The Journey, vol.7: The Departure

6:45. Gambir.
Aku langsung naik ke peron setelah membayar taksi. Peron 3. Di situ nanti akan berada kereta yang akan membawaku ke Bandung pagi itu. Aku tak biasa naik kereta sepagi ini dari Gambir, tapi kuharap keretanya sepi. Yah, biar aku tak berdesak-desakkan masuk ke dalamnya.

Kuperhatikan hanya sedikit orang saja yang berbarengan denganku naik ke peron 3. Hmm.. baguslah. Bisa jadi memang sepi. Bisa jadi memang sedikit orang saja yang akan naik Argo Anggrek. Bisa jadi, di peron 3 sudah datang semua penumpangnya.

Tak sampai 5 menit, aku sudah sampai di peron 3. Dan benarlah, kereta Argo Anggrek sudah berada di sana. Dan, peron tampak sepi.

Aku membaca tiket di tanganku. Kucari nomor kursinya, dan nomor gerbongnya. Gerbong 3. Nomor kursi 3A. Lalu, kutatap gerbong di depanku. Kebetulan, ini juga gerbong 3. Bagus! Aku segera mencari pintu masuk terdekat.

Ketika aku menginjakkan kaki ke dalam gerbong 3 dan ingin mencari kursi tempatku, aku mendengar suara yang sepertinya kukenal. Ia tak berada jauh dari dekatku berdiri. Aku sebenarnya ingin mencarinya, tapi yah, biarlah saja. Masih ada yang lebih penting dibandingkan mencari tahu suara itu. Siapa tahu, itu hanya perasaanku saja.

Aku mencari-cari nomor di deretan kursi yang hampir semuanya kosong, dan akhirnya menemukan nomor 3A. Wah, dekat jendela. Sip. Jadi aku takkan mati kebosanan jika aku tak bisa tidur selama kurang lebih 2-3 jam perjalanan ke Bandung nanti. Kursi 3B di sebelahnya kutemukan kosong. Ini lebih sip lagi, karena jika sampai berangkat nanti tidak ada yang datang juga, aku bisa menyelonjorkan kakiku.

Kusimpan koperku di laci di atas tempat dudukku. Dan kubiarkan ranselku di kursi 3B. Lalu, aku pun duduk di 3A. Kuhela napas, dan kuperhatikan keadaan sekelilingku.

Kuambil ponselku dan kutekan nomor telepon Monica. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, dan kemudian kudengar suara Monica.

“Halo? Udah mau berangkat, ya?” sahut Monica.

“Iya nih. Udah di kereta. Kaya’nya bentar lagi berangkat.” Jawabku.

“Hati-hati di jalan, ya Cinta. Kalo udah sampe Bandung, kasitau ya.” pesan Monica.

“Oke, deh Cinta. Btw, kamu udah mandi belum?”

“Belum nih. Masih males-malesan di kasur. Aku kaya’nya ga ngantor deh hari ini.”

“Lho, kenapa? Kalo kamu ga ngantor, ga dapet duit makan dan transport dong. Katanya mau cepet merit..” kataku mengingatkan.

“Halah, aku kan tinggal ngandelin kamu aja, calon suamiku. Lagipula, emang setelah merit ntar kamu mau aku kerja melulu? Pasti ga boleh, ‘kan?”

“Hmm.. iya.. iya.. yaudah. Kalo emang ga ngantor, ya ga usah. Kalo emang feelingnya ga ngantor, ya jangan tiba-tiba ngantor. Biasanya kalo lagi gitu, suka ada yang tiba-tiba aneh aja.” Aku mengingatkan.

“Iya, Sayang.”

“Dah dulu, ya. Bye.”

“Bye.” Monica menutup sambungan telepon.

Kusimpan ponselku kembali ke saku jaketku. Dan kemudian aku menatap kesibukan di peron 3 melalui jendela. Beberapa kali kereta lewat. Sepertinya kereta ekonomi. Penuh sekali dengan orang-orang.

Lalu, kudengar suara yang kukenal lagi. Kali ini, suara itu sepertinya makin dekat dibanding tadi. Kali ini, suara itu mendekat padaku dari arah belakang.

“…Kursi tiga kita kaya’nya di gerbong ini deh, dan bukannya yang tadi. Kalo yang tadi, udah keisi orang soalnya.”

“…Iya, bisa jadi…”

Aku tergelitik untuk menengok dan melihat suara yang kukenal itu, tapi entah kenapa aku seakan gengsi untuk melakukannya. Biarlah saja. Kalau memang dia mengenalku, pastinya dia akan memanggilku.

Dan, benar saja. Aku pun dipanggil.

“BILLY!”

Aku segera menoleh. Dan, seorang wanita dengan rambut sebahu, dibalut kaos ketat warna hijau, serta celana jeans berdiri di sebelah kursi 3B-ku. Ia memanggul sebuah tas backpack cukup besar dan tampilannya seperti seorang pendaki gunung. Dan ya, aku mengenalnya.

“Gia?”

“Hai! Apa kabar, loe? Udah lama ga ketemu!” Gia nyodorin tangannya ngajak salaman.

Aku berdiri dan meraih tangannya. Bersalaman.

“Kabar gue baek. Gue lagi mau ke Bandung, nih. Tugas kantor.” Jawabku. “Loe sendiri apa kabar?”

“Gue juga baek. Ni lagi mau eksplorasi wisata alam Bandung sama temen-temen gue.” Gia menunjuk ke arah belakangnya, ke arah kursi 3 C & D. “Loe duduk di 3 A situ?”

“Iya. Kenapa? Tiket loe 3 B, ya?”

Gia mengangguk.

“Wah, kebetulan banget! Bisa cerita-cerita dong kita nanti!” aku langsung mengangkat ranselku di kursi 3 B, dan menaruhnya di bagian kaki kursi 3 A. Gia pun langsung menyimpan tas backpack-nya di kursi itu.

“Pastinya dong, Bil.”

1 Response to “The Journey, vol.7: The Departure”


  1. 1 omiyan Juni 8, 2009 pukul 5:59 am

    nih masih bersambung ga yah hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: