Arsip untuk Juni, 2009

The Journey, vol.9: The Strange Coincidence

9.45, St.Hall
Gia sudah bersiap mengambil semua perlengkapannya meskipun kereta belum berhenti sepenuhnya di stasiun. Kedua temannya yang berada di dua kursi seberang pun juga sama halnya. Mereka sepertinya tak ingin kehilangan waktu sedikit pun.

Aku hanya diam memperhatikan. Toh, buat apa juga aku buru-buru? Kuperkirakan, aku baru akan mengurus segala sesuatu mengenai peluang di Bandung ini setelah makan siang. Karena janjiannya pun, memang dirancang jam 1 siang di kantor pihak yang akan kudatangi ini.

Tak lama, kereta pun berhenti sempurna di stasiun. Gia dan kedua temannya pun sama-sama sudah siap untuk turun. Mereka berdiri di depan kursi masing-masing, sambil bersiap segera menuju lorong depan gerbong, dan turun.

“Nice chat, Bil. Hope I’ll see you soon. Maybe on my next hike?” ucap Gia sesaat sebelum dia keluar dari gerbong, sementara aku masih saja terduduk.

“Yap. Mungkin. Anyway, thanks for the great conversation for almost three hours. Gue yakin, ini obrolan paling panjang karena sejauh Jakarta-Bandung!”

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.9: The Strange Coincidence’

The Journey, vol.8: The Conversation

Kereta Argo Anggrek sudah berjalan kurang lebih 30 menit dari Gambir. Sudah cukup lama. Pasti sudah tidak lagi berada di daerah Jakarta dan menuju Bandung. Sudah selama itu pula aku mengobrol bersama Gia yang duduk di sebelahku.

Gia adalah teman kuliahku dulu. Kita satu universitas, tapi berbeda jurusan dan fakultas. Aku kebetulan mengenalnya ketika mengikuti sebuah kegiatan kampus, dan kita sama-sama menjadi panitia. Ia wanita yang cukup menarik, energik, cerdas, dan selalu terlihat ceria. Seperti saat ini, meski sudah 30 menit kita mengobrol, tapi sepertinya dia tak kehabisan bahan obrolan.

“Jadi, loe kalo sempet selalu hiking gini, Gi?” aku bertanya.

“Iya. Abis gue suka suntuk tiba-tiba, nih. Ini juga kebetulan aja dua hari yang lalu, pas gue telepon temen-temen hiking gue, ada yang ngerespon mau ke Bandung juga.”

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.8: The Conversation’

The Journey, vol.7: The Departure

6:45. Gambir.
Aku langsung naik ke peron setelah membayar taksi. Peron 3. Di situ nanti akan berada kereta yang akan membawaku ke Bandung pagi itu. Aku tak biasa naik kereta sepagi ini dari Gambir, tapi kuharap keretanya sepi. Yah, biar aku tak berdesak-desakkan masuk ke dalamnya.

Kuperhatikan hanya sedikit orang saja yang berbarengan denganku naik ke peron 3. Hmm.. baguslah. Bisa jadi memang sepi. Bisa jadi memang sedikit orang saja yang akan naik Argo Anggrek. Bisa jadi, di peron 3 sudah datang semua penumpangnya.

Tak sampai 5 menit, aku sudah sampai di peron 3. Dan benarlah, kereta Argo Anggrek sudah berada di sana. Dan, peron tampak sepi.

Aku membaca tiket di tanganku. Kucari nomor kursinya, dan nomor gerbongnya. Gerbong 3. Nomor kursi 3A. Lalu, kutatap gerbong di depanku. Kebetulan, ini juga gerbong 3. Bagus! Aku segera mencari pintu masuk terdekat.

Ketika aku menginjakkan kaki ke dalam gerbong 3 dan ingin mencari kursi tempatku, aku mendengar suara yang sepertinya kukenal. Ia tak berada jauh dari dekatku berdiri. Aku sebenarnya ingin mencarinya, tapi yah, biarlah saja. Masih ada yang lebih penting dibandingkan mencari tahu suara itu. Siapa tahu, itu hanya perasaanku saja.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.7: The Departure’


e-book terbaru dari Bersambung…


Burung Kertas dalam e-book

Hit Counter

  • 21,527 hits

RSS feeds

Juni 2009
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Creative Commons License


bloggerhood