The Journey, vol.6: The Incident

Pagi itu aku bangun agak siang. Yah, 30 menit lebih lambat masih bisa dibilang agak siang kan? Jadi, aku biasa bangun jam 5 pagi, tapi hari itu aku bangun jam 5.30. Dan, setelah bangun, aku pun langsung masuk ke kamar mandi.

Sekitar 15 menit, aku selesai mandi dan menggosok gigi. Beres-beres. Mengecek koper kecilku, tas ransel yang berisi laptop, serta tiket kereta. Argo Anggrek. Jam 7. Gambir. Oke, aku pikir semuanya sudah siap.

Aku keluar dari apartemenku, dan menguncinya. Kemudian sambil berjalan menenteng koper di sebelah tangan dan ransel di punggung, aku menekan nomor telepon Monica.

Sekali. Dua kali. Tiga kali nada sambung sebelum akhirnya terdengar suara Monica.

“Halo, Cinta. Kamu mau berangkat, ya?” sahut Monica.

“Iya, nih. Aku sekarang mau jalan dari apartemen.” Jawabku.

“Yaudah. Hati-hati di jalan. Kamu naek taksi sampe Gambir, ‘kan? Motor disimpen di garasi gedung, kan?”

“Iya. Tenang aja. Ntar aku kabarin lagi kalo udah mau jalan dari Gambir, ya.”

“Take care, babe.”

“Oke, honey. Love you.” Kataku.

“Love you too.” Jawab Monica. Dan kemudian kututup sambungan telepon.

Pintu lift langsung terbuka ketika aku memencet tombol turun. Sepertinya memang belum ada yang bangun sepagi ini di gedung apartemenku. Baguslah. Jadi, aku bisa langsung ke lobby dan naik taksi untuk ke Gambir.

Kupencet tombol G, dan pintu lift pun langsung menutup setelah aku berada di dalamnya. Perlahan, layar penunjuk lantai di panel lift, mulai berkurang. Dari lantai 10 tempat apartemenku, kemudian mengecil menuju lantai Ground (Dasar). Tapi, di lantai 3 lift pun melambat sebelum kemudian berhenti.

Pintu membuka, dan terlihat seorang wanita muda dengan balutan busana kerja berciri blazer terusan berwarna abu muda sedang berdiri dengan tas kecil yang menggantung di sebelah pundaknya. Tanpa melihatku, dia pun masuk ke dalam lift, dan berdiri di seberangku. Ia sekilas melihat ke panel tombol lantai, tapi tidak memencet apa-apa. Sepertinya, ia juga sedang menuju Ground.

Tak lama, pintu lift pun menutup kembali. Dan kemudian bergerak ke lantai dasar. Dengan aku berada di dalamnya. Dan wanita muda itu di seberangku. Entah, tapi ada yang sedikit menarik dari wanita itu. Entah itu pakaiannya, atau justru sikap diamnya tanpa bahasa. Dan, aku baru menyadari sudah hampir 6 bulan aku tinggal di gedung ini, tapi aku belum sempat mengenali para penghuninya juga. Jangankan yang berbeda lantai seperti wanita ini, yang selantai denganku saja aku tidak tahu!

Di lantai Ground, lift berhenti. Pintu membuka, dan wanita muda itu pun keluar lebih dulu tanpa melihat ke arahku. Aku kemudian mengikutinya keluar dari lift, dan entah kenapa aku masih memperhatikan ke mana arah perginya. Tapi, dalam sekelebat wanita itu sudah tidak ada ke manapun aku mencarinya. Tak ada sedikitpun jejaknya, meski lobby gedung belum ramai pagi itu. Hanya ada aku, satpam penjaga malam, dan beberapa orang yang sepertinya petugas pos dan loper koran.

Aku berhenti. Bingung.

“Nyari siapa, Mas Bil?” tanya Edhie, satpam muda yang jadi penjaga gedung. Dia sepertinya seumuran denganku, tapi entah karena hormat atau tuntutan pekerjaan, jadi dia sering memanggilku Mas. Dan, begitu juga aku padanya.

“Mas Edhie, tadi liat ada cewek keluar dari lift, ga? Cakep. Pake baju kerja gitu.” Tanyaku.

“Ha? Cewek? Cakep? Baju Kerja? Yang saya liat keluar dari lift, cuman Mas Bil aja tuh. Ga ada yang laen. Mas Bil ngayal kali. Lucu ya, pagi-pagi udah ngayal. Kurang tidurnya ya sampe mimpi jalan gitu?” Mas Edhie langsung tertawa.

“Masa’ sih? Tadi saya bener-bener liat dia keluar dari lift, loh Mas. Dia naek dari lantai tiga trus turun di ground sebelum saya! Harusnya Mas Edhie liat dong.”

“Apa, Mas? Lantai tiga?”

“Iya. Lantai tiga! Emang ada apa?”

Tawa Mas Edhie langsung hilang. Berganti menjadi serius dan juga seperti berpikir keras.

“Kejadian ini udah sering loh, Mas. Mungkin Mas Bil lagi apes aja tuh ketemu orang itu. Soalnya, selaen Mas Bil juga pernah ada loh yang begini. Sama Mas Bil, berarti udah ada sembilan orang yang ngalamin hal yang sama.”

“Emang ada apa sih, koq bisa sampe begini?”

“Ceritanya panjang, Mas. Variatif pula lagi! Jadi kadang2 suka bingung kalo disuruh cerita. Tapi yang pasti sih, ceritanya itu ga serem-serem amat. Cuma yah, agak sedikit membingungkan.”

Aku melihat wajah Mas Edhie yang sepertinya tak berbohong. Seandainya aku punya banyak waktu, mungkin seru juga jika aku mengetahui cerita lengkapnya.

“Bentar deh, saya tebak aja. Apa gedung ini ada penunggunya?” aku bertanya.

Mas Edhie diam sesaat. Dia melihat sekitar ruang lobby yang tiba-tiba saja terlihat sepi dan tak ada yang melintas. Loper koran dan juga petugas pos sudah hilang entah ke mana. Diam-diam, bulu kudukku merinding.

“Ga ada gedung yang ga ada penunggunya, Mas.” Jawab Mas Edhie pelan.

What the hell is this? Kenapa aku baru tau?

“Mas Bil mau saya panggilin taksi? Kaya’nya mau pergi jauh, nih.” Tawar Mas Edhie segera setelah ia sepertinya menyadari perubahan sikapku. Dan, aku tak perlu waktu lama untuk mengiyakan tawarannya.

5 Responses to “The Journey, vol.6: The Incident”


  1. 1 achoey Mei 27, 2009 pukul 5:16 am

    Sahabat,
    penunggu gedung itu satpam bukan?😀

  2. 2 Gusti Dana Mei 27, 2009 pukul 5:33 am

    Jadi ceritanya bersambung mas….??

    Salam hangat dan persahabatan selalu:)

  3. 3 Dalmuji Juni 1, 2009 pukul 8:47 am

    wah mantap dong,. diliatin cewek2 cakep mas..
    he..he..he..

  4. 5 yessymuchtar Juni 3, 2009 pukul 7:00 am

    oalahh…ini blogmu yang lain ya Bil🙂 kerennnnnnnn…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: