Arsip untuk Mei, 2009

The Journey, vol.6: The Incident

Pagi itu aku bangun agak siang. Yah, 30 menit lebih lambat masih bisa dibilang agak siang kan? Jadi, aku biasa bangun jam 5 pagi, tapi hari itu aku bangun jam 5.30. Dan, setelah bangun, aku pun langsung masuk ke kamar mandi.

Sekitar 15 menit, aku selesai mandi dan menggosok gigi. Beres-beres. Mengecek koper kecilku, tas ransel yang berisi laptop, serta tiket kereta. Argo Anggrek. Jam 7. Gambir. Oke, aku pikir semuanya sudah siap.

Aku keluar dari apartemenku, dan menguncinya. Kemudian sambil berjalan menenteng koper di sebelah tangan dan ransel di punggung, aku menekan nomor telepon Monica.

Sekali. Dua kali. Tiga kali nada sambung sebelum akhirnya terdengar suara Monica.

“Halo, Cinta. Kamu mau berangkat, ya?” sahut Monica.

“Iya, nih. Aku sekarang mau jalan dari apartemen.” Jawabku.

“Yaudah. Hati-hati di jalan. Kamu naek taksi sampe Gambir, ‘kan? Motor disimpen di garasi gedung, kan?”

“Iya. Tenang aja. Ntar aku kabarin lagi kalo udah mau jalan dari Gambir, ya.”

“Take care, babe.”

“Oke, honey. Love you.” Kataku.

“Love you too.” Jawab Monica. Dan kemudian kututup sambungan telepon.
Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.6: The Incident’

Iklan

The Journey, vol.5: The Harbor

Laut menyapaku dengan angin yang cukup kencang di muka. Dan kemudian, aku terasa terdorong balik ke laut. Bulan purnama. Pastinya malam yang sangat baik untuk berlayar. Tapi dermaga cukup sepi. Bisa jadi nelayan sudah pergi, atau justru mereka tak berangkat sama sekali.

Dia di sana. Di titik pertama kali aku membawanya ke sini. Mendudukkan diri di kursi. Dengan rambut yang tersibak karena angin, dan menghadap laut. Membelakangiku. Mendiamkanku. Tak peduli akanku meski aku sengaja membuat langkahku berbunyi.

“Ehem..” Aku berdeham sekali. Tapi tidak ada respon. Perlahan semakin kudekati dia sambil tetap berharap ia akan berbalik menghadapku. Tapi tidak. Meski aku sudah berdiri di belakangnya dan menghadap ke laut yang sama dengannya.

“Harusnya kamu bilang kalo kamu mau pergi ke luar kota.” Ia berkata tanpa membalikkan badan, ataupun menoleh padaku.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.5: The Harbor’

The Journey, vol.4: The Questions

“Loe ke Bandung berapa lama, Bil? Dua hari? Cepet amat..” kata Chris sambil menyuapkan sesendok makan siangnya yang berupa mie kocok ala Betawi di resto langganan kami.

“Yah, begitulah yang Paulo bilang. Gue juga rada kaget, coz dadakan banget. Dia kasitau gue tadi pagi, dan besok udah berangkat. Feeling gue bilang sih, harusnya dia yang pegi, atau mungkin orang laen. Tapi, dia ada keperluan ngedadak atau orang laen juga ga bisa, dan jadinya nyuruh gue buat gantiin berangkat.” Jawabku sambil juga menyuapkan mie kocok.

“Baguslah. Jangan-jangan, loe pulang dari Bandung jadi bos kita-kita nih..” sahut Chris sambil menengok ke beberapa teman-teman kerjaku yang lain, seperti Lia, Ricky, dan juga Evy.
Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.4: The Questions’