The Journey, vol.4: The Questions

“Loe ke Bandung berapa lama, Bil? Dua hari? Cepet amat..” kata Chris sambil menyuapkan sesendok makan siangnya yang berupa mie kocok ala Betawi di resto langganan kami.

“Yah, begitulah yang Paulo bilang. Gue juga rada kaget, coz dadakan banget. Dia kasitau gue tadi pagi, dan besok udah berangkat. Feeling gue bilang sih, harusnya dia yang pegi, atau mungkin orang laen. Tapi, dia ada keperluan ngedadak atau orang laen juga ga bisa, dan jadinya nyuruh gue buat gantiin berangkat.” Jawabku sambil juga menyuapkan mie kocok.

“Baguslah. Jangan-jangan, loe pulang dari Bandung jadi bos kita-kita nih..” sahut Chris sambil menengok ke beberapa teman-teman kerjaku yang lain, seperti Lia, Ricky, dan juga Evy.

“Iya.. loe. Tapi awas aja, kalo beneran jadi bos trus jadi rese. Gue jitak loe!” sahut Lia.

“Kalo gue sih ga perlu jitak, cukup gue laporin ajah sama Momon.” Sambung Evy. Momon adalah nama panggilan Monica, pacarku yang juga merupakan teman Evy.

“Duh, ngancemnya.. Udahlah, ga usah dipikirin dulu kalo itu sih. Gue berangkat aja belum ke Bandungnya. Loe pada udah ribut kalo gue jadi bos.” Jawabku. “Udah, sekarang makan aja mie kocoknya! Ntar ga kenyang lagi.”

Lia, Ricky dan Evy tersenyum sambil tetap menyantap dan menghabiskan mie kocok masing-masing. Dan, sepanjang sisa jam makan siang itu, aku dan ketiga teman kantorku itu, setelah menghabiskan masing-masing seporsi mie kocok, juga menghabiskan masing-masing segelas jus buah segar. Yah, memang begitulah yang biasa kami lakukan hampir di setiap makan siang jika kebetulan sedang bersama-sama.

Setelah jam makan siang selesai, kami pun kembali ke pekerjaan masing-masing. Lia, adalah staf administrasi dan keuangan di kantorku, dan Ricky adalah salah satu rekannya. Sementara Evy adalah asisten manager bidang pemasaran, yang baru beberapa bulan menjabat. Dan aku, hanya staf tim litbang biasa.

Pertemanan kami dimulai secara tak sengaja, ketika aku mengenali bahwa Lia adalah teman SMA-ku, dan Ricky satu kampus ketika kuliah denganku. Sementara Evy, dia wanita yang sempat kudekati ketika aku masih single, namun kemudian aku justru jadian dengan temannya, Monica yang bekerja di perusahaan lain sebagai staf administrasi.

Tak terasa hari pun beranjak sore. Sudah jam empat kurang. Tadi, aku mendapatkan email pemberitahuan dari Paulo, bahwa aku boleh pulang cepat hari ini untuk persiapan berangkat besok. Tapi, aku tak biasa pulang cepat. Lagipula, buat apa? Toh aku yakin aku bisa persiapkan semua keperluanku seperti pakaian, dan juga kebutuhan lainnya hanya dalam beberapa saat saja. Kecuali…

Ponselku berbunyi. Caller ID-nya bertuliskan “Love of My Life”. Monica.

“Iya Sayang? Ada apa?” tanyaku ketika aku mengangkat telepon itu.

“Kamu koq ga bilang kalo mau ke Bandung?” Monica balik bertanya. Suaranya terdengar emosi.

“Kamu tau dari siapa? Aku baru mau bilang.” Jawabku. Berusaha untuk tidak terpancing emosi.

“Kenapa sih, kamu jadi gitu? Kamu kan selalu bilang, mending tau langsung daripada dari orang laen! Kenapa kamu mau ke Bandung, aku justru tau dari Evy bukannya dari kamu?” Monica makin emosi.

Diam. Aku hanya bisa diam. Dia ada benarnya. Karena aku memang salah belum memberitahunya. Tapi, tak sepenuhnya benar juga. Karena aku baru akan memberitahunya, dan juga aku baru diberitahu akan ke Bandung pagi tadi.

“Aku juga baru tau tadi pagi. Aku baru mau nelepon kamu ini.” jawabku diplomatis.

“Alesan! Dari pagi sampe sore gini, kamu ngapain aja? Pas jam makan siang tadi ga bisa emangnya? Evy juga bilang dia taunya pas makan siang dari kamu! Kenapa kamu ga ngasitau aku?” Monica berbicara panjang lebar.

“Yah. Trus kamu maunya gimana? Jangan marah-marah gitu dong. Aku kan ga sepenuhnya salah.” Kataku sambil mulai terpancing emosiku.

“Yaudah. Terserah kamu aja!” KLIK! Sambungan telepon terputus. Dan, aku hanya bisa terdiam. Inilah salah satu kebiasaan dari Monica yang kurang kusenangi. Memutuskan pembicaraan begitu saja.

Kuhela napas panjang. Yah, Monica ada benarnya juga. Aku juga ada salahnya. Tapi, kenapa juga dia harus marah? Kenapa juga dia harus sampai sebegitu emosinya? Apa hanya karena dia tahu dari Evy? Tidak. Sepertinya ada yang lain.

Kulirik arloji. Empat lewat lima belas.

Tak lama aku sudah mengambil jaketku. Kuambil motor, dan melaju di jalan raya.

1 Response to “The Journey, vol.4: The Questions”


  1. 1 Masenchipz Mei 12, 2009 pukul 3:57 am

    hmmm.. monicanya es mos i pdahal kesenengan kedatengan kmu tuh…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: