The Journey, vol.1

“Saat kau merasa sangat jenuh dengan hidup, kembalilah ke tempat kau berasal. Ke tempat di mana kau merasa berada di rumah.”

Rumah. Aku sudah lupa apa arti lima huruf yang membentuk satu kata itu. Setidaknya, itulah yang kurasakan beberapa tahun belakangan ini. Karena sebenarnya, dulu aku tahu di mana rumah itu. Tapi sekarang?

Orang bilang, rumah adalah tempat untuk berteduh. Melindungi diri dari cuaca, panas, dingin, dan berkumpul bersama keluarga atau orang yang disayang. Hmm.. ada benarnya juga. Tapi, hanya bagian yang melindungi diri dari cuaca, panas, dan dingin. Berkumpul bersama keluarga? Hmm.. memang kulakukan sih, tapi.. keluarga siapa?

Jiwa seorang penjelajah sepertinya benar-benar termaktub dalam jalan hidupku. Aku gemar sekali untuk menjelajahi tempat-tempat baru, ataupun tempat lama namun memiliki makna historis yang sangat mengena bagiku. Maka tak jarang, aku sering mengunjungi beberapa monumen dan juga museum, hanya sekedar untuk memuaskan dahagaku akan kehidupan lampau. Tapi, itu tak cukup.

Aku mendambakan sebuah perjalanan. Jika bisa, perjalanan yang seadanya. Sebuah perjalanan backpack. Pergi dari satu tempat, ke tempat lainnya dengan menggunakan biaya seminimal mungkin, serta tak membawa banyak barang. Cukup sebuah ransel di punggung, dan kamera untuk dokumentasi, plus sebuah buku catatan atau mungkin laptop dan koneksi internet tanpa batas untuk menuliskan dan menerbitkan jurnalku online.

Tapi sepertinya impian itu masih lama baru bisa kuwujudkan. Atau mungkin, takkan pernah kuwujudkan. Karena betapa hidup sudah membuatku jenuh, namun sekaligus memerangkapku dalam sebuah rutinitas dan tanggungjawab yang belum tentu menjadi milikku. Sial!

Meski begitu, kembali ke tempat kita berasal, mungkin bisa menjadi sebuah jalan keluar. Memang hanya sementara, dan belum tentu final, tapi setidaknya bisa mengurangi kejenuhanku akan hidup ini, dan mengembalikan beberapa semangatku yang telah lama menghilang. Ya, aku membutuhkannya. Tapi, pertanyaan berikutnya pun muncul. Di manakah aku berasal?

Merunut kisah hidupku yang ‘baru’ 23 tahun berada di alam dunia ini, seharusnya aku tak punya cukup panjang cerita. Namun, kenyataan berkata lain. Karena banyak orang bilang, dan begitu juga teman-temanku, aku sudah cukup banyak memiliki pengalaman. Dan, itu menginspirasi mereka untuk mengambil yang baik dariku. Walau menurutku, itu tak pasti juga.

Kembali ke pertanyaan itu. Asalku. Pilihan yang paling kuat pastinya akan mengerucut kepada dua kota yang paling lama kudiami. Pertama, Jakarta yang sekarang ini menjadi kota tempatku menjalani rutinitas dan terperangkap tanggungjawab. Serta, Tasikmalaya yang menjadi kota kelahiranku, serta tempat aku mewarnai masa remajaku melewati bangku sekolah menengah. Tapi, benarkah aku berasal dari kedua tempat itu?

Rumah. Itulah asalku yang mungkin paling hakiki. Karena aku berangkat untuk menjalani hidupku, dari sebuah rumah yang nyata. Dan, setelah aku menjalani serta menjelajahi hidupku, aku kembali kepada sebuah rumah yang nyata. Tapi, di manakah rumah itu?

Pergelutan dan pertanyaan yang demikian menghujam hati kemudian berhenti ke sebuah titik. Ketika aku mendapatkan kesempatan untuk menjalani ulang, semacam flashback terhadap tempat-tempat yang pernah aku datangi, serta orang-orang yang pernah mewarnai hidupku.

0 Responses to “The Journey, vol.1”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: