The Journey, vol.2: The Assignment

Pagi itu rasanya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa kecuali kemacetan Jakarta yang akan langsung kutemui selepas aku keluar dari gang tempat tinggalku. Yah, memang inilah yang menjadi ciri khas dari Jakarta. Sebuah kota megapolitan yang terjebak dalam arus kemacetan yang menjadi rutinitas bagi setiap warganya.

Urban. Begitulah istilah yang sering dikemukakan oleh banyak orang mengenai “kotaku” ini. Alih-alih bangga, aku justru teringat dengan sebuah film yang sampai “berseri” dan muncul dengan beragam versi. Sampai-sampai terkadang aku bergidik. Karena bisa saja salah satu cerita di film itu masih ada saat ini.

Arlojiku masih menunjukkan jam 7 pagi ketika aku sudah menyusuri jalan raya menuju kantor. Sepi. Karena aku memang sengaja memilih jalan tikus yang tak terlalu ramai, tapi cukup efektif menghindari kemacetan untuk mendekatkan aku dengan kantor. Meski memang, setelah dari jalan tikus itu aku tetap harus ke jalan raya yang ramai, tapi yah.. setidaknya aku tidak terlalu suntuk dengan kemacetan.

40 menit waktu yang kutempuh untuk sampai ke kantor. Cukup cepat dibanding naik angkutan umum. Tapi perlu ekstra hati-hati dan juga kondisi fisik yang cukup baik. Karena jika naik angkutan umum, ada sang sopir yang mengemudikan. Meski memang, sport jantung juga pastinya.😀

Setelah kuparkirkan motorku di parkiran, aku segera masuk ke gedung kantorku. Menggesekkan kartuku sebagai absen pagi, dan segera menuju lift. Kosong. Hanya aku penghuni lift tersebut ketika aku masuk ke dalamnya, dan memencet angka lantai tempat kerjaku. Arlojiku masih menunjukkan jam 8 kurang. Baguslah. Aku masih punya beberapa waktu sebelum jam kerja dimulai.

Begitu pintu lift terbuka di lantai kantorku, segera aku menuju toilet untuk mencuci muka. Naik motor memang terkadang sungguh menyebalkan, karena debu dan juga asap knalpot bisa saja mengotori mukaku. Biarpun aku sudah memakai helm, tetap saja mukaku kotor.

Tak sampai 5 menit aku sudah selesai, dan segera menuju ruangan kantorku. Yah, lebih tepat disebut ruangan besar dengan banyak sekali area kubikel bagi para pekerjanya. Dan, akulah salah satu pekerjanya. Sekilas, aku jadi teringat dengan analogi lebah. Betapa dalam sebuah sarang besar, terdapat ruang-ruang kecil diperuntukkan bagi para lebah pekerja untuk mengumpulkan sari makanan dan juga menghasilkan madu.  apakah aku termasuk lebah pekerja tersebut? Bisa jadi sih..

Begitu aku membuka pintu utama, beberapa bagian masih terlihat agak gelap. Yah, sebelum jam 8 memang kebanyakan lampu masih belum dinyalakan pengelola gedung. Alasannya, adalah untuk penghematan dan juga mendukung cinta lingkungan. Bagus memang. Sedikit merugikan jika aku sedang terburu-buru untuk bekerja di pagi hari, tapi yah, pagi ini aku tidak terburu-buru koq. Jadi yah, kunikmati saja.

Carla, sekretaris merangkap resepsionis di lantaiku terlihat sudah berada di tempatnya. Ia sedang sibuk dengan mengetik sesuatu di komputernya. Tapi, saat aku lewat di depannya, ia menyapaku.

“Pagi, Bil.” Sapa Carla sambil tersenyum.

“Pagi, Carla.” Jawabku sambil menoleh ke arahnya, tersenyum kecil membalasnya, tapi tidak menghentikan langkah.

Selepas meja Carla, adalah ruangan Paulo, atasanku. Bisa dibilang bos, tapi dia tak ingin disebut demikian. Cukup atasan, katanya. Karena bos, berkonotasi negatif. Seperti sesuatu yang sangat besar, kuat, dan berpengaruh dibanding dengan kata-kata atasan. Meski kenyataannya, justru demikian. Tapi yah, aku tak ambil pusing.

Kecuali mungkin, pagi itu pintu ruangannya terlihat terbuka, dan terdengar seperti ada seseorang yang bergerak-gerak di dalamnya. Mulanya, kupikir hanya petugas Cleaning Service. Tapi, ternyata bukan. Karena ketika aku melewati depan ruangan tersebut, justru Paulo yang kulihat tengah mondar-mandir dan berbicara pada telepon genggamnya.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja aku berhenti dan mendekati pintu ruangan Paulo. Belum sempat kuketuk, tiba-tiba Paulo berbalik ke arahku dan ekspresi wajahnya seakan-akan menemukan solusi sebuah masalah. Ia langsung melambaikan tangannya, menyuruhku untuk menunggu. Tak lama, ia terlihat menyelesaikan pembicaraannya dan menutup ponselnya.

“Yes, Paulo? Ada apa?” tanyaku ketika Paulo mendekatiku.

“Gue ada tugas buat loe. Bisa ‘kan? Lumayan lah, sekalian refreshing.” Jawab Paulo.

“He? Emang tugas luar kota, ya?” tanyaku lagi.

“Bener banget. Loe tau aja, sih?” ucap Paulo.

“Emang, tugas ke mana? Berapa lama? Kapan?”

“Bandung. 2 hari. Besok berangkat, ya.”

“Hah? Besok?” aku terkejut bukan main.

0 Responses to “The Journey, vol.2: The Assignment”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: