The Journey, vol.5: The Harbor

Laut menyapaku dengan angin yang cukup kencang di muka. Dan kemudian, aku terasa terdorong balik ke laut. Bulan purnama. Pastinya malam yang sangat baik untuk berlayar. Tapi dermaga cukup sepi. Bisa jadi nelayan sudah pergi, atau justru mereka tak berangkat sama sekali.

Dia di sana. Di titik pertama kali aku membawanya ke sini. Mendudukkan diri di kursi. Dengan rambut yang tersibak karena angin, dan menghadap laut. Membelakangiku. Mendiamkanku. Tak peduli akanku meski aku sengaja membuat langkahku berbunyi.

“Ehem..” Aku berdeham sekali. Tapi tidak ada respon. Perlahan semakin kudekati dia sambil tetap berharap ia akan berbalik menghadapku. Tapi tidak. Meski aku sudah berdiri di belakangnya dan menghadap ke laut yang sama dengannya.

“Harusnya kamu bilang kalo kamu mau pergi ke luar kota.” Ia berkata tanpa membalikkan badan, ataupun menoleh padaku.


“Aku tau. Cuman, aku mau bilang pas aku ketemu kamu. Aku ngerencanain buat ngejemput kamu di kantor tadi. Tapi, kamu udah ga ada, dan aku tau kamu pasti ada di sini.” Jawabku.

“Dan itu semua perlu sampe tiga jam?” Monica bertanya lagi.

“Jalanan macet. Biar pake motor, tetep aja kena macet. Kamu tau kan, kantor aku di ujung barat, kantor kamu di ujung timur, dan kita sekarang di ujung utara.” Aku membela diri.

“Alesan kuno. Aku bosen dengernya.” Dan kemudian Monica diam. Cukup lama untuk membuatku sangat bersalah.

Biasanya, jika sudah kondisi seperti ini, aku akan meninggalkan dia sendiri. Memberinya waktu. Membiarkan dia meredam emosinya sendiri. Sekaligus melenyapkan emosi yang tercipta dalam diriku. Dan mencoba untuk menyadari kesalahanku. Tapi, sekarang tidak begitu. Karena aku tak sepenuhnya salah. Karena sesuatu yang aku yakin, ini semua tak seharusnya begini.

“Ya udah, kalo emang mau di sini aja. Kalo gitu, ini juga sekarang aja.” Aku merogoh saku dalam jaketku. Kukeluarkan sebuah kotak kecil yang kuberikan hiasan pita. Warnanya mungkin tidak terlalu bagus ketika aku memilihnya – warna biru muda, namun kainnya pembungkusnya sangat halus.

Aku berjalan mendekat ke samping Monica. Dia masih menatap ke laut. Tidak mempedulikanku.

“Ini buat kamu.” Kataku sambil menyodorkan kotak kecil itu.

Semula ia tidak melihat. Tapi mungkin ia penasaran, dan akhirnya ia melihat juga. Tidak ke arahku, tapi ke kotak kecil itu. Dan, dalam temaramnya cahaya, kurasakan rona wajahnya berubah.

Kedua tangannya meraih tanganku yang masih menyodorkan kotak kecil itu. Ia menggenggamnya. Dan wajahnya menatapku dengan senyuman yang sangat ceria. Matanya menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat.

“Bil, ka.. kamu.. i-ini..” Monica seketika tergagap dan melupakan sikap ketusnya tadi.

“Ini buat kamu. Ambil, dan buka deh.” Aku menyerahkan kotak kecil itu di kedua tangannya, dan kemudian kutarik tanganku. “Aku cuman bisa kasih itu, buat saat ini. Tapi aku harap kamu suka.”

Monica tidak berkata banyak. Ia sepertinya sangat terkejut. Tapi, di tengah remang-remangnya lampu pelabuhan, ia kemudian menarik pita hingga kotak itu tidak lagi terikat. Dan, perlahan-lahan ia membuka dan memperlihatkan isinya. Seketika, ekspresi wajahnya berubah menjadi tidak bisa kutebak sama sekali.

“Kunci?” ia bertanya keheranan. “Kunci apa, nih? Aku kira tadinya ini cincin! HUH!”

Monica mengambil kunci itu dengan paksa dari kotak kecil, dan kemudian menggenggamnya. Ia bersiap-siap untuk melemparkan kunci tersebut ke laut, sebelum akhirnya bisa kuhentikan.

“EH! Jangan dibuang dulu! Itu kunci penting!” potongku.

“Emang kunci apaan?”

Aku diam. Sedikit geli. Aku sudah membayangkan Monica pastinya akan heran karena kuberikan kunci. Tapi, sebenarnya rencanaku tidak begini. Tidak kuberikan di pinggir laut di tengah dermaga begini. Tidak beratapkan langit malam serta bulan. Tapi, tak ada salahnya juga.

“Kamu selalu bilang kalo kamu pengen punya kunci apartemen aku. Dan, itulah dia. Kamu udah punya hak buat keluar-masuk apartemen aku. Setiap saat. Ada, atau ga ada aku. Tapi, tolong dijaga baik-baik ya kunci itu.” aku bilang alesannya.

Monica diam. Ia tak percaya dengan penjelasan yang kuberikan. Tapi, kesan kesalnya hilang. Ia menampilkan ekspresi muka yang (lagi-lagi) tidak bisa kutebak. Tapi yang pasti tidak marah.

“Kamu… kamu.. kamu keterlaluan, Bil. Tapi, aku suka hadiah ini.” Monica bilang sedikit terbata-bata, dan kemudian berjalan mendekatiku. Menghambur ke dadaku. Memelukku. Dan kubalas memeluknya.

1 Response to “The Journey, vol.5: The Harbor”


  1. 1 uchie Mei 18, 2009 pukul 1:30 am

    huaaaaa…. billy romantis banget *geleng2 kepala ga percaya*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: