The Journey, vol.3: The Preparation

“Ini tiket kereta, dan ini data hotel tempat kamu nginep besok, Bil.” Carla menyerahkan sebuah amplop berisikan selembar tiket kereta, dan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat hotel tempatku menginap besok.

“Ada uang buat pegangan ga?” tanyaku.

“Ada. Bentar ya. Duitnya lagi di perjalanan. Abis, tadi nunggu-nunggu approval lama banget. Coz, Paulo ngedadak banget sih. Harusnya sih, ga bisa. Tapi yah, bukan Carla kalo ga bisa.” Carla senyum sambil ngedipin sebelah matanya.

“Hehe.. aku ga kebayang anak-anak lantai sini bakal idup kalo ga ada kamu.”

“Hahaha…” Carla tertawa lepas.

“Yaudah. Aku ke meja dulu deh. Ada yang perlu aku cari dulu buat kerjaan besok. Ntar kabar-kabarin aja, ya. Kalo perlu, teriak ajah.” Ujarku sambil berdiri, dan beranjak ke mejaku.

“Okeh.” Jawab Carla tanpa menunggu aku membalasnya.

Aku berjalan ke mejaku, menuju notebook-ku yang sudah kusimpan rapi setelah menerima pemberitahuan Paulo tadi. Dan, ruangan kantorku masih sepi saja. Padahal, sudah mau jam 9. Tapi yah, memang biasa jika jam 9 kebanyakan orang-orang kantorku belum datang. Aku saja yang –sepertinya- terlalu rajin datang ke kantor.

Kutarik kursi, dan kubuka inbox emailku. Yah, tak ada yang menarik. Biasa-biasa saja. Lalu, aku pun membuka web browser dan aku pun mencari beberapa halaman di internet yang berkaitan dengan tugasku 2 hari besok. Kata kunci seperti “teknik”, “kreatif” dan “visualisasi” adalah kata kunci yang kuketikkan, dan menghasilkan ratusan halaman. Banyak juga!

Pelan tapi pasti, kubuka halaman-halaman itu satu persatu. Kubaca, kuanalisa, dan kucatat beberapa yang perlu. Hmm.. ini masih baru untukku. Karena sesuai kata Paulo, tugasku besok adalah menganalisa sekaligus mencari tahu lebih jauh mengenai beberapa peluang kerja sama di Bandung tersebut, sementara pekerjaanku belakangan ini seringnya “hanya” eksekusi saja.😀

Tak lama, sambil masih menunggu kabar dari Carla, kunyalakan instant messenger-ku, serta log in ke beberapa situs social network. Kutulis status di semua itu, ‘Going to Bandung. Tomorrow, and the day after.’ Berharap ada yang membaca, tapi jika tak ada pun tak apa-apa. Lagipula, toh aku fine-fine saja pergi ke Bandung. Meski sebenarnya, jika ada kesempatan aku ingin sekali bertemu dengan beberapa teman lama yang sekarang menetap di Bandung.

Dan ternyata, ada juga yang merespon statusku tersebut. Setidaknya, itulah yang bisa kubaca dari kalimat pertama di sebuah window instant messenger yang terbuka dari Stefi. Seorang teman lama yang sama-sama lulus dari SMA yang sama denganku, namun berbeda tahun lulus – dia lebih dulu. Meski begitu, dia dulu sempat menjadi kakak kelasku yang sungguh sangat menyebalkan! Selalu menyuruh-nyuruhku untuk ikutan kegiatan ekskul yang sama dengannya.

“Mampir2 lah ke rumahku. Nanti kukenalin sama calon suami.” Kata Stefi.

“Pengennya sih gitu, Stef. Tapi, diriku kan ga terlalu apal Bandung.” Aku membalasnya.

“Lah, dulu bukannya pas masih SMA suka turing ya?”

“Hehe.. itu kan dulu. Bukan sekarang. Udah lupa kalee…” aku tersenyum sambil mengingat-ingat lagi masa-masa remajaku.

“Hoho.. yasud. Kalo gitu, sampe Bandung kasitau lah.. emang ada keperluan apa ya?”

“Biasa. Tugas kantor. Ini juga dadakan. Tapi yah, namanya juga tugas. Jalanin ajah. Bawa asik ajah.. :D” begitu kubalas.

“Hoo.. tapi udah dapet jadwal ngapain ajah?”

“Belum sih. tapi kaya’nya kalo emang sempet ketemu, dibisa2in lah.. malem2 terutama.”

“Emang nginep di mana?”

“Di sini sih, tulisannya di Hotel Dago.”

“Wah, lumayan deket lah kalo misal mau ketemuan di mal atau tempat makan laennya. Kasitau aja yaa.. btw, nomor hape masih sama, ‘kan?”

“Masih. Nomormu masih sama juga ‘kan Stef?”

“Masih. Ditunggu ya kabar2nya..”

“Eh,, omong2,, udah punya calon suami beneran nih?” tanyaku lagi.

“Iyah. Rencananya mau nikah 2 bulan lagi. Dateng yah.. undangan lagi dibikin nih..”

“Pestanya di mana? Bandung?”

“Ga. Tasik.”

Tasik. Atau lebih jelasnya Tasikmalaya. Adalah kota kelahiran, sekaligus tempatku menghabiskan sebagian besar masa remajaku. Huff.. entah kenapa, seakan berat sekali membaca kata-kata tersebut.

“Hoo.. baguslah. Ditunggu ya undangannya..” tulisku sebagai balasannya.

“BIL!” kudengar panggilan Carla. Segera saja aku menoleh dan melihatnya sedang menyuruhku segera datang ke mejanya. Teriakan panggilan seperti itu sudah biasa, meski Carla ‘hanya’ sekretaris merangkap resepsionis. Yah, karena memang kami sekantor memiliki suasana longgar dan akrab antar sesama karyawan.

“Stef, gtg. Ntar sambung2 lagi yaa.. dee..” kemudian kutinggal meja dan laptopku, untuk segera ke meja Carla.

0 Responses to “The Journey, vol.3: The Preparation”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: