok kamu bisa sih, dalam waktu cuma tiga tahun, bisa jadi hebat banget gini! Latian terus, ya?”
“Bukannya mau nyombong, nih Jimbo…Tapi, dua taun kemaren aku ‘kan punya partner maen yang sama jagonya.”
“Siapa? Mai?”
Hati Gio teriris mendengarnya. Tapi, ia tetap menyembunyikannya dan tersenyum.
“Ya, bisa ditebak sendiri ‘kan?”
“Tapi, aku nggak abis pikir, nih. ‘Kan aku yang ngenalin kamu sama bowling ini. Dan juga, masukin kamu ke klub. Tapi kok, sekarang kamu sepertinya lebih jago dari aku, ya?”
Gio hanya tersenyum. Ia mengambil sebuah bola, dan mengelapnya terlebih dahulu.
“Ah, bisa aja!”
“Eh, aku beneran lho, Gio! Nggak becanda, ini!”
Gio tertawa kecil. Ia berdiri dan membawa bola bowling yang tadi dilapnya. Kemudian, ia sudah menggelindingkannya. Bunyinya menggemuruh, sebelum menyentuh pin.
PONG!
“Ck, ck, ck! Strike lagi. Kapan aku maen kalo gini?”
Jimbo menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Gio tertawa kecil. Ia duduk kembali.
“Ya udah, deh. Sekarang bagian Jimbo, deh. Aku lagi capek, nih! Istirahat dulu, ah!”
“Nah! Gitu, dong! Gantian! Kasih maen yang lebih tua!”
Jimbo bangkit. Ia membawa bola bowlingnya. Kemudian, ia melemparnya. Gio sendiri, mengambil gelas minumannya. Menghabiskannya. Ia memutuskan, untuk memesannya kembali.
“Jimbo, makasih udah mau nemenin aku malem ini! Jangan takut! Nanti, aku yang bayar sewa line-nya!”
“Ya, ya!”
Jimbo tak memperhatikan. Ia hanya ingin bermain. Itu saja. Gio tersenyum. Ia berjalan perlahan menuju kedai minuman. Kepalanya menunduk. Ia tak memperhatikan apa pun di depannya. Pikirannya berkecamuk.
Mai. Mai. Mai.
Hanya satu nama yang kini berulang kali disebutkan oleh hatinya. Mai. Sedang apa Mai saat ini? Pastinya, dia lagi pengambilan gambar, ya! Asyik banget! Coba tadi aku ngelarang dia! Pastinya sekarang lagi barengan!
Mai…
Gio terus melangkah dengan kepala tertunduk. Ia mengandalkan pola di lantai yang menuju ke kedai. Tapi kemudian, ia berhenti. Seseorang menghalangi jalannya. Ia hanya bisa melihat kakinya. Sekilas, ia seperti mengenalinya. Untuk memastikan, ia menyusurinya sampai ke atas.
“Mai…”

The Attic Cafe malam itu tak seramai biasanya. Pengunjungnya bisa dihitung dengan jari. Padahal, kalau malam-malam biasa memerlukan pemesanan tempat minimal dua jam sebelumnya untuk mendapatkan meja!
Gio duduk di sebuah kursi di dekat jendela. Ia menatap ke bawah. Ke arah Bowling Bowl yang hanya terlihat atapnya. Mai berada di depannya. Menatapnya.
“Gio…”
Gio bergerak. Ia tak lagi menatap ke bawah. Ia menatap Mai.
“Aku kira, sekarang kamu lagi pengambilan gambar. Eh, nggak taunya muncul di sini. Sori ya, kalo tau gini, aku nggak pake seragam klub ini.”
Mai tak menjawab. Bukan itu yang ingin ia bicarakan.
“Gue nggak jadi bintang itu. Tadi, gue tolak.”
Gio tergugah. Ia langsung melotot. Tak percaya dengan apa yang ia dengar baru saja.
“Hah? Kok gitu, Mai?”
Mai menatap Gio dalam.
“Harusnya, loe hati-hati kalo mau ngomong sama orang tidur. Pastiin dulu, orang itu bener-bener tidur dan nggak setengah sadar. Kan, kalo gini jadinya berabe!”
Diam. Gio coba menangkap arah pembicaraan Mai. Oh tidak! Jangan-jangan, waktu siang itu…
“Jadi, kamu denger, ya?”
Mai tersenyum.
“Yah, meski samar-samar, tapi gue nangkep maksudnya. Cuma…”
Gio menunggu. Mai memainkan gelasnya.
“Gue agak nggak ngerti sama bagian ‘…aku sayang kamu…’, itu Gio. Artinya apa?”
Gio tak menjawab. Ia menunduk sebentar. Kemudian, ia menatap ke arah langit. Menembus kaca jendela. Menatap bintang-bintang.
“Harusnya, aku udah bilang kata-kata itu dari dulu, Mai. Waktu aku mulai nyadar, kalo aku ternyata punya rasa lebih sama kamu, dan bukan cuma temenan biasa.”
Mai mendengarkan dengan seksama. Jadi, dia juga?Jangan-jangan, aku juga begitu?
“Aku tulus, Mai. Aku bener-bener sayang kamu. Aku nggak mau sesuatu pun terjadi apa-apa sama kamu. Aku takut kamu berubah, Mai. Makanya, sebagian dariku nggak rela kalo kamu jadi ikutan audisi itu lagi.”
“Terus, sebagian lagi?”
“Yang sebagian lagi, aku pengen ngeliat kamu berhasil Mai. Aku pengen ngeliat kamu bisa bikin cita-cita dan mimpi kamu jadi kenyataan. Meski, itu nyakitin sebagian dariku.”
“Oh.”
Diam. Kedua remaja itu hanya terdiam. Mereka saling meraba perasaan masing-masing. Walau baru kelas tiga SMA, tapi mereka terlihat cukup dewasa menghadapi permasalahan di antara mereka itu.
“Jadi?”
Gio menatap penuh tanya. Tak mengerti.
“Maksud kamu apa, Mai?”
“Hei, Gio! Ayolah! Gue juga cewek! Masa’ gue harus ngejatohin harga diri gue gitu aja, supaya kita bisa jadian, sih?”
“Hah? Jadian?”
“Iya! Jadian! Itu ‘kan yang loe mau?”
“Kapan aku ngomong gitu?”
Mai diam. Ia merasa dipermainkan. Brengsek! Gue kena lagi!
“Ya udah, deh. Kalo loe nggak ngerasa gitu juga, gue nggak apa-apa. Berarti, gue nggak keilangan temen.”
Diam. Kini Gio yang merasa dikerjai. Hah? Kok bisa gini? Aku juga pengennya sih, jadian aja!
“Lha, kok gitu?”
“Abisnya…”
“Nggak ada yang abis, Mai. Ini cuma permulaan doang, kok.”
“Maksud loe?”
“Yah, berarti mulai sekarang kita nggak temenan lagi. Karena kita, sudah jadian. Titik.”
Mai mengangkat sebelah alisnya.
“Loe jangan ngacangin gue lagi, ya!”
“Hehehe.”
Gio tertawa. Ia tersenyum mendengarnya. Ia bangkit, dan mencium dahi Mai. Mai sendiri tersenyum lega. Akhirnya! Semuanya jadi jelas!
“Gue ada pertanyaan, nih.”
“Apaan?”
“Soal Ren.”
“Ah, dia nggak usah dipikirin! Biarin aja! Anggep aja angin lalu!”
“Bener, nih?”
“Yup!”
“Oke. Dan, satu lagi. Gue minta maaf ya, soal sore tadi. Kalo gue nggak gitu, mungkin gelang batu yang loe kasih, masih utuh. Padahal, gue suka banget, lho! Apalagi, sama lonceng kecilnya.”
Tik!
Gio menjentikkan jarinya.
“Nah! Aku jadi keingetan sekarang!”
Gio meraba saku kemejanya. Sesaat kemudian, ia sudah menggenggam sesuatu. Kemudian, ia membukanya di depan Mai.
“Ini. Udah aku benerin, kok. Gampang! Bahkan sekarang, lonceng kecilnya ada dua. Coba kamu liat sendiri!”
Mai meraih gelang itu. Benar saja, loncengnya sekarang ada dua! Mai mulai memainkannya.
“Sekarang, bakalan gue jaga bener-bener, deh! Jangan sampe kaya’ tadi sore lagi!”
“Sip!”
Gio meminum minumannya. Mai tersenyum-senyum di depannya. Rembulan menemani mereka malam ini. Kemudian, Gio teringat sesuatu.
“Ya ampun!”
“Apa lagi?”
“Aku lupa belum bayar sewa line bowling! Jimbo ‘kan, nggak tau aku ke sini tadi! Kasian dia!”
“Ya udah! Mendingan, kita cepetan turun, deh! Jangan kelamaan!”
Mai dan Gio pun buru-buru menghabiskan minuman mereka. Berharap Jimbo belum terkena masalah.

0 Responses to “#18. kesempatan terakhir”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: